.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Friday, 19 July 2013

Actually...

Hey, my beloved readers :D

Halo orang-orang yang biasanya galau ekeke, minggu ini aku ganti tema yaaa :) tetep galau kok tenang aja, tapi jangan kaget kalau baca akhirnya ya. Biasanya aku gangepost yang begitu...tapi sekali-kali gapapa ya?

Buat yang udah baca, maafin kalau ada yang salah ya. Aku juga masih belajar. Sebenernya aku bukan 'ahli'nya nulis yang kaya gitu tapi seenggaknya aku mencoba deh. Makanya maaf kalau banyak salah, maklum...manusia :)

Masih perlu belajar banyak. Jangan salah ngejudge aku ya, masih berusaha dengan cara aku sendiri. Tapi ya kayanya mungkin kalian agak kaget baca post aku yang judulnya "Dia" itu. Maaf banget kalau ga 'ngena' kaya biasanya._.

Ngerasa kok...itu tuh belum perfect-_-

Ohiya sekarang, aku nulisnya per minggu aja ya :D buat minggu ini, aku buat dua... judulnya :

"Dia" sama "Long Written Note"

Semoga suka :) Maaf kalau banyak kekurangannya ya, disini aku cuma mau minta maaf aja hehe soalnya ya taulah...aku masih belajar.

Dan...sebagai motivator para galauers dan jombloers di blog ini, aku ucapin...selamat puasa ya galaunya :) dikurangin dikit-dikit. Buat yang belum bisa move on, berdoa deh terus rajin-rajin tadarusan (kalau muslim). Buat yang jomblo.........baca #udahputusinaja karya ust. Felix siau :) itu keren hehe, bikin bangga sebagai jomblo, gausah sedih...bahkan aku pun jomblo tapi bahagia kan :):):)

-____- iya, emang aku dikenal sebagai penulis galau...tapi...sebenernya aku ga segalau itu sih yaa pokoknya gitu kalian ngerti kan? *engga*

OKE, SILAKAN DI CEK ARSIPNYA :D SELAMAT MEMBACA, TERIMA KASIH :)

Salam Ramadhan,
Penulis galaumu
(ganti)

Ohiya, mau pengumuman, akhirnya aku naik kelas jadi kelas 11 :D Ciye udah kelas 2 SMA hoho di ipa 3 *penting banget* -_- ya aku tau kalian masbod sama hal itu ya, sekedar info saja =)) Doakan semoga 2 tahun lagi aku lulus bisa masuk psikologi hohoho. Aamiin. Aku doakan kesuksesan kalian juga! :D

Dia

Kupejamkan mata. Beribu emosi berkelebat di benakku. Dan...yah, setetes cairan bening itu jatuh bergulir meninggalkan jejak basah di pipiku.

Disusul dengan bulir-bulir lainnya. Berlomba-lomba turun dari mataku. Indah. Rasanya nyaman. 

Seolah-olah rasa sakitku menghilang seiring turunnya cairan-cairan bening itu.

Tersadar...begitu banyak hal buruk yang kulakukan. Sedangkan ia selalu menolongku. Dalam keadaan apapun. Sungguh, sehina itukah aku?

~

Aku ingin mengingat beberapa waktu lalu. Ketika hatiku gundah, sesak, memiliki masalah yang entah ingin kuceritakan pada siapa...Ia selalu muncul. Di sisiku. Selalu. Bahkan, walaupun aku telah mengkhianatinya selama ini.

Bersamanya...hanya membuatku merasa aman. Terlalu nyaman. Sampai-sampai aku pun ingin menangis lagi karena mengingat betapa tulusnya ia mencintaiku.

Sering. Aku sering membuatnya kecewa.

Ketika ia memanggilku, aku hanya berjalan tanpa berhenti—bahkan menoleh pun tidak. Ia terus memanggil..tetapi aku tetap berjalan seolah-olah tidak mendengar panggilannya.

Sungguh, sehina itukah aku?

Ketika ia ingin mengajakku bicara, membawaku ke dunianya...aku hanya menolak. Menolak dan menolak. Memilih untuk pergi—mencari kebahagiaan lain yang belum tentu aku dapatkan.

