.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Monday, 3 July 2017

00.35

Senin, 3 Juli 2017
00.35

Aku menghela napas panjang. Entah mengapa, rasanya aku bingung harus meluapkan emosiku kemana. Karena kini aku tidak bisa langsung megutarakan aa yang aku rasakan seperti biasanya padamu.
Kenapa?
Karena aku takut.
Aku takut kamu akan marah. Aku takut kamu akan bicara seolah-olah aku sebersalah itu. Aku tidak suka merasa aku bodoh. Aku tidak suka dibilang berlebihan.
Padahal, yang merasakan perasaanku sekarang kan aku. Jadi, bagaimana bisa aku disalahkan karena apa yang aku rasakan?
Sejak awla aku sudah mencoba mengerti. Bayangkan. Seorang diriku yang penuh keegoisan, berusaha menghibur diri sendiri supaya aku tidak marah. Supaya aku tidak kecewa berlebihan Supaya aku tidak merasa sedih.
Karena aku dilarang untuk kecewa. Setiap aku mengucapkan bahwa aku sedih, aku kecewa pasti pada akhirnya...aku yang akan merasa bersalah lagi :)

Kamu tahu. Terkadang, disaat seperti ini, otakku sibuk. Sangat sibuk bergumul, berpikir,apakah semua yang kujalani sekarang sepadan dengan apa yang kuterima?
Entahlah, aku yang egois. Memang.

Tapi, seandainya aku bisa jujur meluapkan seluruh perasaanku, apa yang aku rasakan, rasa sedihku, rasa kecewaku, seperti dulu...aku rasa pada akhirnya aku lagi yang akan merasa bersalah.

Kemudian aku akan mengejar-ngejar dirimu seperti tidak tahu malu.

Menyedihkan, ya?

Padahal aku sangat menjunjung harga diriku. Tapi, di depanmu...aku bisa mempermalukan diriku sendiri.

Sebenarnya, yangmembuat aku kesal adalah karena secara tidak langsung aku dilarang untuk merasa sedih, merasa kecewa, merasa marah, atas dasar bahwa kau tidak mengerti.

Ya, di matamu, apapun yang kulakukan pasti saja salah. Kamu benar, aku salah.

Dan aku masih menerima doktrin itu hingga saat ini. Kamu tahu kenapa? Karena aku terlalu takut...untuk mengambil risiko, aku takut kamu akna meninggalkanku seperti yang dilakukan semua orang padaku.

Kalau kamu berpikir kenapa aku selalu berlebihan seperti ini, ya sudah. Apa boleh buat.

Bahkan sekaramg aku kembali seperti diriku beberapa tahun lalu yang tidak punya tempat untuk meluapkan ap ayang aku rasakan. Aku tidak butuh pembenaran, sungguh. Tapi aku juga tidak mau mendapatkan kalimat sarkasme yang menyakitkan, yang membuatku merasa bodoh, yang membuatku...merasa bersalah lagi.

Aku heran, mengapa dalam setiappertengkaran kita, selalu aku yang pada akhirnya merasa sangat bersalah sehingga aku merasa 100 persen penyebab pertengkaran antara kamu dan aku, adalah aku seorang.

Aku heran, apakah hanya aku disini yang egois? Apakah semua pasangan di dunia ini juga seperti kita? Apakah kita benar-benar baik-baik saja?

Apakah...kita benar-benar baik-baik saja?

Kenapa aku selalu merasa...bahwa yang berjuang di dalam hubungan ini cuma aku? Aku yang berusaha berubah, aku yang berusaha memperbaiki semuanya, aku yang...selalu didikte harus melakukan apa.

Hehe.

Setelah dipikir, memang aku yang salah sih.
Aku salah, karena terus berandai-andai kamu memang memiliki perasaan sebesar yang kumiliki padamu.
Aku salah, karena masih menaruh harap bahwa aku akan diperlakukan seperti layaknya wanita lain diperlakukan oleh pasangannya.
Aku yang salah, karena masih berkhayal kamu akan memberiku lebih waktumu yang sibuk itu.
Aku yang salah, karena masih berharap suatu saat kamu akan lebih memperhatikan apa yang aku rasakan jika kamu bertindak begini, begitu.
Aku yang salah karena sering berandai-andai kamu akan semanis dulu.
Aku yang salah, karena aku terus berpikir kamu bisa mengerti apa yang aku mau.
Aku juga salah, karena aku bukan kekasih yang baik untukmu
Dan aku juga salah, karena aku tidak akan pernah berani mengambil langkah gila untuk melepaskanmu agar kamu mengerti apa rasanya kalau aku tidak lagi di sisimu.

 Karena aku tahu, seandainya aku pergi pun kamu tidak akan merasa apa-apa. Masih banyak wanita lain yang lebih baik yang bisa memenuhi semua standar yang kamu inginkan, tanpa harus diberi tahu terlebih dahulu.

