.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Thursday, 31 July 2014

If I Were Palestinian

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

Dear everyone who read this 16th-year-old girl’s letter.
I hope you’ll open your own eyes and mind. Because, something’s wrong in this our ‘peace’ world. Invasion.  Genocide. Racism. Blind government. Blind world.
Or maybe, we’re the one who were blind.
A blinding flash of white light. Everyone include us will close our eyes whenever that flash come through our face, and not even a second that light will fade as we open those eyes again. But, for this people. That blind flash light never gone. Let’s try to keep in mind that the people I mention now is us. How could it be like? Can we face it? Can we hold the pain?
Close your eyes. Everyone out there, teens like us, the elder, child, adult, young adult, even baby and toddlers try to hold their tears and keep telling themselves everything will be fine. Bombs are everywhere. Sound of explosions and orange burn light colored their windows and houses. What? You don’t get it? Then just imagine that around your house, everything you see is burn building, burn houses and plants, burn…burn…burn.
Palestine. The promised land. It’s located hundred miles away from where I belong now. But, however…I can hear their sound screaming while the explosions’ sound were heard. I can feel their sadness to see their lovers and children were killed by the missiles and guns out there. The broken hearted faces can tell you how their feeling right there. I still don’t get it why do everyone close their eyes and try to hide the truth of Gaza’s under attack? Why do everyone who have the powers to change that thing, just pretend they see nothing?
“Gaza? Yeah, I know.” And they left.
“Really? They attacking them again? Oh, well.” And they left.
The most pathetic people I’ve ever met is they who don’t care about anything at all. Especially when people around the world are screamin’ or even shouting the right for the humanity problem. Are they blind? Are the people in this world blind? If I asked them, their answer is no. So why can’t you see them crying even the sadness are there in front of you?
Peacemaker. Hah. Such a bullshit out from that powered mouths. Why do the peacemaker just being a statue whenever we asked about that Gaza’s problem? Whenever we asked for solution in that problem? Why do they pretend like they’re innocent? From my point of view, the people who closed their eyes are the worst. They’re the real evil, after the attacker of course.
They kill women and child. Child. Haha, are they have any problem with that attacker so they lock their missiles into them? They’re kids! Ya Allah, they even not standing in this world for a long time yet. Why…they’re insane. They put their brain in that stupid gun. That’s’ why.
I can’t sleep thinking about the people in Gaza who fight for this whole time. I can’t sleep when I knew that they can’t sleep well because of that explosions and screams. I can’t sleep thinking about who’ll be killed, who’ll be injured, who’ll lose their family and friends. I can’t sleep because I wonder if that evil thing happen to me. I’m not strong enough as the child and toddlers out there.
It’s like counting your days of life. How many days left until it’s your time to go and face Allah the greatest.  How many times left to see your family’s smiles. How many times left to count your happiness because you’re safe today. I can’t imagine to live that way. I really do.
The only thing that keep waving on my mind is this statement. If I were Palestinian.
I wouldn’t write this letter, maybe. I might be in the hospital or waiting in the line to see the end of my life. I’d see my-dead-friends body everywhere. I couldn’t hear any good music anymore. Even, playing on that burn woods will make me happy.
That’ll be a rough life. I know.
The feeling of being nothing when I know that my brothers and sisters in Gaza are being attacked, it always haunts me. I can’t stop holding my tears every time I hear Michael Heart – We Will Not Go Down song. Don’t know…I was so sad because I do nothing for them. I can’t send that child good clothes for the Eid yesterday. I hold my tears when I saw a little girl and boy smiling wearing their new clothes and say, “Terima kasih, Indonesia.” I do nothing and still they thank us as the name of Indonesia.
Because of my age and position, I can’t send a big help for them. I can’t see their smiles yet. I really do hope that I will be the person that I wanted. I hope, my help later won’t be too late for them. I love them. I love Gaza. I love Palestine. I love all muslim in the world. They’re my family too. That’s why I can’t keep my eyes off them.
But for you who have already send them some help, I envy you. You share your happiness with them. You make a hundred or maybe a thousand people there smile because of you. That’s the happiness of life. I really want to taste it. Someday, I will help too. No, I must.
Muslim around the world are now unite. I can’t stop smiling to see my brothers and sisters out there fight for Gaza. They’re great. It just keep telling me that Islam is wide. Spreading in this world. The bond that we have, motivates me to find a better way to join. Knowing that they won’t stop fighting for the free of Gaza, that makes me quite happy. We’re moving, though.
So, for everyone who read this latest post by me. Whoever you are, I hope you’ll understand and get what I mean. We’re not alone. We can’t see our mankind being killed right away. Just like people say, you don’t have to be a muslim to care about Gaza. This is not about religion anymore. This is about humanity.  Let’s spread love no matter what. A little help will be a super big help if we worked together fight for our rights. I know, my vocab is limit because I’m not a real UK and US people. I’m Indonesian, anyway. But I hope you can send a lot of messages to people better than me.
Love,
16th-year-old girl.
Love,
Me and Palestinian.

