.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Thursday, 15 August 2013

Melukis Manis

Enigma. Bukan. Abstrak...
Mungkin.
“Hei, kau mau?”
Aku menoleh ke arah pemuda bertubuh tinggi yang kini sedang menatapku dengan pandangan berbinar-binar. Kemudian kualihkan pandanganku ke piring yang berada di tangan kanannya. “Lumpia?”
Laki-laki tinggi itu kini meletakkan piring berisi 4 buah lumpia di atas meja, sebelum akhirnya duduk. “Manis.”
“Aku tidak terlalu suka makanan manis.” kataku sambil menyiratkan sebuah senyum—tanpa tersenyum. “Habiskan saja.”
“Kau ini, ada alasan mengapa kau tidak suka makanan manis.” katanya sembari mengambil satu buah lumpia lalu menggigitnya pelan.
Kedua alisku terangkat, “Apa?”
“Karena kau manis.” celetuknya lalu melahap habis lumpia di tangannya.
Otomatis. Pernyataannya membuatku tertawa. Sedikit. “Benarkah?”
“Baiklah, lupakan. Kini aku serius.” ujarnya menatap tiga lumpia yang tersisa di piring—seperti ingin mengambilnya lagi, namun entah mengapa tidak jadi—ia langsung memandangku.
“Lanjutkan.” kataku singkat kemudian melipat tanganku. Udara di sini cukup dingin. Ditambah dengan hari yang sudah mendekati kegelapan—maksudku, malam. Mataku memperlihatkan pemandangan biasa yang tidak biasa. Orang-orang berlalu lalang dengan kendaraannya. Berisik. Namun inilah ketenangan...bagiku.
Si laki-laki tinggi mengalihkan pandangannya dari sosokku. Sosok gadis dengan sepasang mata kecil, dengan gigi kelinci. Tidak cantik. Lugu, bahkan terkadang agak naif. “Suasana hati.”
Aku mengerutkan kening “Suasana hati?”
“Yah, kau tidak suka makanan manis karena faktor perasaan dan suasana hatimu.”
“Maksudnya?”
“Ini masih hipotesis, belum jelas faktanya.”
“Ya sudah, lanjutkan.” kataku mulai mencoba fokus dengan apa yang dilakukan laki-laki tinggi di sebelahku itu. Tangannya bergerak liar seraya menjelaskan apa yang berada di dalam otaknya. Aku sudah terbiasa dengan pemandangan ini. Walaupun butuh waktu lama bagiku untuk kembali beradaptasi setelah sekian lama tidak bertemu dengannya.
“...saat makanan manis masuk melalui tenggorokanmu, akan ada rasa hangat. Manis itu hangat. Kupikir, kau sedang tidak ingin ‘mengenal’ yang namanya kehangatan.”
Aku terdiam. “Konyol.” Mulutku bergerak sendiri...yah, walaupun dalam hati aku menyetujuinya.
“Hangat itu membawa perasaan tenang. Sedangkan kau...selalu...yah, kau terlihat tenang tapi jiwamu tidak. Terlalu banyak yang kau pikirkan.” katanya lagi—melanjutkan tanpa menggubris komentarku tadi.
Aku menghela nafas panjang. Tidak berkata apa-apa.
“Aku tidak akan bertanya kenapa—jadi, sekarang...aku akan melahap salah satu dari tiga lumpia disana.”
Tawaku meledak, refleks—aku langsung memukul bahu laki-laki aneh yang kukira sedang memberiku ‘ceramah’ dengan sebelah tanganku. Tidak keras, namun cukup membuatnya ikut tertawa juga. “Gila, kau gila.”
“Aku bermaksud memberimu iming-iming untuk mencoba lumpia isi pisang dan kismis ini. Masalahnya jika aku yang memakan semuanya, orang-orang akan mengira aku telah menindasmu.” katanya sambil tersenyum lebar. “Jadi, maukah kau memakan salah satu dari lumpia ini? Setidaknya hanya mencoba.”
Aku memandang laki-laki berwajah tirus itu dengan pandangan geli. Sekali lagi untuk kesekian kalinya memperhatikan lekukan demi lekukan wajah laki-laki yang telah kukenal bertahun-tahun tersebut. Memang abstrak. Aku mengaguminya walaupun aku tidak benar-benar mengerti estetika dari wajah tirus, hidung mancung, bibir agak tebal, kulit putih tidak terlalu bersih...dan gaya bicaranya yang sering disertai dengan hujan (jika kau mengerti maksudku).
