.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Friday, 26 April 2013

ILUSI :')


“Kau cantik saat terlihat pucat.”

Entah mengapa kata-kata itu tiba-tiba muncul di benakku saat aku menatap wajahku sendiri di cermin. 

Anemia. Kambuh lagi.

Aku menghela napas panjang. Berpikir untuk mengasihani diriku sendiri. Dari dulu tubuhku memang lemah. Namun semenjak aku SMA, tubuhku semakin melemah. Ini normal,’kan? Ya, pasti normal.

Sungguh, sebenarnya aku lelah. Minum obat. Obat. Obat. Walaupun tidak keras dan penyakit yang menyerangku biasanya hanya penyakit biasa. Namun sungguh, aku lelah.

Pucat. Itulah ciri khasku. Padahal aku sehat, namun tetap saja pucat. Rasanya menyedihkan jika melihat tatapan teman-teman mengasihani diriku.

Sudahlah. Lupakan. Aku hanya mengeluarkan keluh kesahku saja. Aku bersyukur karena masih bisa bernafas setiap harinya.

Selanjutnya...

Terlau banyak yang ingin aku katakan. Sampai aku tidak tahu harus mulai darimana.

Gila. Aku mulai tidak waras.

Hal-hal yang mengganggu mulai menyerangku. Seperti fragmen kenangan yang menyedihkan.

Rasanya mereka mulai mengetuk isi pikiranku seraya berkata, “Hai.”

Baiklah. Ini bertele-tele.

Hari ini, kau tahu...apa yang kupikirkan? Saat ragaku lemah...sampai-sampai membuka mata pun perih. 

Aku hanya memikirkanmu. Satu orang yang entah telah pergi kemana.

Membayangkan saat itu, kau tiba-tiba datang. Lalu menghampiriku.

Puluhan mata menatapmu yang berjalan tanpa malu ke arahku—yang sebenarnya tidak mengetahui keberadaanmu.

Mereka menatapmu bingung. Bercampur penasaran. Berbisik-bisik, “Siapa dia?”

Kau hanya melangkah menghampiriku yang sedang tertidur pulas di atas meja. Mata terpejam, sebelah tangan tergantung. Dan sebuah jaket yang menutupi tubuhku.

Tersenyum. Mengabaikan tatapan-tatapn yang mengarah padamu, kau berjongkok di sebelahku. 

Mengucap salam, memanggil namaku, seraya berkata pelan. “Hei, ini aku.”

Aku hampir tersadar dari alam mimpiku. Kudengar suaramu samar-samar. Belum membuka mata.

Kau masih tersenyum. Lalu berkata sekali lagi, lembut... “Ini aku.”

Dan perlahan kedua mataku membuka. Awalnya hanya terlihat samar, lalu kupejamkan kembali. 

Mencerna apa yang kulihat dan saat itu aku langsung terbangun.

Kutegakkan tubuhku. Mengerjap-ngerjapkan mataku. Dan hampir ingin pingsan saat melihatmu.

“Ka—kamu?” ucapku tidak percaya. Takut hal itu hanyalah sebuah mimpi. Takut wajahmu akan hilang saat aku mengedipkan mataku.

Dan kemudian aku melihat senyum itu. Senyum yang kunanti selama bertahun-tahun.

“Kamu gapapa? Mau pulang?”

Aku mengerutkan kening. Bagaimana ia ada di sini? Bukankah...

“Kenapa disini?” tanyaku bingung. Sangat bingung.

Kau tertawa, ya ampun. Manis sekali. “Ada acara tadi disini. Sekalian liat kamu, taunya lagi sakit gini.” 
katamu masih dengan manisnya. “Berarti waktuku tepat.”

Aku hanya terdiam. Otakku masih mencerna kejadian tadi. Jadi benar, ia datang. Ia datang.

“Jadi gimana? Mau pulang sekarang ga? Liat, udah pucat gitu. Kan aku udah bilang, jangan terlalu kecapean.”

Aku menoleh ke arah teman-temanku yang masih saja menonton kami. Ya ampun. Sungguh, ini terlalu parah.

“Yaudah deh.” kataku akhirnya. Tidak bisa menolak.

Dan... kini aku sedang minum teh manis panas.

Kejadian tadi hanyalah ilusi. Bagaimana pun itu hal yang tidak mungkin terjadi. Laki-laki itu tidak mungkin kemari. Tidak mungkin tersenyum seperti tadi. Tidak mungkin datang disaat dirinya membutuhkan laki-laki itu.

Hah, yaampun. Ilusi. Ilusi. Ilusi.

Penyiksaan batin. Dan penggalian luka.

No comments:

Post a Comment