.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Thursday, 12 April 2018

Menjadi Dewasa



Tahun 2018. Sekarang usiaku menginjak 20 tahun.

Hmm, tiba-tiba sebuah pikiran muncul, yang sebenarnya adalah wujud kekhawatiran gadis umur 20 tahun ini sih. Sekarang, aku lagi berada di tahap tingkat menuju akhir (tingkat 3) di perkuliahan. Terus rasanya otak ini banyak banget mikir.

Mikir, abis lulus aku mau ngapain. Pingin kerja, pingin lanjutin sekolah juga karena aku ingin jadi dosen. Belum lagi teman-teman seperjuangan udah mulai ngomongin nikah-nikah. Ya Allah, aku juga sebenarnya mikirin hal itu sih. Tapi kok rasanya agak takut ya.

Target aku menikah itu umur 24 tahun hahaha. Ga tau kenapa dulu bayangannya menikah itu menyenangkan. Hidup bersama orang yang dicintai (ya, sesederhana itu dulu aku berpikir). Sekarang, giliran kayak menghitung tahun demi tahun, udah mau lulus inshaaAllah umur 21 sudah sarjana, udah mau kerja. Mikirin mau kerja dimana aja bingung. Apalagi nikah. Menikah itu sebuah hal sacral yang menurutku sulit, maksudnya menjalaninya pasti susah kan. Menikahi kehidupan orang lain. SEPERTINYA AKU BELUM SIAP.

Jangankan itu, mikir mau praktek lapang dimana aja rasanya kepala kayak udah mumet huhu. Semester 6 ini, aku sudah harus memikirkan dimana aku akan magang, lalu memikirkan kolokium yang hanya tinggal hitungan minggu. WOY APAKAH AKU SUDAH TUA?!

Terus tadi abis baca webtoon yang tentang masa-masa SMA gitu aku jadi berpikir. Kalau aku nikah nanti, aku masih bakal bisa bersahabat sama sahabat aku ga ya? Maksudnya, buat sahabat yang cewek sih gapapa, kalau sahabat cowok gimana. Yang pasti aku akan sadar diri secara sudah berumah tangga sudah pasti aku tidak ingin menimbulkan suatu kesalahpahaman (?) wkwkwk duh aku ingin tertawa melihat ketikanku sendiri. Toh aku juga pasti tidak akan mau kalau suamiku nanti banyak bertemu seseorang aka sahabat wanitanya kan.

Mikirin ini juga, suatu saat kalau ternyata sahabat aku yang satu itu menikah duluan, kira-kira aku rela tidak ya wkwk. Habisnya, selama ini kan aku sangat mengandalkan dia di hidup ini. Terus ntar kalau doi udah menikah aku akan kehilangan sosok sahabat yang sangat aku andalkan itu berasa 911 wkwk. Aku juga berpikir siapa wanita yang pantes buat nemenin si sahabat aku itu. Di mata aku ya, dia adalah manusia luar biasa yang harus mendapatkan wanita luar biasa juga. He’s way too precious for me. Lol geli juga aku mengetik ini.

Tapi bukan berarti aku gamau dia nikah ya. Percaya lah aku pasti akan sangat senang dan bangga ketika dia menikah. Cuma aku tuh takut dengan perubahan loh. Perubahan proses menjadi dewasa, orang-orang di sekitar aku berangsur-angsur menghilang karena mereka juga jadi dewasa, teman-teman aku, masa SMP aku, masa SMA aku. Apakah aku masih bisa tertawa lepas mendengar candaan teman-teman aku lagi, atau engga. Itu yang aku takutkan menjadi orang dewasa.

Belum lagi soal tanggung jawab. Aku sudah akan bertanggung jawab atas semua yang aku lakukan. Engga lagi tuh laporan ke mama abis belanja bulanan apa aja, uang abis berapa, minta uang ke papa, minta pulsa, gelayutan, ga diurus lagi, dan aku akan mengurus suami dan keluarga aku. Huhu kok aku mau nangis ya.

Mana aku kan kuliah di luar kota ya. Otomatis waktu untuk menikmati sisa-sisa waktu bersama orangtua, bermanja ria, berperilaku sebagai anak, itu pasti terpangkas kan. Aku punya cita-cita mau kerja di Bandung aja biar bisa masih bareng mama papa, adek-adek aku. Terus kalau dapetnya di luar kota lagi, artinya aku harus berpisah lagi sama dua malaikat aku ini. Ya Allah aku membayangkannya saja sudah berurai air mata loh. Terus nanti aku menikah, aku sudah diambil suamiku (wadu suami) lalu tanggung jawabku tuh berpindah.

Dulu aku kalau membayangkan tentang pernikahan, rasanya menyenangkan gitu. Sekarang rasanya banyak takutnya karena mungkin baru mikir banyak dan emang kaya bentar lagi. Aku akan segera menyaksikan teman-teman seangkatan aku menikah. Aku akan mendapat undangan. Kalau aku mendapat undangan dari mantan aku gimana ya wkwkkw aku membayangkannya terkadang, gimana rasanya melihat orang yang pernah menghabiskan waktu bersama, berdiri di pelaminan dengan orang lain. Kayak lucu gitu ga sih? Mungkin aku akan tertawa kalau inget itu, tapi yang jelas aku pasti ikut bahagia. Toh aku juga akan menikah kok nanti, dengan orang yang tepat :P Jadi, ya gapapa. Aku nulis ini karena banyak mendengar cerita teman yang ditinggal menikah, jadi sempet kepikiran aja.

Di atas semuanya, aku merasa aku belum siap jadi dewasa sepenuhnya. Aku masih pingin banyak main, banyak bercanda, tapi waktu terus berjalan dan tau-tau aku sudah akan lulus guys.

