.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Friday, 26 April 2013

What If


Hidupku...seperti selembar kertas putih kosong. Pada awalnya.

Sebelum kalian datang, lalu mulai membuat titik yang menjadi garis dan garis yang membentuk coretan.

Awalnya mungkin hanya hitam, lalu...tiba-tiba saja berubah menjadi lautan warna yang indah. Lautan mimpi. Lautan harapan.

Semua yang kalian toreh, membuatku tidak merasa kesepian.

Kita bermimpi bersama. Berjuang bersama.

Sampai akhirnya...kita berpisah, dan memiliki jalan masing-masing.

Masih. Ya, masih kuingat setiap sudut dan cuplikan perjalan kita bersama. Indah. Jika diingat sekarang, rasanya seperti menonton film yang tidak pernah kutonton.

Jika digambarkan kita seperti air yang pecah.

Saling berpencar. Tidak menemukan titik untuk bertemu kembali.

Dan...disinilah aku.

Terdiam menatap nanar kenangan-kenangan manis. Dulu.

Terkadang, kenyataan memang tidak sesuai dengan harapan. Bahkan orang-orang yang biasanya melingkariku pun, berangsur angsur menghilang. Ditelan kabut.

Aku tidak masalah, karena aku yakin suatu saat mereka akan kembali.

Tapi...entahlah. Aku ingin menyuarakan hatiku.

Kutatap foto berisi fragmen kenangan yang terus muncul. Cuplikan kenangan hanya membuatku ingin kembali.

Kembali menjadi gadis lugu yang polos. Kecil. Dengan poni terpotong rapi ke depan. Sepasang mata kecil yang terlihat kecoklatan jika disinari matahari. Gigi kelinci dan pipi yang tembam. Lalu, tersenyum...dan bahagia layaknya anak kecil yang dibelikan balon.

Ya, itu hanya fragmen kenangan.

Yang ingin kutuangkan dalam sebuah surat.

Kini aku tengah berpikir...

Semenjak ia dan kamu meninggalkanku. Aku selalu berpikir.

Bagaimana jika aku menghilang secara tiba-tiba?

Apakah ada yang akan...mencariku mati-matian? Apakah ada yang akan menanyakan keberadaanku sampai aku di temukan? Apakah ada...yang selalu menyebut namaku setiap ia menghamparkan sejadahnya?

Karena...yang kutahu belum pernah ada yang benar-benar tulus mensyukuri keberadaanku. Bahkan ada yang menganggap—kehadiranku adalah sebuah bencana.

Sakit. Namun aku tetap mencintainya. Dulu.

Selanjutnya, bagaimana jika aku...berada di rumah sakit?

Apakah...kau akan menjengukku? Membawakan sebuah kotak musik, atau boneka, atau...gambar mungkin? Berusaha untuk membuatku sadar dengan cara memanggil namaku. Dengan menyanyikan lagu yang dulunya selalu kau nyanyikan untukku.

Apakah, kau akan setia...menungguku sampai aku bangun ketika yang lain sudah berpamitan untuk pulang?

Apakah ada yang diam diam berharap untuk melihat senyumanku lagi? Mendengar tawaku lagi? Apakah ada...yang berharap aku akan menulis lagi?

Karena...sampai saat ini, aku menulis. Menulis dan menulis. Yah, pekerjaanku memang hanya menulis. 

Menulis kata demi kata yang bermakna. Seperti ucapan selamat tinggal, jaga dirimu baik-baik, tawaran untuk menjadi pelampiasan atau pelarian, kata-kata semangat, ucapan...yah, hanya ucapan yang berasal dari hati.

Apakah kau sadar, dulu akulah satu-satunya orang yang bersedia untuk mendengarkanmu. 

Menunggumu. Menjadi sandaran yang akan kau tendang. Dan orang yang paling mengerti dirimu? 

Sehingga aku bersedia menjadi sumber kebahagiaan kecilmu. Walaupun itu menyakitiku.

Lalu, bagaimana jika aku terkena amnesia?

Melupakanmu. Melupakannya. Melupakan semua hal yang dulunya penting bagiku.

Apakah kau akan merasa kecewa karena aku berhasil melupakanmu?

Bukan. Bukan melupakanmu seperti itu.