Wednesday, 9 July 2014

Cara Menulis Novel

Halo kawan kawan silent readers yang benerbener bikin aku semangat setiap ngeliat dashboard :) actually, aku ngarep kalian komen aku tapiyaaa gapapa sih hehe tau kalian baca aja aku udah seneng :3
Jadi hari ini, aku mau sedikit cerita dan ngasih tips buat para calon penulis novel like me, teman teman seperjuanganku :) So, come and sit down everyone!

Firstly, untuk menjadi penulis pasti yang paling penting niat loh. Kalau gaada niat ya otomatis gabakal ada karya yang muncul dari diri-dirimu sekalian. Dan ini emang base buat jadi penulis, atau jadi apapun awalnya emang harus diawali dengan niat yang kuat. Kamu juga harus bisa semangatin diri sendiri dan termotivasi mau jadi seorang penulis yang kayak apa. Sekali-kali ngebayangin diri kamu yang sukses juga fine kok. Aku suka begitu, jadi aku semangat nulisnya walaupun udah mentok tetep lanjut maksain nulis, nanti juga ideny angalir lagi. Karena semuanya berasal dari dirimu. Got it? :)





Secondly, you have to get your theme. Tema itu modal utama biar genre nulis kamu ke arah mana. Misal, kamu mau jadi novelis nihyaa, otomatis kamu harus nentuin dulu kamu lebih fokus kemana. Kalau akusih romance, friendship, drama, agak slice of life gitu, aku juga suka adventure. Semuanya tergantung kamu suka apa, untuk kondisi aku, karena aku suka dan emang bisanya nulis yang galau-galauan, jadi semua novel yang aku buat isinya rata-rata begitu. Aku suka humor tapi gabisa ngelawak, jadi tulisan aku emang galucu dan aku jarang nulis yang humor, abisnya pasti garing. Kalau dipikir-pikir, tukang galau emang kayanya gacocok bikin yang genre humor :') Walaupun ya mungkin bisa juga karena saking galaunya dia nyari cara buat ngehibur diri sendiri.

Thirdly, kembangkaaaaaan :) kamu udah punya niat, udah ada temaa...sekarang cari kamu buat cerita yang kayak gimana. Caranya emm kalau aku sih ngekhayal dulu, biasanya kamu bakal cepet nemu inspirasi kalau lagi seneng atau lagi sedih, tapiya kalau udah biasa emosi gaakan terlalu mempengaruhi nilai tulisan kamu sih. Oh iya, caranya itu biasanya sebelum aku ngekhayal, aku bayangin dulu tokoh-tokohnya. Misalnya aku ngebayangin tokoh protagonisnya itu laki-laki slengean yang nyebelin apa gimana, terus dipasangin sama perempuan yang apa gimana terus cari konflik inti ceritanya itu apa. Nanti setelah ituuu yang lain-lainnya
bakal nyusul deh wehehe selingannya sebelum konflik itu.

Fourthly, you must have a strong character. Ini penting banget, suatu cerita atau novel bakal kerasa hidup kalau karakter tokoh2nya kuat. Kalau oon ya oon, kalau pemarah ya munculin sisi pemarahnya. Banyak novel yang bagus ceritanya tapi galaku, salah satu faktornya adalah karakternya gakuat alias plinplan. Dan karakter juga mesti realistis. Gini ya, banyak novel yang karakter cewenya sempurna. Padahal you know, gaada manusia yang sempurna. Liatin juga kekurangannya, itu bakal nimbulin simpati buat yang baca. :D

