.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Sunday, 28 April 2013

One Thing You Should've Know, I'm Gone


Rasanya...menggali luka itu sakit.

Apalagi luka yang belum kering.

Sama rasanya ketika aku bicara denganmu, wahai pemuda yang membuatku tidak waras. Yang tadinya adalah malaikat penjagaku. Yang pergi seenaknya.

Aku takut.

Aku takut jika harus menjadi tempat sampah untuk orang lain lagi. Karena, perhatian adalah kelemahanku. Aku selalu dapat memaafkan. Aku selalu bisa memakai topeng untuk menyembunyikan apa yang kurasakan.

Namun, apa daya...aku selalu ada ketika kau membutuhkanku. Bagaimana nasibku, kang?

Aku yakin, perasaanku padamu hanyalah sebatas teman. Aku sangat yakin.

Tapi aneh, teman...mengapa rasanya sakit? Bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi padaku?

Sudahlah, jangan...jangan lakukan itu.

Jangan lakukan itu lagi. Aku mohon.

Aku sudah pergi. Ketahuilah, aku sudah meninggalkan perasaan rindu yang membunuhku. 

Jangan...membuatku mengingatnya lagi.

Apalagi ketika kau tiba-tiba mengajakku bicara.

Lalu aku menghela napas, aku tahu kau butuh sesuatu. Dan aku pasti akan membantumu. Aku bersumpah akan membantumu sebisa diriku. Aku senang kau membutuhkanku.

Tapi...sekali lagi, ketika aku membutuhkanmu...kau kemana?

Padahal, hanya satu nama. Satu nama yang muncul ketika aku merasa berada di titik terapuhku.

Dan tebak, nama itu adalah kau.

Apakah kau pernah berpikir...pernahkah aku meminta bantuanmu?

Tidak. Padahal aku tahu kau mampu.

Aku...hanya tidak ingin bergantung padamu lagi. Kau tidak pernah menanggapiku dengan serius. 

Masalahku, bukan masalahmu. Itu moto milikmu.

Sedangkan aku...

Masalahmu, adalah masalahku juga. Jadi aku bersedia membantumu, menghiburmu.

Ya ampun. Aku tidak ingin melakukan hal ini untuk yang kedua kalinya. Tidak tidak! Aku benci hal itu, 
aku benci ya ampun aku sangat membenci hal yang kulakukan untuk orang-orang yang aku pedulikan.

Aku adalah gadis ter-ignorance yang pernah ada. Aku hanya hidup dalam duniaku sendiri. Jadi, ketika aku peduli kepada seseorang atau sesuatu...aku bisa...aku rela...jika harus mengorbankan nyawaku sendiri.

Itulah. Kelemahanku. Yang biasanya digunakan oleh orang-orang yang mengenalku untuk 
menjatuhkanku. Sakit...rasanya sakit.

Ah, aku mulai melantur lagi.

Yang jelas, aku pergi...bukan meninggalkanmu. Tapi meninggalkan perasaanku untukmu. Perasaan sayang. Perasaan ingin berada di sisimu. Sampai nanti, sampai akhir waktu.

Ini pertama kalinya terjadi padaku. Menginginkan seseorang untuk berada di sisiku selamanya.

Jadi, sebelum aku benar-benar melangkah terlalu jauh, tersesat dalam hutan ketidakpastianmu...lebih baik aku yang mundur. Aku yang lari.

Tapi aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jika kau butuh aku, kau tinggal cari aku. Mudah.

Aku pasti ada di sisimu, walaupun tidak terlihat.

Tapi jangan cari perasaan yang kutinggalkan untukmu. Hal itu hanya akan membuatku mengingat keinginan egoisku. Tidak manusiawiku.

Bersikap manislah jika kau membutuhkanku, sebelum kau bersikap dingin lagi kepadaku. Terserah kau saja. Lakukan sesukamu. Aku tidak peduli jika kau menganggapku tempat sampah, bala bantuan, 
pelarian, aku tidak peduli.

Asal...kau jangan cari perasaanku lagi. Jangan bermain denganku dengan melibatkan perasaan.

Karena yang kau rasa, yang kau lihat...itu hanya sebagian kecil.

Sisanya tersimpan rapat di dalam hatiku.

