.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Sunday, 28 May 2017

Maaf, sayang.

Mei, 2017.
Untuk dirimu penyangga hidupku.
Sepertinya perkenalan kita selama hampir tiga tahun ini tidak berjalan efektif, ya? Baiklah, kali ini kupermudah. Aku akan menjabarkan hal-hal penting mengenai diriku yang perlu kamu tahu. Mm, tapi janji...aku mohon dengan sangat, kamu tidak boleh marah atau menyela ucapanku. Ya? Mengerti?

Jadi, sayang. Aku adalah gadis yang sangat pemalu, walaupun kamu tidak akan percaya. Namun, jati diriku yang sebenarnya adalah bukan gadis periang yang kamu sukai selama ini. Aku selalu tidak nyaman berada di tempat baru, bertemu orang baru atau bahkan teman lama, dan aku juga tidak suka membeli sesuatu sendirian. Jadi, aku minta maaf jika kamu sering kesal padaku karena aku selalu bereaksi menyebalkan jika kamu minta untuk membeli jco sendirian, atau memesan kopi di starbuck sendirian...I'm sorry but I really felt so uncomfortable. Aku benar benar minta maaf karena aku terlihat sangat manha dan egois, tapi aku bersikap seperti itu bukan karena aku manja, tapi karena aku sangat pemalu. Jangan salah paham lagi, ya.

Selanjutnya, sayang aku adalah seorang introvert. Kamu tahu,'kan? introvert. ada alasan mengapa aku begitu pemalu, hal itu terjadi karena aku yang memiliki kecenderungan lebih suka sendirian. Sejak kecil, ketika banyak saudara-saudaraku yang bermain, aku lebih memilih berdiam diri di tempat lain, sendirian. Jadi, gadis yang kamu lihat terlihat sangat ramah kepada semua orang, pecicilan, dan hal lainnya, itu semata-mata karena aku ingin menjadi seseorang yang kamu dambakan. Aku tahu, kamu selalu berharap aku memiliki banyak teman. Sungguh sayang, aku punya banyak teman. Jadi kamu tidak perlu khawatir aku akan sendirian. Bahkan ketika aku berkata aku tidak pernah merasa ada masalah apabila aku tidak punya teman. Jadi, jangan marah lagi dan paksa aku lagi ya :)

Lalu, aku tidak mudah percaya dengan orang lain. Mungkin yang kamu lihat, aku seperti gadis egois, tidak peduli dengan teman, tidak peduli dengan orang sekitar. Mungkin kamu juga menganggap, aku adalah gadis paling menyebalkan sedunia karena selalu mudah kecewa. Jadi sayang, aku memiliki krisis kepercayaan pada semua orang. Kamu pikir aku naif, selama ini mencari pertemanan yang tulus, kenapa? karena aku selalu mencoba memberikan yang terbaik untuk pertemanan yang kurajut. Kalau kamu bilang aku terlalu naif, atau egois, karena aku selalu merasa dibuang oleh semua pertemanan yang pernah kujalani, ya... aku memang naif. Naif karena aku memberikan kepercayaan pada teman temanku dulu, namun mereka merusaknya. Dengan sebaik-baiknya membuat hatiku yang malang ini hancur sehancur-hancurnya. Kalau kamu bilang itu hanya perasaanku saja karena aku merasa dibuang oleh mereka, sesungguhnya mereka memang membuang aku. Tapi kamu akan menyangkalku lagi, kamu bilang kamu tahu seluruh cerita tentang bagaimana rusaknya pertemananku dahulu, sayang. kamu hanya mendengar dari mereka, tidak juga mendengar versi cerita dariku. Jadi tolong, jangan hakimi aku bahwa aku memiliki kualitas yang rendah untuk berteman. Menurutku wajar jika aku kehilangan kepercayaan dan akhirnya memilih untuk tidak berhubungan lagi dengan orang di masa laluku. Itu pilihanku, asal kamu tahu, hanya dengan cara itu aku bisa berhenti merasakan sakit di dada. Seandainya kamu tahu betapa pentingnya pertemanan bagiku, kamu tidak akan sembarangan menganggap aku terlalu egois dan naif untuk mendapatkan teman. Kamu bilang, jika aku menvari teman yang tulus, cari saja di surga. Sesungguhnya, tidak. Karena aku telah berteman dengan mereka semua dengan tulus dan aku mencintai mereka sepenuh hatiku. Karena kepercayaanku dirusak begitu saja, apakah kamu pikir hatiku dapat kembali tertata seperti dulu? Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu seharusnya dapat mengerti...lamanya waktu yang kubutuhkan untuk menata hidup kembali. Kamu tidak tahu bagaimana sakitnya aku, frustasinya aku, bahkan depersi dan tidak mau sekolah ketika aku tahu semua orang yang kuanggap teman terpercaya menusukku dari belakang. Apa menurutmu aku yang bodoh ini sanggup menahan semuanya sekaligus dan langsung melupakannya seketika? Jadi tolong, aku benar benar minta maaf karena aku tidak atau belum bisa berteman dengan baik seperti kamu. Perasaanku belum sekuat itu untuk menerima kotornya pertemanan. Kalau aku begini, seharusnya kamu memberikan dukungan moral sayang, bukan memberiku banyak cerita yang pada akhirnya menyalahkanku. Jangan begitu lagi ya :)