Fifthly, kalau yang empat diatas udah siap, yaa mulai menulis. Usahakan buat pembukaan yang dramatis dan menarik pembaca. Terus dialog juga mesti diperhatiin, bikin dialog yang hidup. Jangan terlalu puitis, jangan terlalu kaku, pokoknya buat dialog yang hidup dan kayak biasa kita ngobrol aja. Untuk bahasa, ada banyak. Itu bisa disesuaiin sama gaya kamu. Mau bahasa gabaku atau baku juga gamasalah. Kalau aku, lebih suka bahasa yang baku kalau nulis novel. Tapi ada juga yang enggak, banyak malah. Sesuaiin aja sama yang lebih kamu suka. Sudut pandang juga, bisa orang pertama (aku-akuan), atau orang ketiga. Menulis itu fleksibel kok gausah diambil pusing harus gimana gimana :)

Tambahan,  yah itu sih yang bisa aku share dengan kalian semua. Tips untuk buat novel yang bagus yaaa, kalian harus rajin baca juga. Kalau kalian baca buku bagus, pasti yang kalian tulis juga bakal bagus. Banyak baca juga memperkaya bahasa kalian, apasih istilahnya vocab kalau di pelajaran bahasa Inggris. Hehe pokoknya mesti banyak baca buat menggerakkan si niat yang ada di dalam hati.

Oh iya, kalau lagi stuck waktu nulis. Udah tulis aja apapun, masalah jelek atau engganya gimana nanti. Kan kalian pasti baca ulang apa yang udah kalian tulis, jadi bisa dibenerin. Jangan pernah bilang 'gapunya inspirasi'. Inspiration is everywhere, guys. Semuanya bisa jadi inspirasi. Yang harus kalian permasalahin saat ga menghasilkan tulisan selama jangka waktu yang lama adalah kemalasan. Hehehe emang jleb tapi itu fakta kawankawan :) Jadi semangatin diri lagi kalau udah di kondisi miris itu.

Terakhir, semuanya butuh proses. Nulis novel tuh ga gampang loh. Susah malah karena kita mesti ngadepin diri sendiri. Kita nulis sendirian, bukan ditulis orang lain, kita buat karakter, ngebayangin masalah juga sendiri, jadi ya tulisan itu munculnya dari diri kita sendiri temanteman makanya susah :) selanjutnyaaa hemmm apa ya udah sih yang ada di kpala aku cuma itu aja.

Semangat ya nulisnya semangat! Aku juga berjuang kok disini doain aku ya :)
Dengan menulis, kalian akan selalu hidup. Bahkan mungkin, selamanya.

