.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Monday, 30 September 2013

Distance

Hai, manis. Apa kabar?

Ketika kau membaca ini, aku ingin kau membayangkan diriku sedang bicara denganmu. Dengan wajah yang mengulaskan senyum samar, dan mata yang menolak menatapmu. Aku tertawa kecil seolah-olah aku memang hanya menanyakan kabarmu...tanpa menyembunyikan apa-apa.

Aku tahu kau pasti hanya akan tersenyum lebar—lalu berkata bahwa kau baik-baik saja. Entah menanyakan kabarku atau tidak. Namun jika ya, kau tahu jawabannya. Aku baik.

Kau tahu rasanya memendam dengan jarak sedekat itu, manis? Hanya beberapa langkah. Aku melihatmu disana. Berdiri dan bercanda dengan teman-teman dekatmu. Tawa itu...sudah lama aku tidak mendengarnya. Tawa khas milikmu. Yang dulunya selalu membuatku memalingkan wajah ketika mendengar tawa tersebut—refleks.

Ya, aku pasti mencari sosokmu ketika ku mendengar tawamu. Aku mengenal suaramu dengan baik, walaupun sekarang...yah bahkan aku tidak ingat lagi bagaimana suaramu ketika bicara padaku.

Aku...entahlah. Rasanya upayaku kini mungkin hanya akan menyiksa diriku sendiri. Ya, aku memang konyol. Menyakiti diri sendiri. Mencari tahu—walaupun aku sudah memiliki firasat tersendiri 
tentangmu.

Untunglah. Untunglah kau tidak ada disini. Seandainya kau ada, mana mungkin aku bisa bertahan menahan rasaku untuk melihatmu, kemudian rasa sakit menyesakkan dada yang akan selalu mengikutiku? Tidak, aku takkan sanggup.

Karena walaupun kini kau berada di sana...jauh. Jauh dari pandanganku. Jangkauanku. Kau disana. 

Rasanya masih sakit. Bahkan terkadang menjadi sangat sakit.

Aku lelah. Kuakui. Aku lelah jika aku harus mengekspektasikan hal-hal yang tidak mungkin akan terjadi. 

Aku lelah ketika semua khayalanku tentangmu terputar dalam keadaan apapun. Semuanya. Aku berada di jarak terjauhku darimu. Tapi tebak...kau tetap menggangguku. Kehadiranmu tidak pernah pudar. Kau gila.

Jadi...tidak apa-apa, bukan jika kini yang kulakukan adalah berusaha untuk menghilangkanmu dari duniaku? Ketika kau datang, aku langsung menepismu. Tidak masalah, bukan? Aku yakin itu bukan masalah untukmu.

Kau bukan aku. Itu yang harus kuingat.

Aku bukan dia. Bukan.

Jadi aku berkata pada diriku sendiri, ya...lebih baik aku menjaga jarakku. Sejauh mungkin darimu. Dari jangkauanmu.

Kau melihatku, manis. Kau melihatku.  Tapi, ada yang lain di binar matamu yang bening itu. Ada yang lain ketika kau menarikkan kedua sudut bibirmu itu. Jantungmu...aku yakin ketika kau melihatku, jantungmu akan berdetak cepat—tapi jantungmu sudah berdetak untuk orang lain. Aku yakin.

Rasanya aku ingin kau disini. Biarkan aku bicara. Kau mendengarkan.

Hanya mendengarkan...

Setelah itu, aku akan tersenyum dan berkata lupain aja. Jangan bicara apapun. Kau hanya butuh untuk mendengarkanku.

Jangan bicara apapun. Aku tidak perlu mendengar hal-hal manis dari mulutmu. Walaupun aku mengharapkannya.

Tertawa. Seandainya kita masih bisa menertawakan hal tidak penting lagi. Membicarakan atau bahkan memperdebatkan tentang apa, siapa, bagaimana, dimana, kapan, dan mengapa...

Ah, lagi-lagi sebuah cuplikan tentangmu terputar lagi. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengingat tentangmu. Yah, hanya malam ini saja. Aku merindukanmu.