Pertanyaan setelah lulus adalah,
“Kerja dimana?”
“Kapan nikah?”
Lalalalalala. Mama. Papa. Kakak masih pingin jadi anak huhuhu.

Ada ga sih yang juga merasakan hal kayak aku ini? Takut menjadi dewasa.
Mungkin, kalau aku sudah melalui itu semua lalu membaca ini, aku akan tertawa 😊

Fine, di Bogor, 20 tahun.
Sedang pusing magang dan penelitian.

Wednesday, 28 March 2018

Bertemu Lagi, Masa Laluku


Aku menatapmu sekilas. Sekilas, tapi aku dapat menangkap sebinar tatapan nanar dari mata coklatmu. Wajahmu mengerut, mungkin karena emosi yang tertahan. Bibirmu bergetar, berulang kali terbuka seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak kunjung terucap.

Pertemuan pertama sejak kamu mengatakan kamu harus pergi. Pertemuan pertama sejak kamu bilang bahwa tidak ada lagi kesabaran untuk tingkahku. Pertemuan pertama sejak... kamu memutuskan untuk selesai denganku.

Lama, kita diselimuti oleh bisu. Bisu yang membuat hatiku tertusuk, lagi dan lagi. Rasanya aku ingin kabur dari sini. Sungguh, aku rasa gagasan untuk bertemu lagi denganmu adalah gagasan terbodoh yang seharusnya tidak aku lakukan.

Aku takut akan menangis lagi. Aku takut menangis di depanmu. Kamu tidak suka kalau aku menangis, apalagi di tempat umum seperti ini. Yah, aku berusaha menahannya, kok. Sungguh. Demi menjaga amarah agar tidak keluar dari ragamu. Aku tidak ingin membuatmu kesal lagi, bahkan setelah aku sudah tidak wajib menuruti keinginanmu.

"Apa kabar?" kataku akhirnya. Menyunggingkan seulas senyum tipis yang sudah kulatih selama ini di depan teman-temanku. Ya, aku sudah melakukannya dengan sangat baik. Selama ini, aku bercerita seperlunya tentang sebab kenapa kita berpisah dengan senyuman. Aku juga menjaga agar kamu tidak terlihat salah, karena aku memang yakin, di atas segalanya, kamu begini karena aku yang terlalu menyebalkan.

Akhirnya kamu mengangkat wajah. Tidak tersenyum. Kamu masih sama dinginnya dengan sosok laki-laki yang beberapa saat lalu mendengar permintaan maafku. Sama dinginnya dengan sosok laki-laki yang mendengar permohonanku agar tidak meninggalkan aku.

"Baik. Kamu?" Kamu bertanya balik. Aku tersenyum, diam sejenak untuk berpikir apa yang harus kukatakan untuk menjawab pertanyaan sederhana yang keluar dari mulutmu itu.

Bagaimana ya, aku tidak mungkin baik-baik saja, sih.

Dari luar, aku menjaga agar aku tetap bahagia. Tanpamu, aku melakukan banyak hal. Aku menulis kembali, melanjutkan hobiku yang entah kenapa sempat tertunda. Aku juga banyak tertawa, karena aku banyak menghabiskan waktu bercerita dengan teman-teman wanitaku. Rencana masa depanku pun berangsur-angsur berubah. Aku ingin cepat lulus dan pergi sejauh mungkin dari Indonesia. Mengejar mimpiku di luar sana. Tanpamu.

Haha. Aku tertawa dalam hati. Aku melakukannya dengan sangat baik. Semua teman-temanku berpikir bahwa aku sudah sangat ikhlas melepaskan dirimu. Mereka berpikir bahwa aku dengan mudahnya bahagia kembali. Hanya menangis 3 hari, setelah itu selesai, aku bahagia kembali.

Sebenarnya, mereka tidak sepenuhnya benar. Aku berusaha untuk ceria secepat mungkin karena aku tidak ingin membuat orang tuaku khawatir. Bukan karena aku cepat move on, bukan karena aku mudah melupakan. Ketahuilah, tidak sehari pun aku mencoba untuk melupakanmu. Foto-fotomu di dinding kamarku tidak kulepas, foto-fotomu di ponselku pun sama. Masih rapi tidak tersentuh. Aku hanya membiarkannya, membiarkannya agar aku terbiasa.

Terkadang ada saatnya aku melamun, lalu tidak sadar menangis. Semenjak aku berpisah denganmu, aku belajar, tidak selamanya air mata itu untuk dibagi. Kamu yang kukira adalah orang yang paling peduli denganku saja, membenci air mataku. Bagaimana dengan yang lain?

Yah, kamu tahu tidak, hal tersulit bagiku adalah, mengucapkan selamat tinggal padamu, padahal kukira kamu adalah orang yang akan kuhabiskan waktu bersama. Kamu sudah ada di dalam deretan daftar rencana di hidupku. Angan-anganku sudah terkumpul, menunggu akan kita wujudkan bersama. Tapi, kamu bilang kamu akan pergi. Kamu harus pergi. Mimpiku seketika menguap ke atas langit. Mereka dipaksa untuk hilang, bahkan sebelum aku sempat mengutarakannya.

Ah, aku jadi sedih lagi.

Melihatmu sehat, bahagia seperti sekarang membuatku bahagia juga. Doaku juga belum berhenti kupanjatkan untukmu agar kamu dapat menemukan wanita lain yang bisa menemanimu lebih baik. Aku mendoakanmu lebih banyak dibanding untuk diriku sendiri. Semua keputusan juga kupertimbangkan untukmu agar kamu mendapat hal yang terbaik.

