.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Sunday, 28 April 2013

Gadis Labil Itu Sudah Pergi


Jus Sirsak. Dua BigMac. Sekeranjang lemper.

Untuk apa aku menuliskan hal itu?

Tapi 3 benda itulah yang harus kuingat sampai 8 tahun lagi.

Harus...kuingat. Sampai...nanti aku bertemu dengannya lagi.

Kini, aku sedang bersandar pada dinding kamarku. Melamun. Teringat tentang sesuatu yang berharga. 

Sekali lagi, dulu.

Dia...itu siapa? Aku tidak tahu. Aku tidak mengenalnya lagi.

Sama...seperti seseorang yang biasanya selalu menjagaku. Serigala, entahlah membicarakannya hanya membuatku sedih. Aku tidak ingin mengingatnya sekarang.

Hanya berandai-andai...orang itu, orang asing itu tidak mengenalku sebaik dia. Tidak. Tapi tetap saja, perasaanku tidak bisa diajak kompromi. Terkadang, aku menulis sesuatu tentangnya namun aku tidak ada di dalamnya.

Kuaikui, aku hanya menggali masa lalu. Berusaha untuk masuk ke dalamnya lagi, mencari inspirasi untuk ditulis.

Dulu...dua tahun yang lalu—aku pernah membuat janji dengan seseorang, bahwa 10 tahun dari waktu itu, kami akan bertemu lagi. Jadi, 8 tahun lagi. Dulu aku yakin, kita akan bertemu. Aku yakin.

Tapi, sekarang...entahlah, apa kita akan bertemu lagi? Aku terlalu bingung untuk memikirkan hal itu. 

Terlalu bingung. Terlalu sakit.

Aneh. Kita tidak pernah bisa bersama. Saat kita bersama, selalu saja...ada pertengkaran. Pertengkaran aneh. Bahkan, saat kita berpisah pun harus bertengkar terlebih dahulu.

Karena itulah, aku malas melihat wajahmu. Hidung mancungmu. Mata sipitmu. Kadang aku berpikir bahwa aku membenci semuanya. Namun tidak. Memori kita terlalu indah, sampai-sampai aku tidak bisa benar-benar membenci semuanya.

Aku suka, aku suka semua gambarmu, oppa. Yah, sudah lama aku tidak memanggilnya begitu.

Kau ingat—soal gambar yang kau buat untukku? Jika kau tidak percaya, saat kau menitipkannya pada sahabatku, gambar itu belum sampai di tanganku. Baru sampai...hampir setengah tahun berlalu, gambar itu ada di sini. Di tanganku.

Aku selalu berpikir, kau pernah berkata “Mungkin terakhir aku ketemu kamu itu saat aku ngasih gambarnya ke kamu. Maafin aku.” Yah, kira-kira begitu. Makanya, menurutku, saat gambar itu ada di tanganku...itu adalah sebuah perpisahan.

Jadi, saat aku menerima gambar darimu...aku sudah tegar. Aku sudah melupakanmu dan aku sudah bisa berdiri tanpamu.

Oh ya, ingatkan aku nanti jika kita bertemu lagi, aku ingin berterimakasih padamu lalu memberimu 
segelas jus sirsak, dua buah bigmac, dan sekeranjang lemper. Aku ingat aku berhutang itu semua padamu.

Apa...aku akan menangis saat aku bertemu denganmu lagi?

Kuharap tidak. Aku sudah berjanji padamu bahwa aku tidak akan menangis lagi. Ingat kan? Kau yang mengatakan bahwa, “Jangan nangis lagi, ya.” Makanya, aku selalu mengingatnya karena kau yang mengatakannya.

Sudahlah. Lupakan saja.

Aku hanya ingin tahu, saat kau bertatap muka lagi denganku, saat kau menerima sapaan dariku, saat kau menerima senyuman dariku...apa yang akan kau rasakan?

Aku ingin kau sadar bahwa, gadis kecil yang kau anggap labil itu kini sudah pergi.

Tidak berada dalam bayangan gelapmu lagi.

No comments:

Post a Comment