.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Sunday, 28 April 2013

Hello, strangers :----)



“Semoga, suatu saat kita ga perlu act like stranger lagi.”

Aku meringis ketika teringat tentang kalimat itu lagi. Mengutuk dalam hati.

Bodoh. Bodoh, mengapa dulu aku begitu bodoh?

Dulu.Ya, saat aku masih menuliskan banyak hal untuk seseorang yang kini sudah tidak berarti lagi. 

Benarkah? Sudah tidak berarti?

Tidak. Aku hanya menganggapnya begitu. Sebenarnya, kini aku tidak tahu bagaimana kabarnya.

Aku tahu ia bertambah tinggi, matanya semakin sipit dan rambutnya sudah dicukur lebih pendek.

Ya sudahlah, tidak penting. Untuk apa aku mengorek-ngorek luka yang sudah kering?

Berbekas. Hah, aku lelah. Bagaimana caranya menghilangkan bekas luka terkutuk ini?

Bekas luka yang disebabkan oleh cinta pertamaku.

Vitaminku. Penyemangatku. Motivasiku. Pelipur laraku.

Ia sudah berlaku terlalu banyak. Manis. Pahit. Semuanya, ia yang mengajarkan bagaimana manisnya dunia ini namun ia juga membiarkanku merasakan kekejaman dunia.

Saat ia pergi, duniaku runtuh. Runtuh dan menjadi puing-puing yang berserakan entah dimana.

Aku membiarkan semuanya. Tidak memungut puing-puing tersebut karena akhirnya aku memilih untuk pergi.

Namun tiba-tiba aku menemukan salah satunya.

Yang membuatku kesal setengah mati. Sakit. Rasa sakit dari lukanya masih terasa.

Membuatku ingin...bertemu dengannya lagi, lalu tersenyum padanya.

Karena itulah janji yang kubuat untuk diriku sendiri. Untuk dirinya juga, namun tidak sempat kukatakan.

Baiklah, akan kukatakan disini.

Kau tahu, dulu...dulu aku melakukan segalanya untukmu. Berkorban untukmu. Merasa sakit untukmu. 

Hanya untuk mengukir sebuah senyum di wajahmu.

Padahal aku tahu kau dapat tersenyum dengan mudahnya ketika melihat gadis itu.

Ketika kau sedih karenanya, aku pasti akan selalu ada di sisimu untuk menghibur. Dengan cara 
mengatakan hal manis, atau lelucon yang biasanya membuatmu tertawa. Kita akan mengobrol hal tidak jelas yang hanya bisa dimengerti oleh kita. Hanya kita yang berada dalam pembicaraan itu.

Kadang, aku ingin bertanya...apakah kau tidak merindukan pembicaraan yang mengundang tawa tersebut?

Aku ingin tertawa sendiri. Ketika melihat sebagian pembicaraan kita, aku memaki diriku sendiri. Betapa bodohnya diriku. Mau menjadi seorang gadis yang dijadikan sebagai—tempat sampah.

Tapi, dulu...aku selalu berpikir bahwa aku tidak pernah mempermasalahkan hal ini.

Kau tahu kenapa? Jawabannya hanya satu, aku bahagia berjuang untukmu.

Aku bahagia karena terkadang, kau bisa mengatakan hal manis lainnya.

Misalnya, “Kamu keliatan cantik banget.”

Singkat, namun sangat berarti.

Apalagi ketika kau mengingat detail hal kecil yang dulu kita lakukan bersama.

Setiap kali kau mengingat hal-hal kecil tersebut, menurutku itu manis.

Baiklah, lupakan saja.

Terkadang aku membayangkan bagaimana jadinya jika kita bertemu lagi. Karena waktu itu kau pernah 
bertanya padaku, “Kalau kita ketemu lagi gimana?”

Aku...tidak tahu jawabannya.

Yang jelas, aku berpikir—ketika kita bertemu nanti. Ketika mata kita bertemu, aku akan terdiam sejenak. 

Lalu tersenyum dan berkata, “Hai.”

Karena aku tidak akan bersikap seperti dulu lagi ketika melihatmu. Kali ini aku akan berusaha lebih tegar.

Walaupun sebenarnya kau lebih pantas mendapatkan tamparan daripada senyuman.

Namun aku tidak akan melakukannya. Sejahat apapun hal yang pernah kau lakukan padaku, aku tak akan membalasnya.

Karena aku mengambil hikmah. Berkat kau, aku menerima banyak pelajaran.

Kau menyadarkanku bahwa aku suka laki-laki yang berpakaian rapi, aku suka laki-laki bermata sipit—namun tidak terlalu sipit, aku bisa menghadapi laki-laki dingin, aku juga bisa tabah menghadapi laki-laki yang dikejar oleh banyak wanita.

Aku adalah gadis mandiri yang tidak perlu dimanja. Kini aku bukanlah gadis yang dulu pernah kau ajak bicara. Aku lebih dewasa. Jauh lebih dewasa.

Karena kini aku mengerti bahwa, sebaiknya aku tidak mencintai seseorang terlalu dalam.

Aku lebih berhati-hati, dan bisa berdiri sendiri tanpa bantuanmu.

Kini aku bisa menjalani hari tanpa harus meminum ‘vitamin’ ku.

Aku sudah biasa bangun sendiri. Jadi aku tidak ingin merepotkan orang lain karena dulu aku pernah menjadi sangat merepotkan sehingga kau menganggapku beban.

Berkatmu aku belajar caranya berkorban dengan ikhlas, mencintai dengan tulus...lihat aku sekarang. 

Aku tidak perlu balasan, aku lebih suka membahagiakan orang lain ketimbang diriku sendiri.

Ini semua berkat kau.

Orang asing yang sangat berarti bagiku. Bagi hidupku.

Yang mengubahku dari gadis polos yang tidak tahu apa-apa, menjadi seorang gadis yang berpikir penuh logika, perasaan.

Guru terbaikku.

Bagaimana pun menurutmu aku adalah murid terbaikmu,’kan?

Aku tidak bisa mengelak bahwa kau lah yang mencetak diriku sehingga aku bisa sekuat ini. Semakin sering kau menyakitiku, semakin kuat aku.

Sehingga perasaanku menjadi terlalu keras. Sulit ditembus.

Ketika aku bertemu denganmu lagi, aku akan tersenyum.

Untuk membuktikan bahwa aku telah bisa hidup tanpa bayangan gelapmu.

Mengubur semua kenangan yang pernah kita rajut bersama.

Aku sudah melupakannya.

Sekali lagi aku akan berkata,

“Hai, orang asing.”

No comments:

Post a Comment