Aku masih mencintaimu seperti dulu. Bedanya, aku mencintaimu seperti orang bodoh.

Selang beberapa lama aku berpikir. Pada akhirnya aku tersenyum lagi. "Aku juga, baik."

Kurasa hanya itu satu-satunya kalimat yang pantas kuutarakan padamu.


Tuesday, 20 February 2018

Ali



Helaan napas panjang keluar dari mulutku, disusul dengan pejaman mata yang sejak tadi tidak memberikan ketenangan apa-apa. Aku mendecakkan lidah, kemudian melanjutkan aktivitasku lagi. Mengingat-ingat masa lalu memang bukan hal yang baik untuk menenangkan diri. Yang ada, aku malah semakin merasa sakit. Dan..rindu.

Tahun 2012.
“Ali! Ali!”
Sesosok laki-laki yang sedang duduk di bangkunya pun menoleh. Tangannya sibuk memainkan rubik berwarna-warni di tangannya—yang bisa ia selesaikan hanya dalam beberapa detik saja. Namun, saat itu ia memilih untuk meladeniku yang datang ke kelasnya sambil berurai air mata.
“Aliiiii!” rengekku begitu membiarkanku terduduk di lantai di dekat bangkunya. Air mata tidak berhenti turun dan malah semakin deras ketika Ali meletakkan rubiknya, bangun dari bangku, dan duduk di lantai bersamaku.
“Kenapa lagi, Ala?”
Lagi pada kalimat Ali menggambarkan bahwa ia cukup sabar menghadapi masa pubertasku yang penuh drama. Oh ya, aku sering begini. Datang di pagi hari ketika teman-teman yang lain belum datang ke sekolah, meletakkan tas di kelasku, lalu berlari menuju kelas Ali. Dan kalimat khas milikku yang hampir selalu kukatakan sebagai kalimat pembuka adalah, “Ali aku galau!” yang selanjutnya dilanjutkan dengan curahan hati gadis berumur 13 tahun terkait masalah percintaannya.
Ali merupakan manusia yang selalu kukagumi selama aku hidup saat itu. Ali selalu bisa membuatku lega, karena ia tidak pernha terlihat bosan mendengar ocehanku yang sebenarnya tidak bermutu. Ali selalu menyempatkan untuk online di y*h*o! messenger di malam hari karena tahu aku akan membutuhkannya di saat itu. Dan Ali adalah orang yang akan memakan kue kering yang selainya sudah terjatuh di lantai. Ali adalah…sahabat Ala. Sahabatku.
Tahun 2015.
Jariku sedang sibuk melakukan scrolling di ins*agr*m dan kemudian mataku terhenti di salah satu foto indah lautan dengan caption yang lumayan romantis. Kubuka profil pemilik foto tersebut, kemudian hatiku sakit.
Aku bilang padanya, “Ali, kamu udah suka sama orang ya makanya kamu sekarang jadi sulit dihubungi?”
Saat itu, hatiku lumayan retak. Bagaimana ya menjelaskannya, retak disini bukan berarti aku cemburu atau apa. Tapi, aku takut ditinggal pergi. Satu-satunya sahabat yang kumiliki sampai saat itu adalah Ali. Dan aku bukan tipe orang yang mudah menerima dan mempercayai orang. Aku bahkan tidak terlalu peduli jika semua orang yang kuanggap teman di dunia ini meninggalkanku pergi, asal bukan Ali. Karena Ali telah berteman sama tulusnya denganku yang menjadikan ia teman.
Air mataku waktu itu turun tanpa aku sadari. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan merasa sebegini sedihnya. Sedih karena takut kehilangan sosok Ali yang kukenal. Kemudian, ponselku bergetar. Pesan dari Ali. Isinya penjelasan bahwa ia bukannya sedang menyukai wanita atau apa, yang kemudian kubalas bahwa sebenarnya aku tidak pernah mempermasalahkan jika Ali menyukai seseorang atau apa, asalkan ia tetap menjadi sahabatku dan tidak jadi dingin. Lalu, Ali membuatku tenang lagi.
“Jangan sedih ih. Kamu sahabat yang selalu aku banggakan ke semua temen aku. Orang-orang yang deket aku di sini pasti tau Allamanda…”
Seulas senyum terbentuk di wajahku. Senang bercampur lega karena Ali tetap menjadi Ali yang berharga untuk Ala.