Dengan semua hal yang terjadi. Tentang kau yang tidak bisa menjelaskan arti dari kehadiranku di hidupmu. Aku bukan sesuatu yang sangat berarti. Tapi aku juga tidak bisa dibilang tidak berarti. Ya kan? 

Bahkan aku mengetahuinya tanpa melihat lirikan matamu.

Lirikan itu...

Bahkan saat itu aku tidak tahu apa yang kau lihat. Namun ya, tatapan itu memang berbeda. 

Dalam...sampai-sampai rasanya aku ingin tenggelam dalam lautan hitam di matamu yang jernih itu.

And I will make sure, to keep my distance. Say, “I love you” when you’re not listening.

Aku tidak mau menghancurkan kebahagiaanmu sekarang. Perasaanku memang besar, tapi aku tidak seperti perindumu yang lain, manis.

Disaat kau mendekat...aku pasti berjalan menjauh darimu.

Ketika kau jauh...aku mendekat, tapi pasti...aku akan berjalan lebih jauh lagi darimu.

Ketika mereka memintamu untuk melihat mereka. Aku akan memintamu untuk tidak melihatku.

Ketika mereka bertanya kau sedang apa. Aku hanya akan berandai-andai, berceloteh dengan lancarnya...di dekatNya.

Ketika mereka dapat melihatmu dengan mudah. Aku hanya akan...membayangkan. Pelan...namun pasti.

Ketika mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatianmu, aku hanya akan berjalan menjauhi kerumunan itu. Berjalan memutar mencari cara lain jika seandainya kau mengambil belokan yang sama.

Bahagia untukku, manis...

And I keep waiting, for you to take me.

You keep waiting, to save what we have.

Ah ya, satu lagi...


In my life, I love you more...


Halo readers kesayangan aku. Apa kabar hari ini? Udah makan? Jangan galau aja hey hehe. Hari ini pas banget hari senin, jadi intinya aku tuh ngepost tiap hari senin readers. Makasih banyak kalian yang udah setia baca tiap post galau yang gapenting alias curhat. Hah? Kagak deng ini ga curhat, kalau mau liat yang curhat tuh ada di tahun 2012 post awal aku tuh akaka curhat banget-_- Sekarang post nya sudah agak bermutu nih. Hehe pokoknya aku seneng punya kalian yang stand by me para sesama galauers. Semangat terus, aku disini bersama kalian. :) Kamu juga. Manis... Bahagia.

Sunday, 22 September 2013

Bayanganmu, manis.

Maaf, karena aku ga bisa bikin kamu bahagia. Maaf aku gagal.

Aku menarik napas panjang. Tidak langsung menghembuskannya. Sakit. Kutahan sebentar, sebelum akhirnya napasku itu terhembus seiring dengan berkurangnya rasa sesak yang kupendam.

Kalimat itu lagi. Ya. Kalimat yang sudah lama tidak menghantuiku. Setelah sekian lama. Hah, sudah berapa lama sejak terakhir ia mengucapkan hal itu? Setahun? Dua tahun? Baiklah, aku mulai gila.

Sekiranya...sudah lama aku tidak berlarut dengan rasa sakitku lagi. Hahaha, kali ini mengapa kau muncul, manis?

Aku menulis ini ketika kurasa bayang-bayangmu mulai mengikutiku lagi. Bayangan manis itu. Bayangan yang selalu bisa membuatku tersenyum secara instan. Dan ya, bayangan yang bahkan bisa membuatku menepis perasaan-perasaan aneh.

Bayangan yang pernah mengisi hidup...ku. Bukan. Kita.

Aku menulis ini, ketika tidak sengaja aku mendengar sebuah lagu yang seharusnya tidak kudengar lagi. 

Bagaimana tidak, walaupun aku tidak benar-benar mengerti esensi dari lagu itu, tapi intro-nya saja sudah membuatku seperti jatuh dari gedung berlantai sepuluh.

Yah, tidak juga. Itu versi berlebihan. Aku baik-baik saja. Tidak mungkin gadis sepertiku terlarut dalam kesedihan hanya karena mendengar sebuah lagu. Konyol.

