.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Thursday, 6 June 2013

Sapaan Lembut Angin Malam

Aku sedang berusaha untuk menyerap apa yang kubaca.
Bukan novel.
Namun percintaan tumbuhan dan hewan. Yah, tidak salah lagi. Biologi.
Sialnya, suhu tubuhku memanas. Baiklah, sepertinya penyakitku kambuh lagi.
Lupakan. Yang jadi masalah adalah...aku tidak bisa konsen karena otakku hanya memiliki gagasan untuk menulis. Deras sekali. Sampai-sampai jari-jariku gatal ingin memainkan tuts keyboard laptopku. Ya ampun, akhirnya aku menyerah.
Setengah merasa sesak akhirnya kubuka laptop acer warisan papaku ini. Menunggu sejenak dan membuka tulisan lamaku. Mencari inspirasi untuk mulai menulis...
Lalu...
Zeeeemmmm
Ponselku bergetar. Yah, ada sapaan angin malam rupanya.
Bunyinya lembut. Singkat namun lembut.
Membuat pikiranku melayang entah kemana...yah aku memang sering melayang-layang tidak jelas.
Kedua sudut bibirku terangkat. Lagi-lagi rasa sesak menggerogoti dadaku yang malang. Jantungku yang malang.
Aku tersenyum. Senang. Namun sedih.
Entahlah, memikirkan kenyataan-kenyataan lain. Dan seperti biasa...aku beralih profesi menjadi perindu rahasia.
Perindu rahasia. Miris.
Yaaa...aku merindukan seseorang yang tidak pernah kulihat lagi. Masalahnya itu.
Walaupun terkadang aku dapat tersenyum karena sapaan kecilnya, namun tidak jarang ia membuatku kesal setengah mati.
Karena...di dunia barunya, aku tidak ada dalamnya.
Sedangkan di dunia baruku...bayang-bayangnya masih saja mengikuti.
Sedih. Tetapi syukurlah ia tidak menghilang dari pandanganku.
Terlalu banyak opini...membuatku semakin yakin. Bahwa memang dia orangnya.
Namun tetap saja. Menyebalkan.
Berusaha untuk memendam rindu. Bahkan aku selalu merasa bahwa hanya aku yang berjuang di sini...
Yah, jarak yang jauh memang membunuh.
Sejauh ini... masih semu. Belum nyata.
Aku lupa bagaimana bunyi suaranya. Yang jelas dia itu...berisik.
Selalu mengoceh. Sembarangan...
Kini aku menahan geli. Ia lucu. Apa adanya. Tidak mengada-ada.
Terkadang hal yang ia lakukan bisa terlihat konyol, atau menyebalkan.
Yang jelas...
Jangan menilai buah dari kulitnya.
Mungkin ia terlihat tidak sebaik seseorang yang kita anggap sangat baik. Namun sesungguhnya, dibalik tawa riangnya, kata-kata sembarangannya, komentar seenaknya, sikap kekanakannya...
Ia jauh lebih dewasa dari yang kalian bayangkan.
Sosok figur yang cenderung tidak memperlihatkan diri.
Bukan pendendam. Bukan seseorang yang stuck di dalam satu masalah dan memikirkannya berhari-hari.
Ia bukan orang yang suka mengeluh. Bukan. Aku tidak pernah mendengarnya mengeluh.
Ia juga jarang murung, walaupun emosinya meledak-ledak.
Terlihat menyebalkan, padahal sebenarnya ia hanya bermaksud untuk ramah pada semua orang.
Ia berbuat salah. Memang.
Namun, kesalahannya tidak ditutupi karena ia tidak pandai menutupi dengan alasan logis dan dewasa. Ia apa adanya. Bukan seorang yang munafik.
Mungkin itulah faktor yang membuatnya terlihat tidak sebaik yang ku kenal. Kulit memang menutupi segalanya.
Ia memang tidak dewasa. Sudah kubilang ia tidak pernah menggurui.
Karena, di dunia ini tidak ada yang sempurna....jadi berhentilah menghakimi seseorang yang tidak kau kenal baik. Seandainya ada aib pun...manusia tidak luput dari kesalahan.
Dan orang yang terlihat ‘bersih’, bersyukurlah karena Allah menutupi aib-aibmu.
Jadi...aku yang mengetahui sifat angin malam itu bagaimana. Hanya tersenyum. Menerima kekurangan sebagai suatu misi.. Hingga kekurangan itu dapat dihapus...
Kembali ke sapaan angin malam...
Buatlah aku yakin bahwa, bukan aku saja yang berjuang sendirian.
Karena cinta, perasaan yang kita rasakan...

Sederhana.

No comments:

Post a Comment