Tahun 2016
“Angkat teleponnya yah, Al.” kata Ali di pesan elektronik yang membuatku panik karena saat itu sudah malam, dan aku sedang di hotel satu kamar dengan orang tuaku yang sudah tidur. Setelah gagal menolaknya, akhirnya kuangkat juga.
Bersama Ali aku tidak pernah merasa bingung mencari topik pembicaraan. Kami bisa saja saling diam hampir 10 menit di telepon tanpa merasa canggung dan kemudian tertawa sampai membangunkan kedua orang tuaku—yang membuatku harus berbisik-bisik lagi.
“Al, ayo buat sebuah perjanjian kosong.”
“Apa?”
“Kalau seandainya di dunia ini udah ga ada orang yang mau sama kamu, aku bakal bareng kamu.”
“Oke, kalau di dunia ini udah ga ada yang mau sama kita berdua, kita bakal bareng.”
Dan kemudian aku tertawa geli. Aku tahu ini semua hanya bercanda karena sebenarnya kami sama sekali tidak memiliki perasaan khusus-lebih-dari-teman terhadap satu sama lain. Ia tahu bahwa aku sedang jatuh cinta dengan kekasihku saat itu, dan ia juga begitu. Kalimat-kalimat menggelikan tersebut sederhana agar kami bisa tertawa bersama, melupakan kejadian-kejadian buruk yang kami alami.
Karena Ali dan Ala adalah sepasang manusia yang ditakdirkan untuk bersama sempurna atas dasar persahabatan. Rasa cinta-cinta begitu sudah kami lalui dulu sebelum persahabatan ini terjalin, jadi yang tersisa sekarang adalah perasaan mengasihi karena peduli.
Tahun 2017.
Aku menatap laki-laki yang duduk di depanku sembari memainkan ponsel di tangannya. Telapak tanganku berkeringat karena merasa canggung. Canggung, yah. Entah sejak kapan aku merasa bahwa hubunganku dengan laki-laki ini berubah. Tidak seperti dulu.
Baru saja lewat 5 menit kami terdiam karena tidak punya topik bicara, aku merasa sangat tidak enak. Otakku sibuk mencari bahan pembicaraan untuk memecah sunyi yang menyelimuti kami. Perasaanku penuh kekhawatiran, bahwa aku tidak semenyenangkan dulu lagi untuk Ali.
Ali sering bercerita tentang teman-temannya. Sahabat-sahabat barunya. Aku senang, selalu senang mendengarkan kisah Ali yang kini telah bergerak. Terbang berkelana untuk mendapatkan pengalaman baru. Walaupun sebenarnya aku iri.
Aku iri, aku bahkan belum bisa mengepakkan sayapku jauh karena aku selalu gagal terbang. Aku iri, aku tidak banyak bergerak mencoba menjalin persahabatan dengan banyak orang. Aku iri, karena aku merasa aku tidak punya bahan bicara yang membuatnya tertarik lagi. Tidak SEPerti sahabat-sahabat barunya.
“Ali.” panggilku sama sekali tidak menghilangkan senyum getir di wajahku. Kupandangi cahaya lampu yang membias di wajahnya sore itu. Sorot matanya yang membuatku berpikir bahwa ia bosan. Ah, aku merasa bodoh.
Sudah lama tidak bertemu dan aku bahkan tidak bisa membuat kami bicara banyak.
“Ali, kamu kenapa?”
Ali akhirnya mengangkat wajah lalu menatapku, “Gabut nih.”
Lalu aku semakin merasa bersalah.
Kuingat lagi bagaimana Ali bercerita bahwa ia sangat senang bertemu dengan sahabat lainnya kemarin.
Kenapa aku tidak bisa membuatnya menikmati waktu bertemu denganku?
Tahun 2018.
“Selamat ulang tahun, Ala.”
Aku tersenyum membaca pesan tersebut di ponselku. Singkat, tapi aku senang karena Ali tidak pernah lupa kapan aku ulang tahun. Tapi, aku merasa semuanya hambar. Dan lagi-lagi, ternyata aku iri.
Ucapan ulang tahun Ali untuk sahabatnya yang lain waktu itu tidak sedingin ini. Aku ingat, ada satu foto waktu itu ysng membuatku iri. Padahal aku tidak pernah absen memberikan ucapan heboh untuk sahabatku ini. Yah, tidak apa-apa. Aku tahu Ali sibuk.
2018, baru-baru ini.
Hatiku hancur. Hancur sehancur-hancurnya mengetahui kabar menyedihkan melalui pesan berantai. Aku tidak akan pernah tahu jika aku tidak dikabari. Aku…aku merasa sangat tidak berguna.
Hari itu aku menangis. Sibuk mencari travel tercepat yang bisa membawaku pulang ke Bandung. Aku ingin meneleponnya. Aku ingin menelepon Ali walaupun aku hanya bisa menangis saja. Aku ingin tahu kabarnya saat itu.
Malam itu aku tidak bisa tidur. Merasa berdosa jika aku memejamkan mata karena kupikir Ali tidak akan bisa tidur malam itu. Aku tidak ingin membiarkannya sendirian. Melalui hal seberat ini sendirian. Sekali lagi, aku iri dengan semua sahabat Ali yang bisa menemaninya di kala itu. Untuk pertama kalinya, aku mengutuk diriku sendiri kenapa aku kuliah di luar kota.
Ali baru menghubungiku keesokan harinya. Ia bilang, ia baik-baik saja. Aku tahu ia begitu karena tidak ingin membuatku khawatir. Aku juga tidak ingin membuatnya khawatir makanya aku berusaha bersikap senatural mungkin. Aku selalu berkata padanya, bahwa aku akan selalu ada untuknya jika ia butuh aku. Aku juga ingin berkata bahwa ia tidak perlu terlihat kuat di depanku.
Selang beberapa hari, hatiku sesak lagi. Saat ini aku merasa sangat useless karena aku tidak disana menemani Ali melewati masa sulit. Bahkan aku tidak bisa mengantarnya ke stasiun. Membuat story  untuknya yang tidak dilihat. Dan menghubunginya,
“Ali.”
“Ali, apapun yang terjadi aku tetep bakal bareng kamu.”
Pesanku dibaca, dibalas, kemudian dia menghilang lagi. Aku tahu, dia sibuk. Mungkin otakku saja yang perlu dibenturkan supaya aku tidak memikirkan hal macam-macam seputar iri dan sebagainya. Karena Ali tahu saat ini ia butuh siapa. Mungkin aku memang bukan sahabat yang ia pilih untuk menemaninya berjuang.
Kemudian ia muncul lagi, kali ini dengan foto sahabatnya di sosial medianya.
Dan aku…mengecek pesanku sudah dibaca atau belum.
Ternyata belum.
Yah, mungkin Ali sedang menyibukkan diri.
Aku berusaha untuk tidak sedih berlebihan dan bersikap seperti biasa. Aku hanya berharap dan selalu berdoa bahwa ia akan baik-baik saja dan menjalani hidup dengan baik pula. Aku ingin memastikan ia hidup dengan baik, tapi kemudian aku ingat, dia punya sahabat yang ia percaya untuk memastikan ia hidup dengan baik.
Ali…aku rindu Ali dan Ala yang dulu. Jangan…ganti posisiku dengan orang lain. Ya?
Yah, aku benar-benar merasa useless sekarang. Aku mulai tenggelam dengan rasa takut terbesarku ditinggalkan orang-orang yang kukasihi. Dilan dan Ali, pergi. Mereka pergi, dan itu semua disebabkan karena aku yang belum cukup baik untuk berada di sisi mereka.


