.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Tuesday, 17 December 2013

Aku Sudah Melihatmu

Katakan, jika ada satu hari dimana kamu bisa melihat dunia...apa yang paling ingin kau lihat?
Wajahku, juga wajah orang-orang yang kusayangi.

Aku tersenyum tepat ketika mendengar suara deru mesin berjalan diikuti dengan suara pagar yang digeser. Kehadiran mereka langsung menghangatkan tubuhku. Ah, baguslah jadi aku tidak perlu merapatkan jaketku lagi.

Senyumku semakin lebar ketika suara tawa mereka mulai merasuki jiwaku. Mereka benar-benar sudah datang. Yah, aku kenal suara tawa mereka. Terlalu khas. Terlalu menjadi identitas untukku.

Bahkan aku sudah terlalu mengingat dera langkah mereka masing-masing.

Yang melangkah dengan suara gedebuk keras pasti si pemuda karet. Lalu...ah yang ini halus namun bersuara, si tuan senja juga datang! Yang agak keras tapi tidak berisik, juga langkahnya yang lebih lebar dibanding yang lainnya...hai, pangeran bunyi. Selanjutnya, langkah yang lembut dan tenang, ini baru nona hujan. Langkah si nona hujan tiba-tiba saja ditutupi oleh langkah yang berat dan terlalu berisik, dasar pemburu liar memang selalu begitu! Tidak bisakah ia tenang? Seperti...sang es kering yang berjalan dengan penuh ketenangan lagi dingin. Nah sebentar, kemana si daun cokelat? Mengapa suaranya tidak ter-ah, baru saja dipikirkan orangnya sudah muncul.

Satu persatu dari mereka sudah mulai menghampiri tempat aku duduk, bersama dengan suara mereka masing-masing. Memang, bersama mereka sudah menjadi pelipur laraku. Tempat dimana aku bisa dengan bebasnya merasa bahwa aku telah melihat mereka. Tempat dimana aku bisa dianggap sama dengan yang lainnya. Rumah. Mereka adalah rumahku...

"Hei, udah disini? Kenapa ga bilang kalau udah disini?"

Aku mengerjap-ngerjapkan mata, suara gadis yang agak ngebass ini...sudah pasti nona hujan! Wah, rasanya aku ingin melompat mendengar suaranya. Menyenangkan sekali ada dia disini.

Lengkungan di wajahku sudah melebar dari ukuran aslinya. Mungkin efek karena aku terlalu bersemangat menyadari keberadaannya. "Gapapa kok, tadi aku dianter kecepetan."

Ini baru, rumah.

Semuanya melihatku dengan pandangan normal. Semuanya. Sesekali mereka membuatku tertawa sampai sakit perut. Tidak ada tatapan iba. Tidak ada yang bicara dengan nada kasihan. Semuanya normal.

Tubuh bagian kiriku tiba-tiba menghangat. Aku menoleh lalu secara otomatis hidungku mencium aroma yang...seperti aroma, bagaimana menjelaskannya? Campuran mint dan...ah, yang jelas ini aroma yang hangat. Aroma menenangkan yang hanya dimiliki oleh si tuan senja.

Mulutku gatal ingin berkata sesuatu, namun rupanya si tuan senja sudah berbicara mendahuluiku. Aku mendengar senyuman dari suaranya. Membuatku ingin tersenyum juga. Alhasil, tanpa sadar pasti aku sudah tersenyum.

"Semi. Kamu udah berubah jadi musim semi, bukan gugur lagi." katanya pelan, mungkin hampir beribisik.

Kerutan langsung terbentuk di keningku, setiap bicara dengan tuan senja...ada perasaan-perasaan aneh. Perasaan abstrak yang penuh dengan enigma. Memang tuan senja adalah enigma senja. "Emangnya kenapa?"

Masih dengan senyuman yang sama, si tuan senja menanggapi ucapanku. "Gapapa."

Diam. Aku hanya diam. Tidak mengucapkan apa-apa. Hanya bingung. Mengapa setiap kali bicara dengan tuan senja ada hal aneh yang kurasakan? Tidak, bukan perasaan itu. Hangat, tapi menyenangkan. Walaupun ia sering membiarkanku penasaran setengah mati terhadap apa yang tekah diucapkannya.

Misalnya tadi.

Dasar, senja memang hampir sama perginya dengan fatamorgana.

Tidak terasa...semuanya sudah berganti gelap.

~

Tuk. Sehelai daun jatuh tepat di depanku.

Tuk. Tuk. Tuk.

Disusul dengan helaian lainnya. Ini masih musim gugur, sejak kapan musim gugur bisa langsung berubah menjadi musim semi yang penuh dengan bunga bermekaran? Si Tuan Senja memang seenaknya saja. Memangnya ia tidak mengerti harapan besar yang telah kubangun selama ini? Aku rindu aroma bunga-bunga yang baru bermekaran.

Cahaya matahari sedang berbaik hati hari ini. Hangat. Membuatku ingin memejamkan mata. 

Belum sampai semenit, tiba-tiba suara tanah yang diinjak membuatku terkejut dan secara refleks membuka mata. Astaga, siapa itu?

Aku memegang lengan kursi di sebelahku, bukan...tepatnya mencengkram. Jantungku sudah berdetak terlau kencang. Sungguh, suara dera langkah itu semakin lama semakin besar. Aku takut.

Tanganku sudah bergerak-gerak panik. Meraba-raba mencari penuntun hidupku, dan aku mendapatkannya tepat ketika aku merasakan kehadiran seseorang di depanku.

Aku menengadah sambil gemetar, aroma ini...aku kenal aroma ini.

"Semi..."

Sebentar, mengapa suaranya berbeda?

"Senja? Kenapa ngagetin! Aku kira siapa." kataku seraya tertawa mencoba mencairkan suasana. Tidak, sebenarnya aku sedang menenangkan diriku sendiri. Sudah pasti itu si Tuan Senja,'kan? Hanya dia satu-satunya orang yang memanggilku dengan panggilan aneh yang sama sekali tidak mencerminkan diriku.

Ada gelak tawa dari Tuan Senja. Yah, tawanya pun membawa kenyamanan tersendiri untukku. Aku merasakan tubuhnya yang sudah duduk di sebelahku. Tepat di sebelahku.

Kurasa ia tersenyum. "Maaf, lagian kenapa kamu disini sendirian?"

"Aku sering kesini. Nyaman."

Sekarang, ia pasti heran. Lalu menegakkan tubuhnya agar bisa melihatku dengan jelas. "Nyaman? Coba kasih tau aku bagian nyamannya dari tempat ini. Perasaan sama aja."

Aku menggeleng sambil tertawa kecil. Wajahku dihadapkan lurus ke depan. Entah apa yang sedang kulihat, namun kurasa itu hal yang indah. "Coba pejamin mata kamu deh."

"Kenapa?"

"Udah, nurut aja."

Hembusan napas hangat keluar dari mulutku. Aku menoleh ke arah si Tuan Senja dengan perlahan, "Udah?"

"Udah. Emang kenapa sih?"

Aku tersenyum mendengar pertanyaan naifnya. Kenapa? Hanya sedikit orang yang akan mengerti. Hanya sedikit.

Sambil menarik napas panjang, aku berusaha untuk mendengar segala hal yang berada di sekelilingku. Aku hanya butuh ketenangan untuk menjelaskannya.

"Semi, serius ini apaan maksudnya?"

"Sssttt, diem nanti kamu gangerti."

Akhirnya tidak ada suara selain tarikan napas si Tuan Senja. Aku jadi berandai-andai, jika seandainya ada yang melihat kami dari jauh...apa yang akan mereka pikirkan ya? Pasti ini pemandangan indah. Seharusnya diabadikan di dalam foto. Tapi bila diabadikan, kurasa hal itu tidak berpengaruh apa-apa untukku.

