.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Tuesday, 25 June 2013

Ketika Kamu Menghilang

Hai, bulan sabit. Bintang malam. Angin malam.

Hari ini aku hanya bisa tersenyum. Menutupi kepedihan di dalam...dadaku. Entah perasaan. Entah hati. 

Yang jelas, hal ini seperti membunuh jiwaku.

Aku memejamkan mata. Kau masih disana. Aku membuka mata, rasanya mataku seperti terbakar ingin menangis. Aku ingin menendang. Berguling. Membenamkan wajah di atas bantalku. Itu tidak berhasil.

Dan ya setelah aku melihatmu, aku sadar...aku merindukanmu sepanjang hari. Kau tahu betapa khawatirnya aku ketika tidak mendapat kabar darimu? Gusar. Biasanya aku tidak pernah seperti ini. 

Namun kau menghilang tiba-tiba. Rasanya jika aku melihatmu lagi aku ingin membuang muka.

Tidak ada kabar. Ya, aku sudah terbiasa. Lagipula aku jarang memberi kabar.

Tapi aku mengkhawatirkanmu, bodoh. Kau dimana? Apa sesuatu terjadi? Baiklah, kutarik kata-kataku ketika aku mengusirmu pergi. Urusan kita belum selesai. Kecuali jika kau memang ingin menyudahinya.

Aku ingin menghilang. Rasanya ingin menghubungimu namun aku selalu mengurungkan niatku. Untuk apa? Rasanya tidak ada gunanya. Padahal kini kau tidak sesibuk biasanya...aneh, apa kau memang sudah bosan bicara denganku?

Aku tidak membencimu. Aku kesal...kesal padamu.

Ah, aku bisa gila. Aku terlalu merindukanmu. Dengar, seharusnya aku tidak boleh merasa sesedih ini. 

Apalagi menangis. Tidak akan.

Dasar, menyebalkan. Menghilang. Tidak terjangkau layaknya bintang malam di langit. Tak ada lagi sapaan lembut angin malam setiap aku bermaksud untuk beranjak tidur. Tak ada lagi pengganggu kecil yang membuatku tidak ingin segera pergi ke alam mimpiku.

Semalam...aku bermimpi. Mimpi menyeramkan. Dimana hal yang menghantuiku setiap hari muncul dan menjadi nyata.

Kehilanganmu. Kau meninggalkanku. Meninggalkanku dengan air mata yang membanjiri hampir seluruh wajahku. Meninggalkanku dengan perasaan sakit. Dimana kata-kata yang menggema di pikiranku adalah, “Kamu tega. Kenapa? Jangan pergi.”

Kau berkata bahwa, “Kepastian malah bikin kamu kecewa...”

Aku tidak mengerti. Padahal sebelumnya aku sedang tidur di atas guling. Sedangkan kau sedang duduk di sebelahku. Memang. Kita tidak berbicara. Sama sekali.

Namun saat aku memalingkan wajahku. Kau sudah tidak ada. Kau pergi, meninggalkan sepucuk surat yang berkata, “Lupain aku.”

Aku tertegun membacanya. Tidak ingin menangis. Sungguh. Aku berusaha keras untuk tidak menangis. 

Namun apa daya...aku langsung berlutut di atas lantai. Tetesan cairan bening berlomba-lomba turun dari mata kecilku. Aku tidak bisa berpikir. Kenapa. Kenapa. Kenapa.

Kau hanya pergi. Pergi begitu saja. Aku hanya menebak-nebak...apa kau terpaksa melakukannya karena kau menekan perasaanmu padaku, atau kau memang muak denganku.

Isi suratnya...aku hanya ingat samar-samar. Namun isinya mebuatku sadar, bahwa kau pergi karena aku yang menyuruhmu pergi. Pada awalnya. Bodoh. Disitu aku menyalahkan diri sendiri. Sulit. Sulit sekali.

Dan saat aku terbangun. Ya. Aku bangun. Aku tahu aku hanya bermimpi. Tapi aku ingin meneruskan mimpiku. Untuk mencari tahu, bagaimana perasaanmu yang sebenarnya.

Karena dari surat yang kubaca, aku merasakan...rasa sakit yang kau rasakan saat menulisnya. Baiklah, aku memang klise. Memang.

Itu hanya mimpi. Namun mimpi itu membuatku berpikir...

Jika itu pertanda bahwa kau akan meninggalkanku.

Di mimpi saja, aku dapat merasakan rasa sakitnya. Bagaimana jika semua itu menjadi kenyataan?

Kau bisa pikirkan sendiri jawabannya.

Tapi jika seandainya kau mau pergi. Ya...aku merelakanmu. Aku akan melepasmu. Seperti yang aku lakukan pada seseorang yang ingin pergi dariku.

Tanpamu...aku baik-baik saja. Aku bertahan hidup.

Walaupun rasanya seperti disiksa perlahan. Dibunuh perlahan.

Aku bisa hidup tanpa sapaan konyolmu. Ya. Aku bisa.

Aku tidak membutuhkanmu.

Tapi jika kau punya pilihan lain yaitu tidak meninggalkanku. Maka jangan pergi. Atau kau boleh pergi...tapi berjanjilah kau akan menemuiku lagi. Di saat yang tepat. Sehingga tidak ada lagi kasus cinta yang benar disaat yang salah.

Cinta yang benar di saat yang salah...rasanya aku ingin tertawa. Menyesakkan sekali ketika aku terlambat mengetahuinya.

Selama kau hilang...aku tetap tersenyum. Tapi sakit. Aku berpikir apakah kau tidak ingin menghubungiku sebesar rasa inginku untuk menghubungimu? Aku...tidak tahu.

Namun semakin hari aku baik-baik saja. Walaupun kau tak ada...mungkin ini peluangku untuk melupakanmu...

Siapa tahu?

Jadi...selamat malam, bulan sabit, bintang malam, angin malam.

Bersinarlah. Bertiuplah. Seindah caramu mengukir senyum di wajahku.

Aku masih disini...Jika kau mencariku suatu saat nanti.

Salam hilang,

Perindu Rahasiamu

2 comments:

  1. You should call him, because somehow dream means the opposite, just like what I did :)

    Secret Admirer...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeaaaaah I hope so :) semoga Aja ca semoga :D udah kok cuma ngecek dia baik baik aja atau engga hehe

      Delete