Aku menulis ini ketika aku berusaha untuk tahu hal yang seharusnya aku tidak tahu. Misalnya hal-hal yang berbau keberadaanmu.

Buruk. Rasanya buruk.

'Cause even when I dream of you
The sweetest dream would never do
I'd still miss you, baby
And I don't wanna miss a thing

Ah, menyebalkan. Bahkan aku tidak pernah bermimpi tentangmu. Tidak. Aku pernah. Namun selalu, kau tahu...aku selalu takut jika tiba-tiba aku bermimpi tentangmu.

Pertama, karena setiap kau berkunjung ke dalam mimpiku, kau selalu pergi.

Kedua, karena kau memang sudah pergi.

Aku tertawa dalam hati. Bahkan kekonyolon ini masih terdengar tragis. Padahal sepertinya itu tidak terasa terlalu menyedihkan.

Ya ampun, hentikan ini. Aku sedang menghibur diriku sendiri.

Seseorang bertanya padaku, “Mengapa kau biarkan ia pergi jika nyatanya ia adalah seseorang yang berharga untukmu?”

Aku langsung tertawa, ya. Refleksku memang hebat. Patut diacungi jempol. Lalu kujawab, “Karena jika tidak, ia akan tersiksa.”

Apa kau mengerti, manis? Aku sudah tahu semuanya. Karena itu aku bicara konyol padamu. Berusaha untuk melepasmu. Kau pasti sudah merasa bahwa aku memang masih memiliki rasa itu padamu. Tapi kau berusaha menghindarinya. Aku juga. Sebenarnya aku juga tidak ingin memiliki perasaan lebih padamu.

Apalagi setelah semua yang terjadi diantara kita.

Aku memendamnya, serapat yang kubisa. Tapi perasaan itu benar-benar tidak bisa diajak kompromi. 

Seperti sekarang misalnya. Sudah kubilang aku tidak menyukaimu, ia selalu mengajakku berkelahi. 

Sudah kubilang kau bukan apa-apa, ia tetap melawanku. Hasilnya...yah, tetap...aku tidak mau.

Yang jadi masalah, manis. Rasanya aku seperti mencintai bayanganmu. Melihat pun tidak. Menyentuh pun tidak. Apa ini bisa disebut cinta? Tidak. Kurasa tidak. Kuharap tidak.

Oh ya, kau tahu aku sangat menyukai Taylor Swift, kan? Pernah dengar lagu yang berjudul “I almost do” ?

Aku yakin, kau tidak mendengarnya. Kau bukan aku, kau tidak bisa mempelajari diriku layaknya caraku mengenalmu.

I bet this time of night you're still up.
I bet you're tired from a long hard week.
I bet you're sitting in your chair by the window looking out at the city.
And I bet sometimes you wonder about me.

And I just wanna tell you
It takes everything in me not to call you.
And I wish I could run to you.
And I hope you know that every time I don't
I almost do,
I almost do.

Setidaknya...begitulah keadaanku beberapa saat lalu. Ketika kau tiba-tiba menghilang, lalu muncul dengan seenaknya tanpa memikirkan bagaimana perasaanku.

Satu kata untukmu, MENYEBALKAN.

Lalu menghilang lagi. Karena itu aku malas membalas setiap pesanmu. Sapaanmu. Kau bukan angin malam yang kukenal. Kau bukan laki-laki yang kukenal. Kau orang asing. Aku tidak mengenalmu.

Sejak dulu, kau menghantuiku dengan cara yang sama. Kau menakutiku dengan cara yang sama.

Ya, kau tahu sendiri bagaimana kan? Bagaimana caramu membuatku ketakutan setiap hari. Membuatku takut kau akan menghilang. Aku kehilangan dirimu.

Aku mengenalmu, manis. Sudah kubilang sejauh apapun kau berada, aku selalu mengenalmu. Sedrastis apapun perubahanmu, aku selalu bisa mengenalimu.

I can’t say hello to you, and risk another goodbye.

Itulah jawaban mengapa aku melarang diriku untuk bertemu denganmu. Untuk bicara denganmu. Untuk mengingat tentangmu.

Beberapa pesan memang harus dihapus. Katakan padaku, apakah setidaknya kau pernah memikirkanku? 