Aku menghela napas panjang, "Senja...denger deh. Ada suara daun yang jatuh. Banyak. Jatuhnya mereka lembut banget."

"Daun jatuh?"

"Iya, pasti daunnya udah berubah warna jadi kuning. Dan katanya daun yang lagi gugur itu indah banget. Iya ga sih?" kataku sedikit meragukan kepercayaanku sendiri. Habis, semuanya intuisi. Aku hanya melihat dunia dengan instingku sendiri.

Terdengar helaan napas lagi dari si Tuan Senja. Kenapa...bunyinya berat?

"Emang indah, semi."

Mendengar jawaban Tuan Senja membuatku bahagia. Maksudku, itu berarti aku tidak salah membayangkan. Itu berarti aku tidak akan merasa sakit bila kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kupikirkan.

Baiklah, aku kembali fokus dengan telingaku. "Terus...aku ngedenger suara angin yang bikin daun-daun kering di tanah bergeser sedikit. Kamu...bisa denger ga senja?"

Awalnya tidak ada suara dari si tuan senja. Namun akhirnya ia menanggapi pertanyaanku juga, walaupun butuh waktu lama. "Iya, aku denger tapi cuma sedikit."

Lagi-lagi ucapannya membuatku tersenyum. "Ada juga...suara serangga yang lagi nempel di pohon. Jelas banget loh, serangganya pasti ada di belakang kita sekarang."

"Serangga? Seri-"

"Jangan dibuka matanya, gapapa kok."

"Eh, maaf refleks."

Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya ketika aku merasakan lengannya yang menyentuh bahuku. Ternyata ia lebih tinggi dariku. Dan...perasaan itu muncul lagi.

Tiba-tiba bernapas menjadi sangat sulit. Apa ini indikat adanya pertumbuhan rasa yang tidak diinginkan?

Jadi, hari ini aku tahu bahwa tuan senja memiliki tubuh yang jauh lebih tinggi dariku. Sebelum ini aku sudah tahu jika ia suka makan pedas. Agak temperamen. Sering tersenyum tidak jelas. Bicara ambigu. Suka binatang. Dan...sering muncul disaat-saat seperti ini. Saat seperti senja.

"Hei, semi. Terusin."

Suara lembut si tuan senja membangunkanku dari lamunan aneh. Syukurlah, setidaknya ia menyelamatkanku lagi.

Aku meregangkan tubuh sebentar. Rasanya menyenangkan. Apalagi jika sedang diterpa angin seperti ini.

"Eh, aku denger suara kacang...yang digigit. Kamu denger ga, semi?" Tiba-tiba si Tuan Senja berseru dengan penuh semangat. Aku tidak bisa menahan senyum mendengar suaranya.

"Iya, aku denger." kataku akhirnya. Masih dengan jantung yang berdetak tidak wajar. Kenapa...? Apa aku menyu...kainya? Cepat-cepat kutepis pikiran melantur itu. Bagaimana mungkin? Ya ampun, aku tidak boleh berpikiran seperti ini lagi. "Kayaknya ada tupai disini."

Tiba-tiba saja aku merasakan sentuhan hangat di tanganku, hanya sebentar. Bahkan hampir seperti ilusi. Atau itu memang hanya imajinasiku saja?

Tapi sentuhannya terasa sangat nyata...

Aku menundukkan kepalaku pelan, mencoba untuk terdengar senatural mungkin. "Sekarang kamu ngerti kenapa aku bilang ini tempat yang nyaman?"

Si Tuan Senja sepertinya mengangguk, tapi karena sadar aku tidak akan bisa melihatnya ia pun segera menjawab pertanyaanku. "Aku ngerti. Ganyangka...udah banyak sumber kebahagiaan yang aku lewatin."

Aku tertawa renyah. Menoleh ke arah yang kuyakini adalah letak kepala si tuan senja berada. "Sekarang giliranmu."

"Giliranku?"

"Iya." ujarku menganggukkan kepalaku sekali. "Sekarang ceritain keindahan yang kamu liat. Selagi kamu disini, aku jadi pingin tau."

Butuh waktu yang cukup lama bagi si Tuan Senja untuk mengabulkan permintaanku. Aku hanya diam selagi angin dingin menerpa wajahku lagi.

Dan...sentuhan hangat itu lagi. Aku terkejut dan hampir menarik tangan jika saat itu aku tidak sadar bahwa semuanya nyata.

Ini pertama kalinya aku merasakan permukaan tangan si Tuan Senja yang agak kasar, namun hangat. Ya, kehangatannya membuat pipiku panas. Ya ampun, apa yang terjadi?

Sebelum aku memberontak, si Tuan Senja sudah mengangkat tanganku. Aku baru sadar apa yang sedang dilakukannya ketika ia mulai bicara.

"Disana, ada banyak tumpukan daun kering."
"Ah, itu aku liat tupainya. Nah tupainya emang lagi makan semacam kacang, semi. Berarti aku bener."
"Eh? Loh..."
"Ternyata kucing. Semi, di sini burungnya lagi turun. Ada, satu dua..ah empat!"
"Terus di belakang kita itu ada pohon, kecil sih tapi daunnya banyak."
"Kamu bener, daun-daun yang jatuh itu warnanya ada yang kuning, ada yang coklat. Terus yang gugur bukan cuma daunnya, kayanya bunga juga deh. Itu warna kuning. Bentar, aku ambilin ya."

Ia meletakkan tanganku di tempat semula. Hangat. Lembut. Kepalaku seperti ingin meledak, sudah pasti wajahku merona merah. Tentu saja, aku tidak pernah menyangka ia akan memperlakukanku sedemikian baiknya.

"Nih." katanya tiba-tiba seraya meletakan sesuatu yang berukuran kecil di tanganku. Aku langsung memegang benda itu dengan tanganku yang lain, lalu menciumnya.

Wangi daun. Sepertinya ini memang bunga.

Senyumku mengembang. Aneh...baru pertama kali aku membayangkan semuanya dengan begitu...indah. Mengapa semuanya terasa hangat setiap saat si Tuan Senja berada di sampingku?

"Senja, sekarang bunga yang di tangan aku gimana?"

Aku menangkap suara tawa lagi. Tawa menyenangkannya.

"Warnanya masih kuning. Kelopaknya ada tiga, semi. Salah satunya udah agak layu karena aku pegang tadi. Ukurannya sekitar 2 cm. Ada putiknya, benang sarinya juga. Terus kayanya...bunganya seneng deh dipegang kamu." jelasnya panjang membuatku benar-benar tidak bisa menahan senyum. Sungguh, apa yang dipikirkan laki-laki itu?

"Seneng? Kenapa bisa seneng?"

"Gatau, tadi aku denger bunganya bilang gitu."

"Konyol." kataku singkat sambil tertawa geli. Terkadang aku benar-benar menyayangkan...mengapa aku tidak bisa melihat wajahnya?

Si Tuan Senja juga tertawa. Ah, aku tidak pernah bosan mendengar tawanya. Aku suka. Suka semua yang terdengar olehku tentangnya.

"Semi, aku mau nanya."

"Apa?"

"Bunyi kesukaan kamu sejauh ini apa?"

Aku tertegun sejenak. Kenapa...ia tiba-tiba menanyakan hal sepele seperti itu? Tidak, ini tidak sepele untukku. Ditambah dengan nada suaranya yang langsung berubah serius. Tidak seperti biasanya.

Sudahlah, seharusnya aku tidak memikirkan hal-hal tidak berguna seperti ini lagi. Hanya akan membuat sakit.