Sunday, 29 June 2014

Langit adalah Keindahanku yang Baru


Aku tidak tahu, sejak kapan…aku tidak bisa mengekspresikan perasaanku ke dalam tulisan sebaik dulu lagi.
Setiap hari, setiap pulang rasanya ramai. Aku bisa melihat keindahan tepat di atasku. Dan aku…bahagia.
Terkadang mendung, terkadang cerah,terkadang biasa saja. Kurasa langit memang mengerti diriku. Setiap kali aku mendongak ke langit, wajah sang nebula elang selalu sama dengan apa yang kurasakan saat itu.
Langit adalah keindahanku yang baru.
Hari ini, langitnya cerah. Sama seperti saat aku baru pulang dari kegiatan di masid tercinta. Rumah keduaku. 
Tempat dimana belahan-belahan jiwaku berada. Pusat ketenangan…juga kebahagiaan.
Juga tempat…untuk menghapus kenangan yang menyiksa. Kenangan yang membunuh.
Tapi kali ini, izinkan aku untuk mengingatnya sedikit.
Angin dingin menerpa wajahku. Cahaya lampu yang agak redup menemani kesendirianku di tengah ruangan ini. Duduk di atas sofa berwarna coklat dan dengan laptop yang terduduk manis di depanku.
Pada hakikatnya,eksistensi kenyamanan yang kuarasakan berasal dari diriku sendiri. Sejak dulu, aku selalu suka menyendiri. Bukan. Aku bukan orang yang individualis, maksudku aku hanya suka sendiri. Untuk berpikir, Untuk merenung. Untuk menulis.
Dan dirimu menghiasi setiap ketikan keyboardku. Wajah…bukan. Hanya kenangan. Ya, kenangan.
Kau mungin bukan pembawa pesan, bukan seorang yang kucintai juga, bahkan wajahmu, suaramu, kebiasaanmu…seakan pudar seiring dengan waktu yang menghapus semua kenistaan dan kekecewaan yang ikut serta dikala sesuatu tentangmu tiba-tiba terputar di kepalaku.
Jika kau pikir kekecewaanku sudah berakhir…ya, sudah berakhir.
Aku hanya perlu waktu banyak agar bisa bersikap layaknya Azzam yang menerima kenyataan bahwa wanita yang dicintainya telah dipinang sahabatnya sendiri (baca: Ketika Cinta Bertasbih). Aku tegar, aku tidak apa-apa. Tidak masalah.
Namun bayang-bayangmu masih saja mengikutiku. Aku hanya…tidak tahan lagi. Kapan kau benar-benar pergi dari hidupku?
Sekali saja, aku ingin kau bertanya… bagaimana perasaanku. Apa aku baik-baik saja. Apa aku bisa bersikap layaknya teman biasa padamu. Apa aku bisa menghapus segala yang kurasakan ketika mengingatmu. Apa aku…bahagia.
Begitulah. Bukan hanya menutupi kenyataan bahwa aku juga merasakan sakit yang terasa amat sangat. 
Bukan hanya menutupi bakal kekecewaanku padamu dengan kepura-puraan. Bukan hanya menutupi rasa bersalahmu dengan hanya berucap bahwa ini semua tidak apa-apa.
Aku diam. Aku tidak berkomentar. Aku tersenyum.
Cukupkah semua itu…untukmu?
Ya,cukup. Semuanya baik-baik saja. 
Kau pikir begitu, namun kenyataan tidak semudah yang kau pikirkan.
Semua hal memiliki dua sisi. Bagianmu, bahagia. Namun ketahuilah, sisi yang lain tidak bisa tersenyum selebar dirimu.
Bagaimana keadaanku? Aku baik, semakin mudah bersyukur.  Namun lain bila aku harus melihat wajahmu lagi. Semua benteng dan kebahagiaan yang kubuat rasanya runtuh seketika ketika melihatmu.
Kenapa? Entah. Mungkin kini semua kenangan itu bertransformasi menjadi mimpi buruk. Bagimu juga, bukan?
Apa aku bahagia? Sangat. Aku sangat bahagia sehingga sedang berusaha untuk menghapus rasa kecewa yang tersimpan jauh di dalam lubuk hatiku. Yang menjadi kebohongan untuk diriku sendiri. Yang menjadi topeng wajah untuk bertemu denganmu.
Kau sadar kan? Kau sadar aku kecewa…lalu apa? Aku juga tidak tahu. Sungguh, aku tidak akan meminta  apa-apa padamu. Sungguh.
Sejak dulu, aku selalu ingin bicara padamu. Kejarlah…kejarlah apa yang kau mau. Sekarang, dia yang kau mau…maka kejar. Aku tidak apa-apa. Aku akan selalu menjadi rumah untukmu. Jika kau lelah, kau bisa pulang.
Tapi entah apa sekarang aku bisa bicara begitu lagi padamu.
Setelah semua ketidak pedulian dan wajah aroganmu itu. Seperti senang melihat awan mendung yang terbentuk ketika bertemu denganmu. Setelah semua tindakan tidak ada apa-apa darimu yang kau usahakan padaku. Tidak, aku tidak bisa berkata bahwa aku rumahmu. Bukan, aku bukan rumahmu lagi.
Jadi, jangan pulang. Kau bebas berkelana sekarang. Kau bebas membangun rumah dimanapun kau mau.
Aku hanya…perlu dihargai.
Kau sadar kau tersenyum di atas kesedihkanku? Kau sadar kau tertawa di atas air mataku?
Aku kecewa padamu, kecewa. Apa yang harus kulakukan untuk menghapus rasa itu?
Aku tidak ingin mengganggumu lagi. Cukup. Aku harus keluar dari kehidupanmu. Aku lelah, kau tidak memberikan keinginan untuk tinggal. Bahkan sebagai seorang yang pernah menyayangimu. Tidak.
Kau…pergilah. Bahagialah untuk dirimu sendiri. Kau bukan urusanku lagi. Pergilah.
Biarkan aku menghapus rasa kecewaku ini. Kumohon…pergi.

Monday, 19 May 2014

Kabut Bulan


Alhamdulillah. Aku bangun.

Kali ini, entah apa yang kupikirkan. Sibuk dengan urusan dunia sekolah, sampai lupa bahwa aku memiliki kewajiban menulis, di keadaan sesempit apapun.

Mataku terpejam, lalu tarikan napas mulai terjadi seiring dengan kilas balik yang terputar di otakku. Ya…sudah lama aku tidak mengingatnya.

Sudah lama.