Jangan, kumohon.

Kumohon.

Aku...sudah memutuskan untuk pergi.

Pergi dari hutan hatimu.

Jangan cari aku lagi ketika aku sudah pergi.

Kecuali jika kau memang menginginkanku untuk kembali.

Gadis Labil Itu Sudah Pergi


Jus Sirsak. Dua BigMac. Sekeranjang lemper.

Untuk apa aku menuliskan hal itu?

Tapi 3 benda itulah yang harus kuingat sampai 8 tahun lagi.

Harus...kuingat. Sampai...nanti aku bertemu dengannya lagi.

Kini, aku sedang bersandar pada dinding kamarku. Melamun. Teringat tentang sesuatu yang berharga. 

Sekali lagi, dulu.

Dia...itu siapa? Aku tidak tahu. Aku tidak mengenalnya lagi.

Sama...seperti seseorang yang biasanya selalu menjagaku. Serigala, entahlah membicarakannya hanya membuatku sedih. Aku tidak ingin mengingatnya sekarang.

Hanya berandai-andai...orang itu, orang asing itu tidak mengenalku sebaik dia. Tidak. Tapi tetap saja, perasaanku tidak bisa diajak kompromi. Terkadang, aku menulis sesuatu tentangnya namun aku tidak ada di dalamnya.

Kuaikui, aku hanya menggali masa lalu. Berusaha untuk masuk ke dalamnya lagi, mencari inspirasi untuk ditulis.

Dulu...dua tahun yang lalu—aku pernah membuat janji dengan seseorang, bahwa 10 tahun dari waktu itu, kami akan bertemu lagi. Jadi, 8 tahun lagi. Dulu aku yakin, kita akan bertemu. Aku yakin.

Tapi, sekarang...entahlah, apa kita akan bertemu lagi? Aku terlalu bingung untuk memikirkan hal itu. 

Terlalu bingung. Terlalu sakit.

Aneh. Kita tidak pernah bisa bersama. Saat kita bersama, selalu saja...ada pertengkaran. Pertengkaran aneh. Bahkan, saat kita berpisah pun harus bertengkar terlebih dahulu.

Karena itulah, aku malas melihat wajahmu. Hidung mancungmu. Mata sipitmu. Kadang aku berpikir bahwa aku membenci semuanya. Namun tidak. Memori kita terlalu indah, sampai-sampai aku tidak bisa benar-benar membenci semuanya.

Aku suka, aku suka semua gambarmu, oppa. Yah, sudah lama aku tidak memanggilnya begitu.

Kau ingat—soal gambar yang kau buat untukku? Jika kau tidak percaya, saat kau menitipkannya pada sahabatku, gambar itu belum sampai di tanganku. Baru sampai...hampir setengah tahun berlalu, gambar itu ada di sini. Di tanganku.

Aku selalu berpikir, kau pernah berkata “Mungkin terakhir aku ketemu kamu itu saat aku ngasih gambarnya ke kamu. Maafin aku.” Yah, kira-kira begitu. Makanya, menurutku, saat gambar itu ada di tanganku...itu adalah sebuah perpisahan.

Jadi, saat aku menerima gambar darimu...aku sudah tegar. Aku sudah melupakanmu dan aku sudah bisa berdiri tanpamu.

Oh ya, ingatkan aku nanti jika kita bertemu lagi, aku ingin berterimakasih padamu lalu memberimu 
segelas jus sirsak, dua buah bigmac, dan sekeranjang lemper. Aku ingat aku berhutang itu semua padamu.

Apa...aku akan menangis saat aku bertemu denganmu lagi?

Kuharap tidak. Aku sudah berjanji padamu bahwa aku tidak akan menangis lagi. Ingat kan? Kau yang mengatakan bahwa, “Jangan nangis lagi, ya.” Makanya, aku selalu mengingatnya karena kau yang mengatakannya.

Sudahlah. Lupakan saja.

Aku hanya ingin tahu, saat kau bertatap muka lagi denganku, saat kau menerima sapaan dariku, saat kau menerima senyuman dariku...apa yang akan kau rasakan?

Aku ingin kau sadar bahwa, gadis kecil yang kau anggap labil itu kini sudah pergi.