Yah. Aku yang salah, karena terlalu...berharap banyak.

Jadi...apakah kita baik-baik saja?

Karena kini aku mulai kembali ke kebiasaan lamaku.

Aku tidak berani mengungkapkan apa yang aku rasakan, tidak tahu harus bicara kemana, sehingga aku kembali menulis disini.

Seperti beberapa tahun yang lalu dimana aku tidak bisa mengungkapkan rasa sesak di dadaku,kepada seseorang.

Sunday, 28 May 2017

Maaf, sayang.

Mei, 2017.
Untuk dirimu penyangga hidupku.
Sepertinya perkenalan kita selama hampir tiga tahun ini tidak berjalan efektif, ya? Baiklah, kali ini kupermudah. Aku akan menjabarkan hal-hal penting mengenai diriku yang perlu kamu tahu. Mm, tapi janji...aku mohon dengan sangat, kamu tidak boleh marah atau menyela ucapanku. Ya? Mengerti?

Jadi, sayang. Aku adalah gadis yang sangat pemalu, walaupun kamu tidak akan percaya. Namun, jati diriku yang sebenarnya adalah bukan gadis periang yang kamu sukai selama ini. Aku selalu tidak nyaman berada di tempat baru, bertemu orang baru atau bahkan teman lama, dan aku juga tidak suka membeli sesuatu sendirian. Jadi, aku minta maaf jika kamu sering kesal padaku karena aku selalu bereaksi menyebalkan jika kamu minta untuk membeli jco sendirian, atau memesan kopi di starbuck sendirian...I'm sorry but I really felt so uncomfortable. Aku benar benar minta maaf karena aku terlihat sangat manha dan egois, tapi aku bersikap seperti itu bukan karena aku manja, tapi karena aku sangat pemalu. Jangan salah paham lagi, ya.

Selanjutnya, sayang aku adalah seorang introvert. Kamu tahu,'kan? introvert. ada alasan mengapa aku begitu pemalu, hal itu terjadi karena aku yang memiliki kecenderungan lebih suka sendirian. Sejak kecil, ketika banyak saudara-saudaraku yang bermain, aku lebih memilih berdiam diri di tempat lain, sendirian. Jadi, gadis yang kamu lihat terlihat sangat ramah kepada semua orang, pecicilan, dan hal lainnya, itu semata-mata karena aku ingin menjadi seseorang yang kamu dambakan. Aku tahu, kamu selalu berharap aku memiliki banyak teman. Sungguh sayang, aku punya banyak teman. Jadi kamu tidak perlu khawatir aku akan sendirian. Bahkan ketika aku berkata aku tidak pernah merasa ada masalah apabila aku tidak punya teman. Jadi, jangan marah lagi dan paksa aku lagi ya :)

Lalu, aku tidak mudah percaya dengan orang lain. Mungkin yang kamu lihat, aku seperti gadis egois, tidak peduli dengan teman, tidak peduli dengan orang sekitar. Mungkin kamu juga menganggap, aku adalah gadis paling menyebalkan sedunia karena selalu mudah kecewa. Jadi sayang, aku memiliki krisis kepercayaan pada semua orang. Kamu pikir aku naif, selama ini mencari pertemanan yang tulus, kenapa? karena aku selalu mencoba memberikan yang terbaik untuk pertemanan yang kurajut. Kalau kamu bilang aku terlalu naif, atau egois, karena aku selalu merasa dibuang oleh semua pertemanan yang pernah kujalani, ya... aku memang naif. Naif karena aku memberikan kepercayaan pada teman temanku dulu, namun mereka merusaknya. Dengan sebaik-baiknya membuat hatiku yang malang ini hancur sehancur-hancurnya. Kalau kamu bilang itu hanya perasaanku saja karena aku merasa dibuang oleh mereka, sesungguhnya mereka memang membuang aku. Tapi kamu akan menyangkalku lagi, kamu bilang kamu tahu seluruh cerita tentang bagaimana rusaknya pertemananku dahulu, sayang. kamu hanya mendengar dari mereka, tidak juga mendengar versi cerita dariku. Jadi tolong, jangan hakimi aku bahwa aku memiliki kualitas yang rendah untuk berteman. Menurutku wajar jika aku kehilangan kepercayaan dan akhirnya memilih untuk tidak berhubungan lagi dengan orang di masa laluku. Itu pilihanku, asal kamu tahu, hanya dengan cara itu aku bisa berhenti merasakan sakit di dada. Seandainya kamu tahu betapa pentingnya pertemanan bagiku, kamu tidak akan sembarangan menganggap aku terlalu egois dan naif untuk mendapatkan teman. Kamu bilang, jika aku menvari teman yang tulus, cari saja di surga. Sesungguhnya, tidak. Karena aku telah berteman dengan mereka semua dengan tulus dan aku mencintai mereka sepenuh hatiku. Karena kepercayaanku dirusak begitu saja, apakah kamu pikir hatiku dapat kembali tertata seperti dulu? Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu seharusnya dapat mengerti...lamanya waktu yang kubutuhkan untuk menata hidup kembali. Kamu tidak tahu bagaimana sakitnya aku, frustasinya aku, bahkan depersi dan tidak mau sekolah ketika aku tahu semua orang yang kuanggap teman terpercaya menusukku dari belakang. Apa menurutmu aku yang bodoh ini sanggup menahan semuanya sekaligus dan langsung melupakannya seketika? Jadi tolong, aku benar benar minta maaf karena aku tidak atau belum bisa berteman dengan baik seperti kamu. Perasaanku belum sekuat itu untuk menerima kotornya pertemanan. Kalau aku begini, seharusnya kamu memberikan dukungan moral sayang, bukan memberiku banyak cerita yang pada akhirnya menyalahkanku. Jangan begitu lagi ya :)