Lalu, aku adalah gadis yang sangat protektif terhadap apapun yang aku punya. Itulah sebabnya aku terlihat sangat cerewet padamu, selalu berisik tentang kabar, tentang kamu bersama siapa kemana. Maaf aku jadi terlihat posesif, tapi psikologisku memang begitu. Aku sangat menjaga apapun yang aku miliki. Aku minta maaf karena sikapku ini membuatmu malas, takut, dan banyak lagi. Aku minta maaf karena memang aku seperti ini, dan akan sulit untuk mengubah diriku agar sempurna seperti yang kamu inginkan sehingga kamu tidak perlu takut lagi jika ingin pergi dengan siapapun asalkan kamu memberi kabar padaku sebelumnya sehingga aku tidak salah paham. Dengan kondisi mental seperti ini, aku harap kamu mengerti bahwa rasanya sangat sulit bagiku untuk tidak tahu apa apa tentang kamu. Aku tahu hal ini sangat sulit dimengerti dan sepertinya kamu sudah terlalu lelah untuk mengerti aku. Jadi, seandainya kamu sudah sangat merasa terganggu dengan diriku yang seperti ini, kamu boleh pergi. Aku harap orang lain yang akan menggantikanku itu jauh lebih baik dari segala-galanya dibanding aku. Dan pastinya aku juga berharap dapat bertemu dengan seseorang uang akan mengerti keadaanku sekarang.

Sayangku, seandainya kamu tahu betapa sulitnya bagiku untuk hidup sendiri tanpa kamu di sisiku. Dengan waktu kontak dan jumpa yang amat sangat terbatas, setiap minggunya aku selalu berharap banyak tentang dirimu. Berharap banyak bahwa kamu akan tiba tiba memperlakukanku dengan baik seperti orang lain, atau melihatmu terlihat senang melihatku. Hingga saat ini, aku belum mendapat sinyal itu. Jadi mungkin, kuharap suatu saat kamu bisa menyampaikan perasaanmu pafaku lebih baik dibanding komunikasi kita yang seperti ini.

Sayang, ketika kamu bilang bahwa dia tidak salah, ketika kamu bilang aku tidak seharusnya menyalahkan dia, ketika kamu membela dia...menurutmu bagaimana keadaan hatiku? Apa kamu tidak peduli dengan aku yang mencoba kuat menerima hantaman darimy. Dan lagi lagi, aku merasa banyak menimbulkan masalah. Aku minta maaf, karena telah menyakiti temanmu dengan kalimatku yang terbawa emosi.

Sayang, aku benar benar mencintaimu. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama? Maukah kamu mempelajari diriku yang seperti ini dengan baik? Maukah kamu menerima sifatkubyang seburuk ini?
Kuharap kamu masih mau.
Karena...aku telah memberikan seluruh hatiku padamu. Dan aku telah jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya pada dirimu.



Saturday, 21 January 2017

Hai lihat wattpadku yuk!

Halooooo pembaca blogku :')) sudah lama sekali aku ganulis disini ya huhuhu
Maafkan dirku, aku fokus ke novel dan sempat mengalami hiatus di dunia tulisan beberapa saat lalu :')

Well, aku mau ngasih tau hehehe akhirnya aku membuka diri untuk wattpad. Setelah sebelumnya aku takut karya aku dicuri orang, sekarang yah aku pasrah aja. Dan sekaligus untuk mengobati writer's block yang aku alami jadi aku akhirnya mengupload karya di wattpad :')

Kalian harus mampir ya ke wattpad ku! InshaaAllah ceritanya lebih berbobot karena ini beneran novel yang aku tulis dan bagi untuk kalian semua!

Kalian bisa buka disini :
https://www.wattpad.com/user/fineayuputri

Yeay! Happy reading all! Ditunggu komennya ya seperti biasa :') aku menerima kritik dan saran ko hehe, love you!