Sungguh, sehina itukah aku?

Ia selalu memberiku kebahagiaan. Dalam ucapannya. Menenangkan hatiku ketika serentetan masalah mengejarku. Membantuku melalui semuanya. Ya, ia seperti Jacob Black di Twilight saga. Melindungi. 
Melindungi. Melindungi.

Tapi, apa yang kulakukan?

Lagi-lagi aku berpaling. Entah untuk keberapa kalinya.

Sungguh, sehina itukah aku?

Ketika dunia...terasa menghimpit dadaku. Ketika rasanya aku tidak dapat mempercayai siapapun di dunia ini.

Ia datang...pasti. Tanpa aku harus memanggil. Ia datang.

Atau ketika aku berlari padanya.

Ia selalu rela...memberikan lebih dari bahunya untukku menangis. Menenangkanku dengan cara yang terkadang tidak aku pahami.

Sungguh, terkadang aku sering tidak sadar bahwa ia mencintaiku lebih dari apa yang kubayangkan.

Dan lagi-lagi...setelah semuanya membaik, aku lari. Aku meninggalkannya.

Hina. Memangnya aku siapa?

Seandainya aku sadar. Hanya dirinya lah yang dapat mencintaiku apa adanya. kekuranganku—semua. Ia yang mengenalku diatas semuanya. Tidak ada yang mengenalku sedalam ia mengenal diriku.

Kekuranganku yang begitu banyak...ia tahu, namun ia selalu menutupinya dengan sebaik-baiknya.

Sesering apapun aku berlari darinya, ketika aku berhenti...dan mencarinya, ia selalu ada.

Bayangkan...adakah manusia yang dapat mencintai kita sebesar itu?

Akhir-akhir ini, aku sadar... Begitu banyak hal yang telah kulewati. Begitu banyak pengorbanan yang tidak aku rasakan.

Ketika orang-orang mulai memberitahuku segala hal yang telah ia berikan padaku...

Aku hanya bisa menangis. Menangis dan menangis.

Aku tidak pernah meminta, ia selalu menyediakan. Bagaimana bisa ia mengetahui apa yang belum pernah aku nyatakan?

Aku tidak pernah menjelaskan, namun ia selalu mengerti apa yang kurasakan.

Aku tidak tahu, tapi ia selalu tahu apa yang kubutuhkan.

Sungguh, tanpanya...aku tidak tahu bagaimana jadinya hidupku.

Tanpanya...aku tidak akan tahu siapa diriku.

Sulit...sulit menjabarkan segala hal yang telah ia berikan padaku. Terlalu banyak. Terlalu banyak cara 
yang ia lakukan untuk membuatku bahagia.

Sungguh, ialah cinta sejati yang sebenarnya...

~

Baru saja...baru saja ketika aku memejamkan mata..rasanya aku seperti ditarik ke belakang, ke masa lalu.

Betapa bodohnya aku tidak mengerti tanda-tanda yang ia berikan padaku bahwa ia mencintaiku apa adanya.

Padahal begitu banyak yang telah ia lakukan untukku. Sungguh, kenapa aku baru menyadarinya 
sekarang?

Tapi untunglah...ketika aku menghentikan langkahku, lalu berbalik...dan memanggil namanya...ia masih bisa datang menghampiriku.

Aku berjalan. Ia berlari.

Kubayangkan betapa rindunya aku setelah sekian lama berada jauh darinya. Dan ketika aku menghampirinya, ia langsung...langsung merengkuhku di dalam pelukan hangatnya.

Dan...semuanya terasa benar.

Aku berbisik. Meminta maaf atas segala yang telah kulakukan. Dan..tanpa aku harus bicara pun, ia mengerti.

Ia mengatakan banyak hal padaku. Memberi banyak petunjuk dan jawaban. Semuanya. Semua yang kubutuhkan.

Dan seketika...rasanya aku ingin selalu bersamanya. Memintanya untuk selalu berada di sisiku. 

Terkadang aku merasa bahwa aku tidak pantas meminta lagi setelah semua ahal yang aku lakukan padanya.