Lalu, aku adalah gadis yang sangat protektif terhadap apapun yang aku punya. Itulah sebabnya aku terlihat sangat cerewet padamu, selalu berisik tentang kabar, tentang kamu bersama siapa kemana. Maaf aku jadi terlihat posesif, tapi psikologisku memang begitu. Aku sangat menjaga apapun yang aku miliki. Aku minta maaf karena sikapku ini membuatmu malas, takut, dan banyak lagi. Aku minta maaf karena memang aku seperti ini, dan akan sulit untuk mengubah diriku agar sempurna seperti yang kamu inginkan sehingga kamu tidak perlu takut lagi jika ingin pergi dengan siapapun asalkan kamu memberi kabar padaku sebelumnya sehingga aku tidak salah paham. Dengan kondisi mental seperti ini, aku harap kamu mengerti bahwa rasanya sangat sulit bagiku untuk tidak tahu apa apa tentang kamu. Aku tahu hal ini sangat sulit dimengerti dan sepertinya kamu sudah terlalu lelah untuk mengerti aku. Jadi, seandainya kamu sudah sangat merasa terganggu dengan diriku yang seperti ini, kamu boleh pergi. Aku harap orang lain yang akan menggantikanku itu jauh lebih baik dari segala-galanya dibanding aku. Dan pastinya aku juga berharap dapat bertemu dengan seseorang uang akan mengerti keadaanku sekarang.

Sayangku, seandainya kamu tahu betapa sulitnya bagiku untuk hidup sendiri tanpa kamu di sisiku. Dengan waktu kontak dan jumpa yang amat sangat terbatas, setiap minggunya aku selalu berharap banyak tentang dirimu. Berharap banyak bahwa kamu akan tiba tiba memperlakukanku dengan baik seperti orang lain, atau melihatmu terlihat senang melihatku. Hingga saat ini, aku belum mendapat sinyal itu. Jadi mungkin, kuharap suatu saat kamu bisa menyampaikan perasaanmu pafaku lebih baik dibanding komunikasi kita yang seperti ini.

Sayang, ketika kamu bilang bahwa dia tidak salah, ketika kamu bilang aku tidak seharusnya menyalahkan dia, ketika kamu membela dia...menurutmu bagaimana keadaan hatiku? Apa kamu tidak peduli dengan aku yang mencoba kuat menerima hantaman darimy. Dan lagi lagi, aku merasa banyak menimbulkan masalah. Aku minta maaf, karena telah menyakiti temanmu dengan kalimatku yang terbawa emosi.

Sayang, aku benar benar mencintaimu. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama? Maukah kamu mempelajari diriku yang seperti ini dengan baik? Maukah kamu menerima sifatkubyang seburuk ini?
Kuharap kamu masih mau.
Karena...aku telah memberikan seluruh hatiku padamu. Dan aku telah jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya pada dirimu.



Saturday, 21 January 2017

Hai lihat wattpadku yuk!

Halooooo pembaca blogku :')) sudah lama sekali aku ganulis disini ya huhuhu
Maafkan dirku, aku fokus ke novel dan sempat mengalami hiatus di dunia tulisan beberapa saat lalu :')

Well, aku mau ngasih tau hehehe akhirnya aku membuka diri untuk wattpad. Setelah sebelumnya aku takut karya aku dicuri orang, sekarang yah aku pasrah aja. Dan sekaligus untuk mengobati writer's block yang aku alami jadi aku akhirnya mengupload karya di wattpad :')

Kalian harus mampir ya ke wattpad ku! InshaaAllah ceritanya lebih berbobot karena ini beneran novel yang aku tulis dan bagi untuk kalian semua!

Kalian bisa buka disini :
https://www.wattpad.com/user/fineayuputri

Yeay! Happy reading all! Ditunggu komennya ya seperti biasa :') aku menerima kritik dan saran ko hehe, love you!