Thursday, 31 July 2014

If I Were Palestinian

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

Dear everyone who read this 16th-year-old girl’s letter.
I hope you’ll open your own eyes and mind. Because, something’s wrong in this our ‘peace’ world. Invasion.  Genocide. Racism. Blind government. Blind world.
Or maybe, we’re the one who were blind.
A blinding flash of white light. Everyone include us will close our eyes whenever that flash come through our face, and not even a second that light will fade as we open those eyes again. But, for this people. That blind flash light never gone. Let’s try to keep in mind that the people I mention now is us. How could it be like? Can we face it? Can we hold the pain?
Close your eyes. Everyone out there, teens like us, the elder, child, adult, young adult, even baby and toddlers try to hold their tears and keep telling themselves everything will be fine. Bombs are everywhere. Sound of explosions and orange burn light colored their windows and houses. What? You don’t get it? Then just imagine that around your house, everything you see is burn building, burn houses and plants, burn…burn…burn.
Palestine. The promised land. It’s located hundred miles away from where I belong now. But, however…I can hear their sound screaming while the explosions’ sound were heard. I can feel their sadness to see their lovers and children were killed by the missiles and guns out there. The broken hearted faces can tell you how their feeling right there. I still don’t get it why do everyone close their eyes and try to hide the truth of Gaza’s under attack? Why do everyone who have the powers to change that thing, just pretend they see nothing?
“Gaza? Yeah, I know.” And they left.
“Really? They attacking them again? Oh, well.” And they left.
The most pathetic people I’ve ever met is they who don’t care about anything at all. Especially when people around the world are screamin’ or even shouting the right for the humanity problem. Are they blind? Are the people in this world blind? If I asked them, their answer is no. So why can’t you see them crying even the sadness are there in front of you?
Peacemaker. Hah. Such a bullshit out from that powered mouths. Why do the peacemaker just being a statue whenever we asked about that Gaza’s problem? Whenever we asked for solution in that problem? Why do they pretend like they’re innocent? From my point of view, the people who closed their eyes are the worst. They’re the real evil, after the attacker of course.
They kill women and child. Child. Haha, are they have any problem with that attacker so they lock their missiles into them? They’re kids! Ya Allah, they even not standing in this world for a long time yet. Why…they’re insane. They put their brain in that stupid gun. That’s’ why.
I can’t sleep thinking about the people in Gaza who fight for this whole time. I can’t sleep when I knew that they can’t sleep well because of that explosions and screams. I can’t sleep thinking about who’ll be killed, who’ll be injured, who’ll lose their family and friends. I can’t sleep because I wonder if that evil thing happen to me. I’m not strong enough as the child and toddlers out there.
It’s like counting your days of life. How many days left until it’s your time to go and face Allah the greatest.  How many times left to see your family’s smiles. How many times left to count your happiness because you’re safe today. I can’t imagine to live that way. I really do.
The only thing that keep waving on my mind is this statement. If I were Palestinian.
I wouldn’t write this letter, maybe. I might be in the hospital or waiting in the line to see the end of my life. I’d see my-dead-friends body everywhere. I couldn’t hear any good music anymore. Even, playing on that burn woods will make me happy.
That’ll be a rough life. I know.
The feeling of being nothing when I know that my brothers and sisters in Gaza are being attacked, it always haunts me. I can’t stop holding my tears every time I hear Michael Heart – We Will Not Go Down song. Don’t know…I was so sad because I do nothing for them. I can’t send that child good clothes for the Eid yesterday. I hold my tears when I saw a little girl and boy smiling wearing their new clothes and say, “Terima kasih, Indonesia.” I do nothing and still they thank us as the name of Indonesia.
Because of my age and position, I can’t send a big help for them. I can’t see their smiles yet. I really do hope that I will be the person that I wanted. I hope, my help later won’t be too late for them. I love them. I love Gaza. I love Palestine. I love all muslim in the world. They’re my family too. That’s why I can’t keep my eyes off them.
But for you who have already send them some help, I envy you. You share your happiness with them. You make a hundred or maybe a thousand people there smile because of you. That’s the happiness of life. I really want to taste it. Someday, I will help too. No, I must.
Muslim around the world are now unite. I can’t stop smiling to see my brothers and sisters out there fight for Gaza. They’re great. It just keep telling me that Islam is wide. Spreading in this world. The bond that we have, motivates me to find a better way to join. Knowing that they won’t stop fighting for the free of Gaza, that makes me quite happy. We’re moving, though.
So, for everyone who read this latest post by me. Whoever you are, I hope you’ll understand and get what I mean. We’re not alone. We can’t see our mankind being killed right away. Just like people say, you don’t have to be a muslim to care about Gaza. This is not about religion anymore. This is about humanity.  Let’s spread love no matter what. A little help will be a super big help if we worked together fight for our rights. I know, my vocab is limit because I’m not a real UK and US people. I’m Indonesian, anyway. But I hope you can send a lot of messages to people better than me.
Love,
16th-year-old girl.
Love,
Me and Palestinian.

Wednesday, 9 July 2014

Cara Menulis Novel

Halo kawan kawan silent readers yang benerbener bikin aku semangat setiap ngeliat dashboard :) actually, aku ngarep kalian komen aku tapiyaaa gapapa sih hehe tau kalian baca aja aku udah seneng :3
Jadi hari ini, aku mau sedikit cerita dan ngasih tips buat para calon penulis novel like me, teman teman seperjuanganku :) So, come and sit down everyone!

Firstly, untuk menjadi penulis pasti yang paling penting niat loh. Kalau gaada niat ya otomatis gabakal ada karya yang muncul dari diri-dirimu sekalian. Dan ini emang base buat jadi penulis, atau jadi apapun awalnya emang harus diawali dengan niat yang kuat. Kamu juga harus bisa semangatin diri sendiri dan termotivasi mau jadi seorang penulis yang kayak apa. Sekali-kali ngebayangin diri kamu yang sukses juga fine kok. Aku suka begitu, jadi aku semangat nulisnya walaupun udah mentok tetep lanjut maksain nulis, nanti juga ideny angalir lagi. Karena semuanya berasal dari dirimu. Got it? :)





Secondly, you have to get your theme. Tema itu modal utama biar genre nulis kamu ke arah mana. Misal, kamu mau jadi novelis nihyaa, otomatis kamu harus nentuin dulu kamu lebih fokus kemana. Kalau akusih romance, friendship, drama, agak slice of life gitu, aku juga suka adventure. Semuanya tergantung kamu suka apa, untuk kondisi aku, karena aku suka dan emang bisanya nulis yang galau-galauan, jadi semua novel yang aku buat isinya rata-rata begitu. Aku suka humor tapi gabisa ngelawak, jadi tulisan aku emang galucu dan aku jarang nulis yang humor, abisnya pasti garing. Kalau dipikir-pikir, tukang galau emang kayanya gacocok bikin yang genre humor :') Walaupun ya mungkin bisa juga karena saking galaunya dia nyari cara buat ngehibur diri sendiri.