Semua orang tidak pernah tahu siapa yang akan mengkhianati, atau dikhianati. Bahkan sebagian orang merasa bahwa pengkhianatan yang dilakukan sama sekali bukan berkhianat. Karena masalah waktu, waktu yang panjang membuat orang-orang berpikir bahwa pengkhianatan akan terhapus…seiring dengan nadi yang terus berdenyut, menghapus kenistaan.

Tapi…sebagian yang lain tidak.

Mereka butuh lebih dari waktu yang ditentukan untuk merelakan semua pengkhianatan dan kekecewaan. 
Mereka butuh ketenangan untuk menerima semua hal yang berjalan salah. Mereka butuh kehampaan untuk menghapus apa-apa yang menyakiti. Itu sebagian orang.

Lalu sebagian orang yang mengisi jarak diantara dua macam golongan ini, yang tidak tahu apa-apa. Yang hanya bisa menganggap ‘ya sudahlah’ lalu beropini seenaknya padahal mereka tidak tahu apa yang dirasakan salah satu pihak. Bukan mendamaikan. Malah memperburuk.

Jadi…kemana arah tulisanku sekarang? Entah. Aku pun bingung.

Untuk seseorang dengan tatapan gelap dan dingin yang dibawanya.

Untuk diriku di masa lalu.

Hai.

Aku adalah seseorang yang mungkin telah melalui banyak fase lebih banyak di dalam hidup ini. Dibanding dirimu, pasti.

Kuberi saran sedikit. Kini, aku menulis ditemani dengan lagu dari seorang tukang susu keliling yang sedang bersusah payah menawari dagangannya dari rumah ke rumah. Ditemani oleh cahaya terang dibalik tirai. 
Ditemani dengan rasa kecewa teramat besar karena seseorang yang akan kau temui nanti.

Aku tidak tahu apa yang kau lakukan sekarang, namun aku yakin kau belum bertemu dengannya.

Sesosok manusia bermata dalam dan tawa yang akan mempesonamu. Dengan tarikan tangan dan hentakkan kaki yang akan membuatmu berkunang selama beberapa saat. Dan yang jelas, ia akan menghentikan waktumu.

Jangan berharap pada manusia jika kau tidak ingin kecewa.

Aku tahu, kau pasti bingung. Namun izinkan aku bercerita sedikit.

Untuk diriku di masa lalu. Kini aku sedang menengadahkan kepala untuk bisa melihat langit senja hari ini. Ya, kau akan menyukai senja ketika kau mulai beranjak dewasa.

Udara segar kuhirup dengan bebas seiring dengan mesin berjalan yang masih terus maju mengantarku pulang. 

Seulas senyum terbentuk di wajahku, tipis. Dan kemudian aku melihat bulan yang berbentuk separuh mulai menerangi bumi menggantikan sang matahari.

Indah. Segumpal awan sedikit menutupi wajahnya namun tetap…inilah salah satu senja yang paling kusukai.

Kau tahu, kurasa kau harus lebih sering memandang wajah langit yang selama ini telah menjadi saksi kehidupanmu. Ketika kau bosan, jenuh, atau sedang menunggu…lihatlah ke langit. Bersama dengan orang-orang yang penuh misteri. Di belahan dunia…mereka memandang langit yang sama, kau tahu.

Aku melihat hal-hal yang biasanya tidak kulihat. Seperti misalnya…aku baru tahu bahwa ada tower sinyal di dekat komplek rumah yang akan menjadi tempat tinggalmu nanti.Ya, kau harus menghilangkan sifat ‘mencari aman’mu itu untuk melihat dunia yang lebih luas.

Melompatlah. Melompatlah dari sangkar amanmu. Tersenyum. Tertawa sebebas yang kau mau. Dunia butuh senyuman darimu. Satu senyuman, dan dunia akan mendukung apapun yang kau inginkan berjalan lancar pada hari itu.

Jadilah manusia yang mudah bersyukur. Setiap hari, sempatkan sedikit waktu untuk memejamkan mata. Lalu hirup sebanyak mungkin udara yang mengisi paru-parumu. Rasakan betapa nikmatnya kau mendapatkan udara segar sebebas dan sebersih itu. Bersyukurlah, dan kau akan bahagia.

Dan lalu…jika kau bertemu dengannya. Si manusia dengan tatapan dalam, yang bergerak dengan lincah membawa harapannya. Pejamkan matamu. Sebisa mungin berpaling.