Thursday, 31 July 2014

If I Were Palestinian

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

Dear everyone who read this 16th-year-old girl’s letter.
I hope you’ll open your own eyes and mind. Because, something’s wrong in this our ‘peace’ world. Invasion.  Genocide. Racism. Blind government. Blind world.
Or maybe, we’re the one who were blind.
A blinding flash of white light. Everyone include us will close our eyes whenever that flash come through our face, and not even a second that light will fade as we open those eyes again. But, for this people. That blind flash light never gone. Let’s try to keep in mind that the people I mention now is us. How could it be like? Can we face it? Can we hold the pain?
Close your eyes. Everyone out there, teens like us, the elder, child, adult, young adult, even baby and toddlers try to hold their tears and keep telling themselves everything will be fine. Bombs are everywhere. Sound of explosions and orange burn light colored their windows and houses. What? You don’t get it? Then just imagine that around your house, everything you see is burn building, burn houses and plants, burn…burn…burn.
Palestine. The promised land. It’s located hundred miles away from where I belong now. But, however…I can hear their sound screaming while the explosions’ sound were heard. I can feel their sadness to see their lovers and children were killed by the missiles and guns out there. The broken hearted faces can tell you how their feeling right there. I still don’t get it why do everyone close their eyes and try to hide the truth of Gaza’s under attack? Why do everyone who have the powers to change that thing, just pretend they see nothing?
“Gaza? Yeah, I know.” And they left.
“Really? They attacking them again? Oh, well.” And they left.
The most pathetic people I’ve ever met is they who don’t care about anything at all. Especially when people around the world are screamin’ or even shouting the right for the humanity problem. Are they blind? Are the people in this world blind? If I asked them, their answer is no. So why can’t you see them crying even the sadness are there in front of you?
Peacemaker. Hah. Such a bullshit out from that powered mouths. Why do the peacemaker just being a statue whenever we asked about that Gaza’s problem? Whenever we asked for solution in that problem? Why do they pretend like they’re innocent? From my point of view, the people who closed their eyes are the worst. They’re the real evil, after the attacker of course.
They kill women and child. Child. Haha, are they have any problem with that attacker so they lock their missiles into them? They’re kids! Ya Allah, they even not standing in this world for a long time yet. Why…they’re insane. They put their brain in that stupid gun. That’s’ why.
I can’t sleep thinking about the people in Gaza who fight for this whole time. I can’t sleep when I knew that they can’t sleep well because of that explosions and screams. I can’t sleep thinking about who’ll be killed, who’ll be injured, who’ll lose their family and friends. I can’t sleep because I wonder if that evil thing happen to me. I’m not strong enough as the child and toddlers out there.
It’s like counting your days of life. How many days left until it’s your time to go and face Allah the greatest.  How many times left to see your family’s smiles. How many times left to count your happiness because you’re safe today. I can’t imagine to live that way. I really do.
The only thing that keep waving on my mind is this statement. If I were Palestinian.
I wouldn’t write this letter, maybe. I might be in the hospital or waiting in the line to see the end of my life. I’d see my-dead-friends body everywhere. I couldn’t hear any good music anymore. Even, playing on that burn woods will make me happy.
That’ll be a rough life. I know.
The feeling of being nothing when I know that my brothers and sisters in Gaza are being attacked, it always haunts me. I can’t stop holding my tears every time I hear Michael Heart – We Will Not Go Down song. Don’t know…I was so sad because I do nothing for them. I can’t send that child good clothes for the Eid yesterday. I hold my tears when I saw a little girl and boy smiling wearing their new clothes and say, “Terima kasih, Indonesia.” I do nothing and still they thank us as the name of Indonesia.
Because of my age and position, I can’t send a big help for them. I can’t see their smiles yet. I really do hope that I will be the person that I wanted. I hope, my help later won’t be too late for them. I love them. I love Gaza. I love Palestine. I love all muslim in the world. They’re my family too. That’s why I can’t keep my eyes off them.
But for you who have already send them some help, I envy you. You share your happiness with them. You make a hundred or maybe a thousand people there smile because of you. That’s the happiness of life. I really want to taste it. Someday, I will help too. No, I must.
Muslim around the world are now unite. I can’t stop smiling to see my brothers and sisters out there fight for Gaza. They’re great. It just keep telling me that Islam is wide. Spreading in this world. The bond that we have, motivates me to find a better way to join. Knowing that they won’t stop fighting for the free of Gaza, that makes me quite happy. We’re moving, though.
So, for everyone who read this latest post by me. Whoever you are, I hope you’ll understand and get what I mean. We’re not alone. We can’t see our mankind being killed right away. Just like people say, you don’t have to be a muslim to care about Gaza. This is not about religion anymore. This is about humanity.  Let’s spread love no matter what. A little help will be a super big help if we worked together fight for our rights. I know, my vocab is limit because I’m not a real UK and US people. I’m Indonesian, anyway. But I hope you can send a lot of messages to people better than me.
Love,
16th-year-old girl.
Love,
Me and Palestinian.

