.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Sunday, 15 September 2013

Selamat tinggal, manis

“And I’m wonderin’ what you’re dreamin’. Wonderin’ if it’s me you’re seeing.”

Aku menghela napas panjang. Hembusannya menimbulkan sekilas asap putih yang hanya bertahan dua detik. Mengingat betapa dinginnya cuaca hari ini.

Kini aku hanya sedang berdiri memandangi kendaraan yang berlalu-lalang di jalan. Terkadang merapatkan jaket yang kupakai lalu melipat tanganku ke dada. Entah apa yang kupikirkan. Langit yang sudah gelap hanya mendukung apa yang kurasakan saat ini.

Sepi.

Kemudian separas wajah muncul di benakku. Cepat-cepat aku memejamkan mata lalu menggeleng-gelengkan kepala. Menepisnya pergi.

Ya. Aku sudah memutuskannya.

Jangan lagi bermain-main dengan masa lalu.

~

Aku tidak merasakan apa-apa.

Wajar, bukan?

Aku memindah-mindahkan lagu di playlist laptopku. Tidak. Tidak. Aku tidak ingin mendengar lagu ini. 

Baiklah, bagaimana bisa lagu yang bernuansa sedih membuatku bosan? Terlebih lagi, aku tidak bisa membayangkan kisah sedih untuk menjadi bekal dalam tulisanku.

Ini bencana.

Aku harus. Harus. Mencari sesuatu untuk ditulis. Aku tidak merasakan apa-apa. Ini masalah utamanya.

Apa jangan-jangan...kali ini aku benar-benar sudah melupakannya?

Benarkah? Benarkah aku melupakanmu, manis?

Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Kusadari memang akhir-akhir ini aku memutuskan untuk menyudahi semuanya. Menyudahi semua yang kumulai. Padahal aku tidak tahu garis akhirnya dimana. Aku hanya lelah. Terkadang, walaupun aku tidak ingin melupakannya. Aku harus melakukannya.

Sebenarnya hal ini tidak terjadi semudah itu. Aku yang memutuskannya. Memang. Namun, tidak kukira hal itu akan terjadi secepat ini.

Ia bahagia disana, kan? Aku tahu ia sedang menikmati kehidupannya disana.

Dunia manis yang baru, dimana tidak ada aku di dalamnya.

~

Manis. Kuakui, aku tidak terlalu suka makanan manis. Kecuali : Pertama, coklat. Kedua, cheese cake. 
Ketiga, permen kenyal.

Tapi entah mengapa aku lebih suka memanggilnya manis dibandingkan menyebut namanya. Walaupun yah, namanya memang selalu muncul setiap hari. Setiap hari.

Aku terdiam sejenak. Menghela napas panjang. Lalu berjalan menuju cermin. Melihat bayanganku sendiri.

Apa aku pantas?

~

Hai manis, apa kabarmu? Sudah lama kita tidak bicara lagi. Entah apa yang kau pikirkan sekarang.

Atau apa yang kau lakukan sekarang. Entahlah, aku tidak tahu. Aku juga ingin berkata bahwa aku tidak peduli tapi sayang sekali, tampaknya hal itu tidak terwujud.

Aku memejamkan mata sejenak. Mencoba merasakan momen-momen berharga yang seharusnya telah kuhapus... Tidak. Aku mengingat semuanya terlalu jelas.

Baiklah, mulai...ini bertele-tele. Sungguh kata pengantar yang tidak perlu. Aku disini bermaksud untuk menulis hal yang seharusnya menjadi sumbermu mencari tahu apa yang kurasakan. Apa yang kuperjuangkan. Apa yang menjadi alasanku untuk bertahan sekaligus menyerah.

Setidaknya aku tidak meninggalkanmu dengan tanda tanya.

Baiklah, sebenarnya aku bertanya-tanya. Kenapa. Kenapa. Kenapa.

Mengapa kau tidak membenciku jadi aku bisa belajar melupakanmu, manis?

Yah, pertanyaan bodoh. Memang.

Ah, aku tidak mengerti dengan apa yang kutulis. Semuanya...aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. 

Sebenarnya aku hanya ingin diam.