Tapi ia memaafkanku. Ya, ia selalu memaafkanku...

Indah. Terlalu indah. Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan bagaimana rasanya dicintai begitu besarnya. Tidak ada...aku pun hanya bisa diam. Sambil menangis. Menyadari semua hal ayng aku lewatkan.

Syukurlah, belum terlambat.

Aku benar-benar bersyukur, ketika aku memanggilnya, ia masih ada di sana. Setia menungguku.

Bagaimana jika seandainya ia sudah pergi dariku? Tidak mempedulikanku lagi?

Bagaimana jika seandainya ia tidak mau menunjuki jalan yang benar lagi?

Bagaimana jika ia tidak ingin memanggilku lagi?

bagaimana jika ia tidak mau menegurku lagi dengan kelembutannya?

Sungguh, ialah...pemilik cinta sejati yang sebenarnya.

Karena ia tidak pernah pergi dariku. Ia selalu bersamaku walaupun aku tak menyadarinya. Ia selalu 
memperhatikan gerak-gerikku. Bahka ketika aku menulis tentangnya pun, aku yakin ia sedang melihatku.

Ia...yang memberiku kehidupan. Semuanya.

Ia yang selalu menemaniku di dalam sepiku.

Ia yang menenangkan jiwaku di dalam resahku.

Ia yang menjawab segala keraguan yang ada di hatiku.

Bersabar...terus bersabar.

Tidak ada yang menandingi caranya mencintaiku. Tidak ada.

Ialah...pemilik yang hakiki dari cinta sejati.

Ialah pemilik dari segala apa-apa yang ada di dunia ini.

Ialah yang memiliku seutuhnya. Seutuhnya.

Ialah penciptaku. Ialah yang memberiku keluarga. Ialah yang memberiku kesempatan untuk ‘belajar’ di 
setitik kenikmatannya.

Ialah, Tuhan Yang Maha Esa. Allah swt. Yang cintanya tak pernah bisa terbayangkan besarnya.

Setiap hari aku bangun, terkadang aku lupa bersyukur. Inilah nikmat Allah.

Setiap saat aku bernafas, terkadang aku lupa bersyukur. Inilah nikmat Allah.

Setiap hari aku melihat orang-orang yang kucintai. Mama. Papa. Adik. Semuanya. Terkadang aku lupa bersyukur. Inilah nikmat Allah.

Setiap hari aku melangkahkan kakiku. Terkadang aku lupa bersyukur. Inilah nikmat Allah.

Banyak hal yang sering aku lupakan. Semuanya nikmat. Semuanya nikmat.

Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang hina ini.

Astaghfirullah. Ampuni hamba.

Karena hamba bukan apa-apa tanpaMu.

Aku merindukanMu, ya Allah. Terima kasih Engkau masih memberi hamba kesempatan untuk memperbaiki diri...


Semoga, hamba termasuk golongan yang akan bertemu denganMu dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Aamiin.

Long Written Note

Lagi-lagi...aku hanya melihatmu dari jauh.

Jauh sekali, sampai-sampai aku sendiri pun berandai-andai...

Seandainya aku bisa melihatmu dari dekat. Walaupun hanya dalam mimpi sekalipun.

Hai, hari ini aku melihatmu lagi.

Seperti biasa, dibatasi oleh kotak ajaib yang berbunyi dan berwarna sendu. Namun, hanya itulah yang dapat menghubungkanku denganmu.

Apa kabar? Kuharap kau baik-baik saja. Kuharap kau tidak terlalu sibuk sehingga ragamu jatuh. Jangan memaksakan diri...

Aku melihatmu lagi. Ya, melalui kotak ajaib tersebut.

Sudah beberapa tahun yang lalu sejak pertama kali aku mengagumimu.

Melihatmu tersenyum, berbicara, bergerak...yah, entah bagaimana caranya mendeskripsikan seberapa besar aku mengagumimu. Yang jelas hal itu tidak perlu dipertanyakan.