Wednesday, 9 July 2014

Cara Menulis Novel

Halo kawan kawan silent readers yang benerbener bikin aku semangat setiap ngeliat dashboard :) actually, aku ngarep kalian komen aku tapiyaaa gapapa sih hehe tau kalian baca aja aku udah seneng :3
Jadi hari ini, aku mau sedikit cerita dan ngasih tips buat para calon penulis novel like me, teman teman seperjuanganku :) So, come and sit down everyone!

Firstly, untuk menjadi penulis pasti yang paling penting niat loh. Kalau gaada niat ya otomatis gabakal ada karya yang muncul dari diri-dirimu sekalian. Dan ini emang base buat jadi penulis, atau jadi apapun awalnya emang harus diawali dengan niat yang kuat. Kamu juga harus bisa semangatin diri sendiri dan termotivasi mau jadi seorang penulis yang kayak apa. Sekali-kali ngebayangin diri kamu yang sukses juga fine kok. Aku suka begitu, jadi aku semangat nulisnya walaupun udah mentok tetep lanjut maksain nulis, nanti juga ideny angalir lagi. Karena semuanya berasal dari dirimu. Got it? :)





Secondly, you have to get your theme. Tema itu modal utama biar genre nulis kamu ke arah mana. Misal, kamu mau jadi novelis nihyaa, otomatis kamu harus nentuin dulu kamu lebih fokus kemana. Kalau akusih romance, friendship, drama, agak slice of life gitu, aku juga suka adventure. Semuanya tergantung kamu suka apa, untuk kondisi aku, karena aku suka dan emang bisanya nulis yang galau-galauan, jadi semua novel yang aku buat isinya rata-rata begitu. Aku suka humor tapi gabisa ngelawak, jadi tulisan aku emang galucu dan aku jarang nulis yang humor, abisnya pasti garing. Kalau dipikir-pikir, tukang galau emang kayanya gacocok bikin yang genre humor :') Walaupun ya mungkin bisa juga karena saking galaunya dia nyari cara buat ngehibur diri sendiri.

Thirdly, kembangkaaaaaan :) kamu udah punya niat, udah ada temaa...sekarang cari kamu buat cerita yang kayak gimana. Caranya emm kalau aku sih ngekhayal dulu, biasanya kamu bakal cepet nemu inspirasi kalau lagi seneng atau lagi sedih, tapiya kalau udah biasa emosi gaakan terlalu mempengaruhi nilai tulisan kamu sih. Oh iya, caranya itu biasanya sebelum aku ngekhayal, aku bayangin dulu tokoh-tokohnya. Misalnya aku ngebayangin tokoh protagonisnya itu laki-laki slengean yang nyebelin apa gimana, terus dipasangin sama perempuan yang apa gimana terus cari konflik inti ceritanya itu apa. Nanti setelah ituuu yang lain-lainnya
bakal nyusul deh wehehe selingannya sebelum konflik itu.

Fourthly, you must have a strong character. Ini penting banget, suatu cerita atau novel bakal kerasa hidup kalau karakter tokoh2nya kuat. Kalau oon ya oon, kalau pemarah ya munculin sisi pemarahnya. Banyak novel yang bagus ceritanya tapi galaku, salah satu faktornya adalah karakternya gakuat alias plinplan. Dan karakter juga mesti realistis. Gini ya, banyak novel yang karakter cewenya sempurna. Padahal you know, gaada manusia yang sempurna. Liatin juga kekurangannya, itu bakal nimbulin simpati buat yang baca. :D

Fifthly, kalau yang empat diatas udah siap, yaa mulai menulis. Usahakan buat pembukaan yang dramatis dan menarik pembaca. Terus dialog juga mesti diperhatiin, bikin dialog yang hidup. Jangan terlalu puitis, jangan terlalu kaku, pokoknya buat dialog yang hidup dan kayak biasa kita ngobrol aja. Untuk bahasa, ada banyak. Itu bisa disesuaiin sama gaya kamu. Mau bahasa gabaku atau baku juga gamasalah. Kalau aku, lebih suka bahasa yang baku kalau nulis novel. Tapi ada juga yang enggak, banyak malah. Sesuaiin aja sama yang lebih kamu suka. Sudut pandang juga, bisa orang pertama (aku-akuan), atau orang ketiga. Menulis itu fleksibel kok gausah diambil pusing harus gimana gimana :)

Tambahan,  yah itu sih yang bisa aku share dengan kalian semua. Tips untuk buat novel yang bagus yaaa, kalian harus rajin baca juga. Kalau kalian baca buku bagus, pasti yang kalian tulis juga bakal bagus. Banyak baca juga memperkaya bahasa kalian, apasih istilahnya vocab kalau di pelajaran bahasa Inggris. Hehe pokoknya mesti banyak baca buat menggerakkan si niat yang ada di dalam hati.