Kenapa? Karena ialah yang akan menjadi sumber kekeceaanmu di masa depan. Ialah  yang akan mengisi kehampaan hatimu yang masih labil bergerak, terombang-ambing di atas ombak asa…Ialah…manusia yang akan mengingatkanmu pada banyak hal yang kau sukai.

Karena itu…berhati-hatilah.

Jika seandainya suatu saat kau bicara padanya. Lalu akhirnya tanpa sadar kau masuk ke lubang kelinci yang diciptakan olehnya…maka cepatlah berlari. Cari celah untuk keluar. Bagaimana pun caranya kau harus keluar dari sana.

Aku sedang berusaha untuk mengurangi rasa sakit dan kecewamu. Jadilah manusia yang sabar. 

Dan….berlapang dada lah. Ikhlas jika suatu hal yang tidak kau sukai terjadi.

Suatu kondisi dimana kau tidak bisa marah. Kau tidak bisa menyuarakan isi hatimu yang gersang dan penuh dengan kabut asa nan kekecewaan yang begitu mendalam. Dan lagi, kau tidak bisa marah.

Biarkan…biarkan saja. Semua akan indah pada waktunya.

Bertahanlah. Aku disini akan menolongmu jika kau benar-benar sudah kehilangan cahayamu.

Ingatlah siapa yang menciptakanmu, dan kau akan tenang. Ingat, jangan pernah lupakan Dia.

Berlapang dada. Sabar. Aku tahu, kau akan melewati semua pagar yang menghalangimu mencapai tujuan 
hidupmu. Mencapai kebahagiaanmu.

Begitu pula dengan aku disini.

Aku akan bertahan. Aku akan berjuang untuk tetap menjadi manusia yang mengikuti ‘cahaya’.

Hati-hati.

Salam dariku untuk si manusia bertatapan dalam jika suatu hari kau menemuinya.

Katakan padanya,

“Berbahagialah. Kejar apa yang kau mau. Namun…jangan pernah dating ke mimpiku lagi. Aku…lelah.”

Tertanda,

Dirimu di masa depan.

Wednesday, 12 March 2014

Cinta dan Pengemban Dakwah

Assalamu'alaikum wr. wb

Dunia dakwah itu berat. Menjadi seorang aktivis, pengemban dakwah pun tidak semudah yang dilihat. Bahkan sesuatu yang dipuja oleh kalangan remaja di dunia, bisa menjadi ujian terberat bagi para aktivis.
Allah SWT hampir selalu menguji hambaNya dengan kelemahan hamba itu sendiri. Misalnya, untuk diriku sendiri. Aku merasakan kasih sayang Allah melalui rasa gelisah, tidak tenang, khawatir, dan sebagainya. Mungkin kali ini ujian yang cukup berat sedang menerpa diriku.

Aku, seorang hamba Allah. Seorang wanita yang sedang berikhtiar menjadi seoang akhwat sejati. Seorang yang bila dibandingan dengan para aktivis di sekitarku, masih jauh berada di bawah. Kelemahan untuk diriku sendiri, biasanya dikaitkan dengan persahabatan, pertemanan, semua yang dilibatkan dengan cinta.

Cinta yang kurasakan setelah bertransformasi menjadi pengemban dakwah, tidak sama dengan cinta yang kurasakan saat masih berada di zaman jahiliah dulu. Mungkin sifatku yang memang bisa dibilang ‘cair’ pada siapa saja membuatku bisa berkomunikasi dengan siapapun. Aku bisa berteman dengan siapa saja dengan mudah. Terlebih dalam suatu organisasi berbasis Al Qur’an dan Hadits seperti yang sedang kugeluti sekarang, hal yang menjadi hambatan bagi ikhwan dan akhwat adalah komunikasi. Bagiku, komunikasi bukan masalah. Karena, yang terpenting aku bisa menjaga hatiku sendiri.

Tapi, terkadang sesuatu yang menjadi kekuatanku tersebut...menjadi kelemahan terbesarku. Seperti yang kubilang tadi, yang penting hijab hati, jaga hati. Aku memang menerapkan hal itu setiap kali aku bicara pada hamba Allah yang bukan akhwat, mungkin masih proses untuk diriku sendiri dalam hijab pandangan, karena aku masih belum bisa menundukkan pandanganku secara sempurna. Dan, setan menyusup lewat proses belajarku ini. Sering kuingat bahwa, “Setan menjadikan indah hal-hal yang terlarang.” Aku paling tidak suka jika sesuatu yang aneh mulai menggangguku setelah aku bicara dengan seorang yang bukan akhwat.