Thirdly, kembangkaaaaaan :) kamu udah punya niat, udah ada temaa...sekarang cari kamu buat cerita yang kayak gimana. Caranya emm kalau aku sih ngekhayal dulu, biasanya kamu bakal cepet nemu inspirasi kalau lagi seneng atau lagi sedih, tapiya kalau udah biasa emosi gaakan terlalu mempengaruhi nilai tulisan kamu sih. Oh iya, caranya itu biasanya sebelum aku ngekhayal, aku bayangin dulu tokoh-tokohnya. Misalnya aku ngebayangin tokoh protagonisnya itu laki-laki slengean yang nyebelin apa gimana, terus dipasangin sama perempuan yang apa gimana terus cari konflik inti ceritanya itu apa. Nanti setelah ituuu yang lain-lainnya
bakal nyusul deh wehehe selingannya sebelum konflik itu.

Fourthly, you must have a strong character. Ini penting banget, suatu cerita atau novel bakal kerasa hidup kalau karakter tokoh2nya kuat. Kalau oon ya oon, kalau pemarah ya munculin sisi pemarahnya. Banyak novel yang bagus ceritanya tapi galaku, salah satu faktornya adalah karakternya gakuat alias plinplan. Dan karakter juga mesti realistis. Gini ya, banyak novel yang karakter cewenya sempurna. Padahal you know, gaada manusia yang sempurna. Liatin juga kekurangannya, itu bakal nimbulin simpati buat yang baca. :D

Fifthly, kalau yang empat diatas udah siap, yaa mulai menulis. Usahakan buat pembukaan yang dramatis dan menarik pembaca. Terus dialog juga mesti diperhatiin, bikin dialog yang hidup. Jangan terlalu puitis, jangan terlalu kaku, pokoknya buat dialog yang hidup dan kayak biasa kita ngobrol aja. Untuk bahasa, ada banyak. Itu bisa disesuaiin sama gaya kamu. Mau bahasa gabaku atau baku juga gamasalah. Kalau aku, lebih suka bahasa yang baku kalau nulis novel. Tapi ada juga yang enggak, banyak malah. Sesuaiin aja sama yang lebih kamu suka. Sudut pandang juga, bisa orang pertama (aku-akuan), atau orang ketiga. Menulis itu fleksibel kok gausah diambil pusing harus gimana gimana :)

Tambahan,  yah itu sih yang bisa aku share dengan kalian semua. Tips untuk buat novel yang bagus yaaa, kalian harus rajin baca juga. Kalau kalian baca buku bagus, pasti yang kalian tulis juga bakal bagus. Banyak baca juga memperkaya bahasa kalian, apasih istilahnya vocab kalau di pelajaran bahasa Inggris. Hehe pokoknya mesti banyak baca buat menggerakkan si niat yang ada di dalam hati.

Oh iya, kalau lagi stuck waktu nulis. Udah tulis aja apapun, masalah jelek atau engganya gimana nanti. Kan kalian pasti baca ulang apa yang udah kalian tulis, jadi bisa dibenerin. Jangan pernah bilang 'gapunya inspirasi'. Inspiration is everywhere, guys. Semuanya bisa jadi inspirasi. Yang harus kalian permasalahin saat ga menghasilkan tulisan selama jangka waktu yang lama adalah kemalasan. Hehehe emang jleb tapi itu fakta kawankawan :) Jadi semangatin diri lagi kalau udah di kondisi miris itu.

Terakhir, semuanya butuh proses. Nulis novel tuh ga gampang loh. Susah malah karena kita mesti ngadepin diri sendiri. Kita nulis sendirian, bukan ditulis orang lain, kita buat karakter, ngebayangin masalah juga sendiri, jadi ya tulisan itu munculnya dari diri kita sendiri temanteman makanya susah :) selanjutnyaaa hemmm apa ya udah sih yang ada di kpala aku cuma itu aja.

Semangat ya nulisnya semangat! Aku juga berjuang kok disini doain aku ya :)
Dengan menulis, kalian akan selalu hidup. Bahkan mungkin, selamanya.