Aku pikir...kau pasti lelah. Setiap hari dalam hidupmu, kau harus berlaku sesuai dengan aturan. Berpura-pura tersenyum padahal harimu sekelam abu. Bersikap ceria padahal kau lelah. Bersabar...menjawab deretan pertanyaan yang ditujukan padamu. Tabah menjalani tuntutan demi tuntutan hidupmu.

Tapi, aku bangga padamu.

Walaupun begitu banyak beban yang terletak di kedua bahumu, kau tetap semangat. Walaupun mungkin hidupmu penuh dengan kepalsuan, kepura-puraan, sandiwara...kau tetap betah menjalani serentetan masalah hidupmu.

Serentetan tugas yang mungkin bertolak belakang dengan hatimu.

Entahlah, terkadang aku ikut sedih. Matamu tidak bisa berbohong. Aku tahu ketika kau lelah. Walaupun mungkin alat dunia telah menyamarkan garis-garis lelah di wajahmu. Aku tahu ketika kau ingin marah. 

Walaupun mungkin senyummu itu menutupi beribu emosi yang tersimpan di dalam hatimu.

Yah, seandainya aku bisa meringankan setidaknya sedikit bebanmu...namun itu tidak mungkin.

Kau terlalu jauh untuk dijangkau. Bahkan ini kali pertama aku bisa menulis surat untukmu, padahal sudah bertahun-tahun aku menyimpan semua emosi yang berkelebat di benakku. Aku ingin menyampaikan semuanya, namun aku tahu...sebanyak apapun kata-kata yang kurangkai, itu tidak akan cukup.

Tidak apa-apa. Aku bersyukur, mengenalmu...dari sini.

Kini aku sedang membayangkan bagaimana jadinya jika suatu saat kau muncul dihadapanku. Ketika ribuan mata berharap untuk kau pandang balik...dan aku hanya disana, mengamatimu dari jauh. Tidak berharap banyak jika kau akan melihat kehadiran sosokku. Bagaimanapun pasti aku akan tenggelam di dalam lautan perhiasan dunia.

Aku bersyukur bisa melihatmu dengan mata kepalaku sendiri. Bukan hanya melalui kotak ajaib yang biasa kubuka untuk mengamati kehidupanmu. Yang jelas, aku pasti tersenyum melihatmu tersenyum. 

Walaupun aku tahu, bukan ditujukan untuk diriku sendiri.

Dan kau pasti akan melambai. Disusul oleh jeritan-jeritan dari orang-orang mengagumi juga. Mungkin dibanding mereka, aku bukan apa-apa. Hanya gadis lugu dan naif, yang selalu memiliki kepercayaan padamu bahwa kau tidak akan mengecewakan kami—mengecewakanku.

Membayangkannya saja sudah membuatku tersenyum sendiri. Ya ampun, ini klise.

Tapi aku hidup di dunia yang klise. Kau juga. Semuanya mungkin tidak luput dari satu kata yang sulit dijabarkan maknanya, klise. Maka jangan salahkan aku jika setiap karya dan surat yang kutulis semuanya berbunyi klise. Klise bagian dari hidupku. Hidupmu juga.

Membosankan...bahkan kadang memuakkan. Mungkin kau juga terkadang muak dengan segala sandiwara yang kau lakukan. Kesannya, sandiwara yang disandiwarakan. Yah, yang jelas aku tahu terkadang kau ingin melepaskan topeng di wajahmu.

Aku ingin menghiburmu. Menyemangatimu. Walaupun memang hanya dalam bentuk kata-kata. Seperti ini misalnya.

Ah ya, aku ingin memberitahumu sesuatu yang mungkin bisa menjadi kekuatanmu jika sewaktu-waktu kau benar-benar sudah muak dengan semuanya.

Dengar...

Aku ingin kau tahu bagaimana caramu mengukir senyum di wajah setiap orang yang menunggu kehadiranmu. Ketika kau melakukan semuanya dengan caramu. Ya, aku tahu kau lelah berpura-pura. 

Aku tahu. Tapi aku yakin banyak yang menghargaimu. Entahlah, kuharap kau tahu...rasa lelahmu itu tidak sia-sia.

