.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Thursday, 6 June 2013

Ketika Rasa Tak Terucap

Hai. Orang menyebalkan.
Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Ingat aku? Ya, seseorang yang pernah menghidupi hari-harimu. Seseorang yang pernah membuatmu tersenyum lebar. Seseorang yang pernah meninggalkanmu.
Kini, aku kembali. Aku pulang. Namun...kau dimana?
Yah, sebenarnya wajar jika kau pergi karena aku yang pertama meninggalkanmu. Jarak. Waktu. Semuanya memisahkan kita.
Bahkan perasaanku pun memisahkan kita.
Aku tidak tahu mengapa aku harus kembali ketika kau sudah pergi. Apa aku harus merasakan sesak seperti ini untuk kesekian kalinya? Mengapa lagi-lagi hal yang membuatku bahagia pergi?
Aku bertanya, padahal aku tahu jelas jawabannya.
Ketika itu...kau memberikan segalanya untukku. Semua...perasaanmu.
Lalu apa yang kulakukan? Yang aku berikan hanyalah kata perpisahan. Perilaku menyebalkan. Kata-kata menyakitkan yang kulemparkan padamu.
Maaf...hanya itu yang keluar dari mulutku.
Aku merindukanmu, walaupun rasanya aku tidak pantas untuk merindukanmu. Sungguh, aku tidak pantas.
Aku telah menyakitimu. Aku telah merusakmu. Aku telah kehilangan dirimu.
Aku tahu.
Kini aku pulang...setelah menerima kenyataan tentang kejamnya dunia. Tentang sesuatu yang disebut perjuangan sia-sia.
Aku pulang, dari medan perangku sendiri. Namun kau tidak disana...kau pergi...kau kemana?
Pantaskah jika aku mencarimu lagi? Pantaskah jika kau memintamu untuk kembali lagi?
Kumohon...kembalilah. Aku kedinginan. Sifatku yang membekukan hatiku...aku butuh kehangatan itu. Kehangatan yang dulu aku berikan padaku.
Sepi...rasanya sepi.
Kupendam lagi. Kupendam lagi.
Sakit...apa ini yang kau rasakan ketika berjuang untukku dulu?
Sakit.
Maafkan aku. Bisakah kau beri tahu aku tentang keberadaanmu sekarang?
Kuharap belum ada senyuman yang dapat membuatmu melupakanku sepenuhnya.
Angin malam berhembus menyapu wajahku. Kulihat sekali lagi. Tidak ada...kau tidak ada.
Aku mengangkat sebelah tanganku. Melihat jelasnya jarak diantara jari-jariku. Dulu, kau mengisi setiap jarak yang ada...sehingga, aku merasa lengkap.
Kenangan hanya membawaku pada tempat dimana biasanya aku melihatmu. Lalu kau akan tersenyum...begitu manis, begitu hangat.
Sunyi. Senyap. Kau dimana?
Kini aku tahu. Aku salah. Seharusnya sejak awal aku mempercayaimu bahwa...cinta sejati itu ada.
Memikirkanmu...sampai akhirnya terasa sakit. Aku tahu kau juga merasa sakit.
Maafkan aku. Mungkin ini sudah terlalu terlambat untuk menyadarinya. Untuk menyadari bahwa selama ini aku salah.
Apa yang kau pikirkan sekarang?
Apa kau bahagia? Yah...jika kau memang bahagia...aku bahagia.
Walaupun sebenarnya aku ingin bersamamu seumur hidupku.
Kau. Adalah. Satu-satunya. Hal terbaik. Yang kupunya. Namun. Aku. Membiarkanmu. Pergi.
Maafkan aku, aku merindukanmu.
Maafkan aku, karena aku mencintaimu tanpa memikirkan betapa dalamnya luka yang kutoreh di dalam hatimu.
Maafkan aku, karena terlambat.

Jangan pergi...

No comments:

Post a Comment