Tidak berada dalam bayangan gelapmu lagi.

Hello, strangers :----)



“Semoga, suatu saat kita ga perlu act like stranger lagi.”

Aku meringis ketika teringat tentang kalimat itu lagi. Mengutuk dalam hati.

Bodoh. Bodoh, mengapa dulu aku begitu bodoh?

Dulu.Ya, saat aku masih menuliskan banyak hal untuk seseorang yang kini sudah tidak berarti lagi. 

Benarkah? Sudah tidak berarti?

Tidak. Aku hanya menganggapnya begitu. Sebenarnya, kini aku tidak tahu bagaimana kabarnya.

Aku tahu ia bertambah tinggi, matanya semakin sipit dan rambutnya sudah dicukur lebih pendek.

Ya sudahlah, tidak penting. Untuk apa aku mengorek-ngorek luka yang sudah kering?

Berbekas. Hah, aku lelah. Bagaimana caranya menghilangkan bekas luka terkutuk ini?

Bekas luka yang disebabkan oleh cinta pertamaku.

Vitaminku. Penyemangatku. Motivasiku. Pelipur laraku.

Ia sudah berlaku terlalu banyak. Manis. Pahit. Semuanya, ia yang mengajarkan bagaimana manisnya dunia ini namun ia juga membiarkanku merasakan kekejaman dunia.

Saat ia pergi, duniaku runtuh. Runtuh dan menjadi puing-puing yang berserakan entah dimana.

Aku membiarkan semuanya. Tidak memungut puing-puing tersebut karena akhirnya aku memilih untuk pergi.

Namun tiba-tiba aku menemukan salah satunya.

Yang membuatku kesal setengah mati. Sakit. Rasa sakit dari lukanya masih terasa.

Membuatku ingin...bertemu dengannya lagi, lalu tersenyum padanya.

Karena itulah janji yang kubuat untuk diriku sendiri. Untuk dirinya juga, namun tidak sempat kukatakan.

Baiklah, akan kukatakan disini.

Kau tahu, dulu...dulu aku melakukan segalanya untukmu. Berkorban untukmu. Merasa sakit untukmu. 

Hanya untuk mengukir sebuah senyum di wajahmu.

Padahal aku tahu kau dapat tersenyum dengan mudahnya ketika melihat gadis itu.

Ketika kau sedih karenanya, aku pasti akan selalu ada di sisimu untuk menghibur. Dengan cara 
mengatakan hal manis, atau lelucon yang biasanya membuatmu tertawa. Kita akan mengobrol hal tidak jelas yang hanya bisa dimengerti oleh kita. Hanya kita yang berada dalam pembicaraan itu.

Kadang, aku ingin bertanya...apakah kau tidak merindukan pembicaraan yang mengundang tawa tersebut?

Aku ingin tertawa sendiri. Ketika melihat sebagian pembicaraan kita, aku memaki diriku sendiri. Betapa bodohnya diriku. Mau menjadi seorang gadis yang dijadikan sebagai—tempat sampah.

Tapi, dulu...aku selalu berpikir bahwa aku tidak pernah mempermasalahkan hal ini.

Kau tahu kenapa? Jawabannya hanya satu, aku bahagia berjuang untukmu.

Aku bahagia karena terkadang, kau bisa mengatakan hal manis lainnya.

Misalnya, “Kamu keliatan cantik banget.”

Singkat, namun sangat berarti.

Apalagi ketika kau mengingat detail hal kecil yang dulu kita lakukan bersama.

Setiap kali kau mengingat hal-hal kecil tersebut, menurutku itu manis.

Baiklah, lupakan saja.

Terkadang aku membayangkan bagaimana jadinya jika kita bertemu lagi. Karena waktu itu kau pernah 
bertanya padaku, “Kalau kita ketemu lagi gimana?”

Aku...tidak tahu jawabannya.

Yang jelas, aku berpikir—ketika kita bertemu nanti. Ketika mata kita bertemu, aku akan terdiam sejenak. 

Lalu tersenyum dan berkata, “Hai.”

Karena aku tidak akan bersikap seperti dulu lagi ketika melihatmu. Kali ini aku akan berusaha lebih tegar.

