.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Monday, 30 September 2013

Distance

Hai, manis. Apa kabar?

Ketika kau membaca ini, aku ingin kau membayangkan diriku sedang bicara denganmu. Dengan wajah yang mengulaskan senyum samar, dan mata yang menolak menatapmu. Aku tertawa kecil seolah-olah aku memang hanya menanyakan kabarmu...tanpa menyembunyikan apa-apa.

Aku tahu kau pasti hanya akan tersenyum lebar—lalu berkata bahwa kau baik-baik saja. Entah menanyakan kabarku atau tidak. Namun jika ya, kau tahu jawabannya. Aku baik.

Kau tahu rasanya memendam dengan jarak sedekat itu, manis? Hanya beberapa langkah. Aku melihatmu disana. Berdiri dan bercanda dengan teman-teman dekatmu. Tawa itu...sudah lama aku tidak mendengarnya. Tawa khas milikmu. Yang dulunya selalu membuatku memalingkan wajah ketika mendengar tawa tersebut—refleks.

Ya, aku pasti mencari sosokmu ketika ku mendengar tawamu. Aku mengenal suaramu dengan baik, walaupun sekarang...yah bahkan aku tidak ingat lagi bagaimana suaramu ketika bicara padaku.

Aku...entahlah. Rasanya upayaku kini mungkin hanya akan menyiksa diriku sendiri. Ya, aku memang konyol. Menyakiti diri sendiri. Mencari tahu—walaupun aku sudah memiliki firasat tersendiri 
tentangmu.

Untunglah. Untunglah kau tidak ada disini. Seandainya kau ada, mana mungkin aku bisa bertahan menahan rasaku untuk melihatmu, kemudian rasa sakit menyesakkan dada yang akan selalu mengikutiku? Tidak, aku takkan sanggup.

Karena walaupun kini kau berada di sana...jauh. Jauh dari pandanganku. Jangkauanku. Kau disana. 

Rasanya masih sakit. Bahkan terkadang menjadi sangat sakit.

Aku lelah. Kuakui. Aku lelah jika aku harus mengekspektasikan hal-hal yang tidak mungkin akan terjadi. 

Aku lelah ketika semua khayalanku tentangmu terputar dalam keadaan apapun. Semuanya. Aku berada di jarak terjauhku darimu. Tapi tebak...kau tetap menggangguku. Kehadiranmu tidak pernah pudar. Kau gila.

Jadi...tidak apa-apa, bukan jika kini yang kulakukan adalah berusaha untuk menghilangkanmu dari duniaku? Ketika kau datang, aku langsung menepismu. Tidak masalah, bukan? Aku yakin itu bukan masalah untukmu.

Kau bukan aku. Itu yang harus kuingat.

Aku bukan dia. Bukan.

Jadi aku berkata pada diriku sendiri, ya...lebih baik aku menjaga jarakku. Sejauh mungkin darimu. Dari jangkauanmu.

Kau melihatku, manis. Kau melihatku.  Tapi, ada yang lain di binar matamu yang bening itu. Ada yang lain ketika kau menarikkan kedua sudut bibirmu itu. Jantungmu...aku yakin ketika kau melihatku, jantungmu akan berdetak cepat—tapi jantungmu sudah berdetak untuk orang lain. Aku yakin.

Rasanya aku ingin kau disini. Biarkan aku bicara. Kau mendengarkan.

Hanya mendengarkan...

Setelah itu, aku akan tersenyum dan berkata lupain aja. Jangan bicara apapun. Kau hanya butuh untuk mendengarkanku.

Jangan bicara apapun. Aku tidak perlu mendengar hal-hal manis dari mulutmu. Walaupun aku mengharapkannya.

Tertawa. Seandainya kita masih bisa menertawakan hal tidak penting lagi. Membicarakan atau bahkan memperdebatkan tentang apa, siapa, bagaimana, dimana, kapan, dan mengapa...

Ah, lagi-lagi sebuah cuplikan tentangmu terputar lagi. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengingat tentangmu. Yah, hanya malam ini saja. Aku merindukanmu.

Dengan semua hal yang terjadi. Tentang kau yang tidak bisa menjelaskan arti dari kehadiranku di hidupmu. Aku bukan sesuatu yang sangat berarti. Tapi aku juga tidak bisa dibilang tidak berarti. Ya kan? 

Bahkan aku mengetahuinya tanpa melihat lirikan matamu.

Lirikan itu...

Bahkan saat itu aku tidak tahu apa yang kau lihat. Namun ya, tatapan itu memang berbeda. 

Dalam...sampai-sampai rasanya aku ingin tenggelam dalam lautan hitam di matamu yang jernih itu.

And I will make sure, to keep my distance. Say, “I love you” when you’re not listening.

Aku tidak mau menghancurkan kebahagiaanmu sekarang. Perasaanku memang besar, tapi aku tidak seperti perindumu yang lain, manis.

Disaat kau mendekat...aku pasti berjalan menjauh darimu.

Ketika kau jauh...aku mendekat, tapi pasti...aku akan berjalan lebih jauh lagi darimu.

Ketika mereka memintamu untuk melihat mereka. Aku akan memintamu untuk tidak melihatku.

Ketika mereka bertanya kau sedang apa. Aku hanya akan berandai-andai, berceloteh dengan lancarnya...di dekatNya.

Ketika mereka dapat melihatmu dengan mudah. Aku hanya akan...membayangkan. Pelan...namun pasti.

Ketika mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatianmu, aku hanya akan berjalan menjauhi kerumunan itu. Berjalan memutar mencari cara lain jika seandainya kau mengambil belokan yang sama.

Bahagia untukku, manis...

And I keep waiting, for you to take me.

You keep waiting, to save what we have.

Ah ya, satu lagi...


In my life, I love you more...


Halo readers kesayangan aku. Apa kabar hari ini? Udah makan? Jangan galau aja hey hehe. Hari ini pas banget hari senin, jadi intinya aku tuh ngepost tiap hari senin readers. Makasih banyak kalian yang udah setia baca tiap post galau yang gapenting alias curhat. Hah? Kagak deng ini ga curhat, kalau mau liat yang curhat tuh ada di tahun 2012 post awal aku tuh akaka curhat banget-_- Sekarang post nya sudah agak bermutu nih. Hehe pokoknya aku seneng punya kalian yang stand by me para sesama galauers. Semangat terus, aku disini bersama kalian. :) Kamu juga. Manis... Bahagia.

2 comments:

  1. Ahh.. mengharukan :') *duh, jadi alay gini kan -,-
    sukaa sama tulisannya :) keep writing sistahh ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaahhh makasih banyak udah baca ya! Hehe, semoga suka makasih banyak ya :D

      Delete