Monday, 19 February 2018

Kamu, Berhak untuk Bahagia

It’s hard to be with you. But I’ve never let myself giving up. Not until you asked me.
Halo. Kusapa dirimu dengan sejuta rasa yang muncul di benakku. Sudah lama rasanya sejak terakhir kali kita saling bicara.
Kamu…apa kabar?
Aku harap kamu merasa lebih baik sekarang. Sungguh, aku benar-benar mengharapkanmu untuk hidup dengan baik.
Terakhir kali, sebenarnya aku tidak ingin mengingat apa yang terjadi saat terakhir kali kita saling bertemu. Kamu tahu tidak, hingga saat ini aku sendiri tidak tahu harus merasakan apa. Aku tidak tahu harus berpikir apa tentangmu. Bahkan, aku tidak tahu apakah aku bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri atas perpisahan yang telah terjadi.
Kamu, adalah laki-laki unik yang membuatku bisa meninggalkan masa lalu yang menjeratku selama bertahun-tahun. Laki-laki yang bisa membuatku membuka hati yang sejak lama tertutup hanya untuk satu-satunya orang yang akan selalu menjadi mimpi. Satu-satunya orang yang bisa membuatku tersenyum dan mencintai lagi.
Ya…mencintai lagi.
Jika orang bertanya, mengapa aku bisa menyukaimu sebesar itu dan bisa bertahan dengan keadaan yang memaksa kita untuk jauh, alasannya karena kamu adalah harapan yang muncul bagaikan pelangi setelah hujan. Selama ini, aku hidup penuh dengan penyesalan, kekecewaan, dan rasa tidak percaya pada orang lain. Lalu kamu datang, sebagai matahari yang rela mati membiarkan bulan untuk bersinar. Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu hingga aku tidak tahu lagi apa alasannya. Aku merasa sangat berharga, merasa aman, merasa ‘percaya’ untuk menyandarkan harapanku padamu. Sungguh, aku sangat menghargai semua hal yang telah kamu lakukan untuk membuatku bahagia.
You did your best to make me happy.
Kamu membuatku tertawa, membuatku tersenyum, membuatku bisa menghargai hal-hal kecil yang kamu lakukan untuk membuatku yakin kalau kamu benar-benar menyukaiku. Aku suka cemburumu, marahmu, tawamu. Aku selalu suka semua hal darimu.
Terima kasih, telah berada di sisiku selama ini. Aku tahu, tidak mudah menyukai gadis menyebalkan sepertiku. Pasti gadis manja ini telah membuat kepalamu harus berpikir tiga kali lebih keras hanya untuk membuatku membentuk senyum di bibir. Dan berkali-kali membuatmu ingin membanting pintu karena bingung dengan apa yang kupikirkan.
Aku minta maaf. Satu-satunya orang yang bisa disalahkan dengan rusaknya hubungan yang telah kita bangun selama ini adalah aku. Karena aku tidak bisa membuatmu mengepakkan sayap dengan lebar. Karena kemanjaanku, sifatku yang selalu cemburu, hati-hati, tidak dewasa, serta aku yang sulit menjelaskan perasaanku dengan baik.
Maaf. Rasa manja yang selalu muncul ini semata-mata karena aku ingin mengeluarkannya saja karena menahan rindu selama kamu berjuang dengan pendidikanmu. Aku yang pada dasarnya memang manja ini, mendadak harus mandiri karena kamu harus pergi mengejar cita-cita dan tidak bisa selalu menghubungi atau bertemu denganku. Aku tidak pernah berpikir untuk dengan egoisnya meminta seluruh waktu luangmu. Tidak kok. Aku hanya…yah, ingin punya waktu spesial saja. Untukku. Karena menurutku itu cukup untuk menebus hari-hari saat kamu pergi tanpa kabar karena pendidikanmu. Aku minta maaf, kalau hal ini membuatmu berpikir bahwa aku menuntut lebih dari waktu yang kamu punya.
Aku minta maaf atas semua sifat yang sama sekali tidak dewasa. Aku tahu, kamu muak. Aku tidak berani menyalahkanmu kalau kamu lelah menghadapi sifatku yang konyol ini. Mungkin, kalau aku merasa lebih diperhatikan, aku tidak akan terlalu merepotkanmu. Aku tahu, memintamu untuk menjadikan aku prioritas adalah hal yang sama sekali tidak benar. Tapi…hati kecilku menuntut itu. Sebagai gadis yang menjadi kekasihmu, yang telah bertahan menjaga hatiku selama kamu pergi. Selama kamu hanya bisa menghubungiku satu minggu sekali. Hati kecilku menuntut hal itu, sayang sekali.
Entahlah, rasanya menjelaskan satu persatu pun tidak akan memberikan efek apa-apa. Yang jelas, malam itu…dimana aku memohon padamu agar kita tidak menyudahi semua ini, yang kamu balas dengan ucapan menyakitkan bahwa kalau kita melanjutkan semuanya, hal yang sama akan terjadi. Tangisanku yang tidak mau berhenti seraya kata-kata “Jangan putus, ya?” yang terucap berulang kali dan lagi-lagi dibalas dengan kesunyian.  Ucapan maaf yang kemudian disambung dengan rentetan kalimat yang menunjukkan bahwa aku sama sekali bukan kekasih yang baik untukmu selama ini, yang membuatku merasa sangat bersalah. Pesan untukku agar tidak menyakiti hati orang lain lagi, ucapan yang membuatku teriris bahwa kamu yakin aku akan menganggapmu sebagai musuhku, padahal aku sama sekali tidak pernah berpikir hal seperti itu. Pesanmu yang membuatku merasa aku sama sekali bukan wanita yang baik bagi orang lain. Bahwa aku tidak pernah menghargai usaha-usaha yang kamu lakukan untukku… dan… menghakimiku atas masa laluku. Semuanya menyakitkan.
Aku berpikir keras untuk menyelamatkan hubungan ini, berulang kali. Tapi saat itu, ketika aku tersadar bahwa sebesar apapun aku memohon, kamu tidak akan mengubah keputusanmu. Di saat itu juga, aku rela melepaskan dirimu di depan mataku.
Kamu pasti ingat, ketika aku berusaha tersenyum, menghentikan tangisanku, dan memohon padamu sekali lagi bahwa aku masih tetap bisa melihat dan berteman denganmu. Ketika aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa kamu tidak akan langsung hilang dari pandanganku. Ketika aku mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan, “Tetap teman ya?”
Di situlah titik dimana akhirnya aku sadar bahwa aku tidak ingin menyakitimu lebih lanjut dan membiarkanmu lepas. Walaupun pada kenyataannya, aku sama sekali tidak ingin semua ini terjadi. Aku akhirnya ikhlas dan mungkin hatiku pun akhirnya sadar diri untuk rela membiarkan kamu pergi.
Aku merasa sakit, tapi aku tidak pernah dan tidak ingin orang lain menyalahkanmu. He did his best to makes me happy adalah kalimat yang selalu ingin kulontarkan kepada semua orang yang berpikir kamu jahat karena memutuskanku. Aku mengambil penuh peran untuk disalahkan disini, karena aku tahu kamu tidak salah.
Oleh karena itu, aku benar-benar berharap dan mendoakan semoga kamu bisa hidup dengan baik. Tanpa harus terbebani dengan aku yang membebani. Aku selalu mendoakan kamu agar kamu lebih bahagia. Kamu, berhak untuk bahagia.