Sejujurnya, aku paling suka suara gerimis. Tapi, aku juga suka suara tuan senja. Lembut. Terus rasanya itu hangat.

"Aku?"

Kedua alisku terangkat. Jangan-jangan... tadi aku mengatakannya?

Ah, bodoh. Bodoh sekali.

"Apaan?"

"Tadi kamu bilang kamu suka suara gerimis sama...suara aku."

Aku tertawa hambar. Rupanya aku memang sudah gila. Bagaimana bisa aku mengatakan hal memalukan seperti itu?

"Iya, aku suka suara kamu. Suara yang lain juga."

Dan akhirnya hanya kebisuan yang menyelimuti kami berdua. Aku benci ini. Aku benci ketika suasana berubah canggung seperti saat ini. Rasanya seperti ingin terjun dari gedung lalu terbang bersama burung-burung tadi, yang ditunjuk si tuan senja.

"Semi."

Aku menoleh ke arah Tuan Senja, lalu menyahut pelan. "Hm?"

"Kalau kamu dikasih kesempatan buat ngeliat dunia ini, hal apa yang paling kamu pingin liat?"

"Wajah aku, sama wajah orang-orang yang aku sayang."

"Kenapa?"

Aku menghela napas panjang, sambil terus melihat ke depan aku tersenyum. "Karena kalau aku harus kembali buta, seenggaknya aku bisa inget orang-orang yang aku sayang. Aku juga bisa ngebayangin diri aku sendiri lagi duduk disini. Jadi aku bisa ngerasa kalau aku itu bisa ngeliat, senja."

Si Tuan Senja terdengar frustasi. Napasnya semakin berat. Ia hanya diam setelah satu menit aku selesai mengucapkan perkataanku. Akhirnya aku yang mengambil alih percakapan, yah lebih baik dibanding harus diam seribu bahasa.

"Kalau kamu? Dari selama kamu hidup, kamu paling ngerasa seneng kalau udah liat apa?" tanyaku seraya menyunggingkan senyum tulus. Yah, aku sendiri tidak tahu bagaimana jadinya senyum yang kuulaskan itu. Habis, suasananya sedang tidak terlalu nyaman.

Lama sekali. Aku takut si Tuan Senja sudah pergi dari tempatnya tanpa aku sadari. Jadi aku mulai menggerakkan tanganku ke samping, bermaksud untuk memastikan keberadaannya. Bisa saja sejak tadi aku hanya berhalusinasi. Bisa saja sejak tadi aku bicara sendiri.

Tanganku berhenti bergerak ketika kusadari ada genggaman hangat di lenganku. Ini...terasa nyata. Bukan imajinasi sama sekali. Ya ampun, apa yang terjadi? Mengapa..ia tidak melepaskan tangannya? Aku tahu, aku tahu yang menggenggam pergelangan tanganku tadi adalah si tuan senja.

"Aku...bersyukur. Aku suka semua yang aku liat. Orangtua, keluarga, temen. Aku suka semuanya." kata si Tuan Senja tanpa melepaskan genggamannya. Aku mulai merasa waspada, tidak biasanya ia bersikap seperti ini.

"Tapi aku selalu bersemangat setiap liat kamu. Gatau, tapi serius aku selalu suka liat kamu." tambah si Tuan Senja setelah jeda beberapa saat.

Sepertinya aku koma di tempat. Aku tidak percaya dengan apa yang ia katakan tadi. Mengapa...ia harus mengatakan hal itu padaku? Bukankah itu sebuah gurauan? Maksudnya, siapa yang bisa merasa senang ketika melihat gadis tunanetra sepertiku?

"Kamu bercanda? Serius senja, ini ga lucu." kataku dengan suara bergetar. Entah mengapa rasanya sakit sekali ketika mendengarnya bicara begitu. Rasanya seperti...terhina.

Aku sadar bahwa aku memang tidak sempurna. Selama ini aku hanya mengandalkan empat indra. Bukan lima. Aku selalu melihat sesuatu dengan insting. Melalui suara. Melalui perasaan. Melalui aroma. Mengapa ia...ah! Apa yang terasa benar bagiku belum tentu terasa benar bagi yang lain. Ya kan?

Bahkan aku hampir tidak ingat wajahku sendiri seperti apa.

Kini tangannya bergerak menuju telapak tanganku yang mulai basah karena keringat. Ia tidak melepasnya. Hanya menggenggam. Kenapa...mengapa ia melakukan hal ini?

"Aku serius, semi." katanya. Aku tidak dapat menangkap bagaimana ekspresinya. Suaranya hanya terdengar lebih berat dan rendah. Itu saja. "Kamu tau kenapa aku manggil kamu semi, bukan gugur?"

Aku menggeleng pelan. Tak sadar bahwa kepalaku sudah menunduk. Otakku tengah membayangkan bagaimana tanganku terlihat dalam genggaman si tuan senja.

"Karena aku suka musim semi, dan kamu lebih cocok dipanggil semi. Kamu sama menyenangkannya sama musim semi." suara si Tuan Senja terdengar lagi. Aku hanya tidak tahu apa yang seharusnya kukatakan sekarang. Aku...bingung. Terlalu bingung. Terlebih dengan rasa nyeri di dada yang terus menyesakkan jalan napasku.

"Tadi kamu bilang kamu pingin liat wajah kamu sendiri, kan? Pasti kamu bakal liat." kata Tuan Senja entah sambil tersenyum atau tidak. Yang pasti tanganku masih diam berkeringat dalam genggamannya. Ah, aku baru sadar ia sudah berpindah ke hadapanku. Apa ia berjongkok? "Mata kamu itu kecil. Punya sepasang gigi kelinci. Mata kamu kecoklatan, kaya musim gugur. Tapi rona wajah kamu itu merah muda, sama kayak musim semi."

Aku masih mencerna apa yang ia ucapkan tadi sebelum aku merasa bahwa tanganku ditarik lembut. Lembut, pelan, tidak sakit.

Sesuatu yang hangat menyentuh tanganku. Ada lekukan, aku juga merasakan adanya rambut-rambut kecil seperti...kumis. Sebentar, apa aku sedang meraba wajahnya?

"Se...senja?"

"Tadi kamu bilang kamu pingin liat wajah orang yang kamu sayang, kamu pasti bakal liat. Aku yakin."

"Eh?"

"Tapi maaf kalau misalnya nanti kamu buka mata, kamu ga liat aku. Maaf. Aku ga maksud gimana-gimana."

"Tapi maaf kalau misalnya nanti kamu buka mata, kamu ga liat aku. Maaf. Aku ga maksud gimana-gimana."

Apa maksudnya?

Sesak. Rasa nyeri ini muncul lagi.

Mengapa saat ia mengucapkan kata-kata tadi, si Tuan Senja terdengar...perih?

"Maksud kamu apaan?" tanyaku pelan setelah berhasil menemukan suaraku kembali. Aku merasakan gerakan menggeleng di kepalanya. Kenapa?

Si Tuan Senja menjawab pertanyaanku dengan suara lirih. Sungguh, ini menyiksa sekali. "Makanya aku pingin kamu kenal wajah aku. Walaupun cuma dari rabaan, semi. Aku pingin kamu inget...aku."

Rasanya duniaku runtuh seketika. Memangnya kenapa? Mengapa aku harus mengingatnya? Bukankah dia akan selalu disini bersamaku? Kenapa sekarang...

"Maaf." katanya terdengar sangat dalam. "Maaf, kalau seandainya aku gaada di sisi kamu lagi."

Tes.

Aku masih tidak sadar ketika buliran bening dari wajahku tiba-tiba turun membasahi pipiku. Awalnya hanya satu, Namun berlanjut banyak. Sepertinya aku sudah menahannya cukup lama, jadi begini.

