.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Thursday, 20 December 2012

Perahu Kertasku

Ketika yah, saat itu. Aku melihatmu pertama kali di lapangan. Yah, saat itu kau mungkin tidak ingat. Tentu saja. Namun, aku baru merasakan hal itu ketika aku melihatmu disana :) di ruang nomor 16. Hai, masih ingatkah kau dengan surat yang tertempel di atas kursimu? Ya, itu dariku...

Sederhana, namun berarti. Kertas kecil berwarna kuning itu... Berisi semangatku untukmu. Untukmu ka, seseorang yang pada akhirnya berhasil menambat hatiku.

Berawal dari suatu kejahilanku. Menempel surat di atas kursimu. Sungguh, seseorang yang menempel itu seperti bukan aku. Entah darimana, aku mendapatkan keberanian untuk memberimu sepucuk surat singkat.

Setiap pagi, yah pagi. Aku masuk ke kelas dan melihat ke sekitarku. Memastikan disana tidak ada orang sebelum akhirnya aku menempel surat suratku di kursimu. Apakah kau tidak bisa merasakan perjuanganku ka? :D

Dan hari terakhir...
Seandainya aku bisa mengulang waktu itu ka, aku akan mengulang semuanya. Mungkin dengan itu aku bisa mencegah perasaanku untuk berpihak padamu. Sehingga aku tidak akan merasakan sakit seperti ini...

Sungguh, semuanya terasa......................palsu
Perasaanku, rasa senang, sakit yang kurasakan seperti tidak bertujuan. Mengapa aku harus jatuh cinta padamu ka? Begitu banyak ikhwan yang mungkin lebih baik darimu, pertanyaannya : mengapa harus kakak?

Seandainya aku bisa memilih, dengan siapa aku akan jatuh cinta, aku akan memilih ka. Dan orang itu bukan kakak :D karena aku tidak ingin merasa sakit lagi. Sesak. Gelisah... Hidupku sudah tenang sebelum kau datang dan merubah segalanya.

Merubah segalanya menjadi lebih indah, pada awalnya. Namun mendadak, hidupku pun menjadi hitam. Gelap. Tak bertujuan. Dibasahi oleh aliran air mataku yang jatuh membanjiri kedua pipiku.

Satu hal penyebabnya...

Kakak :)

Kakak yang membawaku ke sebuah negeri dongeng dimana di tempat itu kakak tersenyum padaku, menyapaku dengan kehangatanmu, dan memberiku semangat. Seakan-akan kakak lah kebahagiaanku. Sumber kebahagiaanku.

Namun kakak juga yang pada akhirnya membawaku ke sebuah hutan. Dimana aku tidak bisa mencari jalan keluar, dimana aku tersesat dalam rimba hatimu ka. Kakak yang membutakan jalanku, pikiranku. Sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Menangisi hatiku yang tercabik-cabik, sebelum akhirnya menghilang menjadi hamparan debu...

Kini, aku berada di antara dua dongeng. Yah, indah dan buruk. Seperti itulah...

Di sisi lain aku bahagia, melihatmu akhirnya bisa tersenyum seperti biasa. Walaupun senyuman itu tidak pernah ditujukan untukku. Tapi untuknya...

Tapi di sisi lainnya, aku hancur ka. Karena kini aku akan membatasi diriku untuk melihatmu. Karena kini aku akan berusaha untuk menghindarimu, dan karena kini aku tidak akan bisa melihatmu dengan perasaan senang :D Karena kini kehadiranmu hanya akan menyakitiku....

Sungguh, aku tidak ingin... melihatmu pergi karena memang kau tidak pernah datang. Datang mencariku dan menemukanku. Apakah permainan kita akan berakhir sampai disini? Kurasa ya. Memang akan berakhir.

Karena kini pemainnya hanya akan ada satu. Yaitu aku...

Kau, sudah pergi dan tidak akan datang. Kau bahkan menyerah padaku sebelum kau benar-benar berbicara dan mengenalku. Apakah...... karena aku berjilbab ka?

Memang, sulit melihat kecantikan seorang akhwat dibalik jilbab lebarnya yang melambai. Tapi aku melakukan ini untuk menlindungimu dari nafsu syahwat. Dan melindungimu dari dosa karena telah melihat auratku.