Oh iya, kalau lagi stuck waktu nulis. Udah tulis aja apapun, masalah jelek atau engganya gimana nanti. Kan kalian pasti baca ulang apa yang udah kalian tulis, jadi bisa dibenerin. Jangan pernah bilang 'gapunya inspirasi'. Inspiration is everywhere, guys. Semuanya bisa jadi inspirasi. Yang harus kalian permasalahin saat ga menghasilkan tulisan selama jangka waktu yang lama adalah kemalasan. Hehehe emang jleb tapi itu fakta kawankawan :) Jadi semangatin diri lagi kalau udah di kondisi miris itu.

Terakhir, semuanya butuh proses. Nulis novel tuh ga gampang loh. Susah malah karena kita mesti ngadepin diri sendiri. Kita nulis sendirian, bukan ditulis orang lain, kita buat karakter, ngebayangin masalah juga sendiri, jadi ya tulisan itu munculnya dari diri kita sendiri temanteman makanya susah :) selanjutnyaaa hemmm apa ya udah sih yang ada di kpala aku cuma itu aja.

Semangat ya nulisnya semangat! Aku juga berjuang kok disini doain aku ya :)
Dengan menulis, kalian akan selalu hidup. Bahkan mungkin, selamanya.

Sunday, 29 June 2014

Langit adalah Keindahanku yang Baru


Aku tidak tahu, sejak kapan…aku tidak bisa mengekspresikan perasaanku ke dalam tulisan sebaik dulu lagi.
Setiap hari, setiap pulang rasanya ramai. Aku bisa melihat keindahan tepat di atasku. Dan aku…bahagia.
Terkadang mendung, terkadang cerah,terkadang biasa saja. Kurasa langit memang mengerti diriku. Setiap kali aku mendongak ke langit, wajah sang nebula elang selalu sama dengan apa yang kurasakan saat itu.
Langit adalah keindahanku yang baru.
Hari ini, langitnya cerah. Sama seperti saat aku baru pulang dari kegiatan di masid tercinta. Rumah keduaku. 
Tempat dimana belahan-belahan jiwaku berada. Pusat ketenangan…juga kebahagiaan.
Juga tempat…untuk menghapus kenangan yang menyiksa. Kenangan yang membunuh.
Tapi kali ini, izinkan aku untuk mengingatnya sedikit.
Angin dingin menerpa wajahku. Cahaya lampu yang agak redup menemani kesendirianku di tengah ruangan ini. Duduk di atas sofa berwarna coklat dan dengan laptop yang terduduk manis di depanku.
Pada hakikatnya,eksistensi kenyamanan yang kuarasakan berasal dari diriku sendiri. Sejak dulu, aku selalu suka menyendiri. Bukan. Aku bukan orang yang individualis, maksudku aku hanya suka sendiri. Untuk berpikir, Untuk merenung. Untuk menulis.
Dan dirimu menghiasi setiap ketikan keyboardku. Wajah…bukan. Hanya kenangan. Ya, kenangan.
Kau mungin bukan pembawa pesan, bukan seorang yang kucintai juga, bahkan wajahmu, suaramu, kebiasaanmu…seakan pudar seiring dengan waktu yang menghapus semua kenistaan dan kekecewaan yang ikut serta dikala sesuatu tentangmu tiba-tiba terputar di kepalaku.
Jika kau pikir kekecewaanku sudah berakhir…ya, sudah berakhir.
Aku hanya perlu waktu banyak agar bisa bersikap layaknya Azzam yang menerima kenyataan bahwa wanita yang dicintainya telah dipinang sahabatnya sendiri (baca: Ketika Cinta Bertasbih). Aku tegar, aku tidak apa-apa. Tidak masalah.
Namun bayang-bayangmu masih saja mengikutiku. Aku hanya…tidak tahan lagi. Kapan kau benar-benar pergi dari hidupku?
Sekali saja, aku ingin kau bertanya… bagaimana perasaanku. Apa aku baik-baik saja. Apa aku bisa bersikap layaknya teman biasa padamu. Apa aku bisa menghapus segala yang kurasakan ketika mengingatmu. Apa aku…bahagia.
Begitulah. Bukan hanya menutupi kenyataan bahwa aku juga merasakan sakit yang terasa amat sangat. 
Bukan hanya menutupi bakal kekecewaanku padamu dengan kepura-puraan. Bukan hanya menutupi rasa bersalahmu dengan hanya berucap bahwa ini semua tidak apa-apa.
Aku diam. Aku tidak berkomentar. Aku tersenyum.
Cukupkah semua itu…untukmu?
Ya,cukup. Semuanya baik-baik saja. 
Kau pikir begitu, namun kenyataan tidak semudah yang kau pikirkan.
Semua hal memiliki dua sisi. Bagianmu, bahagia. Namun ketahuilah, sisi yang lain tidak bisa tersenyum selebar dirimu.
Bagaimana keadaanku? Aku baik, semakin mudah bersyukur.  Namun lain bila aku harus melihat wajahmu lagi. Semua benteng dan kebahagiaan yang kubuat rasanya runtuh seketika ketika melihatmu.
Kenapa? Entah. Mungkin kini semua kenangan itu bertransformasi menjadi mimpi buruk. Bagimu juga, bukan?
Apa aku bahagia? Sangat. Aku sangat bahagia sehingga sedang berusaha untuk menghapus rasa kecewa yang tersimpan jauh di dalam lubuk hatiku. Yang menjadi kebohongan untuk diriku sendiri. Yang menjadi topeng wajah untuk bertemu denganmu.
Kau sadar kan? Kau sadar aku kecewa…lalu apa? Aku juga tidak tahu. Sungguh, aku tidak akan meminta  apa-apa padamu. Sungguh.
Sejak dulu, aku selalu ingin bicara padamu. Kejarlah…kejarlah apa yang kau mau. Sekarang, dia yang kau mau…maka kejar. Aku tidak apa-apa. Aku akan selalu menjadi rumah untukmu. Jika kau lelah, kau bisa pulang.
Tapi entah apa sekarang aku bisa bicara begitu lagi padamu.
Setelah semua ketidak pedulian dan wajah aroganmu itu. Seperti senang melihat awan mendung yang terbentuk ketika bertemu denganmu. Setelah semua tindakan tidak ada apa-apa darimu yang kau usahakan padaku. Tidak, aku tidak bisa berkata bahwa aku rumahmu. Bukan, aku bukan rumahmu lagi.
Jadi, jangan pulang. Kau bebas berkelana sekarang. Kau bebas membangun rumah dimanapun kau mau.
Aku hanya…perlu dihargai.
Kau sadar kau tersenyum di atas kesedihkanku? Kau sadar kau tertawa di atas air mataku?
Aku kecewa padamu, kecewa. Apa yang harus kulakukan untuk menghapus rasa itu?
Aku tidak ingin mengganggumu lagi. Cukup. Aku harus keluar dari kehidupanmu. Aku lelah, kau tidak memberikan keinginan untuk tinggal. Bahkan sebagai seorang yang pernah menyayangimu. Tidak.
Kau…pergilah. Bahagialah untuk dirimu sendiri. Kau bukan urusanku lagi. Pergilah.
Biarkan aku menghapus rasa kecewaku ini. Kumohon…pergi.