Monday, 3 July 2017

00.35

Senin, 3 Juli 2017
00.35

Aku menghela napas panjang. Entah mengapa, rasanya aku bingung harus meluapkan emosiku kemana. Karena kini aku tidak bisa langsung megutarakan aa yang aku rasakan seperti biasanya padamu.
Kenapa?
Karena aku takut.
Aku takut kamu akan marah. Aku takut kamu akan bicara seolah-olah aku sebersalah itu. Aku tidak suka merasa aku bodoh. Aku tidak suka dibilang berlebihan.
Padahal, yang merasakan perasaanku sekarang kan aku. Jadi, bagaimana bisa aku disalahkan karena apa yang aku rasakan?
Sejak awla aku sudah mencoba mengerti. Bayangkan. Seorang diriku yang penuh keegoisan, berusaha menghibur diri sendiri supaya aku tidak marah. Supaya aku tidak kecewa berlebihan Supaya aku tidak merasa sedih.
Karena aku dilarang untuk kecewa. Setiap aku mengucapkan bahwa aku sedih, aku kecewa pasti pada akhirnya...aku yang akan merasa bersalah lagi :)

Kamu tahu. Terkadang, disaat seperti ini, otakku sibuk. Sangat sibuk bergumul, berpikir,apakah semua yang kujalani sekarang sepadan dengan apa yang kuterima?
Entahlah, aku yang egois. Memang.

Tapi, seandainya aku bisa jujur meluapkan seluruh perasaanku, apa yang aku rasakan, rasa sedihku, rasa kecewaku, seperti dulu...aku rasa pada akhirnya aku lagi yang akan merasa bersalah.

Kemudian aku akan mengejar-ngejar dirimu seperti tidak tahu malu.

Menyedihkan, ya?

Padahal aku sangat menjunjung harga diriku. Tapi, di depanmu...aku bisa mempermalukan diriku sendiri.

Sebenarnya, yangmembuat aku kesal adalah karena secara tidak langsung aku dilarang untuk merasa sedih, merasa kecewa, merasa marah, atas dasar bahwa kau tidak mengerti.

Ya, di matamu, apapun yang kulakukan pasti saja salah. Kamu benar, aku salah.

Dan aku masih menerima doktrin itu hingga saat ini. Kamu tahu kenapa? Karena aku terlalu takut...untuk mengambil risiko, aku takut kamu akna meninggalkanku seperti yang dilakukan semua orang padaku.

Kalau kamu berpikir kenapa aku selalu berlebihan seperti ini, ya sudah. Apa boleh buat.

Bahkan sekaramg aku kembali seperti diriku beberapa tahun lalu yang tidak punya tempat untuk meluapkan ap ayang aku rasakan. Aku tidak butuh pembenaran, sungguh. Tapi aku juga tidak mau mendapatkan kalimat sarkasme yang menyakitkan, yang membuatku merasa bodoh, yang membuatku...merasa bersalah lagi.

Aku heran, mengapa dalam setiappertengkaran kita, selalu aku yang pada akhirnya merasa sangat bersalah sehingga aku merasa 100 persen penyebab pertengkaran antara kamu dan aku, adalah aku seorang.