Aku tahu, mataku masih terbuka. Tapi aku tidak bisa melihat apa-apa. Sama seperti biasanya. Aku tidak bisa melihat siapa yang ada di depanku sekarang. Aku tidak bisa melihat bagaimana wajahnya sekarang. Aku...tersiksa.

Dan aku merasakan ibu jarinya yang menyapu air mataku lembut. Bibirku bergetar. Berusaha untuk menahan isakan. Sesak. Sesak sekali. Mengapa rasanya bisa begini menyakitkan?

"Jangan nangis, semi. Kamu cengeng." kata si Tuan Senja sambil tertawa. Atau tepatnya, mencoba tertawa. Suaranya sama bergetarnya dengan apa yang kurasakan. Apa ia...merasakan sakit juga?

Aku tidak tahu apa yang kulakukan, tapi akhirnya aku menggerakkan tanganku yang sudah berada di wajahnya. Sambil memejamkan mata, aku mencoba meresapi momen itu. Tidak ada yang memberi tahuku, tapi rasanya...aku harus mengenalinya walau dengan penglihatan yang gelap.

Hidungnya mancung. Ada kumis tipis di wajahnya. Matanya tidak kecil, tapi tidak besar juga. Tulang pipinya tinggi. Dagunya melengkung. Rambutnya...agak kasar sedikit. Ada bagian yang panjang.

Secara otomatis seulas senyum terbentuk di wajahku. Sambil mencoba mengatur napas...aku menatap lurus. Entah apa yang kulihat tapi rasanya aku seperti melihat langsung ke sepasang mata milik si Tuan Senja. "Aku pasti kenal kamu."

Dan kurasakan pipinya naik. Ya, ia pasti sedang tersenyum sekarang. Setidaknya, kali ini aku tahu. Aku tidak berandai-andai.

"Kamu...udah bisa liat aku, semi?" tanyanya terdengar berharap. Tapi sungguh...tanpa ia harus bertanya pun, seharusnya ia sudah bisa membacanya.

"Aku udah liat kamu. Dari dulu. Jadi kamu jangan ngilang ya, sampai aku bisa liat lagi. Kamu harus ada." kataku seraya menurunkan tanganku dari wajahnya. Basah. Tanganku basah sekali.

"Aku harap aku ada, semi." kata Tuan Senja dengan nada sedih. Memangnya kenapa? Memangnya ada apa sampai ia harus pergi dariku? Mengapa...rasanya tidak adil? "Maaf. Tapi denger."

Tiba-tiba si Tuan Senja mendekatkan kepalanya ke telingaku, dan membisikkan sebuah kata yang hampir membuatku ingin menangis sejadinya. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi rasanya...aneh. Melegakan tapi sakit. Terlalu sakit.

"Aku pergi sekarang, semi. Kamu...nanti aku panggil yang lain buat jemput kamu. Janji ya, kamu harus jaga diri. Beneran. Sayonara...dewa mata, Haru-chan." katanya sambil membelai lembut kepalaku sebelum akhirnya berdiri dan berjalan menjauh. Aku ingin menahannya pergi, tapi entah mengapa rasanya tanganku tidak mampu. Jadi aku hanya terdiam sambil mendengarkan deru langkahnya. Langkah halus yang bersuara. Sampai akhirnya aku tidak bisa mendengar suaranya lagi.

Entah kapan nona hujan sudah berada di sampingku, mungkin saat tadi...aku menangis dalam diam. Tidak bersuara. Hanya menundukkkan kepala dan merasakan jatuhnya tetesan bening penuh perasaan itu ke tanganku.

Sungguh, terkadang...aku hanya tidak mengerti kenapa.

Sudahlah, senja itu memang fatamorgana.

Tapi, kuharap aku bertemu denganmu lagi. Tuan Senja. 

"Watashi wa zutto Haru-chan no hakari ni naritai desu."

Aku mengangkat wajah. Menyadari kehadiran nona hujan, sambil menghapus air mata yang tumpah...aku menghela napas panjang. "Tadi dia bilang 'watashi wa zutto Haru-chan no hakari ni naritai desu.' Aku ingin terus menjadi cahaya musim semi. Aku ingin terus jadi cahayanya semi."



"Gomen ne, Haru-chan."


Haloo kalian hehe aku nulis minggu ini, lagi mencoba rutin kembali kok. Hehe biar aku cerita sedikit ya...awalnya aku cuma mau nulis dari sudut pandang seandainya aku itu blind girl, jadi aku mencoba gitu buat memperdalam karakter aku coba buat nutup mata kan ternyata emang...susah. Jadi maaf kalau aku malah jadi nulis sebuah cerita, gakayak biasanya. Makanya aku kaget juga liat tulisan aku sendiri ._. Tapi semoga kalian suka ya, aku emang selalu nulis spontan jadi maaf kalau bahasanya ada yang aneh dan gaenak, mohon dimaklumi :-) Tapi makasih udah baca dan nyempetin mampir. Selanjutnya aku bakal nulis lagi, nanti aku cari inspirasi dulu :D Ah iya doain aku ya semua semoga aku disiplin nulisnya, lagi ngerjain novel kedua dan ketiga nih (tidak patut ditiru nulisnya plin plan) semoga aku ga kegoda sama ide yang baru nih yang ada blind girl nya. Semoga novelnya cepat selesai dan bisa langsung di filter sama penerbit =)) terima kasih semua aku sayang kalian... :)

Friday, 6 December 2013

Pesan Musim Gugur

Untuk sebentuk insan di seberang lautan. Yang sosoknya semu ditelan bayang-bayang langit di sore hari. Dengan cahaya yang membias di permukaan indahnya karya Tuhan. Halo, cahaya dunia.

Jika hujan turun dengan perlahan. Menyisir dunia dengan perbandingan yang sama-sama besar. Adil. Sama dengannya. Bicara dengan penuh rasa percaya diri dan senyum yang akan menghangatkan siapa saja yang melihatnya.

Mungkin tidak. Mungkin dengan semua yang ada di peristiwa tumbuhnya rasa 'aneh' ini, ada misteri yang tidak terpecahkan. Misalnya, teka-teki bagaimana bayang-bayangmu menghiasi keruhnya air di wajahku. Bagaimana cahaya wajahmu dapat membuatku mengerti semua yang dinamakan 'proses fotosintesis'. Bagaimana caramu membuatku diam tidak berkutik ketika kamu bicara banyak di depan semuanya.

Semuanya proses. Proses dimana aku baru mengerti pesona yang kamu pancarkan ketika yang lain tengah ribut mengoceh tentang kuatnya angin yang kamu tiupkan. Proses dimana aku baru benar-benar menyadari sejuknya angin yang kamu tiupkan. Yah, sayang sekali. Aku datang saat musim dingin sudah mulai mendekat. Ketika musim gugur dengan tiupan anginmu sudah bersiap untuk beranjak pergi.

Persiapan musim dingin. Aku disini sedang menikmati beratnya mengemasi barang-barang. Mengumpulkan berbagai macam beri, jerami, juga menidurkan binatang-binatang. Tugas sedang menerpa hari-hariku. Kami juga sedang sibuk menyiapkan perginya kamu, sang pembawa pesan musim gugur.

Pesan yang kamu bawa, indah. Satu kata yang cocok untuk menggmbarkan betapa bersyukurnya aku menikmati musim gugur tahun ini. Walaupun aku baru menyadari kehadiranmu baru-baru ini. Baiklah, ini yang dinamakan peri terlambat.

Daun-daun berguguran jatuh tepat di atas batang pohon yang menjadi lampiasan rasa bahagiaku hari ini. Pena di tanganku tidak berhenti bergerak menulisi bagaimana caramu membuatku tidak bisa berhenti tersenyum hari ini. Terima kasih, pembawa pesan.