Kau bersinar dengan cahayamu sendiri. Hasil dari peluh dan keringat yang kau keluarkan. Semuanya setimpal. Kau bahagia dengan caramu sendiri. Lihat apa yang kau punya. Mimpimu terwujud, kan?

Aku tidak bisa mengumpulkan seluruh kekaguman dunia padamu. Tapi, yang kurasakan...kau selalu membuat hariku menjadi jauh lebih baik. Hanya dengan satu senyuman. Satu kutipan dari perkataanmu. 

Satu sandiwara. Satu...satu kenangan.

Kehadiranmu saja sudah membuat setengah dari dunia tersenyum. Yah, ini mungkin berlebihan tapi yang ingin kusampaikan adalah, disaat kau tersenyum...banyak senyuman lain yang terukir. Disaat kau sedih...banyak yang ingin menghiburmu. Kau tidak berjuang sendiri. Bersyukurlah. Anggap setiap masalah yang kau hadapi sebagai ‘kemasan’ dari hadiah yang akan kau dapatkan nanti.

Sebelum kau membuang semuanya, ingat bagaimana perjuanganmu sampai hari ini. Kuharap kau sehat. 

Tidak terpengaruh oleh hal-hal yang hanya membuatmu tenang sementara, bahagia sementara. Karena pada waktunya, hal-hal tersebut hanya akan mendorongmu ke sebuah jurang. Kau tidak ingin berakhir tragis kan?

Yah aku sangat...sangat berharap kau sehat. Jauh dari segala godaan yang menuntut nyawamu. 

Nyawamu jauh lebih berharga dibanding hal-hal tidak manusiawi yang mengancam keberadaanmu. Jaga dirimu.

Karena aku tidak tahu apa yang akan kurasakan nanti jika seandainya suatu hari aku mendapat kabar bahwa kau sudah pergi karena ancamanmu sudah berubah menjadi serangan yang berhasil.

Aku yakin kau tidak mengerti apa yang kukatakan. Aku tahu, ini berbelit-belit.

Dan aku juga tahu..kau tidak akan pernah membaca ini. Surat berisi serentetan kata yang kau tidak mengerti. Tapi tetap...surat ini membawa banyak harapan. Aku hanya bisa berdoa, jika suatu saat kau menemukan ini, dan ada yang mengartikannya untukmu. Semoga. Semoga.

Aku berada pada jarak ratusan mil dari tempatmu sekarang. Semoga sempitnya dunia bisa membuatmu bertemu dengan ‘sedikit’ harapan dariku.

Aku ragu menulis namamu disini. Karena pasti aku ditertawakan sebagai ‘anak kecil’ yang terjebak dalam angan dan imajinasi. Di sini—ditempatku tumbuh, tidak banyak yang mengerti pentingnya ‘mimpi’. Jadi terkadang aku pun lelah harus menjadi manusia yang dianggap ‘normal’, mengikuti monotonnya hidup. Datar..............................

Tapi kali ini, biarkan aku cantumkan namamu, sejenak melupakan anggapan orang-orang yang memandangku dengan tatapan ‘aneh’ itu.

Selamat berjuang menjalani sandiwara hidupmu, aktor.

Semoga suatu saat kau menemukan cahaya redupku.

Seorang bermata gelap dan dalam...

Yang dalam setiap sandiwaranya selalu memiliki keinginan untuk melindungi orang-orang di sekitarnya dengan sebaik-baiknya.

Yah, dia.

Taylor Daniel Lautner.

...


“...In dreams I meet you in warm conversation. I’ll tell you, you’re the lucky one. And I just wanna know you better now...”

Thursday, 11 July 2013

Manis

Hai, malaikat tanpa sayap...aku merindukanmu.

Hari ini aku terbangun dengan kenyataan pahit yang menamparku. Kamu tahu apa? Ya, aku baru menyadari bahwa rasanya perasaan rinduku ini mulai menguasai hampir seluruh bagian dari akal sehatku.

Ini gila. Aku tidak tahu apalagi yang harus kulakukan untuk meredam rasa rinduku ini. Aku tidak ingin melihatmu. Tidak...bukan itu yang kuinginkan.