“Hei, apa kini kau terpesona dengan wajah rupawan milikku?” tanyanya tanpa basa-basi. Senyuman lebar itu selalu menempel. Yah, mungkin itu daya tariknya.
“Kau bercanda.” kataku menanggapi celetukan laki-laki itu. Aku sudah terbiasa dengan apa yang ia katakan. Jadi tidak masalah untuknya jika aku menggubrisnya atau tidak. “Kau yakin lumpia itu tidak ada apa-apanya?”
Si laki-laki tinggi tertawa lagi, “Memangnya kau pikir ada apanya?”
“Apa rasanya manis sekali?”
“Sudah kubilang coba saja. Ya ampun, kau ini...lagipula kau tidak akan langsung terbunuh hanya karena satu gigit lumpia isi pisang dan kismis, bukan?”
Dan perang batin pun dimulai. Aku tidak mengerti mengapa aku harus ambil pusing dengan perihal ‘makan atau tidak’. Jadi, belum sampai satu menit, perang batinku itu kusudahi. Dan...kini mataku memandang tiga buah lumpia di piring plastik berwarna merah muda di meja. Berpikir sejenak sebelum akhirnya sadar, satu dari tiga lumpia itu telah berada di tanganku.
Aku menoleh ke arah laki-laki tinggi yang tengah menatapku penuh harap. Yah, tidak juga. Kembali pada lumpia isi pisang dan kismis, aku menendang semua perasaan tidak enak lalu segera menggigit lumpia isi pisang dan kismis tersebut. Rasanya...
“Bagaimana? Enak?” kata si laki-laki tinggi.
Aku mengunyah pelan. Yah, manis. “Lumayan.”
“Jadi hikmahnya adalah, kau bisa menerima hal-hal yang kau benci. Rasanya tergantung dari apa yang kau pikirkan tentangnya. Jika kau berusaha menepis hal-hal yang membuatmu benci, rasanya tidak akan terlalu buruk.”
Aku terkesiap. Yah, ia benar. Si laki-laki tinggi benar. Aku memandangnya yang sedang mengambil lumpia lain dari piring, lalu tersenyum sendiri. “Jadi ini yang kau maksud.”
Si laki-laki tinggi hanya tersenyum. Abstrak. Ia memang abstrak.
Aku menggigit habis lumpia di tanganku. Tidak terlalu buruk...
“Selanjutnya...”
Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Memandangi si laki-laki tinggi dengan perasaan ingin tahu. “Selanjutnya?”
“Aku akan membuatmu meminum habis segelas susu coklat. Tanpa muntah.” katanya lalu mengambil lumpia yang tersisa. “Kau mau ini?” Melihatku menggeleng, ia pun langsung melahapnya dengan satu gigitan. Habis.
Membayangkan segelas penuh susu coklat saja membuatku mual. Tidak. Aku akan menolak mentah-mentah rencanya. “Tidak! Aku mohon dengan sangat jangan libatkan ‘ceramahmu’ dengan susu coklat.”
Ia hanya tertawa. Si laki-laki tinggi hanya tertawa. Ia tahu jelas bahwa aku benci...sangat benci dengan sesuatu yang bernama susu coklat. Entah apa yang ia pikirkan dalam kepalanya, namun ia tidak membahas perihal tentang susu coklat lagi. “Jadi, bagaimana menurutmu tentang lumpia isi kismis dan pisang ini?”
Aku terdiam sejenak. Bukan memikirkan tentang lumpia tadi. Pikiranku melayang-layang. Mungkin efek ‘manis’ tadi. “Manis. Agak terlalu manis untukku.”
“Tapi kau menghabiskannya dengan baik.” katanya tersenyum.
Yah, suasana di sore itu tidak terlalu buruk. Aku melihat sahabatku itu berdiri bersiap untuk membayar lumpia tadi. Setelah semuanya selesai, ia mengajakku untuk segera beranjak dari tempat itu. Sebuah pondok kecil yang hanya menyediakan sebuah meja, dengan delapan buah kursi mengelilinginya. Sederhana.
“Kau tahu...” ujarku ketika ia memasukkan kunci motor ke lubangnya.
“Hm?” sahutnya pelan sibuk dengan motor di depannya.
“Kurasa...aku akan mencoba menyukainya.”
“Lumpia isi pisang dan kismis?”

“Bukan. Hal yang kubenci, kurasa aku akan mencoba untuk menyukainya.”

No comments:

Post a Comment