Satu, tinggal beberapa hari lagi sampai akhirnya kamu kembali ke tempat dimana semuanya menunggumu. Yah, layaknya neverland yang mendadak menjadi dunia mati ketika Peter Pan sedang pergi. Mungkin kamu punya dunia yang indah disana. Dunia yang hanya bisa kutebak.

Dua, saatnya aku menutup mata. Kamu, pembawa pesan, jangan sampai kepergianmu membuatku jatuh tersungkur ke dalam gua yang dipenuhi kelelawar. Jangan sampai wajahku kembali ditutupi oleh kabut asa hanya karena tidak ada sapuan angin hangat darimu. Tapi, jangan pergi.

Tiga, saatnya kamu bersiap untuk mencari apa yang dinamakan teduhnya hati. Aku tahu, banyak yang kamu lakukan. Banyak, sampai-sampai aku tidak bisa mengatakannya satu pesatu. Ah, sebenarnya aku tidak tahu apa saja yang kamu lakukan selain melapor pada pimpinanmu, meladeni semuanya yang bertanya tentang pesanmu (modus), mengumpulkan data, berjalan berkeliling dan mengecek apa kami perlu bantuan atau tidak.

Bantu aku lagi, pembawa pesan.

Hati-hati di jalan, nanti...ketika diperjalanan jangan lupa berhenti sebentar. Lalu...balikkan badanmu. Setelah itu, perjelas pandanganmu, dan kamu akan mendapatiku sedang memandang bahumu yang keras.

Satu, dua, tiga...ah, kamu tersenyum. Selanjutnya, baiklah aku akan membalas lambaian tanganmu. Dadah. Kedua sudut bibirku terangkat, kamu juga.

Cukup satu senyuman, sampai nanti kamu kembali untuk membawa pesan berikutnya.

Salam musim gugur,
Pembawa Pesan.



Haloooooooooo kalian, para pembaca setia atau yang baru mampir. Terimakasih sudah memberikan waktu berharga kalian :D ahahaha setelah 2 bulan aku berhenti nulis akhirnya aku balik lagi kawan-kawan. Makasih udah setia nunggu ya, semoga kalian suka sama apa yang aku tulis hari iniii! Selanjutnya aku pasti nulis rutin lagi kok, makasih ya udah nungguin aku. Makasih banyak, maaf aku ngilang lama banget. Maklum, lagi fase Bella di New Moon. Semangat, untuk kamu. Untuk aku. Untuk kita... :)

Friday, 25 October 2013

Sebinar Senja di Matamu


Jika ada yang bertanya, apa aku suka senja?
Jawabannya, tidak. Tidak juga.
Tapi aku suka sore hari.
Ketika aku harus pulang di sore hari, naik motor (baca : ojeg). Ditemani merdunya suara deru mesin-mesin berjalan dan sejuknya angin sepoi-sepoi. Yah, indah.

Aku sering, ketika sedang menunggu sang mesin mengantarku ke rumah, menengadahkan wajah lalu melihat awan hari ini. Terkadang gelap, seperti ingin menangis. Tapi sering juga, awannya terlihat indah. Tersenyum, dengan cara yang tidak kupahami.

Jika sang nebula elang sedang berbaik hati. Melintasi indahnya cakrawala yang menembus jiwa. Sungguh, angin sejuk itulah yang meniupkan semua beban di pundak.

Hari ini, ada yang aneh.

Rasanya...sudah lama aku tidak merasakan ribuan kupu-kupu yang berterbangan di punggungku. Tapi hari ini, rupanya Tuhan memberiku kejutan lain.

Aku sering melihatnya. Terlalu sering.

Mungkin itu yang membuatku tidak dapat menangkap jelas, pesonanya yang terlalu...aneh. Aneh? Bukan, yah...semacam.

Pesona yang membuat banyak insan termangu. Mengadu padaku bahwa dia hari ini terlihat menawan. Misalnya hari ini.

Aku sedang berdiri--memegang tas berwarna oranye yang berisi binder berwarna pink sibuk memperhatikan manusia-manusia melaksanakan aktivitasnya memperbaiki sebagian kecil dunia. Dan seperti biasa, ia muncul.

Si dia yang membuat hidupku sedikit lebih ramai. Yah, aduan para insan itu terlalu sering sehingga hampir membuatku kesal.

Ia menyapa temanku, mengobrol. Ah ya... aku lebih sering diam ketika ia bicara dengan temanku. Habis, mungkin karena karakterku yang terlalu...perasa. Peka. Sensitif. Aku sering merasa tidak dianggap. Memang. Aku tidak terlihat.

Lengkungan di wajahku hanya menempel begitu saja. Walaupun sebenarnya lengkungan itu tidak terbentuk di hati. Ah aku sendiri geli mengetiknya.

Dan akhirnya, ia menoleh padaku. Kita sebut saja ia Tuan Cabai. Jangan tanya kenapa, aku pun bingung harus menyebutnya apa. Dan karena yang terpikirkan olehku sekarang adalah cabai, maka aku akan menyebut si dia tuan cabai.

Ya, Tuan Cabai menoleh ke arahku. Seperti biasa, dengan senyuman khas seperti hamsternya. Dan aku meresponnya dengan biasa. Maksudku, seperti biasa. Khas dengan senyuman kelinci milikku. Baiklah, ini sedikit konyol.

Si Tuan Cabai mengatakan sesuatu padaku, aku tersenyum lalu menanggapi perkataannya. Sesekali aku tertawa, dia juga. Tidak ada yang aneh. Sungguh rutinitas yang biasa.

Kami sedang membiacarakan suatu tanah. Ia bertanya tentang tetes air, aku hanya tertawa.
"Apaan? Ih jangan tanya aku, aku gatau."

Tuan Cabai juga tertawa. Dengan mengatupkan gigi, tertawa yang disembunyikan. Ia memang seperti hamster.

Aku yakin, sekarang ada banyak mata yang mengarah padaku. Aku menghela napas panjang. Tingkat kecemburuan bisa membuat keseganan sosial. Dasar, remaja.

Ini...bahasa yang aneh. Aku juga remaja. Atau anak kecil? Mereka sering menganggapku anak kecil. Mungkin karena itulah terkadang pendapatku tidak diindahkan.

Baiklah, aku melantur. Entahlah sebenarnya tidak. Hari ini aku sedang kesal. Tidak baik. Atau bahasa lainnya, aku sedang galak.

Ini karena mimpi semalam. Ah, mimpi menyebalkan yang maish teringat sampai hari ini. Sukses membuat mood ku hancur. Bahkan saat aku tertawa dengan si tuan cabai, aku masih kesal. Panas. Tapi sekali lagi, hari ini aneh.

Aku sudah sering melihatnya. Mengobrol dengannya. Tertawa, bahkan ya...intinya aku sudah sering menghabiskan waktu dengannya.

Hari ini, pertama kalinya aku melihat pesona si Tuan Cabai yang ramai dibicarakan itu. Ya ampun, bisa-bisa aku tidak waras. Mengapa aku baru menyaadarinya sekarang? Tidak heran banyak yang kesal padaku karena aku tidak sadar sama sekali.

Jadi, saat aku sedang kesal...si tuan cabai melontarkan pernyataan-pernyataan aneh padaku. Aku tertawa, pasti.

Tawa kali ini memang sepenuhnya dari hati. Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Atau hal apa yang menimpaku, namun kini rasanya bersamanya aku bisa merasa lebih tenang.

Celaka.

Aku mengutuk diri sendiri. Tidak. Jangan sampai. Jangan sampai aku memikirkan hal aneh tentangnya. Bisa-bisa ada yang membunuhku. Atau akan terjadi kudeta hati ala vicky.