Aku tahu, itu bukan aku. Sama sekali bukan. Mungkin itu yang menjadi alasan kenapa aku bisa memutuskan untuk menyudahi memikirkanmu.

Yang kau maksud bukan aku. Aku tahu, tanpa kau perlu menjelaskan semuanya. Jadi sebaiknya aku berhenti.

Berhenti sebelum kau benar-benar melukaiku.

Aku bukan gadis tercantik yang pernah kau temui. Sama sekali bukan. Aku? Aku bukan primadonamu lagi. Aku bukan lagi gadis yang kau ucap namanya setiap saat kau berdoa. Aku bukan lagi gadis yang kau cintai dalam diammu.

Tanpa kau mengatakannya, aku tahu.

Aku memperhatikanmu, manis. Sejauh apapun jarak memisahkanku denganmu, aku selalu mengenalmu. 

Aku tahu ketika kau resah, ketika kau marah, bahkan jatuh cinta sekalipun.

Aku mengenalmu.

...

Jadi akhirnya aku memilih untuk menjauhimu. Bermaksud untuk meninggalkanmu tapi...aku tidak ingin membencimu.

Dan pada akhirnya aku tidak jadi menghilang darimu.

Kau tahu aku selalu dingin setiap bicara denganmu. Alasan mengapa sikapku dingin bisa didasari karena aku malas bicara atau malah aku sedang membatasi apa yang kurasakan.

Selama ini aku bersikap dingin padamu untuk alasan yang kedua. Menjaga jarak agar tidak terlalu banyak goresan yang kau berikan padaku. Agar tidak menimbulkan banyak luka.

Kali ini aku harus berhenti berpikir seperti itu.

Aku ingin bersikap normal padamu. Aku akan bicara panjang lebar walaupun kau hanya menanggapinya dengan kalimat pendek.

Agar aku terbiasa dan seiring berjalannya waktu aku akan mengganggapmu hanya sebagai teman.

Jika kau mengenalku, aku yakin kau menyadari perubahannya.

Walaupun setiap saat aku harus berdoa agar kuat ketika aku berceloteh panjang dan kau hanya menanggapinya seolah-olah tidak peduli. Bukan sakit karena tanggapanmu. Aku pernah menghadapi yang lebih buruk. Yang kau lakukan bukan apa-apa.

Aku hanya merasa...bahwa aku tidak mengenalmu lagi. Terkadang.

Yah setidaknya aku berusaha.

Ah, aku benar-benar tidak mengerti. Jika memang selamat tinggal adalah kata terbaik, mengapa aku masih berharap...bahwa dugaanku salah?

And I just wanna tell you, it takes everything in me not to call you. And I wish I could run to you, and I hope you know that everytime I don’t... I almost do. – (I Almost Do) Taylor Swift

Listen to it, and you’ll understand why.

Hai readers setia aku atau yang baru visit kesini. Selamat datang :3 ehe maaf aku baru ngepost hal galau lagi nih, semoga kalian suka ya. Udah ada sambungannya kok 2 cuplikan galau tentang manis. Tapi judulnya bukan manis lagi hehehe. Maaf baru ngepost sekarang. Semoga kalian gabosen nungguin tulisan baru aku ya, aku sayang kalian pokoknya makasih banyak udah setia nungguin aku ngepost cuplikan galau lagi hehe. Oh iya, berhubung ini judulnya udah selamat tinggal  mungkin aku ga bakal ngepost edisi manis lagi. Ahaha engga deng canda, hilangnya manis itu seiring sama hilangnya perasaan itu kok readers tenang aja. Doain aja aku bisa nyempetin waktu buat bersemedi biar tulisan galaunya makin 'ngena' hehe. Makasih banyak ya pokoknya aku sayang pembaca aku. Semangat harkoser, jombloers, korban harkos dan php! Aku masih disini menemani lara-lara kalian :)

2 comments:

  1. klo lagi galau emang enak banget nulis blog, kayaknya jari bisa nentuin sendiri huruf mana yang mau mereka tekan
    selamat menikamati masa jomblo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya setuju, kalau lagi galau gampang banget buat nulis :)) wah terimakasih banyak udah diselamatin, terima kasih juga udah mampir :)

      Delete