Aku sudah tahu jawabannya, jangan dijawab.

Mereka tidak tahu, kau tenang saja. Mereka tidak tahu.

Aku tidak akan membiarkan mereka tahu. Tentang kita. Tentangku. Tentangmu.

Tidak ada yang tahu.

Bahkan dirimu sendiri.

Konyol, apa yang kulakukan? Apa yang kutunggu? Apa yang kuharapkan darimu?

Kuharap kau bahagia. Denganku.

Aku merindukanmu tapi aku tidak mau bertemu denganmu. Aku sering berkata pada-Nya aku merindukanmu tapi kemudian aku langsung meralatnya. Aku sering tidak sengaja mengucapkan namamu namun kemudian aku langsung berkata tidak, tidak boleh. Sebaiknya aku jatuh cinta pada orang yang tepat. Sungguh, untuk kali ini bahkan aku tidak bisa percaya perihal manisnya mengais-ngais perasaan. Itu...terasa aneh dipikiranku.

Kau tahu manis...rasanya aneh. Terkadang aku berpikir...seharusnya aku menikmati masa-masa ini. SMA. Jatuh cinta dengan siapa saja, lalu patah hati, dan akhirnya jatuh cinta lagi. Tapi...kenapa kau masih mengikutiku?

Mengapa hatiku masih terjaga sepenuhnya untukmu? Konyol? Ya, ini konyol. Padahal kau sama sekali tidak memikirkan sedikitpun tentangku. Sudah, sudah ada penggantiku disana. Biarkan saja, aku tidak 
peduli. Bukan urusanku.

Baiklah, hentikan. Aku tidak boleh berlarut dalam kesedihan yang tidak berujung. Tidak jelas. Seabstrak keberadaanmu.


Bahagia untukku, manis.

Sunday, 15 September 2013

Selamat tinggal, manis

“And I’m wonderin’ what you’re dreamin’. Wonderin’ if it’s me you’re seeing.”

Aku menghela napas panjang. Hembusannya menimbulkan sekilas asap putih yang hanya bertahan dua detik. Mengingat betapa dinginnya cuaca hari ini.

Kini aku hanya sedang berdiri memandangi kendaraan yang berlalu-lalang di jalan. Terkadang merapatkan jaket yang kupakai lalu melipat tanganku ke dada. Entah apa yang kupikirkan. Langit yang sudah gelap hanya mendukung apa yang kurasakan saat ini.

Sepi.

Kemudian separas wajah muncul di benakku. Cepat-cepat aku memejamkan mata lalu menggeleng-gelengkan kepala. Menepisnya pergi.

Ya. Aku sudah memutuskannya.

Jangan lagi bermain-main dengan masa lalu.

~

Aku tidak merasakan apa-apa.

Wajar, bukan?

Aku memindah-mindahkan lagu di playlist laptopku. Tidak. Tidak. Aku tidak ingin mendengar lagu ini. 

Baiklah, bagaimana bisa lagu yang bernuansa sedih membuatku bosan? Terlebih lagi, aku tidak bisa membayangkan kisah sedih untuk menjadi bekal dalam tulisanku.

Ini bencana.

Aku harus. Harus. Mencari sesuatu untuk ditulis. Aku tidak merasakan apa-apa. Ini masalah utamanya.

Apa jangan-jangan...kali ini aku benar-benar sudah melupakannya?

Benarkah? Benarkah aku melupakanmu, manis?

Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Kusadari memang akhir-akhir ini aku memutuskan untuk menyudahi semuanya. Menyudahi semua yang kumulai. Padahal aku tidak tahu garis akhirnya dimana. Aku hanya lelah. Terkadang, walaupun aku tidak ingin melupakannya. Aku harus melakukannya.

Sebenarnya hal ini tidak terjadi semudah itu. Aku yang memutuskannya. Memang. Namun, tidak kukira hal itu akan terjadi secepat ini.

Ia bahagia disana, kan? Aku tahu ia sedang menikmati kehidupannya disana.

Dunia manis yang baru, dimana tidak ada aku di dalamnya.