Entah apa yang kuinginkan. Aku menginginkanmu. Nanti. Disaat aku bisa memilikimu seutuhnya. Dengan izin-Nya.

Hatiku berbisik, aku ingin kau disini. Disini (menunjuk dadaku yang sesak).

Kau ada di sini tapi akhir-akhir ini aku tidak merasakan kehadiranmu. Bahkan aku sempat berpikir bahwa perasaanku padamu memudar...

Tapi sekali lagi aku salah. Kau masih bagian dari hari-hariku. Kau masih menjadi kenangan yang penting yang berada di depan lembaran fragmen lainnya. Sehingga aku tidak perlu mencari...mencari kenangan tentangmu karena aku bisa langsung menemukannya.

Sesak sekali. Tidak tahu sama sekali apa yang kau rasakan. Disana. Kau hati-hati kan?

Jaga kesehatanmu, malaikat tanpa sayap. Aku tahu kau tidak memiliki sayap untuk menjangkauku disini...tapi aku yakin suatu saat nanti kau akan datang menjemputku dan membawaku ke duniamu. 

Dunia manismu.

Malaikat tanpa sayap, sungguh sebutan yang konyol bagimu. Kau yang ceroboh. Itulah hal yang paling kuingat tentangmu.

Dan pasti, senyum manis konyolmu itu.

Yah, kenangan hanya bisa dikenang. Tidak bisa diulang kembali.

Sudah beberapa waktu yang lalu saat aku melihatmu, manis...

Manis...Aneh jika kau kusebut manis. Kau seperti...kucing. Manis namun menyebalkan.

Disana...kau hati-hati kan? Entah berapa kali kalimat itu menggema dibenakku. Hati-hati. Jaga dirimu.

Jangan ceroboh, manis. Jangan biarkan emosimu menguasaimu. Tetaplah tenang. Jangan lupa membasahi wajahmu dengan air suci dari wudhumu sebanyak lima kali sehari. Jangan lupa menggosok gigimu. Jangan lupa membaca kata-kata indah dari-Nya. Jangan lupa...doamu.

Kau tahu, terkadang aku ingin sekali...mengingatkanmu banyak hal. Semua hal.

Aku juga ingin  mengucapkan “Selamat shalat Jum’at” padamu setiap hari indah itu...hari dimana kau akan menyediakan waktumu untuk mengambil air wudhu dan berangkat ke masjid dengan sarung yang menutupi celanamu. Dengan peci yang terletak di kepalamu. Aku yakin, dibanding hari-hari lainnya kau terlihat lebih...teduh.

Ya, membayangkanmu yang sedang beribadah membuat perasaanku lebih tenang...

Hari  ini. Malam ini. Rasa rinduku kembali membawaku tenggelam ke dalam lautan tulisan yang kubuat untukmu. Aku selalu berandai-andai...apa kau membacanya? Tapi aku yakin walaupun kau membacanya, kau tidak akan mengerti bahwa yang kumaksud adalah dirimu.

Tidak apa-apa. Pada saatnya, kau akan tahu semuanya. Semuanya, manis...

Akhir-akhir ini aku sering merasakan hal yang kau rasakan dulu. Sakit. Sesak. Perasaanmu ketika kau melihatku disana. Berdiri tanpa menoleh ke arahmu. Ternyata...rasanya sakit ya?

Sungguh. Aku kejam. Lebih kejam darimu kini yang sering menghilang dariku. Lebih kejam dari rasa rindu yang kau berikan padaku. Lebih kejam dari semua hal yang kau lakukan untuk membunuh perasaanku.

Aku benar-benar menyiksamu hidup-hidup. Kau tahu? Kau sadar...bahwa kini semuanya seperti berbalik menyerangku.

Seharusnya aku tidak boleh menyalahkan diriku sendiri. Aku harus...berdamai. Tapi aku tidak bisa. 

Berat rasanya memiliki perasaan yang begitu besar untukmu tapi aku tidak memberitahumu semua kenyataan di masa lalu. Semua kenyataan yang pasti akan membuatmu pergi dariku.

Aku tahu ketika kau mengetahui segalanya, kau akan membenciku—lebih dari yang kaukira. Bahkan mendengar namaku saja akan membuatmu ingin memukul dinding.