Walaupun sebenarnya kau lebih pantas mendapatkan tamparan daripada senyuman.

Namun aku tidak akan melakukannya. Sejahat apapun hal yang pernah kau lakukan padaku, aku tak akan membalasnya.

Karena aku mengambil hikmah. Berkat kau, aku menerima banyak pelajaran.

Kau menyadarkanku bahwa aku suka laki-laki yang berpakaian rapi, aku suka laki-laki bermata sipit—namun tidak terlalu sipit, aku bisa menghadapi laki-laki dingin, aku juga bisa tabah menghadapi laki-laki yang dikejar oleh banyak wanita.

Aku adalah gadis mandiri yang tidak perlu dimanja. Kini aku bukanlah gadis yang dulu pernah kau ajak bicara. Aku lebih dewasa. Jauh lebih dewasa.

Karena kini aku mengerti bahwa, sebaiknya aku tidak mencintai seseorang terlalu dalam.

Aku lebih berhati-hati, dan bisa berdiri sendiri tanpa bantuanmu.

Kini aku bisa menjalani hari tanpa harus meminum ‘vitamin’ ku.

Aku sudah biasa bangun sendiri. Jadi aku tidak ingin merepotkan orang lain karena dulu aku pernah menjadi sangat merepotkan sehingga kau menganggapku beban.

Berkatmu aku belajar caranya berkorban dengan ikhlas, mencintai dengan tulus...lihat aku sekarang. 

Aku tidak perlu balasan, aku lebih suka membahagiakan orang lain ketimbang diriku sendiri.

Ini semua berkat kau.

Orang asing yang sangat berarti bagiku. Bagi hidupku.

Yang mengubahku dari gadis polos yang tidak tahu apa-apa, menjadi seorang gadis yang berpikir penuh logika, perasaan.

Guru terbaikku.

Bagaimana pun menurutmu aku adalah murid terbaikmu,’kan?

Aku tidak bisa mengelak bahwa kau lah yang mencetak diriku sehingga aku bisa sekuat ini. Semakin sering kau menyakitiku, semakin kuat aku.

Sehingga perasaanku menjadi terlalu keras. Sulit ditembus.

Ketika aku bertemu denganmu lagi, aku akan tersenyum.

Untuk membuktikan bahwa aku telah bisa hidup tanpa bayangan gelapmu.

Mengubur semua kenangan yang pernah kita rajut bersama.

Aku sudah melupakannya.

Sekali lagi aku akan berkata,

“Hai, orang asing.”

Friday, 26 April 2013

The Sadness Melody at You


Hei, apa kabarmu?

Entah kapan terakhir aku melihatmu. Dan kini...kau di sini. Menatapku. Dengan sepasang mata gelapmu. Kau tahu sejak kapan aku memimpikan hal ini akan terjadi lagi?

Aku memandangmu lekat-lekat. Terkadang menunduk sesekali. Mencoba menyembunyikan wajahku yang mungkin telah merona. Baiklah, kuakui. Aku merindukanmu. Mata itu, hidung itu, entah kapan terakhir aku memperhatikan setiap lekuk wajahmu.

Aku selalu suka...bentuk wajahmu. Apalagi, saat kau tersenyum padaku. Manis, namun menggelikan. 

Membuatku ingin tertawa karena kau sama sekali tidak menyadari betapa konyolnya wajahmu setiap kali kau tersenyum padaku.

Namun kau di sini. Tersenyum, tapi...itu bukan senyuman yang biasanya kau tujukan kepadaku. Bukan. 

Senyuman kali ini, menyiratkan rasa yang tidak kumengerti. Apakah rasanya sesakit itu ketika melihatku?

Entahlah. Tapi kini aku berandai-andai. Memikirkan seribu pertanyaan yang selama ini berceceran di dalam benakku. Untukmu. Aku tidak tahu harus mulai dari mana.

Apa aku harus menyapamu, lalu tersenyum dan berkata...”Hei, selamat bertemu kembali.” ? Aku rasa tidak. Sudah pasti aku akan memilih diam. Diam karena aku tidak bisa menatap wajahmu yang seperti ini.

Membuatku penasaran. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan sekarang. Apakah kau merindukanku setelah sekian lama kita tidak bertemu? Hampir...dua tahun tapi, tetap saja...terasa lama.