~

Manis. Kuakui, aku tidak terlalu suka makanan manis. Kecuali : Pertama, coklat. Kedua, cheese cake. 
Ketiga, permen kenyal.

Tapi entah mengapa aku lebih suka memanggilnya manis dibandingkan menyebut namanya. Walaupun yah, namanya memang selalu muncul setiap hari. Setiap hari.

Aku terdiam sejenak. Menghela napas panjang. Lalu berjalan menuju cermin. Melihat bayanganku sendiri.

Apa aku pantas?

~

Hai manis, apa kabarmu? Sudah lama kita tidak bicara lagi. Entah apa yang kau pikirkan sekarang.

Atau apa yang kau lakukan sekarang. Entahlah, aku tidak tahu. Aku juga ingin berkata bahwa aku tidak peduli tapi sayang sekali, tampaknya hal itu tidak terwujud.

Aku memejamkan mata sejenak. Mencoba merasakan momen-momen berharga yang seharusnya telah kuhapus... Tidak. Aku mengingat semuanya terlalu jelas.

Baiklah, mulai...ini bertele-tele. Sungguh kata pengantar yang tidak perlu. Aku disini bermaksud untuk menulis hal yang seharusnya menjadi sumbermu mencari tahu apa yang kurasakan. Apa yang kuperjuangkan. Apa yang menjadi alasanku untuk bertahan sekaligus menyerah.

Setidaknya aku tidak meninggalkanmu dengan tanda tanya.

Baiklah, sebenarnya aku bertanya-tanya. Kenapa. Kenapa. Kenapa.

Mengapa kau tidak membenciku jadi aku bisa belajar melupakanmu, manis?

Yah, pertanyaan bodoh. Memang.

Ah, aku tidak mengerti dengan apa yang kutulis. Semuanya...aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. 

Sebenarnya aku hanya ingin diam.

Aku tahu, itu bukan aku. Sama sekali bukan. Mungkin itu yang menjadi alasan kenapa aku bisa memutuskan untuk menyudahi memikirkanmu.

Yang kau maksud bukan aku. Aku tahu, tanpa kau perlu menjelaskan semuanya. Jadi sebaiknya aku berhenti.

Berhenti sebelum kau benar-benar melukaiku.

Aku bukan gadis tercantik yang pernah kau temui. Sama sekali bukan. Aku? Aku bukan primadonamu lagi. Aku bukan lagi gadis yang kau ucap namanya setiap saat kau berdoa. Aku bukan lagi gadis yang kau cintai dalam diammu.

Tanpa kau mengatakannya, aku tahu.

Aku memperhatikanmu, manis. Sejauh apapun jarak memisahkanku denganmu, aku selalu mengenalmu. 

Aku tahu ketika kau resah, ketika kau marah, bahkan jatuh cinta sekalipun.

Aku mengenalmu.

...

Jadi akhirnya aku memilih untuk menjauhimu. Bermaksud untuk meninggalkanmu tapi...aku tidak ingin membencimu.

Dan pada akhirnya aku tidak jadi menghilang darimu.

Kau tahu aku selalu dingin setiap bicara denganmu. Alasan mengapa sikapku dingin bisa didasari karena aku malas bicara atau malah aku sedang membatasi apa yang kurasakan.

Selama ini aku bersikap dingin padamu untuk alasan yang kedua. Menjaga jarak agar tidak terlalu banyak goresan yang kau berikan padaku. Agar tidak menimbulkan banyak luka.

Kali ini aku harus berhenti berpikir seperti itu.

Aku ingin bersikap normal padamu. Aku akan bicara panjang lebar walaupun kau hanya menanggapinya dengan kalimat pendek.

Agar aku terbiasa dan seiring berjalannya waktu aku akan mengganggapmu hanya sebagai teman.

Jika kau mengenalku, aku yakin kau menyadari perubahannya.

Walaupun setiap saat aku harus berdoa agar kuat ketika aku berceloteh panjang dan kau hanya menanggapinya seolah-olah tidak peduli. Bukan sakit karena tanggapanmu. Aku pernah menghadapi yang lebih buruk. Yang kau lakukan bukan apa-apa.

