.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Sunday, 28 April 2013

One Thing You Should've Know, I'm Gone


Rasanya...menggali luka itu sakit.

Apalagi luka yang belum kering.

Sama rasanya ketika aku bicara denganmu, wahai pemuda yang membuatku tidak waras. Yang tadinya adalah malaikat penjagaku. Yang pergi seenaknya.

Aku takut.

Aku takut jika harus menjadi tempat sampah untuk orang lain lagi. Karena, perhatian adalah kelemahanku. Aku selalu dapat memaafkan. Aku selalu bisa memakai topeng untuk menyembunyikan apa yang kurasakan.

Namun, apa daya...aku selalu ada ketika kau membutuhkanku. Bagaimana nasibku, kang?

Aku yakin, perasaanku padamu hanyalah sebatas teman. Aku sangat yakin.

Tapi aneh, teman...mengapa rasanya sakit? Bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi padaku?

Sudahlah, jangan...jangan lakukan itu.

Jangan lakukan itu lagi. Aku mohon.

Aku sudah pergi. Ketahuilah, aku sudah meninggalkan perasaan rindu yang membunuhku. 

Jangan...membuatku mengingatnya lagi.

Apalagi ketika kau tiba-tiba mengajakku bicara.

Lalu aku menghela napas, aku tahu kau butuh sesuatu. Dan aku pasti akan membantumu. Aku bersumpah akan membantumu sebisa diriku. Aku senang kau membutuhkanku.

Tapi...sekali lagi, ketika aku membutuhkanmu...kau kemana?

Padahal, hanya satu nama. Satu nama yang muncul ketika aku merasa berada di titik terapuhku.

Dan tebak, nama itu adalah kau.

Apakah kau pernah berpikir...pernahkah aku meminta bantuanmu?

Tidak. Padahal aku tahu kau mampu.

Aku...hanya tidak ingin bergantung padamu lagi. Kau tidak pernah menanggapiku dengan serius. 

Masalahku, bukan masalahmu. Itu moto milikmu.

Sedangkan aku...

Masalahmu, adalah masalahku juga. Jadi aku bersedia membantumu, menghiburmu.

Ya ampun. Aku tidak ingin melakukan hal ini untuk yang kedua kalinya. Tidak tidak! Aku benci hal itu, 
aku benci ya ampun aku sangat membenci hal yang kulakukan untuk orang-orang yang aku pedulikan.

Aku adalah gadis ter-ignorance yang pernah ada. Aku hanya hidup dalam duniaku sendiri. Jadi, ketika aku peduli kepada seseorang atau sesuatu...aku bisa...aku rela...jika harus mengorbankan nyawaku sendiri.

Itulah. Kelemahanku. Yang biasanya digunakan oleh orang-orang yang mengenalku untuk 
menjatuhkanku. Sakit...rasanya sakit.

Ah, aku mulai melantur lagi.

Yang jelas, aku pergi...bukan meninggalkanmu. Tapi meninggalkan perasaanku untukmu. Perasaan sayang. Perasaan ingin berada di sisimu. Sampai nanti, sampai akhir waktu.

Ini pertama kalinya terjadi padaku. Menginginkan seseorang untuk berada di sisiku selamanya.

Jadi, sebelum aku benar-benar melangkah terlalu jauh, tersesat dalam hutan ketidakpastianmu...lebih baik aku yang mundur. Aku yang lari.

Tapi aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jika kau butuh aku, kau tinggal cari aku. Mudah.

Aku pasti ada di sisimu, walaupun tidak terlihat.

Tapi jangan cari perasaan yang kutinggalkan untukmu. Hal itu hanya akan membuatku mengingat keinginan egoisku. Tidak manusiawiku.

Bersikap manislah jika kau membutuhkanku, sebelum kau bersikap dingin lagi kepadaku. Terserah kau saja. Lakukan sesukamu. Aku tidak peduli jika kau menganggapku tempat sampah, bala bantuan, 
pelarian, aku tidak peduli.

Asal...kau jangan cari perasaanku lagi. Jangan bermain denganku dengan melibatkan perasaan.

Karena yang kau rasa, yang kau lihat...itu hanya sebagian kecil.

Sisanya tersimpan rapat di dalam hatiku.

Jangan, kumohon.

Kumohon.

Aku...sudah memutuskan untuk pergi.

Pergi dari hutan hatimu.

Jangan cari aku lagi ketika aku sudah pergi.

Kecuali jika kau memang menginginkanku untuk kembali.

No comments:

Post a Comment