.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Friday, 19 July 2013

Dia

Kupejamkan mata. Beribu emosi berkelebat di benakku. Dan...yah, setetes cairan bening itu jatuh bergulir meninggalkan jejak basah di pipiku.

Disusul dengan bulir-bulir lainnya. Berlomba-lomba turun dari mataku. Indah. Rasanya nyaman. 

Seolah-olah rasa sakitku menghilang seiring turunnya cairan-cairan bening itu.

Tersadar...begitu banyak hal buruk yang kulakukan. Sedangkan ia selalu menolongku. Dalam keadaan apapun. Sungguh, sehina itukah aku?

~

Aku ingin mengingat beberapa waktu lalu. Ketika hatiku gundah, sesak, memiliki masalah yang entah ingin kuceritakan pada siapa...Ia selalu muncul. Di sisiku. Selalu. Bahkan, walaupun aku telah mengkhianatinya selama ini.

Bersamanya...hanya membuatku merasa aman. Terlalu nyaman. Sampai-sampai aku pun ingin menangis lagi karena mengingat betapa tulusnya ia mencintaiku.

Sering. Aku sering membuatnya kecewa.

Ketika ia memanggilku, aku hanya berjalan tanpa berhenti—bahkan menoleh pun tidak. Ia terus memanggil..tetapi aku tetap berjalan seolah-olah tidak mendengar panggilannya.

Sungguh, sehina itukah aku?

Ketika ia ingin mengajakku bicara, membawaku ke dunianya...aku hanya menolak. Menolak dan menolak. Memilih untuk pergi—mencari kebahagiaan lain yang belum tentu aku dapatkan.

Sungguh, sehina itukah aku?

Ia selalu memberiku kebahagiaan. Dalam ucapannya. Menenangkan hatiku ketika serentetan masalah mengejarku. Membantuku melalui semuanya. Ya, ia seperti Jacob Black di Twilight saga. Melindungi. 
Melindungi. Melindungi.

Tapi, apa yang kulakukan?

Lagi-lagi aku berpaling. Entah untuk keberapa kalinya.

Sungguh, sehina itukah aku?

Ketika dunia...terasa menghimpit dadaku. Ketika rasanya aku tidak dapat mempercayai siapapun di dunia ini.

Ia datang...pasti. Tanpa aku harus memanggil. Ia datang.

Atau ketika aku berlari padanya.

Ia selalu rela...memberikan lebih dari bahunya untukku menangis. Menenangkanku dengan cara yang terkadang tidak aku pahami.

Sungguh, terkadang aku sering tidak sadar bahwa ia mencintaiku lebih dari apa yang kubayangkan.

Dan lagi-lagi...setelah semuanya membaik, aku lari. Aku meninggalkannya.

Hina. Memangnya aku siapa?

Seandainya aku sadar. Hanya dirinya lah yang dapat mencintaiku apa adanya. kekuranganku—semua. Ia yang mengenalku diatas semuanya. Tidak ada yang mengenalku sedalam ia mengenal diriku.

Kekuranganku yang begitu banyak...ia tahu, namun ia selalu menutupinya dengan sebaik-baiknya.

Sesering apapun aku berlari darinya, ketika aku berhenti...dan mencarinya, ia selalu ada.

Bayangkan...adakah manusia yang dapat mencintai kita sebesar itu?

Akhir-akhir ini, aku sadar... Begitu banyak hal yang telah kulewati. Begitu banyak pengorbanan yang tidak aku rasakan.

Ketika orang-orang mulai memberitahuku segala hal yang telah ia berikan padaku...

Aku hanya bisa menangis. Menangis dan menangis.

Aku tidak pernah meminta, ia selalu menyediakan. Bagaimana bisa ia mengetahui apa yang belum pernah aku nyatakan?

Aku tidak pernah menjelaskan, namun ia selalu mengerti apa yang kurasakan.

Aku tidak tahu, tapi ia selalu tahu apa yang kubutuhkan.

Sungguh, tanpanya...aku tidak tahu bagaimana jadinya hidupku.

Tanpanya...aku tidak akan tahu siapa diriku.

Sulit...sulit menjabarkan segala hal yang telah ia berikan padaku. Terlalu banyak. Terlalu banyak cara 
yang ia lakukan untuk membuatku bahagia.