Monday, 19 May 2014

Kabut Bulan


Alhamdulillah. Aku bangun.

Kali ini, entah apa yang kupikirkan. Sibuk dengan urusan dunia sekolah, sampai lupa bahwa aku memiliki kewajiban menulis, di keadaan sesempit apapun.

Mataku terpejam, lalu tarikan napas mulai terjadi seiring dengan kilas balik yang terputar di otakku. Ya…sudah lama aku tidak mengingatnya.

Sudah lama.


Semua orang tidak pernah tahu siapa yang akan mengkhianati, atau dikhianati. Bahkan sebagian orang merasa bahwa pengkhianatan yang dilakukan sama sekali bukan berkhianat. Karena masalah waktu, waktu yang panjang membuat orang-orang berpikir bahwa pengkhianatan akan terhapus…seiring dengan nadi yang terus berdenyut, menghapus kenistaan.

Tapi…sebagian yang lain tidak.

Mereka butuh lebih dari waktu yang ditentukan untuk merelakan semua pengkhianatan dan kekecewaan. 
Mereka butuh ketenangan untuk menerima semua hal yang berjalan salah. Mereka butuh kehampaan untuk menghapus apa-apa yang menyakiti. Itu sebagian orang.

Lalu sebagian orang yang mengisi jarak diantara dua macam golongan ini, yang tidak tahu apa-apa. Yang hanya bisa menganggap ‘ya sudahlah’ lalu beropini seenaknya padahal mereka tidak tahu apa yang dirasakan salah satu pihak. Bukan mendamaikan. Malah memperburuk.

Jadi…kemana arah tulisanku sekarang? Entah. Aku pun bingung.

Untuk seseorang dengan tatapan gelap dan dingin yang dibawanya.

Untuk diriku di masa lalu.

Hai.

Aku adalah seseorang yang mungkin telah melalui banyak fase lebih banyak di dalam hidup ini. Dibanding dirimu, pasti.

Kuberi saran sedikit. Kini, aku menulis ditemani dengan lagu dari seorang tukang susu keliling yang sedang bersusah payah menawari dagangannya dari rumah ke rumah. Ditemani oleh cahaya terang dibalik tirai. 
Ditemani dengan rasa kecewa teramat besar karena seseorang yang akan kau temui nanti.

