.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Friday, 19 July 2013

Long Written Note

Lagi-lagi...aku hanya melihatmu dari jauh.

Jauh sekali, sampai-sampai aku sendiri pun berandai-andai...

Seandainya aku bisa melihatmu dari dekat. Walaupun hanya dalam mimpi sekalipun.

Hai, hari ini aku melihatmu lagi.

Seperti biasa, dibatasi oleh kotak ajaib yang berbunyi dan berwarna sendu. Namun, hanya itulah yang dapat menghubungkanku denganmu.

Apa kabar? Kuharap kau baik-baik saja. Kuharap kau tidak terlalu sibuk sehingga ragamu jatuh. Jangan memaksakan diri...

Aku melihatmu lagi. Ya, melalui kotak ajaib tersebut.

Sudah beberapa tahun yang lalu sejak pertama kali aku mengagumimu.

Melihatmu tersenyum, berbicara, bergerak...yah, entah bagaimana caranya mendeskripsikan seberapa besar aku mengagumimu. Yang jelas hal itu tidak perlu dipertanyakan.

Aku pikir...kau pasti lelah. Setiap hari dalam hidupmu, kau harus berlaku sesuai dengan aturan. Berpura-pura tersenyum padahal harimu sekelam abu. Bersikap ceria padahal kau lelah. Bersabar...menjawab deretan pertanyaan yang ditujukan padamu. Tabah menjalani tuntutan demi tuntutan hidupmu.

Tapi, aku bangga padamu.

Walaupun begitu banyak beban yang terletak di kedua bahumu, kau tetap semangat. Walaupun mungkin hidupmu penuh dengan kepalsuan, kepura-puraan, sandiwara...kau tetap betah menjalani serentetan masalah hidupmu.

Serentetan tugas yang mungkin bertolak belakang dengan hatimu.

Entahlah, terkadang aku ikut sedih. Matamu tidak bisa berbohong. Aku tahu ketika kau lelah. Walaupun mungkin alat dunia telah menyamarkan garis-garis lelah di wajahmu. Aku tahu ketika kau ingin marah. 

Walaupun mungkin senyummu itu menutupi beribu emosi yang tersimpan di dalam hatimu.

Yah, seandainya aku bisa meringankan setidaknya sedikit bebanmu...namun itu tidak mungkin.

Kau terlalu jauh untuk dijangkau. Bahkan ini kali pertama aku bisa menulis surat untukmu, padahal sudah bertahun-tahun aku menyimpan semua emosi yang berkelebat di benakku. Aku ingin menyampaikan semuanya, namun aku tahu...sebanyak apapun kata-kata yang kurangkai, itu tidak akan cukup.

Tidak apa-apa. Aku bersyukur, mengenalmu...dari sini.

Kini aku sedang membayangkan bagaimana jadinya jika suatu saat kau muncul dihadapanku. Ketika ribuan mata berharap untuk kau pandang balik...dan aku hanya disana, mengamatimu dari jauh. Tidak berharap banyak jika kau akan melihat kehadiran sosokku. Bagaimanapun pasti aku akan tenggelam di dalam lautan perhiasan dunia.

Aku bersyukur bisa melihatmu dengan mata kepalaku sendiri. Bukan hanya melalui kotak ajaib yang biasa kubuka untuk mengamati kehidupanmu. Yang jelas, aku pasti tersenyum melihatmu tersenyum. 

Walaupun aku tahu, bukan ditujukan untuk diriku sendiri.

Dan kau pasti akan melambai. Disusul oleh jeritan-jeritan dari orang-orang mengagumi juga. Mungkin dibanding mereka, aku bukan apa-apa. Hanya gadis lugu dan naif, yang selalu memiliki kepercayaan padamu bahwa kau tidak akan mengecewakan kami—mengecewakanku.

Membayangkannya saja sudah membuatku tersenyum sendiri. Ya ampun, ini klise.

Tapi aku hidup di dunia yang klise. Kau juga. Semuanya mungkin tidak luput dari satu kata yang sulit dijabarkan maknanya, klise. Maka jangan salahkan aku jika setiap karya dan surat yang kutulis semuanya berbunyi klise. Klise bagian dari hidupku. Hidupmu juga.

Membosankan...bahkan kadang memuakkan. Mungkin kau juga terkadang muak dengan segala sandiwara yang kau lakukan. Kesannya, sandiwara yang disandiwarakan. Yah, yang jelas aku tahu terkadang kau ingin melepaskan topeng di wajahmu.