Namun  dalam konteks, aku benar-benar melupakanmu. Seolah-olah kita tidak pernah bertemu, saling menatap mata satu sama lain, tertawa bersama, bercanda, bermain. Seolah-olah aku tidak pernah bercerita padamu bahwa aku mencintaimu dan seolah-olah kau tidak pernah bercerita padaku bahwa kau mencintai gadis lain.

Ya. Aku berhasil melupakanmu.

Apakah kau senang?

Apa kau akan menemaniku untuk membuat kenangan baru yang lebih baik? Apa kau akan membuatku mengingat semuanya? Atau malah...kau membiarkanku menganggapmu orang asing. Seperti yang kau lakukan padaku. Dulu dan sekarang.

Dan disaat kita bertemu lagi untuk pertama kalinya. Tidak akan ada rasa sakit yang hampir membunuhku.

Aku akan tersenyum manis, ramah, dan mengangguk padamu. Karena aku tidak ingat apa-apa. Lalu aku akan menyodorkan sebelah tanganku lalu mengucapkan namaku. Mencoba berkenalan walaupun di dalam hatimu kau tahu kita pernah mengenal satu sama lain jauh lebih dalam.

Dan hatimu mencelos, mengingat bahwa aku sama sekali tidak ingat dengan bekas lukaku.

Kau menjabat tanganku lalu tersenyum. Mengangguk da membiarkan pembicaraan diambil alih oleh temanmu.

Apa rasanya sakit?

Atau, bagaimana jika aku berhasil bangun dari kejatuhanku?

Misalnya jika aku pindah ke luar negeri dan sekolah disana.

Aku akan bercerita, dan kau melihat foto-fotoku disana. Tersenyum bahagia. seperti tak ada beban. 

Karena itu bukan senyum yang kubawa setiap kali menatapmu atau bericara denganmu.

Apakah kau akan menyesal karena telah mengabaikanku?

Contoh lainnya, jika aku berhasil mencapai mimpiku menjadi seorang penulis berbakat.

Bukuku akan rilis. Dan aku ada. Kau datang—dan melihatku tersenyum bersemangat. Sedangkan banyak orang mengantri untuk mendapatkan tanda tanganku. Lalu kau berbaris, dan saat kau menatapku, aku hanya tersenyum samar dan segera menunduk.

Aku memang tidak melupakanmu.

Namun sekali lagi, aku tidak ingin mengingat tentangmu.

Apakah hatimu akan mencelos...ketika aku bersikap seperti itu?

Apakah kau akan berusaha untuk menebus waktu yang kubuang hanya untuk tetap hidup selama kau tak ada? Terlalu lama, dan...terlalu banyak luka. Apa kau sanggup?

Karena...kau ingat bukan, saat kau pergi meninggalkanku, dan tiba-tiba saja aku harus bertemu lagi denganmu, wajahku pucat. Seperti orang hampir mati. Pucat...karena sakit. Walaupun aku sama sekali tidak tahu apa yang ku alami.

Mungkin aku kehilangan vitaminku.

Apa kau akan sadar...bahwa kau telah membuang sesuatu yang telah menganggapmu sangat berharga?

Dan terakhir, bagaimana jika aku benar benar sudah pergi?

Walaupun kini kau meninggalkanku. Tidak. Kalian meninggalkanku.

Apa kau akan merasakan dampak saat aku tak ada? Apa kau merasa aneh karena tidak akan ada lagi pesan atau kata-kata berarti dariku untuk menghiasi hari-harimu?

Yah, entahlah...aku tidak berharap kau akan peka. Aku sudah tidak peduli.

Bagimu, setiap kata yang kukatakan, kutulis untukmu hanyalah sampah. Tidak dianggap. Hanya sampah. Ya, sampah.

Karena kini situasinya, aku adalah seorang gadis desa, dan kau laki-laki kota. Tentu saja aku tidak pantas untukmu bukan?

Ya sudah, aku tahu diri. Tenang.

Jadi aku tidak akan mengganggumu lagi. Tapi suatu saat, aku pasti akan...bersinar tanpamu.

Dan aku akan tetap tersenyum manis padamu sampai kapan pun.

Sampai kapan pun.

Tapi, kenapa?

Mungkin itu pertanyaan yang terngiang-ngiang di kepalamu.

Aku akan menjawab, karena aku mencintaimu. Dulu.

No comments:

Post a Comment