Maksudnya, dalam arti...hati. Perasaan aneh, yang dapat mengganggu proses hijab pandanganku sendiri. Perasaan itu, tidak lain...cinta.

Bukan berarti para pengemban dakwah tidak bisa jatuh cinta. Bahkan cinta yag dirasakan oleh para pengemban dakwah itu rasanya lebih...sulit. Bukan menyenangkan, tapi kami mengartikan hal itu semua dengan ujian.

Misalnya, kasus yang sedang kuhadapi sekarang. Akhir-akhir ini, aku sedang giat-giatnya mencari semua hal tentang Allah dan Rasulullah. Aku sedang belajar untuk mencintai Allah lebih dalam. Meluruskan prioritas agar bisa seperti seharusnya. Ya, saat aku berdoa, “Ya Allah, hamba ingin mencintaiMu dan RasulMu.” Allah menjawab doaku dengan masalah yang harus kuhadapi sendiri.

Ujian untuk membuktikan seberapa besar keinginanku untuk mencintaiNya.

Lalu Allah menumbuhkan perasaan cinta kepada manusia di dalam diriku. Rasa cinta yang menjadi ‘saingan’ di dalam misi cinta pada Allah. Perasaan aneh itu muncul tepat ketika aku mulai ingin mendalami rasa cintaku padaNya dan RasulNya.

Jika aku ingat, dan beruntunglah bahwa aku ingat...Allah mencintaiku lebih dari siapapun yang mencintaiku. Karena itu, ia mengujiku.

Pertanyaan-pertanyaan langsung menerpa diriku, apa aku tega membuat Allah cemburu pada manusia karena aku menduakan Allah dengan hal yang bukan tandinganNya? Apa aku tega membuat dia tidak suci karena aku lebih sering memikirkannya dibanding Allah? Apa aku tega membiarkan diriku sendiri menjadi ujian yang akan menggagalkan dia?

Sungguh, jika dulu... jatuh cinta membuatku tersenyum gembira, kali ini yang kurasakan hanya rasa gelisah dan tidak tenang. Aku takut...lalai dan yah, terkadang cinta kepada manusia jika tidak diluruskan kembali pada Allah, hanya akan melunturkan apa yang sudah ada, apa yang sudah kukumpulkan untuk mencintaiNya.

Tidak, jangan sampai. Mencintai seseorang tanpa diiringi karena cinta dariNya hanya akan membawa mudarat.

Cinta yang paling baik adalah yang diam. Kali ini, bukan seorang gadis yang baru saja mengenal cerita cinta Ali dan Fatimah yang bicara. Bukan seorang gadis yang masih dengan pengetahuan mentah perihal cinta dalam diam. Bukan seorang gadis yang hanya memikirkan dirinya sendiri.

Cinta dalam diam itu, mungkin tidak akan menjadi indah bila tidak diiringi alasan yang benar melakukan itu. Cinta karena Allah SWT itu tidak hanya sebatas kalimat ‘mencintai karena Allah’. Semua hal dibalik cinta dalam diam ini...memiliki makna yang lebih dalam. Mencintai seseorang karena Allah itu, cinta yang tumbuh karena para manusia tersebut mencintaiNya.

Bagaimana kita dapat mencintai seseorang dengan sempurna apabila kita sendiri tidak terlebih dahulu mencintai sang Khalik? Padahal, yang menggerakkan semua hal di dunia ini Allah.

Allah yang menggerakkan hati siapa tergerak untuk siapa. Allah yang merencanakan semuanya sedemikian rupa, bahkan orang yang terlihat seperti tidak mungkin dipuja oleh seorang manusia yang luar biasa pun, ternyata dipuja oleh manusia tersebut.

Cinta yang didasari iman, akan tumbuh...seiring dengan iman yang semakin meningkat. Kini, di dalam konsep cinta bagi para pengemban dakwah adalah, berusaha untuk melindungi manusia yang dicinta dari ketidaksucian, dari kecemburuan Allah swt, dari segala hal yang dilarang dan terlarang. Terutama, dari indahnya penglihatan melalui nafsu dan setan.

Karena itu, jika seorang aktivis dakwah jatuh cinta, mereka cenderung menjauhi objek yang dicinta. Untuk melindungi dirinya, dan juga si dia.