Aku ingin menghiburmu. Menyemangatimu. Walaupun memang hanya dalam bentuk kata-kata. Seperti ini misalnya.

Ah ya, aku ingin memberitahumu sesuatu yang mungkin bisa menjadi kekuatanmu jika sewaktu-waktu kau benar-benar sudah muak dengan semuanya.

Dengar...

Aku ingin kau tahu bagaimana caramu mengukir senyum di wajah setiap orang yang menunggu kehadiranmu. Ketika kau melakukan semuanya dengan caramu. Ya, aku tahu kau lelah berpura-pura. 

Aku tahu. Tapi aku yakin banyak yang menghargaimu. Entahlah, kuharap kau tahu...rasa lelahmu itu tidak sia-sia.

Kau bersinar dengan cahayamu sendiri. Hasil dari peluh dan keringat yang kau keluarkan. Semuanya setimpal. Kau bahagia dengan caramu sendiri. Lihat apa yang kau punya. Mimpimu terwujud, kan?

Aku tidak bisa mengumpulkan seluruh kekaguman dunia padamu. Tapi, yang kurasakan...kau selalu membuat hariku menjadi jauh lebih baik. Hanya dengan satu senyuman. Satu kutipan dari perkataanmu. 

Satu sandiwara. Satu...satu kenangan.

Kehadiranmu saja sudah membuat setengah dari dunia tersenyum. Yah, ini mungkin berlebihan tapi yang ingin kusampaikan adalah, disaat kau tersenyum...banyak senyuman lain yang terukir. Disaat kau sedih...banyak yang ingin menghiburmu. Kau tidak berjuang sendiri. Bersyukurlah. Anggap setiap masalah yang kau hadapi sebagai ‘kemasan’ dari hadiah yang akan kau dapatkan nanti.

Sebelum kau membuang semuanya, ingat bagaimana perjuanganmu sampai hari ini. Kuharap kau sehat. 

Tidak terpengaruh oleh hal-hal yang hanya membuatmu tenang sementara, bahagia sementara. Karena pada waktunya, hal-hal tersebut hanya akan mendorongmu ke sebuah jurang. Kau tidak ingin berakhir tragis kan?

Yah aku sangat...sangat berharap kau sehat. Jauh dari segala godaan yang menuntut nyawamu. 

Nyawamu jauh lebih berharga dibanding hal-hal tidak manusiawi yang mengancam keberadaanmu. Jaga dirimu.

Karena aku tidak tahu apa yang akan kurasakan nanti jika seandainya suatu hari aku mendapat kabar bahwa kau sudah pergi karena ancamanmu sudah berubah menjadi serangan yang berhasil.

Aku yakin kau tidak mengerti apa yang kukatakan. Aku tahu, ini berbelit-belit.

Dan aku juga tahu..kau tidak akan pernah membaca ini. Surat berisi serentetan kata yang kau tidak mengerti. Tapi tetap...surat ini membawa banyak harapan. Aku hanya bisa berdoa, jika suatu saat kau menemukan ini, dan ada yang mengartikannya untukmu. Semoga. Semoga.

Aku berada pada jarak ratusan mil dari tempatmu sekarang. Semoga sempitnya dunia bisa membuatmu bertemu dengan ‘sedikit’ harapan dariku.

Aku ragu menulis namamu disini. Karena pasti aku ditertawakan sebagai ‘anak kecil’ yang terjebak dalam angan dan imajinasi. Di sini—ditempatku tumbuh, tidak banyak yang mengerti pentingnya ‘mimpi’. Jadi terkadang aku pun lelah harus menjadi manusia yang dianggap ‘normal’, mengikuti monotonnya hidup. Datar..............................

Tapi kali ini, biarkan aku cantumkan namamu, sejenak melupakan anggapan orang-orang yang memandangku dengan tatapan ‘aneh’ itu.

Selamat berjuang menjalani sandiwara hidupmu, aktor.

Semoga suatu saat kau menemukan cahaya redupku.

Seorang bermata gelap dan dalam...

Yang dalam setiap sandiwaranya selalu memiliki keinginan untuk melindungi orang-orang di sekitarnya dengan sebaik-baiknya.

Yah, dia.

Taylor Daniel Lautner.

...


“...In dreams I meet you in warm conversation. I’ll tell you, you’re the lucky one. And I just wanna know you better now...”

No comments:

Post a Comment