Aku ingin bertanya padamu, “Apa yang kau rasakan sekarang? Apakah jantungmu berdetak cepat seperti apa yang dilakukan oleh jantungku kini?”

Tidak, hal itu, pertanyaan itu akhirnya kujawab sendiri.

Keduanya memiliki jawaban yang sama, ya.

Menjawabnya hanya membuat menyadari bagaimana perasaanku padamu. Walaupun tetap saja, aku masih belum mengerti. Apakah aku benar-benar merindukanmu atau tidak. Apakah jantungku berdetak cepat karena takut, atau karena aku memiliki perasaan untukmu lagi?

Entahlah, tapi akan kuupayakan—aku tidak akan membuatmu repot jika seandainya aku benar-benar memiliki perasaan ini untukmu.

Kau tahu, dulu kau lebih manis. Kini entahlah...aku tidak dapat menemukan kehangatan yang biasanya menghiasi hari-hariku.

Seandainya kau tahu, rasanya kini aku ingin berteriak padamu, “Aku membencimu.” sekeras-kerasnya di depan wajahmu.

Namun lagi-lagi, tidak bisa.

Aku tidak memiliki alasan untuk membencimu. Sungguh. Sebenarnya tidak wajar jika aku yang membencimu.

Karena pada faktanya, kaulah yang memiliki banyak alasan untuk membenciku.

Dan kini...kau tersenyum dan berkata, “Apa kabar?”

Aku hanya bisa tertawa dan berlagak tidak peduli. “Baik. Kau sendiri?” Padahal sesungguhnya, kau tahu..aku tidak sebaik kelihatannya. Berada di dekatmu membuatku sulit bernapas, namun jika kau jauh pun...rasanya tidak ada oksigen yang tersisa untukku.

Kulihat kau mengangguk, “Ya, baik.” kemudian kau menoleh ke arah lain. Seperti ingin cepat-cepat pergi dari hadapanku.

Disaat itu pun aku memutuskan untuk pergi mendahuluimu. Aku tidak ingin ditinggalkan. Karena aku belum sedewasa dan sekuat dirimu untuk melihatku pergi. Membiarkanku lepas. Dan kini...hey, kau dapat berdiri tanpa ku.

Aku bangga padamu walaupun rasa sakit mengejarku. Sakit sekali.

Sebenarnya, sebelum ini...aku ingin sekali menyapamu terlebih dahulu, tapi aku tidak berani. Selalu tidak jadi. Ya ampun, kau tahu...sepertinya aku sudah gila.

Aku hanya sedang lari dari dirimu. Bagaimana caranya agar aku membencimu?

Lebih baik aku membencimu daripada aku harus tersiksa dan merasa seperti dibunuh secara  perlahan ketika merindukanmu.

Dan sebenarnya, saat aku membalikkan tubuhku..aku ingin kau tahu, bahwa aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Hanya ingin melindungi hatiku yang malang saja.

Ketahuilah, di saat aku berbalik sebenarnya aku ingin kau memanggil namaku. Lalu bertanya apakah aku baik-baik saja atau tidak.

Ketahuilah, di saat aku berbalik sebenarnya aku berbisik padamu...aku membutuhkanmu.
Walaupun aku tahu kau tidak akan mendengarnya.

Hehehehe :D itu dia hasil karya aku, dalem ga dalem ga? Hahaha apa banget deh, ini spontan, ga dari cuplikan novel aku yang lagi aku buat.

Sebenernya udah ada yang pernah baca sih, tapi gapapa aku izini juga kalian baca :D 

 Hah...aneh ya J

ILUSI :')


“Kau cantik saat terlihat pucat.”

Entah mengapa kata-kata itu tiba-tiba muncul di benakku saat aku menatap wajahku sendiri di cermin. 

Anemia. Kambuh lagi.

Aku menghela napas panjang. Berpikir untuk mengasihani diriku sendiri. Dari dulu tubuhku memang lemah. Namun semenjak aku SMA, tubuhku semakin melemah. Ini normal,’kan? Ya, pasti normal.