Kurasa, kakakmemang telah mengetahui, siapa diriku. Kakak sudah melihatku, namun kakak pura-pura tidak melihatku karena kecewa aku tidak seperti apa yang kakak harapkan.

Cukup. Ini semua sudah cukup.

Langit pun tahu, bagaimana perasaanku. Mendung ketika perasaanku mulai memburuk. Dan hujan.....tepat ketika aku menjatuhkan bulir pertama dari air mataku.

Aku terombang-ambing diatas perahu kertasku sebelum akhirnya perahuku datang menghampirimu dan tertambat disana.

Kupikir kau akan menemukanku, sungguh. Kau memiliki radar untuk menemukanku ka, tapi mengapa kau tidak kunjung datang?

Selama ini, aku hanya menungggu. Menunggu kedatanganmu dengan cara yang baik. Menghampiriku, lalu tersenyum padaku.

Kenyataannya ketika aku menepi, kau tidak disana. Kau pergi. Kau menghilang.

Tidak jelas. Jadi aku hanya membuang waktuku untuk menunggu hal yang tidak pasti.

Tapi aku menikmatinya. Mungkin karena memang perasaanku yang sudah mulai membesar sehingga aku dapat dengan mudah memaafkan ketidakdatanganmu. Lalu merasa bahagia karena kakak bahagia.

Pada akhirnya, aku akan pergi berlayar lagi kak. Kali ini tanpa tujuan. Aku akan melepaskan tambatan hatiku darimu ka. Aku akan melepaskannya ketika suatu saat aku tidak mampu menahan sakitnya mempertahankan jangkarku padamu ka, disaat ombak mencoba untuk menghantamku terus menerus.

Karena itu, sebelum akhirnya waktu itu tiba kak.

Kumohon... sadarlah. Bahwa aku disini, masih mencoba untuk memperjuangkanmu, mencoba untuk merubahmu menjadi seseorang yang lebih baik. Menjadi seorang ikhwan yang sebaik-baiknya dimata Sang Khalik ;)

Jangan sia-siakan aku. Kumohon. Karena perasaanku, bukan perasaan yang akan lepas dalam waktu singkat. Karena waktu untuk memiliki perasaan untukmu pun memakan waktu yang cukup lama.

Disaat aku sudah mulai bisa menata hatiku, mengapa kau pergi ka?

Sepi~ hanya deburan ombak dan kicauan burung yang terdengar di telingaku.

Hanya angin dingin menerpa wajahku.

Tak ada cahaya dari senyummu, dari suaramu yang merdu...

Aku...

Tak bisa mengelak jika aku memiliki perasaan untukmu...

Karena itu...

Buat aku memiliki alasan untuk mempertahankan perasaanku untukmu...

Sehingga aku akan bertahan, sampai suatu saat aku tidak mampu untuk melakukannya lagi.

"Ku bahagia, kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada, diantara milyaran manusia
Dan kubisa, dengan radarku...
menemukanmu."

Sekali lagi, temukan aku dengan radarmu kak...

2 comments:

  1. terkadang mencintai dengan kesendirian lebih menyenangkan dibandingkan 'ia' mengetahui yang akhirnya memperlihatkan kekecawaannya. pasti akan terasa sakit..
    Mmm.. "tidak berharap terlalu tinggi, tak kan menyebabkan sakit yang terlalu dalam. Karna semakin tinggi kita terbang berharap, semakin sakit ketika jatuh karna harapan itu terluka."
    semangat, semoga kau dipertemukan dengan seseorang yang lebih baik yang mampu menghargai dirimu apa adanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebelumnya, terima kasih banyak telah membaca :D
      Dan terima kasih juga atas komentarnya yang...waw. Aku suka bahasamu, kau tahu jarang yang menggunakan bahasa seperti ini.
      Ya, semakin hari aku belajar mengenai hal itu. "Mencintai dengan kesendirian." Dan aku lebih suka dengan jalan mencintai diam diam seperti ini, rasanya menyenangkan dan walaupun sakit yaa tetap lebih kecil konsekuensinya.
      Semangat juga, aamiin semoga ya :)

      Delete