.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Friday, 25 October 2013

Sebinar Senja di Matamu


Jika ada yang bertanya, apa aku suka senja?
Jawabannya, tidak. Tidak juga.
Tapi aku suka sore hari.
Ketika aku harus pulang di sore hari, naik motor (baca : ojeg). Ditemani merdunya suara deru mesin-mesin berjalan dan sejuknya angin sepoi-sepoi. Yah, indah.

Aku sering, ketika sedang menunggu sang mesin mengantarku ke rumah, menengadahkan wajah lalu melihat awan hari ini. Terkadang gelap, seperti ingin menangis. Tapi sering juga, awannya terlihat indah. Tersenyum, dengan cara yang tidak kupahami.

Jika sang nebula elang sedang berbaik hati. Melintasi indahnya cakrawala yang menembus jiwa. Sungguh, angin sejuk itulah yang meniupkan semua beban di pundak.

Hari ini, ada yang aneh.

Rasanya...sudah lama aku tidak merasakan ribuan kupu-kupu yang berterbangan di punggungku. Tapi hari ini, rupanya Tuhan memberiku kejutan lain.

Aku sering melihatnya. Terlalu sering.

Mungkin itu yang membuatku tidak dapat menangkap jelas, pesonanya yang terlalu...aneh. Aneh? Bukan, yah...semacam.

Pesona yang membuat banyak insan termangu. Mengadu padaku bahwa dia hari ini terlihat menawan. Misalnya hari ini.

Aku sedang berdiri--memegang tas berwarna oranye yang berisi binder berwarna pink sibuk memperhatikan manusia-manusia melaksanakan aktivitasnya memperbaiki sebagian kecil dunia. Dan seperti biasa, ia muncul.

Si dia yang membuat hidupku sedikit lebih ramai. Yah, aduan para insan itu terlalu sering sehingga hampir membuatku kesal.

Ia menyapa temanku, mengobrol. Ah ya... aku lebih sering diam ketika ia bicara dengan temanku. Habis, mungkin karena karakterku yang terlalu...perasa. Peka. Sensitif. Aku sering merasa tidak dianggap. Memang. Aku tidak terlihat.

Lengkungan di wajahku hanya menempel begitu saja. Walaupun sebenarnya lengkungan itu tidak terbentuk di hati. Ah aku sendiri geli mengetiknya.

Dan akhirnya, ia menoleh padaku. Kita sebut saja ia Tuan Cabai. Jangan tanya kenapa, aku pun bingung harus menyebutnya apa. Dan karena yang terpikirkan olehku sekarang adalah cabai, maka aku akan menyebut si dia tuan cabai.

Ya, Tuan Cabai menoleh ke arahku. Seperti biasa, dengan senyuman khas seperti hamsternya. Dan aku meresponnya dengan biasa. Maksudku, seperti biasa. Khas dengan senyuman kelinci milikku. Baiklah, ini sedikit konyol.

Si Tuan Cabai mengatakan sesuatu padaku, aku tersenyum lalu menanggapi perkataannya. Sesekali aku tertawa, dia juga. Tidak ada yang aneh. Sungguh rutinitas yang biasa.

Kami sedang membiacarakan suatu tanah. Ia bertanya tentang tetes air, aku hanya tertawa.
"Apaan? Ih jangan tanya aku, aku gatau."

Tuan Cabai juga tertawa. Dengan mengatupkan gigi, tertawa yang disembunyikan. Ia memang seperti hamster.

Aku yakin, sekarang ada banyak mata yang mengarah padaku. Aku menghela napas panjang. Tingkat kecemburuan bisa membuat keseganan sosial. Dasar, remaja.

Ini...bahasa yang aneh. Aku juga remaja. Atau anak kecil? Mereka sering menganggapku anak kecil. Mungkin karena itulah terkadang pendapatku tidak diindahkan.

Baiklah, aku melantur. Entahlah sebenarnya tidak. Hari ini aku sedang kesal. Tidak baik. Atau bahasa lainnya, aku sedang galak.

Ini karena mimpi semalam. Ah, mimpi menyebalkan yang maish teringat sampai hari ini. Sukses membuat mood ku hancur. Bahkan saat aku tertawa dengan si tuan cabai, aku masih kesal. Panas. Tapi sekali lagi, hari ini aneh.

Aku sudah sering melihatnya. Mengobrol dengannya. Tertawa, bahkan ya...intinya aku sudah sering menghabiskan waktu dengannya.

Hari ini, pertama kalinya aku melihat pesona si Tuan Cabai yang ramai dibicarakan itu. Ya ampun, bisa-bisa aku tidak waras. Mengapa aku baru menyaadarinya sekarang? Tidak heran banyak yang kesal padaku karena aku tidak sadar sama sekali.

Jadi, saat aku sedang kesal...si tuan cabai melontarkan pernyataan-pernyataan aneh padaku. Aku tertawa, pasti.

Tawa kali ini memang sepenuhnya dari hati. Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Atau hal apa yang menimpaku, namun kini rasanya bersamanya aku bisa merasa lebih tenang.

Celaka.

Aku mengutuk diri sendiri. Tidak. Jangan sampai. Jangan sampai aku memikirkan hal aneh tentangnya. Bisa-bisa ada yang membunuhku. Atau akan terjadi kudeta hati ala vicky.

"Hei." Suara si tuan cabai membangunkanku dari lamunan gila. Tentangnya. Aku menoleh ke arahnya seraya menyahut dengan cuek, "Hm?"

Dan...perlahan senyum si tuan cabai mengembang. Yah, ia sering tersenyum padaku seperti itu. Tapi hari ini, aku baru menyadari bahwa memang senyuman si tuan cabai agak lucu. Baiklah, manis...maksudku.

Aku sedikit tersipu, lalu menundukkan wajah. Hanya sebentar sebelum kembali normal lagi. Kulihat, kini si tuan cabai sedang menerawang ke langit.

Kala itu, masih siang. Agak mendung. Langit masih tersenyum menutupi kesedihannya.

Saat itu juga, aku melihat kedua mata si Tuan Cabai.

Rasanya...hangat. Aku jadi merasa bahwa sekarang sudah sore hari.

Saat kesukaanku.

Dan saat itu juga, buru-buru kuganti panggilanku padanya.

Si Tuan Senja.
Binar matanya menyiratkan rasa yang tidak kupahami.
Rasa seperti senja.

Untuk pertama kalinya, aku kembali menyukai dunia.
Hai, tuan senja. Semoga rasa ini tidak tumbuh besar.

Ohiya...
Selamat senja.