Sungguh, sebenarnya aku lelah. Minum obat. Obat. Obat. Walaupun tidak keras dan penyakit yang menyerangku biasanya hanya penyakit biasa. Namun sungguh, aku lelah.

Pucat. Itulah ciri khasku. Padahal aku sehat, namun tetap saja pucat. Rasanya menyedihkan jika melihat tatapan teman-teman mengasihani diriku.

Sudahlah. Lupakan. Aku hanya mengeluarkan keluh kesahku saja. Aku bersyukur karena masih bisa bernafas setiap harinya.

Selanjutnya...

Terlau banyak yang ingin aku katakan. Sampai aku tidak tahu harus mulai darimana.

Gila. Aku mulai tidak waras.

Hal-hal yang mengganggu mulai menyerangku. Seperti fragmen kenangan yang menyedihkan.

Rasanya mereka mulai mengetuk isi pikiranku seraya berkata, “Hai.”

Baiklah. Ini bertele-tele.

Hari ini, kau tahu...apa yang kupikirkan? Saat ragaku lemah...sampai-sampai membuka mata pun perih. 

Aku hanya memikirkanmu. Satu orang yang entah telah pergi kemana.

Membayangkan saat itu, kau tiba-tiba datang. Lalu menghampiriku.

Puluhan mata menatapmu yang berjalan tanpa malu ke arahku—yang sebenarnya tidak mengetahui keberadaanmu.

Mereka menatapmu bingung. Bercampur penasaran. Berbisik-bisik, “Siapa dia?”

Kau hanya melangkah menghampiriku yang sedang tertidur pulas di atas meja. Mata terpejam, sebelah tangan tergantung. Dan sebuah jaket yang menutupi tubuhku.

Tersenyum. Mengabaikan tatapan-tatapn yang mengarah padamu, kau berjongkok di sebelahku. 

Mengucap salam, memanggil namaku, seraya berkata pelan. “Hei, ini aku.”

Aku hampir tersadar dari alam mimpiku. Kudengar suaramu samar-samar. Belum membuka mata.

Kau masih tersenyum. Lalu berkata sekali lagi, lembut... “Ini aku.”

Dan perlahan kedua mataku membuka. Awalnya hanya terlihat samar, lalu kupejamkan kembali. 

Mencerna apa yang kulihat dan saat itu aku langsung terbangun.

Kutegakkan tubuhku. Mengerjap-ngerjapkan mataku. Dan hampir ingin pingsan saat melihatmu.

“Ka—kamu?” ucapku tidak percaya. Takut hal itu hanyalah sebuah mimpi. Takut wajahmu akan hilang saat aku mengedipkan mataku.

Dan kemudian aku melihat senyum itu. Senyum yang kunanti selama bertahun-tahun.

“Kamu gapapa? Mau pulang?”

Aku mengerutkan kening. Bagaimana ia ada di sini? Bukankah...

“Kenapa disini?” tanyaku bingung. Sangat bingung.

Kau tertawa, ya ampun. Manis sekali. “Ada acara tadi disini. Sekalian liat kamu, taunya lagi sakit gini.” 
katamu masih dengan manisnya. “Berarti waktuku tepat.”

Aku hanya terdiam. Otakku masih mencerna kejadian tadi. Jadi benar, ia datang. Ia datang.

“Jadi gimana? Mau pulang sekarang ga? Liat, udah pucat gitu. Kan aku udah bilang, jangan terlalu kecapean.”

Aku menoleh ke arah teman-temanku yang masih saja menonton kami. Ya ampun. Sungguh, ini terlalu parah.

“Yaudah deh.” kataku akhirnya. Tidak bisa menolak.

Dan... kini aku sedang minum teh manis panas.

Kejadian tadi hanyalah ilusi. Bagaimana pun itu hal yang tidak mungkin terjadi. Laki-laki itu tidak mungkin kemari. Tidak mungkin tersenyum seperti tadi. Tidak mungkin datang disaat dirinya membutuhkan laki-laki itu.

Hah, yaampun. Ilusi. Ilusi. Ilusi.

Penyiksaan batin. Dan penggalian luka.

What If


Hidupku...seperti selembar kertas putih kosong. Pada awalnya.

Sebelum kalian datang, lalu mulai membuat titik yang menjadi garis dan garis yang membentuk coretan.