Sunday, 29 June 2014

Langit adalah Keindahanku yang Baru


Aku tidak tahu, sejak kapan…aku tidak bisa mengekspresikan perasaanku ke dalam tulisan sebaik dulu lagi.
Setiap hari, setiap pulang rasanya ramai. Aku bisa melihat keindahan tepat di atasku. Dan aku…bahagia.
Terkadang mendung, terkadang cerah,terkadang biasa saja. Kurasa langit memang mengerti diriku. Setiap kali aku mendongak ke langit, wajah sang nebula elang selalu sama dengan apa yang kurasakan saat itu.
Langit adalah keindahanku yang baru.
Hari ini, langitnya cerah. Sama seperti saat aku baru pulang dari kegiatan di masid tercinta. Rumah keduaku. 
Tempat dimana belahan-belahan jiwaku berada. Pusat ketenangan…juga kebahagiaan.
Juga tempat…untuk menghapus kenangan yang menyiksa. Kenangan yang membunuh.
Tapi kali ini, izinkan aku untuk mengingatnya sedikit.
Angin dingin menerpa wajahku. Cahaya lampu yang agak redup menemani kesendirianku di tengah ruangan ini. Duduk di atas sofa berwarna coklat dan dengan laptop yang terduduk manis di depanku.
Pada hakikatnya,eksistensi kenyamanan yang kuarasakan berasal dari diriku sendiri. Sejak dulu, aku selalu suka menyendiri. Bukan. Aku bukan orang yang individualis, maksudku aku hanya suka sendiri. Untuk berpikir, Untuk merenung. Untuk menulis.
Dan dirimu menghiasi setiap ketikan keyboardku. Wajah…bukan. Hanya kenangan. Ya, kenangan.
Kau mungin bukan pembawa pesan, bukan seorang yang kucintai juga, bahkan wajahmu, suaramu, kebiasaanmu…seakan pudar seiring dengan waktu yang menghapus semua kenistaan dan kekecewaan yang ikut serta dikala sesuatu tentangmu tiba-tiba terputar di kepalaku.
Jika kau pikir kekecewaanku sudah berakhir…ya, sudah berakhir.
Aku hanya perlu waktu banyak agar bisa bersikap layaknya Azzam yang menerima kenyataan bahwa wanita yang dicintainya telah dipinang sahabatnya sendiri (baca: Ketika Cinta Bertasbih). Aku tegar, aku tidak apa-apa. Tidak masalah.
Namun bayang-bayangmu masih saja mengikutiku. Aku hanya…tidak tahan lagi. Kapan kau benar-benar pergi dari hidupku?
Sekali saja, aku ingin kau bertanya… bagaimana perasaanku. Apa aku baik-baik saja. Apa aku bisa bersikap layaknya teman biasa padamu. Apa aku bisa menghapus segala yang kurasakan ketika mengingatmu. Apa aku…bahagia.
Begitulah. Bukan hanya menutupi kenyataan bahwa aku juga merasakan sakit yang terasa amat sangat. 
Bukan hanya menutupi bakal kekecewaanku padamu dengan kepura-puraan. Bukan hanya menutupi rasa bersalahmu dengan hanya berucap bahwa ini semua tidak apa-apa.
Aku diam. Aku tidak berkomentar. Aku tersenyum.
Cukupkah semua itu…untukmu?
Ya,cukup. Semuanya baik-baik saja. 
Kau pikir begitu, namun kenyataan tidak semudah yang kau pikirkan.
Semua hal memiliki dua sisi. Bagianmu, bahagia. Namun ketahuilah, sisi yang lain tidak bisa tersenyum selebar dirimu.
Bagaimana keadaanku? Aku baik, semakin mudah bersyukur.  Namun lain bila aku harus melihat wajahmu lagi. Semua benteng dan kebahagiaan yang kubuat rasanya runtuh seketika ketika melihatmu.
Kenapa? Entah. Mungkin kini semua kenangan itu bertransformasi menjadi mimpi buruk. Bagimu juga, bukan?
Apa aku bahagia? Sangat. Aku sangat bahagia sehingga sedang berusaha untuk menghapus rasa kecewa yang tersimpan jauh di dalam lubuk hatiku. Yang menjadi kebohongan untuk diriku sendiri. Yang menjadi topeng wajah untuk bertemu denganmu.
Kau sadar kan? Kau sadar aku kecewa…lalu apa? Aku juga tidak tahu. Sungguh, aku tidak akan meminta  apa-apa padamu. Sungguh.
Sejak dulu, aku selalu ingin bicara padamu. Kejarlah…kejarlah apa yang kau mau. Sekarang, dia yang kau mau…maka kejar. Aku tidak apa-apa. Aku akan selalu menjadi rumah untukmu. Jika kau lelah, kau bisa pulang.
Tapi entah apa sekarang aku bisa bicara begitu lagi padamu.
Setelah semua ketidak pedulian dan wajah aroganmu itu. Seperti senang melihat awan mendung yang terbentuk ketika bertemu denganmu. Setelah semua tindakan tidak ada apa-apa darimu yang kau usahakan padaku. Tidak, aku tidak bisa berkata bahwa aku rumahmu. Bukan, aku bukan rumahmu lagi.
Jadi, jangan pulang. Kau bebas berkelana sekarang. Kau bebas membangun rumah dimanapun kau mau.
Aku hanya…perlu dihargai.
Kau sadar kau tersenyum di atas kesedihkanku? Kau sadar kau tertawa di atas air mataku?
Aku kecewa padamu, kecewa. Apa yang harus kulakukan untuk menghapus rasa itu?
Aku tidak ingin mengganggumu lagi. Cukup. Aku harus keluar dari kehidupanmu. Aku lelah, kau tidak memberikan keinginan untuk tinggal. Bahkan sebagai seorang yang pernah menyayangimu. Tidak.
Kau…pergilah. Bahagialah untuk dirimu sendiri. Kau bukan urusanku lagi. Pergilah.
Biarkan aku menghapus rasa kecewaku ini. Kumohon…pergi.

Monday, 19 May 2014

Kabut Bulan


Alhamdulillah. Aku bangun.

Kali ini, entah apa yang kupikirkan. Sibuk dengan urusan dunia sekolah, sampai lupa bahwa aku memiliki kewajiban menulis, di keadaan sesempit apapun.