Aku heran, apakah hanya aku disini yang egois? Apakah semua pasangan di dunia ini juga seperti kita? Apakah kita benar-benar baik-baik saja?

Apakah...kita benar-benar baik-baik saja?

Kenapa aku selalu merasa...bahwa yang berjuang di dalam hubungan ini cuma aku? Aku yang berusaha berubah, aku yang berusaha memperbaiki semuanya, aku yang...selalu didikte harus melakukan apa.

Hehe.

Setelah dipikir, memang aku yang salah sih.
Aku salah, karena terus berandai-andai kamu memang memiliki perasaan sebesar yang kumiliki padamu.
Aku salah, karena masih menaruh harap bahwa aku akan diperlakukan seperti layaknya wanita lain diperlakukan oleh pasangannya.
Aku yang salah, karena masih berkhayal kamu akan memberiku lebih waktumu yang sibuk itu.
Aku yang salah, karena masih berharap suatu saat kamu akan lebih memperhatikan apa yang aku rasakan jika kamu bertindak begini, begitu.
Aku yang salah karena sering berandai-andai kamu akan semanis dulu.
Aku yang salah, karena aku terus berpikir kamu bisa mengerti apa yang aku mau.
Aku juga salah, karena aku bukan kekasih yang baik untukmu
Dan aku juga salah, karena aku tidak akan pernah berani mengambil langkah gila untuk melepaskanmu agar kamu mengerti apa rasanya kalau aku tidak lagi di sisimu.

 Karena aku tahu, seandainya aku pergi pun kamu tidak akan merasa apa-apa. Masih banyak wanita lain yang lebih baik yang bisa memenuhi semua standar yang kamu inginkan, tanpa harus diberi tahu terlebih dahulu.

Yah. Aku yang salah, karena terlalu...berharap banyak.

Jadi...apakah kita baik-baik saja?

Karena kini aku mulai kembali ke kebiasaan lamaku.

Aku tidak berani mengungkapkan apa yang aku rasakan, tidak tahu harus bicara kemana, sehingga aku kembali menulis disini.

Seperti beberapa tahun yang lalu dimana aku tidak bisa mengungkapkan rasa sesak di dadaku,kepada seseorang.

Sunday, 28 May 2017

Maaf, sayang.

Mei, 2017.
Untuk dirimu penyangga hidupku.
Sepertinya perkenalan kita selama hampir tiga tahun ini tidak berjalan efektif, ya? Baiklah, kali ini kupermudah. Aku akan menjabarkan hal-hal penting mengenai diriku yang perlu kamu tahu. Mm, tapi janji...aku mohon dengan sangat, kamu tidak boleh marah atau menyela ucapanku. Ya? Mengerti?

Jadi, sayang. Aku adalah gadis yang sangat pemalu, walaupun kamu tidak akan percaya. Namun, jati diriku yang sebenarnya adalah bukan gadis periang yang kamu sukai selama ini. Aku selalu tidak nyaman berada di tempat baru, bertemu orang baru atau bahkan teman lama, dan aku juga tidak suka membeli sesuatu sendirian. Jadi, aku minta maaf jika kamu sering kesal padaku karena aku selalu bereaksi menyebalkan jika kamu minta untuk membeli jco sendirian, atau memesan kopi di starbuck sendirian...I'm sorry but I really felt so uncomfortable. Aku benar benar minta maaf karena aku terlihat sangat manha dan egois, tapi aku bersikap seperti itu bukan karena aku manja, tapi karena aku sangat pemalu. Jangan salah paham lagi, ya.

Selanjutnya, sayang aku adalah seorang introvert. Kamu tahu,'kan? introvert. ada alasan mengapa aku begitu pemalu, hal itu terjadi karena aku yang memiliki kecenderungan lebih suka sendirian. Sejak kecil, ketika banyak saudara-saudaraku yang bermain, aku lebih memilih berdiam diri di tempat lain, sendirian. Jadi, gadis yang kamu lihat terlihat sangat ramah kepada semua orang, pecicilan, dan hal lainnya, itu semata-mata karena aku ingin menjadi seseorang yang kamu dambakan. Aku tahu, kamu selalu berharap aku memiliki banyak teman. Sungguh sayang, aku punya banyak teman. Jadi kamu tidak perlu khawatir aku akan sendirian. Bahkan ketika aku berkata aku tidak pernah merasa ada masalah apabila aku tidak punya teman. Jadi, jangan marah lagi dan paksa aku lagi ya :)