"Hei." Suara si tuan cabai membangunkanku dari lamunan gila. Tentangnya. Aku menoleh ke arahnya seraya menyahut dengan cuek, "Hm?"

Dan...perlahan senyum si tuan cabai mengembang. Yah, ia sering tersenyum padaku seperti itu. Tapi hari ini, aku baru menyadari bahwa memang senyuman si tuan cabai agak lucu. Baiklah, manis...maksudku.

Aku sedikit tersipu, lalu menundukkan wajah. Hanya sebentar sebelum kembali normal lagi. Kulihat, kini si tuan cabai sedang menerawang ke langit.

Kala itu, masih siang. Agak mendung. Langit masih tersenyum menutupi kesedihannya.

Saat itu juga, aku melihat kedua mata si Tuan Cabai.

Rasanya...hangat. Aku jadi merasa bahwa sekarang sudah sore hari.

Saat kesukaanku.

Dan saat itu juga, buru-buru kuganti panggilanku padanya.

Si Tuan Senja.
Binar matanya menyiratkan rasa yang tidak kupahami.
Rasa seperti senja.

Untuk pertama kalinya, aku kembali menyukai dunia.
Hai, tuan senja. Semoga rasa ini tidak tumbuh besar.

Ohiya...
Selamat senja.



Monday, 30 September 2013

Distance

Hai, manis. Apa kabar?

Ketika kau membaca ini, aku ingin kau membayangkan diriku sedang bicara denganmu. Dengan wajah yang mengulaskan senyum samar, dan mata yang menolak menatapmu. Aku tertawa kecil seolah-olah aku memang hanya menanyakan kabarmu...tanpa menyembunyikan apa-apa.

Aku tahu kau pasti hanya akan tersenyum lebar—lalu berkata bahwa kau baik-baik saja. Entah menanyakan kabarku atau tidak. Namun jika ya, kau tahu jawabannya. Aku baik.

Kau tahu rasanya memendam dengan jarak sedekat itu, manis? Hanya beberapa langkah. Aku melihatmu disana. Berdiri dan bercanda dengan teman-teman dekatmu. Tawa itu...sudah lama aku tidak mendengarnya. Tawa khas milikmu. Yang dulunya selalu membuatku memalingkan wajah ketika mendengar tawa tersebut—refleks.

Ya, aku pasti mencari sosokmu ketika ku mendengar tawamu. Aku mengenal suaramu dengan baik, walaupun sekarang...yah bahkan aku tidak ingat lagi bagaimana suaramu ketika bicara padaku.

Aku...entahlah. Rasanya upayaku kini mungkin hanya akan menyiksa diriku sendiri. Ya, aku memang konyol. Menyakiti diri sendiri. Mencari tahu—walaupun aku sudah memiliki firasat tersendiri 
tentangmu.

Untunglah. Untunglah kau tidak ada disini. Seandainya kau ada, mana mungkin aku bisa bertahan menahan rasaku untuk melihatmu, kemudian rasa sakit menyesakkan dada yang akan selalu mengikutiku? Tidak, aku takkan sanggup.

Karena walaupun kini kau berada di sana...jauh. Jauh dari pandanganku. Jangkauanku. Kau disana. 

Rasanya masih sakit. Bahkan terkadang menjadi sangat sakit.

Aku lelah. Kuakui. Aku lelah jika aku harus mengekspektasikan hal-hal yang tidak mungkin akan terjadi. 

Aku lelah ketika semua khayalanku tentangmu terputar dalam keadaan apapun. Semuanya. Aku berada di jarak terjauhku darimu. Tapi tebak...kau tetap menggangguku. Kehadiranmu tidak pernah pudar. Kau gila.

Jadi...tidak apa-apa, bukan jika kini yang kulakukan adalah berusaha untuk menghilangkanmu dari duniaku? Ketika kau datang, aku langsung menepismu. Tidak masalah, bukan? Aku yakin itu bukan masalah untukmu.

Kau bukan aku. Itu yang harus kuingat.

Aku bukan dia. Bukan.

Jadi aku berkata pada diriku sendiri, ya...lebih baik aku menjaga jarakku. Sejauh mungkin darimu. Dari jangkauanmu.

Kau melihatku, manis. Kau melihatku.  Tapi, ada yang lain di binar matamu yang bening itu. Ada yang lain ketika kau menarikkan kedua sudut bibirmu itu. Jantungmu...aku yakin ketika kau melihatku, jantungmu akan berdetak cepat—tapi jantungmu sudah berdetak untuk orang lain. Aku yakin.

Rasanya aku ingin kau disini. Biarkan aku bicara. Kau mendengarkan.

Hanya mendengarkan...

Setelah itu, aku akan tersenyum dan berkata lupain aja. Jangan bicara apapun. Kau hanya butuh untuk mendengarkanku.

Jangan bicara apapun. Aku tidak perlu mendengar hal-hal manis dari mulutmu. Walaupun aku mengharapkannya.

Tertawa. Seandainya kita masih bisa menertawakan hal tidak penting lagi. Membicarakan atau bahkan memperdebatkan tentang apa, siapa, bagaimana, dimana, kapan, dan mengapa...

Ah, lagi-lagi sebuah cuplikan tentangmu terputar lagi. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengingat tentangmu. Yah, hanya malam ini saja. Aku merindukanmu.

Dengan semua hal yang terjadi. Tentang kau yang tidak bisa menjelaskan arti dari kehadiranku di hidupmu. Aku bukan sesuatu yang sangat berarti. Tapi aku juga tidak bisa dibilang tidak berarti. Ya kan? 

Bahkan aku mengetahuinya tanpa melihat lirikan matamu.

Lirikan itu...

Bahkan saat itu aku tidak tahu apa yang kau lihat. Namun ya, tatapan itu memang berbeda. 

Dalam...sampai-sampai rasanya aku ingin tenggelam dalam lautan hitam di matamu yang jernih itu.

And I will make sure, to keep my distance. Say, “I love you” when you’re not listening.

Aku tidak mau menghancurkan kebahagiaanmu sekarang. Perasaanku memang besar, tapi aku tidak seperti perindumu yang lain, manis.

Disaat kau mendekat...aku pasti berjalan menjauh darimu.

Ketika kau jauh...aku mendekat, tapi pasti...aku akan berjalan lebih jauh lagi darimu.

Ketika mereka memintamu untuk melihat mereka. Aku akan memintamu untuk tidak melihatku.

Ketika mereka bertanya kau sedang apa. Aku hanya akan berandai-andai, berceloteh dengan lancarnya...di dekatNya.

Ketika mereka dapat melihatmu dengan mudah. Aku hanya akan...membayangkan. Pelan...namun pasti.

Ketika mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatianmu, aku hanya akan berjalan menjauhi kerumunan itu. Berjalan memutar mencari cara lain jika seandainya kau mengambil belokan yang sama.

Bahagia untukku, manis...

And I keep waiting, for you to take me.

You keep waiting, to save what we have.

Ah ya, satu lagi...


In my life, I love you more...


Halo readers kesayangan aku. Apa kabar hari ini? Udah makan? Jangan galau aja hey hehe. Hari ini pas banget hari senin, jadi intinya aku tuh ngepost tiap hari senin readers. Makasih banyak kalian yang udah setia baca tiap post galau yang gapenting alias curhat. Hah? Kagak deng ini ga curhat, kalau mau liat yang curhat tuh ada di tahun 2012 post awal aku tuh akaka curhat banget-_- Sekarang post nya sudah agak bermutu nih. Hehe pokoknya aku seneng punya kalian yang stand by me para sesama galauers. Semangat terus, aku disini bersama kalian. :) Kamu juga. Manis... Bahagia.

Sunday, 22 September 2013

Bayanganmu, manis.