Mataku terpejam, lalu tarikan napas mulai terjadi seiring dengan kilas balik yang terputar di otakku. Ya…sudah lama aku tidak mengingatnya.

Sudah lama.


Semua orang tidak pernah tahu siapa yang akan mengkhianati, atau dikhianati. Bahkan sebagian orang merasa bahwa pengkhianatan yang dilakukan sama sekali bukan berkhianat. Karena masalah waktu, waktu yang panjang membuat orang-orang berpikir bahwa pengkhianatan akan terhapus…seiring dengan nadi yang terus berdenyut, menghapus kenistaan.

Tapi…sebagian yang lain tidak.

Mereka butuh lebih dari waktu yang ditentukan untuk merelakan semua pengkhianatan dan kekecewaan. 
Mereka butuh ketenangan untuk menerima semua hal yang berjalan salah. Mereka butuh kehampaan untuk menghapus apa-apa yang menyakiti. Itu sebagian orang.

Lalu sebagian orang yang mengisi jarak diantara dua macam golongan ini, yang tidak tahu apa-apa. Yang hanya bisa menganggap ‘ya sudahlah’ lalu beropini seenaknya padahal mereka tidak tahu apa yang dirasakan salah satu pihak. Bukan mendamaikan. Malah memperburuk.

Jadi…kemana arah tulisanku sekarang? Entah. Aku pun bingung.

Untuk seseorang dengan tatapan gelap dan dingin yang dibawanya.

Untuk diriku di masa lalu.

Hai.

Aku adalah seseorang yang mungkin telah melalui banyak fase lebih banyak di dalam hidup ini. Dibanding dirimu, pasti.

Kuberi saran sedikit. Kini, aku menulis ditemani dengan lagu dari seorang tukang susu keliling yang sedang bersusah payah menawari dagangannya dari rumah ke rumah. Ditemani oleh cahaya terang dibalik tirai. 
Ditemani dengan rasa kecewa teramat besar karena seseorang yang akan kau temui nanti.

Aku tidak tahu apa yang kau lakukan sekarang, namun aku yakin kau belum bertemu dengannya.

Sesosok manusia bermata dalam dan tawa yang akan mempesonamu. Dengan tarikan tangan dan hentakkan kaki yang akan membuatmu berkunang selama beberapa saat. Dan yang jelas, ia akan menghentikan waktumu.

Jangan berharap pada manusia jika kau tidak ingin kecewa.

Aku tahu, kau pasti bingung. Namun izinkan aku bercerita sedikit.

Untuk diriku di masa lalu. Kini aku sedang menengadahkan kepala untuk bisa melihat langit senja hari ini. Ya, kau akan menyukai senja ketika kau mulai beranjak dewasa.

Udara segar kuhirup dengan bebas seiring dengan mesin berjalan yang masih terus maju mengantarku pulang. 

Seulas senyum terbentuk di wajahku, tipis. Dan kemudian aku melihat bulan yang berbentuk separuh mulai menerangi bumi menggantikan sang matahari.

Indah. Segumpal awan sedikit menutupi wajahnya namun tetap…inilah salah satu senja yang paling kusukai.

Kau tahu, kurasa kau harus lebih sering memandang wajah langit yang selama ini telah menjadi saksi kehidupanmu. Ketika kau bosan, jenuh, atau sedang menunggu…lihatlah ke langit. Bersama dengan orang-orang yang penuh misteri. Di belahan dunia…mereka memandang langit yang sama, kau tahu.

Aku melihat hal-hal yang biasanya tidak kulihat. Seperti misalnya…aku baru tahu bahwa ada tower sinyal di dekat komplek rumah yang akan menjadi tempat tinggalmu nanti.Ya, kau harus menghilangkan sifat ‘mencari aman’mu itu untuk melihat dunia yang lebih luas.

Melompatlah. Melompatlah dari sangkar amanmu. Tersenyum. Tertawa sebebas yang kau mau. Dunia butuh senyuman darimu. Satu senyuman, dan dunia akan mendukung apapun yang kau inginkan berjalan lancar pada hari itu.

Jadilah manusia yang mudah bersyukur. Setiap hari, sempatkan sedikit waktu untuk memejamkan mata. Lalu hirup sebanyak mungkin udara yang mengisi paru-parumu. Rasakan betapa nikmatnya kau mendapatkan udara segar sebebas dan sebersih itu. Bersyukurlah, dan kau akan bahagia.

Dan lalu…jika kau bertemu dengannya. Si manusia dengan tatapan dalam, yang bergerak dengan lincah membawa harapannya. Pejamkan matamu. Sebisa mungin berpaling.

Kenapa? Karena ialah yang akan menjadi sumber kekeceaanmu di masa depan. Ialah  yang akan mengisi kehampaan hatimu yang masih labil bergerak, terombang-ambing di atas ombak asa…Ialah…manusia yang akan mengingatkanmu pada banyak hal yang kau sukai.

Karena itu…berhati-hatilah.

Jika seandainya suatu saat kau bicara padanya. Lalu akhirnya tanpa sadar kau masuk ke lubang kelinci yang diciptakan olehnya…maka cepatlah berlari. Cari celah untuk keluar. Bagaimana pun caranya kau harus keluar dari sana.

Aku sedang berusaha untuk mengurangi rasa sakit dan kecewamu. Jadilah manusia yang sabar. 