Sungguh, ialah cinta sejati yang sebenarnya...

~

Baru saja...baru saja ketika aku memejamkan mata..rasanya aku seperti ditarik ke belakang, ke masa lalu.

Betapa bodohnya aku tidak mengerti tanda-tanda yang ia berikan padaku bahwa ia mencintaiku apa adanya.

Padahal begitu banyak yang telah ia lakukan untukku. Sungguh, kenapa aku baru menyadarinya 
sekarang?

Tapi untunglah...ketika aku menghentikan langkahku, lalu berbalik...dan memanggil namanya...ia masih bisa datang menghampiriku.

Aku berjalan. Ia berlari.

Kubayangkan betapa rindunya aku setelah sekian lama berada jauh darinya. Dan ketika aku menghampirinya, ia langsung...langsung merengkuhku di dalam pelukan hangatnya.

Dan...semuanya terasa benar.

Aku berbisik. Meminta maaf atas segala yang telah kulakukan. Dan..tanpa aku harus bicara pun, ia mengerti.

Ia mengatakan banyak hal padaku. Memberi banyak petunjuk dan jawaban. Semuanya. Semua yang kubutuhkan.

Dan seketika...rasanya aku ingin selalu bersamanya. Memintanya untuk selalu berada di sisiku. 

Terkadang aku merasa bahwa aku tidak pantas meminta lagi setelah semua ahal yang aku lakukan padanya.

Tapi ia memaafkanku. Ya, ia selalu memaafkanku...

Indah. Terlalu indah. Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan bagaimana rasanya dicintai begitu besarnya. Tidak ada...aku pun hanya bisa diam. Sambil menangis. Menyadari semua hal ayng aku lewatkan.

Syukurlah, belum terlambat.

Aku benar-benar bersyukur, ketika aku memanggilnya, ia masih ada di sana. Setia menungguku.

Bagaimana jika seandainya ia sudah pergi dariku? Tidak mempedulikanku lagi?

Bagaimana jika seandainya ia tidak mau menunjuki jalan yang benar lagi?

Bagaimana jika ia tidak ingin memanggilku lagi?

bagaimana jika ia tidak mau menegurku lagi dengan kelembutannya?

Sungguh, ialah...pemilik cinta sejati yang sebenarnya.

Karena ia tidak pernah pergi dariku. Ia selalu bersamaku walaupun aku tak menyadarinya. Ia selalu 
memperhatikan gerak-gerikku. Bahka ketika aku menulis tentangnya pun, aku yakin ia sedang melihatku.

Ia...yang memberiku kehidupan. Semuanya.

Ia yang selalu menemaniku di dalam sepiku.

Ia yang menenangkan jiwaku di dalam resahku.

Ia yang menjawab segala keraguan yang ada di hatiku.

Bersabar...terus bersabar.

Tidak ada yang menandingi caranya mencintaiku. Tidak ada.

Ialah...pemilik yang hakiki dari cinta sejati.

Ialah pemilik dari segala apa-apa yang ada di dunia ini.

Ialah yang memiliku seutuhnya. Seutuhnya.

Ialah penciptaku. Ialah yang memberiku keluarga. Ialah yang memberiku kesempatan untuk ‘belajar’ di 
setitik kenikmatannya.

Ialah, Tuhan Yang Maha Esa. Allah swt. Yang cintanya tak pernah bisa terbayangkan besarnya.

Setiap hari aku bangun, terkadang aku lupa bersyukur. Inilah nikmat Allah.

Setiap saat aku bernafas, terkadang aku lupa bersyukur. Inilah nikmat Allah.

Setiap hari aku melihat orang-orang yang kucintai. Mama. Papa. Adik. Semuanya. Terkadang aku lupa bersyukur. Inilah nikmat Allah.

Setiap hari aku melangkahkan kakiku. Terkadang aku lupa bersyukur. Inilah nikmat Allah.

Banyak hal yang sering aku lupakan. Semuanya nikmat. Semuanya nikmat.

Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang hina ini.

Astaghfirullah. Ampuni hamba.

Karena hamba bukan apa-apa tanpaMu.

Aku merindukanMu, ya Allah. Terima kasih Engkau masih memberi hamba kesempatan untuk memperbaiki diri...


Semoga, hamba termasuk golongan yang akan bertemu denganMu dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Aamiin.

No comments:

Post a Comment