Awalnya mungkin hanya hitam, lalu...tiba-tiba saja berubah menjadi lautan warna yang indah. Lautan mimpi. Lautan harapan.

Semua yang kalian toreh, membuatku tidak merasa kesepian.

Kita bermimpi bersama. Berjuang bersama.

Sampai akhirnya...kita berpisah, dan memiliki jalan masing-masing.

Masih. Ya, masih kuingat setiap sudut dan cuplikan perjalan kita bersama. Indah. Jika diingat sekarang, rasanya seperti menonton film yang tidak pernah kutonton.

Jika digambarkan kita seperti air yang pecah.

Saling berpencar. Tidak menemukan titik untuk bertemu kembali.

Dan...disinilah aku.

Terdiam menatap nanar kenangan-kenangan manis. Dulu.

Terkadang, kenyataan memang tidak sesuai dengan harapan. Bahkan orang-orang yang biasanya melingkariku pun, berangsur angsur menghilang. Ditelan kabut.

Aku tidak masalah, karena aku yakin suatu saat mereka akan kembali.

Tapi...entahlah. Aku ingin menyuarakan hatiku.

Kutatap foto berisi fragmen kenangan yang terus muncul. Cuplikan kenangan hanya membuatku ingin kembali.

Kembali menjadi gadis lugu yang polos. Kecil. Dengan poni terpotong rapi ke depan. Sepasang mata kecil yang terlihat kecoklatan jika disinari matahari. Gigi kelinci dan pipi yang tembam. Lalu, tersenyum...dan bahagia layaknya anak kecil yang dibelikan balon.

Ya, itu hanya fragmen kenangan.

Yang ingin kutuangkan dalam sebuah surat.

Kini aku tengah berpikir...

Semenjak ia dan kamu meninggalkanku. Aku selalu berpikir.

Bagaimana jika aku menghilang secara tiba-tiba?

Apakah ada yang akan...mencariku mati-matian? Apakah ada yang akan menanyakan keberadaanku sampai aku di temukan? Apakah ada...yang selalu menyebut namaku setiap ia menghamparkan sejadahnya?

Karena...yang kutahu belum pernah ada yang benar-benar tulus mensyukuri keberadaanku. Bahkan ada yang menganggap—kehadiranku adalah sebuah bencana.

Sakit. Namun aku tetap mencintainya. Dulu.

Selanjutnya, bagaimana jika aku...berada di rumah sakit?

Apakah...kau akan menjengukku? Membawakan sebuah kotak musik, atau boneka, atau...gambar mungkin? Berusaha untuk membuatku sadar dengan cara memanggil namaku. Dengan menyanyikan lagu yang dulunya selalu kau nyanyikan untukku.

Apakah, kau akan setia...menungguku sampai aku bangun ketika yang lain sudah berpamitan untuk pulang?

Apakah ada yang diam diam berharap untuk melihat senyumanku lagi? Mendengar tawaku lagi? Apakah ada...yang berharap aku akan menulis lagi?

Karena...sampai saat ini, aku menulis. Menulis dan menulis. Yah, pekerjaanku memang hanya menulis. 

Menulis kata demi kata yang bermakna. Seperti ucapan selamat tinggal, jaga dirimu baik-baik, tawaran untuk menjadi pelampiasan atau pelarian, kata-kata semangat, ucapan...yah, hanya ucapan yang berasal dari hati.

Apakah kau sadar, dulu akulah satu-satunya orang yang bersedia untuk mendengarkanmu. 

Menunggumu. Menjadi sandaran yang akan kau tendang. Dan orang yang paling mengerti dirimu? 

Sehingga aku bersedia menjadi sumber kebahagiaan kecilmu. Walaupun itu menyakitiku.

Lalu, bagaimana jika aku terkena amnesia?

Melupakanmu. Melupakannya. Melupakan semua hal yang dulunya penting bagiku.

Apakah kau akan merasa kecewa karena aku berhasil melupakanmu?

Bukan. Bukan melupakanmu seperti itu.