Dan….berlapang dada lah. Ikhlas jika suatu hal yang tidak kau sukai terjadi.

Suatu kondisi dimana kau tidak bisa marah. Kau tidak bisa menyuarakan isi hatimu yang gersang dan penuh dengan kabut asa nan kekecewaan yang begitu mendalam. Dan lagi, kau tidak bisa marah.

Biarkan…biarkan saja. Semua akan indah pada waktunya.

Bertahanlah. Aku disini akan menolongmu jika kau benar-benar sudah kehilangan cahayamu.

Ingatlah siapa yang menciptakanmu, dan kau akan tenang. Ingat, jangan pernah lupakan Dia.

Berlapang dada. Sabar. Aku tahu, kau akan melewati semua pagar yang menghalangimu mencapai tujuan 
hidupmu. Mencapai kebahagiaanmu.

Begitu pula dengan aku disini.

Aku akan bertahan. Aku akan berjuang untuk tetap menjadi manusia yang mengikuti ‘cahaya’.

Hati-hati.

Salam dariku untuk si manusia bertatapan dalam jika suatu hari kau menemuinya.

Katakan padanya,

“Berbahagialah. Kejar apa yang kau mau. Namun…jangan pernah dating ke mimpiku lagi. Aku…lelah.”

Tertanda,

Dirimu di masa depan.

Wednesday, 12 March 2014

Cinta dan Pengemban Dakwah

Assalamu'alaikum wr. wb

Dunia dakwah itu berat. Menjadi seorang aktivis, pengemban dakwah pun tidak semudah yang dilihat. Bahkan sesuatu yang dipuja oleh kalangan remaja di dunia, bisa menjadi ujian terberat bagi para aktivis.
Allah SWT hampir selalu menguji hambaNya dengan kelemahan hamba itu sendiri. Misalnya, untuk diriku sendiri. Aku merasakan kasih sayang Allah melalui rasa gelisah, tidak tenang, khawatir, dan sebagainya. Mungkin kali ini ujian yang cukup berat sedang menerpa diriku.

Aku, seorang hamba Allah. Seorang wanita yang sedang berikhtiar menjadi seoang akhwat sejati. Seorang yang bila dibandingan dengan para aktivis di sekitarku, masih jauh berada di bawah. Kelemahan untuk diriku sendiri, biasanya dikaitkan dengan persahabatan, pertemanan, semua yang dilibatkan dengan cinta.

Cinta yang kurasakan setelah bertransformasi menjadi pengemban dakwah, tidak sama dengan cinta yang kurasakan saat masih berada di zaman jahiliah dulu. Mungkin sifatku yang memang bisa dibilang ‘cair’ pada siapa saja membuatku bisa berkomunikasi dengan siapapun. Aku bisa berteman dengan siapa saja dengan mudah. Terlebih dalam suatu organisasi berbasis Al Qur’an dan Hadits seperti yang sedang kugeluti sekarang, hal yang menjadi hambatan bagi ikhwan dan akhwat adalah komunikasi. Bagiku, komunikasi bukan masalah. Karena, yang terpenting aku bisa menjaga hatiku sendiri.

Tapi, terkadang sesuatu yang menjadi kekuatanku tersebut...menjadi kelemahan terbesarku. Seperti yang kubilang tadi, yang penting hijab hati, jaga hati. Aku memang menerapkan hal itu setiap kali aku bicara pada hamba Allah yang bukan akhwat, mungkin masih proses untuk diriku sendiri dalam hijab pandangan, karena aku masih belum bisa menundukkan pandanganku secara sempurna. Dan, setan menyusup lewat proses belajarku ini. Sering kuingat bahwa, “Setan menjadikan indah hal-hal yang terlarang.” Aku paling tidak suka jika sesuatu yang aneh mulai menggangguku setelah aku bicara dengan seorang yang bukan akhwat.

Maksudnya, dalam arti...hati. Perasaan aneh, yang dapat mengganggu proses hijab pandanganku sendiri. Perasaan itu, tidak lain...cinta.

Bukan berarti para pengemban dakwah tidak bisa jatuh cinta. Bahkan cinta yag dirasakan oleh para pengemban dakwah itu rasanya lebih...sulit. Bukan menyenangkan, tapi kami mengartikan hal itu semua dengan ujian.

Misalnya, kasus yang sedang kuhadapi sekarang. Akhir-akhir ini, aku sedang giat-giatnya mencari semua hal tentang Allah dan Rasulullah. Aku sedang belajar untuk mencintai Allah lebih dalam. Meluruskan prioritas agar bisa seperti seharusnya. Ya, saat aku berdoa, “Ya Allah, hamba ingin mencintaiMu dan RasulMu.” Allah menjawab doaku dengan masalah yang harus kuhadapi sendiri.

Ujian untuk membuktikan seberapa besar keinginanku untuk mencintaiNya.

Lalu Allah menumbuhkan perasaan cinta kepada manusia di dalam diriku. Rasa cinta yang menjadi ‘saingan’ di dalam misi cinta pada Allah. Perasaan aneh itu muncul tepat ketika aku mulai ingin mendalami rasa cintaku padaNya dan RasulNya.

Jika aku ingat, dan beruntunglah bahwa aku ingat...Allah mencintaiku lebih dari siapapun yang mencintaiku. Karena itu, ia mengujiku.