Aku hanya merasa...bahwa aku tidak mengenalmu lagi. Terkadang.

Yah setidaknya aku berusaha.

Ah, aku benar-benar tidak mengerti. Jika memang selamat tinggal adalah kata terbaik, mengapa aku masih berharap...bahwa dugaanku salah?

And I just wanna tell you, it takes everything in me not to call you. And I wish I could run to you, and I hope you know that everytime I don’t... I almost do. – (I Almost Do) Taylor Swift

Listen to it, and you’ll understand why.

Hai readers setia aku atau yang baru visit kesini. Selamat datang :3 ehe maaf aku baru ngepost hal galau lagi nih, semoga kalian suka ya. Udah ada sambungannya kok 2 cuplikan galau tentang manis. Tapi judulnya bukan manis lagi hehehe. Maaf baru ngepost sekarang. Semoga kalian gabosen nungguin tulisan baru aku ya, aku sayang kalian pokoknya makasih banyak udah setia nungguin aku ngepost cuplikan galau lagi hehe. Oh iya, berhubung ini judulnya udah selamat tinggal  mungkin aku ga bakal ngepost edisi manis lagi. Ahaha engga deng canda, hilangnya manis itu seiring sama hilangnya perasaan itu kok readers tenang aja. Doain aja aku bisa nyempetin waktu buat bersemedi biar tulisan galaunya makin 'ngena' hehe. Makasih banyak ya pokoknya aku sayang pembaca aku. Semangat harkoser, jombloers, korban harkos dan php! Aku masih disini menemani lara-lara kalian :)

Saturday, 7 September 2013

Eca, My Bunny :3

Halo readers, ini SEPTEMBER loh ehehehehehehe.

"Emang ada apa fin di september?"

BANYAK. BANYAK LOH TEMAN :*

Spesialnya buat eca my best bestfriend pokoknya my beloved bunny aw :*

Happy birthday, sahabat kelinci imut imut balon akuuuu :* Love you with all my heart deh pokoknya.

Eca, Hayu Lesya Putri. Aku kenal dia di kelas 8, sampai sekaraaaang kelas 2 SMA :) Walaupun beda sekolah kita tetap dekat, ketemu cuma 6 bulan sekali mungkiiin tapi tetep dimana pun kapanpun aku ngerasain keberadaan dia. Hihi, emang aku sayang sama ecawbun bunny bunny :3

DIA ITU SAKSI AKU WAKTU AKU CANTIK. WAKTU RAMBUT AKU PONINYA KEPENDEKAN. WAKTU AKU STUCK 2 TAHUN. WAKTU AKU NGECENG ORANG SAMPE NULIS SURAT. WAKTU AKU ADA DI TITIK KEJATUHAN AKU. WAKTU AKU JAUH SAMA DIA. WAKTU AKU SUKA FINLAN DAN SEKARANG MALAH FINLAN JADI SAHABAT TERBAIK AKU. WAKTU AKU NANGIS NANGIS NGELIAT SI KAMPRET PUNYA PACAR BARU. WAKTU AKU GABISA MOVE ON. WAKTU AKU NGECENG TAYLOR LAUTNER. POKOKNYA DIA TAU KEJELEKAN AKU HIHI.

Semoga bahagia eca, selamat milaaaaaaaad :* Maaf aku gabisa kasih surprise ke rumahmu atau beliin kado. Maaf aku gadisana eca bunny. Aku tau ini tuh geje dan mungkin kamu ngerasa 'apa banget' ini hihi tapi aku nulis pake seluruh hati jiwa dan raga kok :*

SEMOGA ECA KETEMU CHANNING TATUM YA. AKU KETEMU TAYLOR LAUTNER.

Selamat milad, sukses pokoknya sukses. Kita sukses bersama nanti kita ketemu lagi kok pasti hihi. Semoga selalu berada di dekapan Allah ya caw. Jadi akhwat yang sebaik-baiknya :)

KITA KETEMU LAGI NANTI DI SURGANYA ALLAH. AAMIIN.