Namun  dalam konteks, aku benar-benar melupakanmu. Seolah-olah kita tidak pernah bertemu, saling menatap mata satu sama lain, tertawa bersama, bercanda, bermain. Seolah-olah aku tidak pernah bercerita padamu bahwa aku mencintaimu dan seolah-olah kau tidak pernah bercerita padaku bahwa kau mencintai gadis lain.

Ya. Aku berhasil melupakanmu.

Apakah kau senang?

Apa kau akan menemaniku untuk membuat kenangan baru yang lebih baik? Apa kau akan membuatku mengingat semuanya? Atau malah...kau membiarkanku menganggapmu orang asing. Seperti yang kau lakukan padaku. Dulu dan sekarang.

Dan disaat kita bertemu lagi untuk pertama kalinya. Tidak akan ada rasa sakit yang hampir membunuhku.

Aku akan tersenyum manis, ramah, dan mengangguk padamu. Karena aku tidak ingat apa-apa. Lalu aku akan menyodorkan sebelah tanganku lalu mengucapkan namaku. Mencoba berkenalan walaupun di dalam hatimu kau tahu kita pernah mengenal satu sama lain jauh lebih dalam.

Dan hatimu mencelos, mengingat bahwa aku sama sekali tidak ingat dengan bekas lukaku.

Kau menjabat tanganku lalu tersenyum. Mengangguk da membiarkan pembicaraan diambil alih oleh temanmu.

Apa rasanya sakit?

Atau, bagaimana jika aku berhasil bangun dari kejatuhanku?

Misalnya jika aku pindah ke luar negeri dan sekolah disana.

Aku akan bercerita, dan kau melihat foto-fotoku disana. Tersenyum bahagia. seperti tak ada beban. 

Karena itu bukan senyum yang kubawa setiap kali menatapmu atau bericara denganmu.

Apakah kau akan menyesal karena telah mengabaikanku?

Contoh lainnya, jika aku berhasil mencapai mimpiku menjadi seorang penulis berbakat.

Bukuku akan rilis. Dan aku ada. Kau datang—dan melihatku tersenyum bersemangat. Sedangkan banyak orang mengantri untuk mendapatkan tanda tanganku. Lalu kau berbaris, dan saat kau menatapku, aku hanya tersenyum samar dan segera menunduk.

Aku memang tidak melupakanmu.

Namun sekali lagi, aku tidak ingin mengingat tentangmu.

Apakah hatimu akan mencelos...ketika aku bersikap seperti itu?

Apakah kau akan berusaha untuk menebus waktu yang kubuang hanya untuk tetap hidup selama kau tak ada? Terlalu lama, dan...terlalu banyak luka. Apa kau sanggup?

Karena...kau ingat bukan, saat kau pergi meninggalkanku, dan tiba-tiba saja aku harus bertemu lagi denganmu, wajahku pucat. Seperti orang hampir mati. Pucat...karena sakit. Walaupun aku sama sekali tidak tahu apa yang ku alami.

Mungkin aku kehilangan vitaminku.

Apa kau akan sadar...bahwa kau telah membuang sesuatu yang telah menganggapmu sangat berharga?

Dan terakhir, bagaimana jika aku benar benar sudah pergi?

Walaupun kini kau meninggalkanku. Tidak. Kalian meninggalkanku.

Apa kau akan merasakan dampak saat aku tak ada? Apa kau merasa aneh karena tidak akan ada lagi pesan atau kata-kata berarti dariku untuk menghiasi hari-harimu?

Yah, entahlah...aku tidak berharap kau akan peka. Aku sudah tidak peduli.

Bagimu, setiap kata yang kukatakan, kutulis untukmu hanyalah sampah. Tidak dianggap. Hanya sampah. Ya, sampah.

Karena kini situasinya, aku adalah seorang gadis desa, dan kau laki-laki kota. Tentu saja aku tidak pantas untukmu bukan?

Ya sudah, aku tahu diri. Tenang.

Jadi aku tidak akan mengganggumu lagi. Tapi suatu saat, aku pasti akan...bersinar tanpamu.

Dan aku akan tetap tersenyum manis padamu sampai kapan pun.

Sampai kapan pun.

Tapi, kenapa?

Mungkin itu pertanyaan yang terngiang-ngiang di kepalamu.

Aku akan menjawab, karena aku mencintaimu. Dulu.