Tapi aku tidak bisa merasakan hal ini dengan cara seperti ini. Rasanya seperti membohongimu. Aku sudah tidak ingin menyakitimu lagi. Tidak lagi...

Aku rindu padamu.

Kalimat yang selalu ingin kusampaikan padamu. Tapi selalu kuurungkan.

Terkadang aku sering menertawai tingkahku sendiri karena bersikap dingin padamu padahal saat itu aku sedang meredam rasa nyeri di dalam dadaku sendiri. Karena merindukanmu. Sungguh, aku mungkin terlalu bodoh...

Tapi seandainya kita akan bertemu lagi, mungkin ini akan  menjadi cerita yang indah. Aku ingin mengukir senyum di wajahmu sekali lagi. Senyum konyol nan manis itu...

Aku tersenyum sendiri mengingatnya. Kau manis sekali.

Terlalu polos. Terlalu konyol. Terlalu bodoh...karena pernah mencintai seorang gadis sejahat diriku.

Tapi aku beruntung. Kapan aku bisa merasakan dicintai begitu besarnya oleh seseorang semanis dirimu lagi? Kau tidak tergantikan, bodoh.

Jika seandainya untuk memperbaiki hatimu yang rusak itu, mengobati setiap luka di hatimu, mengembalikan senyum manis konyolmu padaku membutuhkan waktu hampir seumur hidupku...akan kulakukan.

Aku ingin berada di sisimu. Tertawa karena candaanmu. Menoleh ke arah pintu menunggu kedatanganmu. Aku ingin menjadi pelapur rasa lelahmu menjalani dunia yang kejam ini. Aku ingin selalu disana (menunjuk dadamu). Dan tidak ada lagi yang bisa membuatku keluar. Walaupun aku mendobrak sekalipun...

Lihat? Entah sampai kapan aku bisa menyimpan itu semua untuk diriku sendiri...Semoga saat kau membaca ini disana, seulas senyum terukir di wajahmu. Semoga doa yang kusampaikan pada-Nya sama dengan doa yang kau sampaikan pada-Nya.

Jadi manis...tidurlah. Yang lelap. Jangan pikirkan keluh kesahmu. Tenanglah...Semoga kau merasa hangat disana.

Semangat, malaikat tanpa sayap.

Semoga rindumu pun membawamu kembali mengingat betapa indahnya perasaan yang Allah berikan untukmu.

Selamat malam....

Salam sesal,


Perindu Rahasiamu

Hai, readers...maafin aku ya karena baru muncul setelah sekian lama. Jangan pada ngilang ya, please...aku butuh kalian nih. Tulisan aku butuh kalian. Kalau ga ada kalian, siapa yang baca? Ya? Maaf juga kemarin-kemarin harkos, netbook sama modemnya rusak :') makanya sekarang aku pun sedang galau karena netbook aku sakit. Can't live without it aaa -_- Aku minta doa yaa semoga netbooknya sembuh dalam waktu dekat. Aku cinta kalian! Sayonara~

Another NB : ini aku buat tanggal 6 Juli 2013 sebenernya, agak telat ngepost maaf ya :)


Monday, 8 July 2013

Sepotong Fragmen

Hai kalian galauers, harkoser, jombloers, korban php! Apa kabar? Masih berjuang? Masih menunggu dan memendam? Hemhemhemm

Pokoknya semangat ajadeh ya kalian, udah lama banget kan aku ga ngepost? Kangen sama tulisan aku tidak nih hohoho aku lagi ga nulis di netbook nih jadi sedikit kesal banyak typo karena auto text nya geje :')

Malam ini aku mau nulis post judulnya mungkin yaa : manis :'> ya pokoknya gitu. Jadiiii brace yourself guys! Ada post galau lagi Hihihi

Semangat semangaaattt kalian gajomblo sendirian kok, ga diharkosin sendirian juga. Pokoknya nanti kalian pasti baik baik Aja ;)

Semoga hari ini aku bisa ngepost ya, babaaay Dan maafin aku baru muncul sekarang :)