Pertanyaan-pertanyaan langsung menerpa diriku, apa aku tega membuat Allah cemburu pada manusia karena aku menduakan Allah dengan hal yang bukan tandinganNya? Apa aku tega membuat dia tidak suci karena aku lebih sering memikirkannya dibanding Allah? Apa aku tega membiarkan diriku sendiri menjadi ujian yang akan menggagalkan dia?

Sungguh, jika dulu... jatuh cinta membuatku tersenyum gembira, kali ini yang kurasakan hanya rasa gelisah dan tidak tenang. Aku takut...lalai dan yah, terkadang cinta kepada manusia jika tidak diluruskan kembali pada Allah, hanya akan melunturkan apa yang sudah ada, apa yang sudah kukumpulkan untuk mencintaiNya.

Tidak, jangan sampai. Mencintai seseorang tanpa diiringi karena cinta dariNya hanya akan membawa mudarat.

Cinta yang paling baik adalah yang diam. Kali ini, bukan seorang gadis yang baru saja mengenal cerita cinta Ali dan Fatimah yang bicara. Bukan seorang gadis yang masih dengan pengetahuan mentah perihal cinta dalam diam. Bukan seorang gadis yang hanya memikirkan dirinya sendiri.

Cinta dalam diam itu, mungkin tidak akan menjadi indah bila tidak diiringi alasan yang benar melakukan itu. Cinta karena Allah SWT itu tidak hanya sebatas kalimat ‘mencintai karena Allah’. Semua hal dibalik cinta dalam diam ini...memiliki makna yang lebih dalam. Mencintai seseorang karena Allah itu, cinta yang tumbuh karena para manusia tersebut mencintaiNya.

Bagaimana kita dapat mencintai seseorang dengan sempurna apabila kita sendiri tidak terlebih dahulu mencintai sang Khalik? Padahal, yang menggerakkan semua hal di dunia ini Allah.

Allah yang menggerakkan hati siapa tergerak untuk siapa. Allah yang merencanakan semuanya sedemikian rupa, bahkan orang yang terlihat seperti tidak mungkin dipuja oleh seorang manusia yang luar biasa pun, ternyata dipuja oleh manusia tersebut.

Cinta yang didasari iman, akan tumbuh...seiring dengan iman yang semakin meningkat. Kini, di dalam konsep cinta bagi para pengemban dakwah adalah, berusaha untuk melindungi manusia yang dicinta dari ketidaksucian, dari kecemburuan Allah swt, dari segala hal yang dilarang dan terlarang. Terutama, dari indahnya penglihatan melalui nafsu dan setan.

Karena itu, jika seorang aktivis dakwah jatuh cinta, mereka cenderung menjauhi objek yang dicinta. Untuk melindungi dirinya, dan juga si dia.

Mungkin, aku memang belum mengalami sendiri indahnya mencintai seseorang dengan cara yang terbaik. Dengan cara memendam, dengan cara diam, dengan cara...mengubur sendiri perasaan sesak, cemburu, sakit dan perasaan lainnya ketika jatuh cinta.

Namun, Allah menyadarkanku dengan menghadirkan seseorang yang luar biasa di dalam hidupku. Mungkin tidak, ia hanya salah satu manusia luar biasa yang dikirimkan Allah untuk membantuku memperoleh 
petunjukNya. Namun, cerita cinta seorang ikhwan dan akhwat yang sudah terjaga...memang lebih hebat dibanding cerita cinta biasa. Allah memang sudah menggerakan, menautkan, hati-hati siapa saja yang memadu cinta karenaNya. Tangan Allah bergerak, mengatur semua hal sesuai dengan apa yang pantas kita dapatkan.

Karena itu, aku memperoleh hikmah dari petunjuk Allah hari ini. Mungkin, aku memang seorang gadis yang angin-anginan. Bagaimana pun, pada hakikatnya seorang akhwat ingin memiliki pasangan yang hebat. Aku sendiri pun...yah, terpesona pada suatu keistiqamahan dalam beragama seorang manusia yang akhirnya sukses membuatku cemburu. Pada akhirnya, seua yang kurasakan dikembalikan lagi padaNya. Allah sedang membuatku termotivasi untuk menjadi akhwat luar biasa yang totalitas. Saat ini, aku masih harus menambah keistiqamahan dalam banyak aspek. Termasuk menguatkan diri untuk tetap berhijab dengan baik, menambah ilmu dan amal, hafalan Al Qur’an daaaaan yang lainnya.


Nikmat Allah itu tidak terhitung. Cinta juga salah satu anugerah dariNya. Jangan sampai menodai yang suci. Sesungguhnya cinta sejati hanya milik Allah.

Ingatlah, para pengemban dakwah. Jangan sampai cinta yang telah dimanipulasi sedemikian rupa oleh setan, membelokkanmu dari niat lurus membawa amanah dariNya. Jangan menyiksa dirimu sendiri karena melakukan hal yang seharusnya tidak kau lakukan (baca : membebaskan nafsu). Pegang dadamu lalu ucapkanlah, "Inni akhafullah." Sesungguhnya aku takut pada Allah. Bismillah, ikhwatifillah...semoga kita selalu berpegang teguh pada keistiqamahan kita dalam jihad untuk agama ini. Semoga Allah meridhai kita, aamiin.