Aku tidak tahu apa yang kau lakukan sekarang, namun aku yakin kau belum bertemu dengannya.

Sesosok manusia bermata dalam dan tawa yang akan mempesonamu. Dengan tarikan tangan dan hentakkan kaki yang akan membuatmu berkunang selama beberapa saat. Dan yang jelas, ia akan menghentikan waktumu.

Jangan berharap pada manusia jika kau tidak ingin kecewa.

Aku tahu, kau pasti bingung. Namun izinkan aku bercerita sedikit.

Untuk diriku di masa lalu. Kini aku sedang menengadahkan kepala untuk bisa melihat langit senja hari ini. Ya, kau akan menyukai senja ketika kau mulai beranjak dewasa.

Udara segar kuhirup dengan bebas seiring dengan mesin berjalan yang masih terus maju mengantarku pulang. 

Seulas senyum terbentuk di wajahku, tipis. Dan kemudian aku melihat bulan yang berbentuk separuh mulai menerangi bumi menggantikan sang matahari.

Indah. Segumpal awan sedikit menutupi wajahnya namun tetap…inilah salah satu senja yang paling kusukai.

Kau tahu, kurasa kau harus lebih sering memandang wajah langit yang selama ini telah menjadi saksi kehidupanmu. Ketika kau bosan, jenuh, atau sedang menunggu…lihatlah ke langit. Bersama dengan orang-orang yang penuh misteri. Di belahan dunia…mereka memandang langit yang sama, kau tahu.

Aku melihat hal-hal yang biasanya tidak kulihat. Seperti misalnya…aku baru tahu bahwa ada tower sinyal di dekat komplek rumah yang akan menjadi tempat tinggalmu nanti.Ya, kau harus menghilangkan sifat ‘mencari aman’mu itu untuk melihat dunia yang lebih luas.

Melompatlah. Melompatlah dari sangkar amanmu. Tersenyum. Tertawa sebebas yang kau mau. Dunia butuh senyuman darimu. Satu senyuman, dan dunia akan mendukung apapun yang kau inginkan berjalan lancar pada hari itu.

Jadilah manusia yang mudah bersyukur. Setiap hari, sempatkan sedikit waktu untuk memejamkan mata. Lalu hirup sebanyak mungkin udara yang mengisi paru-parumu. Rasakan betapa nikmatnya kau mendapatkan udara segar sebebas dan sebersih itu. Bersyukurlah, dan kau akan bahagia.

Dan lalu…jika kau bertemu dengannya. Si manusia dengan tatapan dalam, yang bergerak dengan lincah membawa harapannya. Pejamkan matamu. Sebisa mungin berpaling.

Kenapa? Karena ialah yang akan menjadi sumber kekeceaanmu di masa depan. Ialah  yang akan mengisi kehampaan hatimu yang masih labil bergerak, terombang-ambing di atas ombak asa…Ialah…manusia yang akan mengingatkanmu pada banyak hal yang kau sukai.

Karena itu…berhati-hatilah.

Jika seandainya suatu saat kau bicara padanya. Lalu akhirnya tanpa sadar kau masuk ke lubang kelinci yang diciptakan olehnya…maka cepatlah berlari. Cari celah untuk keluar. Bagaimana pun caranya kau harus keluar dari sana.

Aku sedang berusaha untuk mengurangi rasa sakit dan kecewamu. Jadilah manusia yang sabar. 

Dan….berlapang dada lah. Ikhlas jika suatu hal yang tidak kau sukai terjadi.

Suatu kondisi dimana kau tidak bisa marah. Kau tidak bisa menyuarakan isi hatimu yang gersang dan penuh dengan kabut asa nan kekecewaan yang begitu mendalam. Dan lagi, kau tidak bisa marah.

Biarkan…biarkan saja. Semua akan indah pada waktunya.

Bertahanlah. Aku disini akan menolongmu jika kau benar-benar sudah kehilangan cahayamu.

Ingatlah siapa yang menciptakanmu, dan kau akan tenang. Ingat, jangan pernah lupakan Dia.

Berlapang dada. Sabar. Aku tahu, kau akan melewati semua pagar yang menghalangimu mencapai tujuan 
hidupmu. Mencapai kebahagiaanmu.

Begitu pula dengan aku disini.

Aku akan bertahan. Aku akan berjuang untuk tetap menjadi manusia yang mengikuti ‘cahaya’.

Hati-hati.

Salam dariku untuk si manusia bertatapan dalam jika suatu hari kau menemuinya.

Katakan padanya,

“Berbahagialah. Kejar apa yang kau mau. Namun…jangan pernah dating ke mimpiku lagi. Aku…lelah.”

Tertanda,

Dirimu di masa depan.