.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Wednesday, 12 June 2013

Baca ini, kamu.

Seandainya aku ada di sana. Memberitahumu apa yang kurasakan. Selama ini. Hampir dua tahun. Dua tahun sejak kepergianmu.
Aku rindu padamu. Kau tahu itu. Ketika radio memutarkan lagu kita. Rasanya semuanya seperti terputar di benakku. Ketika aku tersenyum padamu, dan kau membalas senyumanku dengan senyuman lebar yang...yang begitu manis. Terlalu manis.
Aku tidak tahu apa yang kau lakukan sekarang. Aku tidak tahu apakah kau merindukanku seperti aku merindukanmu. Tapi aku tidak akan membuatmu kecewa. Aku berjanji pada diriku sendiri suatu saat aku dapat berhasil dan menjadi sukses. Agar kau bisa bangga saat kau mengatakan, “Dia wanita yang kucintai.” Agar kau dapat tersenyum senang dan melambaikan tangan ketika menjemputku.
Mungkin jalan yang kutempuh berbeda. Sangat berbeda. Tapi kau tahu, bersamamu adalah mimpiku yang entah akan selalu menjadi mimpi atau kenyataan. Tujuan hidupku. Kini mulai terlihat jelas. Aku pasti akan berhasil. Pasti. Aku tidak ingin membuatmu kecewa untuk yang kedua kalinya.
Walaupun jika seandainya saat kita bertemu lagi, kau akan menatapku sedih...disebelahmu sudah ada gadis lain yang berdiri di sampingmu. Menggenggam tanganmu.
Aku akan tersenyum. Aku janji. Kau adalah mimpi indah yang diberikan oleh Tuhan. Kau adalah satu dari kesalahan terindahku. Tapi aku ingin kau menjadi kebenaran. Bukan kesalahan. Aku ingin kau menjadi nyata, bukan mimpi.
Saat itu, aku ingin kau berdiri di sana. Saat aku bernyanyi. Aku ingin menatapmu dan menyampaikan pesan, “Kita akan baik-baik saja.”
Aku akan mengulaskan senyum. Aku janji. Kau memberiku terlalu banyak. Untuk apa aku sedih ketika aku pernah mendapatkan cuplikan hidup yang indah bersamamu?
Suatu saat.
Jika seandainya kau akan tetap menjadi mimpiku. Tidak apa-apa. Aku yakin, aku juga hidup di benakmu. Sebagai anak kecil yang selalu tersenyum lebar ketika melihatmu. Sebagai masa lalu konyolmu.
Kau disana, aku disini. Jarak. Waktu. Jadikan semua hal yang memisahkan kita sebagai jembatan. Hambatan. Hidup itu penuh hambatan.
Sungguh. Kau terlalu berharga. Terlalu indah untuk kulupakan. Sama seperti mimpi indah semi burukku. Namun, kau tidak buruk sama sekali. Mungkin aku yang jadi mimpi burukmu.
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kita. Aku tidak tahu apa yang kuperjuangkan. Tapi terima kasih atas segala waktu yang kau luangkan untukku. Terima kasih.

Dua tahun. Itu bukan waktu yang lama, bukan? Kita lihat apa aku masih bisa membungkus kadoku untukmu sampai nanti. Kita lihat bagaimana kita bertemu lagi. Dua tahun lagi. Aku harus bersabar. Aku harus tetap semangat...ya  kan? Kau juga. Semangat...

No comments:

Post a Comment