Maaf, karena aku ga bisa bikin kamu bahagia. Maaf aku gagal.

Aku menarik napas panjang. Tidak langsung menghembuskannya. Sakit. Kutahan sebentar, sebelum akhirnya napasku itu terhembus seiring dengan berkurangnya rasa sesak yang kupendam.

Kalimat itu lagi. Ya. Kalimat yang sudah lama tidak menghantuiku. Setelah sekian lama. Hah, sudah berapa lama sejak terakhir ia mengucapkan hal itu? Setahun? Dua tahun? Baiklah, aku mulai gila.

Sekiranya...sudah lama aku tidak berlarut dengan rasa sakitku lagi. Hahaha, kali ini mengapa kau muncul, manis?

Aku menulis ini ketika kurasa bayang-bayangmu mulai mengikutiku lagi. Bayangan manis itu. Bayangan yang selalu bisa membuatku tersenyum secara instan. Dan ya, bayangan yang bahkan bisa membuatku menepis perasaan-perasaan aneh.

Bayangan yang pernah mengisi hidup...ku. Bukan. Kita.

Aku menulis ini, ketika tidak sengaja aku mendengar sebuah lagu yang seharusnya tidak kudengar lagi. 

Bagaimana tidak, walaupun aku tidak benar-benar mengerti esensi dari lagu itu, tapi intro-nya saja sudah membuatku seperti jatuh dari gedung berlantai sepuluh.

Yah, tidak juga. Itu versi berlebihan. Aku baik-baik saja. Tidak mungkin gadis sepertiku terlarut dalam kesedihan hanya karena mendengar sebuah lagu. Konyol.

Aku menulis ini ketika aku berusaha untuk tahu hal yang seharusnya aku tidak tahu. Misalnya hal-hal yang berbau keberadaanmu.

Buruk. Rasanya buruk.

'Cause even when I dream of you
The sweetest dream would never do
I'd still miss you, baby
And I don't wanna miss a thing

Ah, menyebalkan. Bahkan aku tidak pernah bermimpi tentangmu. Tidak. Aku pernah. Namun selalu, kau tahu...aku selalu takut jika tiba-tiba aku bermimpi tentangmu.

Pertama, karena setiap kau berkunjung ke dalam mimpiku, kau selalu pergi.

Kedua, karena kau memang sudah pergi.

Aku tertawa dalam hati. Bahkan kekonyolon ini masih terdengar tragis. Padahal sepertinya itu tidak terasa terlalu menyedihkan.

Ya ampun, hentikan ini. Aku sedang menghibur diriku sendiri.

Seseorang bertanya padaku, “Mengapa kau biarkan ia pergi jika nyatanya ia adalah seseorang yang berharga untukmu?”

Aku langsung tertawa, ya. Refleksku memang hebat. Patut diacungi jempol. Lalu kujawab, “Karena jika tidak, ia akan tersiksa.”

Apa kau mengerti, manis? Aku sudah tahu semuanya. Karena itu aku bicara konyol padamu. Berusaha untuk melepasmu. Kau pasti sudah merasa bahwa aku memang masih memiliki rasa itu padamu. Tapi kau berusaha menghindarinya. Aku juga. Sebenarnya aku juga tidak ingin memiliki perasaan lebih padamu.

Apalagi setelah semua yang terjadi diantara kita.

Aku memendamnya, serapat yang kubisa. Tapi perasaan itu benar-benar tidak bisa diajak kompromi. 

Seperti sekarang misalnya. Sudah kubilang aku tidak menyukaimu, ia selalu mengajakku berkelahi. 

Sudah kubilang kau bukan apa-apa, ia tetap melawanku. Hasilnya...yah, tetap...aku tidak mau.

Yang jadi masalah, manis. Rasanya aku seperti mencintai bayanganmu. Melihat pun tidak. Menyentuh pun tidak. Apa ini bisa disebut cinta? Tidak. Kurasa tidak. Kuharap tidak.

Oh ya, kau tahu aku sangat menyukai Taylor Swift, kan? Pernah dengar lagu yang berjudul “I almost do” ?

Aku yakin, kau tidak mendengarnya. Kau bukan aku, kau tidak bisa mempelajari diriku layaknya caraku mengenalmu.

I bet this time of night you're still up.
I bet you're tired from a long hard week.
I bet you're sitting in your chair by the window looking out at the city.
And I bet sometimes you wonder about me.

And I just wanna tell you
It takes everything in me not to call you.
And I wish I could run to you.
And I hope you know that every time I don't
I almost do,
I almost do.

Setidaknya...begitulah keadaanku beberapa saat lalu. Ketika kau tiba-tiba menghilang, lalu muncul dengan seenaknya tanpa memikirkan bagaimana perasaanku.

Satu kata untukmu, MENYEBALKAN.

Lalu menghilang lagi. Karena itu aku malas membalas setiap pesanmu. Sapaanmu. Kau bukan angin malam yang kukenal. Kau bukan laki-laki yang kukenal. Kau orang asing. Aku tidak mengenalmu.

Sejak dulu, kau menghantuiku dengan cara yang sama. Kau menakutiku dengan cara yang sama.

Ya, kau tahu sendiri bagaimana kan? Bagaimana caramu membuatku ketakutan setiap hari. Membuatku takut kau akan menghilang. Aku kehilangan dirimu.

Aku mengenalmu, manis. Sudah kubilang sejauh apapun kau berada, aku selalu mengenalmu. Sedrastis apapun perubahanmu, aku selalu bisa mengenalimu.

I can’t say hello to you, and risk another goodbye.

Itulah jawaban mengapa aku melarang diriku untuk bertemu denganmu. Untuk bicara denganmu. Untuk mengingat tentangmu.

Beberapa pesan memang harus dihapus. Katakan padaku, apakah setidaknya kau pernah memikirkanku? 

Aku sudah tahu jawabannya, jangan dijawab.

Mereka tidak tahu, kau tenang saja. Mereka tidak tahu.

Aku tidak akan membiarkan mereka tahu. Tentang kita. Tentangku. Tentangmu.

Tidak ada yang tahu.

Bahkan dirimu sendiri.

Konyol, apa yang kulakukan? Apa yang kutunggu? Apa yang kuharapkan darimu?

Kuharap kau bahagia. Denganku.

Aku merindukanmu tapi aku tidak mau bertemu denganmu. Aku sering berkata pada-Nya aku merindukanmu tapi kemudian aku langsung meralatnya. Aku sering tidak sengaja mengucapkan namamu namun kemudian aku langsung berkata tidak, tidak boleh. Sebaiknya aku jatuh cinta pada orang yang tepat. Sungguh, untuk kali ini bahkan aku tidak bisa percaya perihal manisnya mengais-ngais perasaan. Itu...terasa aneh dipikiranku.

Kau tahu manis...rasanya aneh. Terkadang aku berpikir...seharusnya aku menikmati masa-masa ini. SMA. Jatuh cinta dengan siapa saja, lalu patah hati, dan akhirnya jatuh cinta lagi. Tapi...kenapa kau masih mengikutiku?

Mengapa hatiku masih terjaga sepenuhnya untukmu? Konyol? Ya, ini konyol. Padahal kau sama sekali tidak memikirkan sedikitpun tentangku. Sudah, sudah ada penggantiku disana. Biarkan saja, aku tidak 
peduli. Bukan urusanku.

Baiklah, hentikan. Aku tidak boleh berlarut dalam kesedihan yang tidak berujung. Tidak jelas. Seabstrak keberadaanmu.


Bahagia untukku, manis.

Sunday, 15 September 2013

Selamat tinggal, manis

“And I’m wonderin’ what you’re dreamin’. Wonderin’ if it’s me you’re seeing.”