Lalu, aku tidak mudah percaya dengan orang lain. Mungkin yang kamu lihat, aku seperti gadis egois, tidak peduli dengan teman, tidak peduli dengan orang sekitar. Mungkin kamu juga menganggap, aku adalah gadis paling menyebalkan sedunia karena selalu mudah kecewa. Jadi sayang, aku memiliki krisis kepercayaan pada semua orang. Kamu pikir aku naif, selama ini mencari pertemanan yang tulus, kenapa? karena aku selalu mencoba memberikan yang terbaik untuk pertemanan yang kurajut. Kalau kamu bilang aku terlalu naif, atau egois, karena aku selalu merasa dibuang oleh semua pertemanan yang pernah kujalani, ya... aku memang naif. Naif karena aku memberikan kepercayaan pada teman temanku dulu, namun mereka merusaknya. Dengan sebaik-baiknya membuat hatiku yang malang ini hancur sehancur-hancurnya. Kalau kamu bilang itu hanya perasaanku saja karena aku merasa dibuang oleh mereka, sesungguhnya mereka memang membuang aku. Tapi kamu akan menyangkalku lagi, kamu bilang kamu tahu seluruh cerita tentang bagaimana rusaknya pertemananku dahulu, sayang. kamu hanya mendengar dari mereka, tidak juga mendengar versi cerita dariku. Jadi tolong, jangan hakimi aku bahwa aku memiliki kualitas yang rendah untuk berteman. Menurutku wajar jika aku kehilangan kepercayaan dan akhirnya memilih untuk tidak berhubungan lagi dengan orang di masa laluku. Itu pilihanku, asal kamu tahu, hanya dengan cara itu aku bisa berhenti merasakan sakit di dada. Seandainya kamu tahu betapa pentingnya pertemanan bagiku, kamu tidak akan sembarangan menganggap aku terlalu egois dan naif untuk mendapatkan teman. Kamu bilang, jika aku menvari teman yang tulus, cari saja di surga. Sesungguhnya, tidak. Karena aku telah berteman dengan mereka semua dengan tulus dan aku mencintai mereka sepenuh hatiku. Karena kepercayaanku dirusak begitu saja, apakah kamu pikir hatiku dapat kembali tertata seperti dulu? Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu seharusnya dapat mengerti...lamanya waktu yang kubutuhkan untuk menata hidup kembali. Kamu tidak tahu bagaimana sakitnya aku, frustasinya aku, bahkan depersi dan tidak mau sekolah ketika aku tahu semua orang yang kuanggap teman terpercaya menusukku dari belakang. Apa menurutmu aku yang bodoh ini sanggup menahan semuanya sekaligus dan langsung melupakannya seketika? Jadi tolong, aku benar benar minta maaf karena aku tidak atau belum bisa berteman dengan baik seperti kamu. Perasaanku belum sekuat itu untuk menerima kotornya pertemanan. Kalau aku begini, seharusnya kamu memberikan dukungan moral sayang, bukan memberiku banyak cerita yang pada akhirnya menyalahkanku. Jangan begitu lagi ya :)

Lalu, aku adalah gadis yang sangat protektif terhadap apapun yang aku punya. Itulah sebabnya aku terlihat sangat cerewet padamu, selalu berisik tentang kabar, tentang kamu bersama siapa kemana. Maaf aku jadi terlihat posesif, tapi psikologisku memang begitu. Aku sangat menjaga apapun yang aku miliki. Aku minta maaf karena sikapku ini membuatmu malas, takut, dan banyak lagi. Aku minta maaf karena memang aku seperti ini, dan akan sulit untuk mengubah diriku agar sempurna seperti yang kamu inginkan sehingga kamu tidak perlu takut lagi jika ingin pergi dengan siapapun asalkan kamu memberi kabar padaku sebelumnya sehingga aku tidak salah paham. Dengan kondisi mental seperti ini, aku harap kamu mengerti bahwa rasanya sangat sulit bagiku untuk tidak tahu apa apa tentang kamu. Aku tahu hal ini sangat sulit dimengerti dan sepertinya kamu sudah terlalu lelah untuk mengerti aku. Jadi, seandainya kamu sudah sangat merasa terganggu dengan diriku yang seperti ini, kamu boleh pergi. Aku harap orang lain yang akan menggantikanku itu jauh lebih baik dari segala-galanya dibanding aku. Dan pastinya aku juga berharap dapat bertemu dengan seseorang uang akan mengerti keadaanku sekarang.

Sayangku, seandainya kamu tahu betapa sulitnya bagiku untuk hidup sendiri tanpa kamu di sisiku. Dengan waktu kontak dan jumpa yang amat sangat terbatas, setiap minggunya aku selalu berharap banyak tentang dirimu. Berharap banyak bahwa kamu akan tiba tiba memperlakukanku dengan baik seperti orang lain, atau melihatmu terlihat senang melihatku. Hingga saat ini, aku belum mendapat sinyal itu. Jadi mungkin, kuharap suatu saat kamu bisa menyampaikan perasaanmu pafaku lebih baik dibanding komunikasi kita yang seperti ini.

Sayang, ketika kamu bilang bahwa dia tidak salah, ketika kamu bilang aku tidak seharusnya menyalahkan dia, ketika kamu membela dia...menurutmu bagaimana keadaan hatiku? Apa kamu tidak peduli dengan aku yang mencoba kuat menerima hantaman darimy. Dan lagi lagi, aku merasa banyak menimbulkan masalah. Aku minta maaf, karena telah menyakiti temanmu dengan kalimatku yang terbawa emosi.

Sayang, aku benar benar mencintaimu. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama? Maukah kamu mempelajari diriku yang seperti ini dengan baik? Maukah kamu menerima sifatkubyang seburuk ini?
Kuharap kamu masih mau.
Karena...aku telah memberikan seluruh hatiku padamu. Dan aku telah jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya pada dirimu.



Saturday, 21 January 2017

Hai lihat wattpadku yuk!

Halooooo pembaca blogku :')) sudah lama sekali aku ganulis disini ya huhuhu
Maafkan dirku, aku fokus ke novel dan sempat mengalami hiatus di dunia tulisan beberapa saat lalu :')

Well, aku mau ngasih tau hehehe akhirnya aku membuka diri untuk wattpad. Setelah sebelumnya aku takut karya aku dicuri orang, sekarang yah aku pasrah aja. Dan sekaligus untuk mengobati writer's block yang aku alami jadi aku akhirnya mengupload karya di wattpad :')

Kalian harus mampir ya ke wattpad ku! InshaaAllah ceritanya lebih berbobot karena ini beneran novel yang aku tulis dan bagi untuk kalian semua!

Kalian bisa buka disini :
https://www.wattpad.com/user/fineayuputri

Yeay! Happy reading all! Ditunggu komennya ya seperti biasa :') aku menerima kritik dan saran ko hehe, love you!