Tadinya aku mau so sweet ngucapin jam 23:59 tapi takut ketiduran hihihihi. Sekarang aja yaaa cawbuun. Semoga kita selalu bersahabat. Sampai ibu-ibu owkaay :*





Sunday, 1 September 2013

Mata. Hidung. Dan Check in.

Hello guys, I think it’s been a month since my last post, right? ._. Sorry, actually I opened this blog but I don’t know what will I write. So, that’s it...I didn’t post anything. Hehe.

But today, I come with a few stories. You know, sometimes I feel like I annoy you most. Do I? ._. Okay, forget it I don’t know what I’m talking about.

Now, the topic’s gonna be................................me.


Huehehehehehe, kalau layfon senpai ngepoin aku sampai segininya aku udah kelepek-kelepek kali. 

Inituh saking gaada topiknya mau bahas apa jadi kaya gini. Iyuh. Iyuh sekali.

Ohiya, aku liatin playlist hari ini yap.


Jadi hari ini sebelum jam 10 aku denger lagu-lagu Taylor Swift dulu biar moodnya bagus. Hoho, katanya kalau jam 8-10 ngedengerin lagu kesukaan, itu bakal bikin mood kita bagus. Dan memang terbukti. #info

And we were dancin’ dancin’......

Lalala ceritanya lagi denger lagu starlight – Taylor Swift

~

Skip.


Aku sering dibilang anak cina. Orang pontianak.

Lohlohloh, segini BAPAK ORANG JAWA dan IBU ORANG SUMATRA. Nyasar ke Pontianak ya? 

Hohoho, soalnya itu....mata sigue kan kecil masbero. Jadi sering dibilang anak cina.


Ini mata normal si eyke. Unyu kan?

Ketika mata aku sedang melihat hal dengan biasa. Ukurannya segini. Bagus ya bagus banget, gatau aku suka mata akusih abisnya imut matanya kecil tapi gasipit gimana gitu :> Dan inituh daya tarik (meren) engga deng biasa aja ekeke.


Selanjutnya ini kalau aku senyum. Kan sigue tuh tembem, jadi kalau senyum pipinya naik ke atas abis itu ngedorong matanya deh jadi menyempit gitu. Kalau gini kadang suka dibilang mata aku otw ilang. HEHE.


Nah ini kalau agak diperbesar matanya. Caranya adalah aku mingkem, terus jadinya mukanya ketarik gitu kan, ke atas dan kebawah otomatis mata aku jadi gede :’’’3



Ini kalau lagi memicingkan mata. Ih, lucu yaaaaaa. Imut banget mata aku tuh aaa cinta deh sama sepasang mata punya aku.


Sebenernya yang ini sih sama aja sama yang diatas. Cuma agak dikecilin lagi. Jadinya gitu. Tuhkan, imut matanya. Aku ngeceng mata aku sendiri kadang-kadang.

Aku berekspresi seperti itu ketika....hem....ngapain ya ohiya kalau nanggepin hal yang aneh biasanya aku kaya gini sambil mulut menganga lebar gitu dan hidungnya kembang kempis. JANGAN DIBAYANGIN. JELEK.


Engga, ini sih muka kalau lagi mikir :)

HOEK

~

Serius ah sekarang, mau bahas apaan nih? PLIS JANGAN MINTA FOTO HIDUNG AKU PLIS.

-___________-

“Fin emang hidung kamu kenapa?”

Hidung aku tuh keramat. Tau ga keramat? Hidung punya aku tuh langka readers. Jadi gabisa dipublikasikan karena termasuk HIDUNG LANGKA. Gapesek kok engga. Mancung kaya punya Taylor Lautner.

OHIYA KATANYA HIDUNG AKU MIRIP HIDUNGNYA KANG TAYLOR LAUTNER.


Nih, suami aku. Ah ganteng banget ih beneran aku masukkin fotonya aja pengen nangis ini. Liat, kita punya kemiripan...di hidung. Kurang lebih hidung aku kaya punya Kang Taylor :>

Mungkin aku jodoh sama dia kaliya, makanya sampai sekarang aku masih ngeceng dia. Udah berapa tahun coba? udah 6 tahun aku ngeceng dia! Bayangkan itu bayangkan!