Aku menghela napas panjang. Hembusannya menimbulkan sekilas asap putih yang hanya bertahan dua detik. Mengingat betapa dinginnya cuaca hari ini.

Kini aku hanya sedang berdiri memandangi kendaraan yang berlalu-lalang di jalan. Terkadang merapatkan jaket yang kupakai lalu melipat tanganku ke dada. Entah apa yang kupikirkan. Langit yang sudah gelap hanya mendukung apa yang kurasakan saat ini.

Sepi.

Kemudian separas wajah muncul di benakku. Cepat-cepat aku memejamkan mata lalu menggeleng-gelengkan kepala. Menepisnya pergi.

Ya. Aku sudah memutuskannya.

Jangan lagi bermain-main dengan masa lalu.

~

Aku tidak merasakan apa-apa.

Wajar, bukan?

Aku memindah-mindahkan lagu di playlist laptopku. Tidak. Tidak. Aku tidak ingin mendengar lagu ini. 

Baiklah, bagaimana bisa lagu yang bernuansa sedih membuatku bosan? Terlebih lagi, aku tidak bisa membayangkan kisah sedih untuk menjadi bekal dalam tulisanku.

Ini bencana.

Aku harus. Harus. Mencari sesuatu untuk ditulis. Aku tidak merasakan apa-apa. Ini masalah utamanya.

Apa jangan-jangan...kali ini aku benar-benar sudah melupakannya?

Benarkah? Benarkah aku melupakanmu, manis?

Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Kusadari memang akhir-akhir ini aku memutuskan untuk menyudahi semuanya. Menyudahi semua yang kumulai. Padahal aku tidak tahu garis akhirnya dimana. Aku hanya lelah. Terkadang, walaupun aku tidak ingin melupakannya. Aku harus melakukannya.

Sebenarnya hal ini tidak terjadi semudah itu. Aku yang memutuskannya. Memang. Namun, tidak kukira hal itu akan terjadi secepat ini.

Ia bahagia disana, kan? Aku tahu ia sedang menikmati kehidupannya disana.

Dunia manis yang baru, dimana tidak ada aku di dalamnya.

~

Manis. Kuakui, aku tidak terlalu suka makanan manis. Kecuali : Pertama, coklat. Kedua, cheese cake. 
Ketiga, permen kenyal.

Tapi entah mengapa aku lebih suka memanggilnya manis dibandingkan menyebut namanya. Walaupun yah, namanya memang selalu muncul setiap hari. Setiap hari.

Aku terdiam sejenak. Menghela napas panjang. Lalu berjalan menuju cermin. Melihat bayanganku sendiri.

Apa aku pantas?

~

Hai manis, apa kabarmu? Sudah lama kita tidak bicara lagi. Entah apa yang kau pikirkan sekarang.

Atau apa yang kau lakukan sekarang. Entahlah, aku tidak tahu. Aku juga ingin berkata bahwa aku tidak peduli tapi sayang sekali, tampaknya hal itu tidak terwujud.

Aku memejamkan mata sejenak. Mencoba merasakan momen-momen berharga yang seharusnya telah kuhapus... Tidak. Aku mengingat semuanya terlalu jelas.

Baiklah, mulai...ini bertele-tele. Sungguh kata pengantar yang tidak perlu. Aku disini bermaksud untuk menulis hal yang seharusnya menjadi sumbermu mencari tahu apa yang kurasakan. Apa yang kuperjuangkan. Apa yang menjadi alasanku untuk bertahan sekaligus menyerah.

Setidaknya aku tidak meninggalkanmu dengan tanda tanya.

Baiklah, sebenarnya aku bertanya-tanya. Kenapa. Kenapa. Kenapa.

Mengapa kau tidak membenciku jadi aku bisa belajar melupakanmu, manis?

Yah, pertanyaan bodoh. Memang.

Ah, aku tidak mengerti dengan apa yang kutulis. Semuanya...aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. 

Sebenarnya aku hanya ingin diam.

Aku tahu, itu bukan aku. Sama sekali bukan. Mungkin itu yang menjadi alasan kenapa aku bisa memutuskan untuk menyudahi memikirkanmu.

Yang kau maksud bukan aku. Aku tahu, tanpa kau perlu menjelaskan semuanya. Jadi sebaiknya aku berhenti.

Berhenti sebelum kau benar-benar melukaiku.

Aku bukan gadis tercantik yang pernah kau temui. Sama sekali bukan. Aku? Aku bukan primadonamu lagi. Aku bukan lagi gadis yang kau ucap namanya setiap saat kau berdoa. Aku bukan lagi gadis yang kau cintai dalam diammu.

Tanpa kau mengatakannya, aku tahu.

Aku memperhatikanmu, manis. Sejauh apapun jarak memisahkanku denganmu, aku selalu mengenalmu. 

Aku tahu ketika kau resah, ketika kau marah, bahkan jatuh cinta sekalipun.

Aku mengenalmu.

...

Jadi akhirnya aku memilih untuk menjauhimu. Bermaksud untuk meninggalkanmu tapi...aku tidak ingin membencimu.

Dan pada akhirnya aku tidak jadi menghilang darimu.

Kau tahu aku selalu dingin setiap bicara denganmu. Alasan mengapa sikapku dingin bisa didasari karena aku malas bicara atau malah aku sedang membatasi apa yang kurasakan.

Selama ini aku bersikap dingin padamu untuk alasan yang kedua. Menjaga jarak agar tidak terlalu banyak goresan yang kau berikan padaku. Agar tidak menimbulkan banyak luka.

Kali ini aku harus berhenti berpikir seperti itu.

Aku ingin bersikap normal padamu. Aku akan bicara panjang lebar walaupun kau hanya menanggapinya dengan kalimat pendek.

Agar aku terbiasa dan seiring berjalannya waktu aku akan mengganggapmu hanya sebagai teman.

Jika kau mengenalku, aku yakin kau menyadari perubahannya.

Walaupun setiap saat aku harus berdoa agar kuat ketika aku berceloteh panjang dan kau hanya menanggapinya seolah-olah tidak peduli. Bukan sakit karena tanggapanmu. Aku pernah menghadapi yang lebih buruk. Yang kau lakukan bukan apa-apa.

Aku hanya merasa...bahwa aku tidak mengenalmu lagi. Terkadang.

Yah setidaknya aku berusaha.

Ah, aku benar-benar tidak mengerti. Jika memang selamat tinggal adalah kata terbaik, mengapa aku masih berharap...bahwa dugaanku salah?

And I just wanna tell you, it takes everything in me not to call you. And I wish I could run to you, and I hope you know that everytime I don’t... I almost do. – (I Almost Do) Taylor Swift

Listen to it, and you’ll understand why.

Hai readers setia aku atau yang baru visit kesini. Selamat datang :3 ehe maaf aku baru ngepost hal galau lagi nih, semoga kalian suka ya. Udah ada sambungannya kok 2 cuplikan galau tentang manis. Tapi judulnya bukan manis lagi hehehe. Maaf baru ngepost sekarang. Semoga kalian gabosen nungguin tulisan baru aku ya, aku sayang kalian pokoknya makasih banyak udah setia nungguin aku ngepost cuplikan galau lagi hehe. Oh iya, berhubung ini judulnya udah selamat tinggal  mungkin aku ga bakal ngepost edisi manis lagi. Ahaha engga deng canda, hilangnya manis itu seiring sama hilangnya perasaan itu kok readers tenang aja. Doain aja aku bisa nyempetin waktu buat bersemedi biar tulisan galaunya makin 'ngena' hehe. Makasih banyak ya pokoknya aku sayang pembaca aku. Semangat harkoser, jombloers, korban harkos dan php! Aku masih disini menemani lara-lara kalian :)