Liat, matanya kan kecil kaya aku. Hidungnya kaya aku. Kita mirip kan? Kita jodoh kan? :--)

. . .

AAMIIN-IN GITU KEK SUSAH AMAT.

(efek ga galau selama seminggu jadi gini)

Kalian...aku mau bilang nih ya...aku udah gajadi manusia galau lagi. KEREN GA? Iya, aku udah lama ga membiarkan diri aku terlarut dalam kegalauan. Asik loh hehe :>

Makanya itu sebab kenapa aku gangepost-ngepost juga. Aku gatau mau nulis apa, maafin aku ya hehehehehe

Tapi tenang aja, aku cinta bakat galau aku kok. Nanti pasti ada cuplikan galau dari sang master lagi :--)

Eh eh mau denger mimpi aku semalem ga? Nihya, masa tadi malem aku mimpiin parodinya Taylor Lautner sama Robert Pattinson coba.

FIN NGAREP FIN DIDATENGIN DUA BINTANG TWILIGHT

iyuh ih jahat banget :---( aku emang gapernah mimpiin Kang Lautner sih mau segimana aku ngekhayal sebelum bobo juga-_- Kalian tega ya :(:(

BIARIN DA KAMUMAH SUCH A DREAMDAY GIRL

Parah ih jahat banget:--( biarin atuh, kalian juga kemarin sosoan nonton this is us yang 3D kan biar bisa megang Zayn Malik sama Liam Payne nya kan? :(

. . .

Jadi semalem aku mimpi aku caw sama mama ke Mc Donald’s (ga elit banget ya di McD :( )

Terus disana tuh ada temen aku, Pipit sama Lalita. Aku liat dari mobil aja kan ya.

Waktu mau turun, tiba-tiba si Lautner dateng sama mama papa adenya. DAN AKU GAJADI TURUN. SILLY BANGET YA ALLAH TOLONG.

Udah gitu, ceritanya aku buka Path gitu kan sosoan mau check in. Eh pas mau check in aku liat si Pattinson check in juga di McD. Di tempat yang sama. Dan tebak....AKU GAJADI CHECK IN DONG KENAPA COBA IH MIT AMIT :(

Intinya aku gajadi masuk gajadi check in dan stay in the car tauga. Anehnya adalah, si mama ga marah aku gaturun lah, malah woles aja. Padahal biasanya kalau aku gamau turun kaya gitu pasti aku udah dimarahin :)))))))))))))))


Mukanya masih tersenyum dengan imutnya gitudeh.

-__-

Aku jadi mikir, mama aku tuh cantik banget lah. Lebih cantik mama aku dibanding aku. Padahal ya mama aku itu lebih tua kenapa masih cantikkan mama aku ya? :---(


*langsung mojok di papan deket laut*

*nyebur*

*seketika berubah jadi mermaid tapi pake kerudung*

-_________- apa atuh fin APAA?!

EH KALIAN KEPOIN AKU DONG DI ASK.FM : fineayuputrii

Biar sekali-kali gitu aku ditanya-tanya, eksis sedikit lah gacuma mantan-mantan aku yang eksis.

Aku menghela nafas panjang. Seketika yang terdengar hanyalah deburan ombak yang bernyanyi menungguku untuk tenggelam bersamanya. Dan kicauan burung yang membuatku betah ingin segera terlelap bersama merdunya kenangan masa lalu yang memanggil-manggilku.

Tidak. Aku tidak boleh tertarik lagi dengan rayuan manis itu.

. . .

#eaaa


Setidaknya itu membuktikan bahwa ini memang penulis asli kalian. Penulis galau kalian. Penulis yang mengetikkan kata demi kata seiring dengan berlalunya lara kalian.

#eaaa


Eh ngomong-ngomong aku lagi ngidam sate padang nih. Udah lama dan aku pengen banget tapi sayang aku males turun kebawah soalnya mobilnya gaada.

Aku juga pengen yupi yang banyak.

Terus cadburry blackforest. Kapan terakhir aku makan coklat itu coba?

Yah, aku juga kangen..............................kamu.

#eaaa


Baby don’t you break my heart slowly.