Mungkin, aku memang belum mengalami sendiri indahnya mencintai seseorang dengan cara yang terbaik. Dengan cara memendam, dengan cara diam, dengan cara...mengubur sendiri perasaan sesak, cemburu, sakit dan perasaan lainnya ketika jatuh cinta.

Namun, Allah menyadarkanku dengan menghadirkan seseorang yang luar biasa di dalam hidupku. Mungkin tidak, ia hanya salah satu manusia luar biasa yang dikirimkan Allah untuk membantuku memperoleh 
petunjukNya. Namun, cerita cinta seorang ikhwan dan akhwat yang sudah terjaga...memang lebih hebat dibanding cerita cinta biasa. Allah memang sudah menggerakan, menautkan, hati-hati siapa saja yang memadu cinta karenaNya. Tangan Allah bergerak, mengatur semua hal sesuai dengan apa yang pantas kita dapatkan.

Karena itu, aku memperoleh hikmah dari petunjuk Allah hari ini. Mungkin, aku memang seorang gadis yang angin-anginan. Bagaimana pun, pada hakikatnya seorang akhwat ingin memiliki pasangan yang hebat. Aku sendiri pun...yah, terpesona pada suatu keistiqamahan dalam beragama seorang manusia yang akhirnya sukses membuatku cemburu. Pada akhirnya, seua yang kurasakan dikembalikan lagi padaNya. Allah sedang membuatku termotivasi untuk menjadi akhwat luar biasa yang totalitas. Saat ini, aku masih harus menambah keistiqamahan dalam banyak aspek. Termasuk menguatkan diri untuk tetap berhijab dengan baik, menambah ilmu dan amal, hafalan Al Qur’an daaaaan yang lainnya.


Nikmat Allah itu tidak terhitung. Cinta juga salah satu anugerah dariNya. Jangan sampai menodai yang suci. Sesungguhnya cinta sejati hanya milik Allah.

Ingatlah, para pengemban dakwah. Jangan sampai cinta yang telah dimanipulasi sedemikian rupa oleh setan, membelokkanmu dari niat lurus membawa amanah dariNya. Jangan menyiksa dirimu sendiri karena melakukan hal yang seharusnya tidak kau lakukan (baca : membebaskan nafsu). Pegang dadamu lalu ucapkanlah, "Inni akhafullah." Sesungguhnya aku takut pada Allah. Bismillah, ikhwatifillah...semoga kita selalu berpegang teguh pada keistiqamahan kita dalam jihad untuk agama ini. Semoga Allah meridhai kita, aamiin.

Wednesday, 29 January 2014

Regret

Kamu tau, aku suka Naruto? Iya, aku suka Gaara, Sakura, Naruto, Neji sama Sasuke. Tapi dari keseluruhan aku paling suka sama Sakura...dia mampu nunggu Sasuke sampai bertahun-tahun dan perasaannya gapernah berubah sekalipun Sasuke udah berubah jadi monster pembunuh. Bahkan Sasuke pernah hampir ngebunuh Sakura, tapi Sakura tetep ngeliat Sasuke dengan cara yang sama waktu mereka masih kecil dulu.
Suasana menuju tengah malam mulai terasa menusuk raga. Dingin.
Aku menarik selimut sampai ke bagian bawah telinga. Sudah hampir dua jam aku bergerak-gerak di atas ranjang mencari posisi yang nyaman, namun sayang sekali...sampai sekarang aku masih belum bisa melancong ke pulau impian dimana aku bisa bertemu pangeranku, Taylor Lautner dan seorang wolverine yang belum kutahu namanya.
Nasib menjadi manusia setengah vampire dan werewolf. Kau bisa mengantuk atau merasa lelah, namun sukar tidur. Vampir tidak pernah tidur, dan werewolf—serigala—seperti famili mereka, mereka suka tidur.
Jika kalian penasaran mengapa aku bisa menjadi makhluk yang memiliki darah panas dan dingin...mudah saja, tidak...orangtuaku manusia dan aku pun manusia. Seharusnya.
Waktu itu sekitar beberapa tahun yang lalu di musim panas, seorang vampir mengubahku menjadi manusia penghisap darah—tapi aku masih manusia. Selanjutnya saat terjadi serangan, seekor werewolf berhasil menggigit tangan kananku dan alhasil membuatku harus menjalankan sekian banyak rasa sakit di dalam tubuh yang luar biasa. Sebelum akhirnya aku menemukan bukti bahwa kini aku seorang manusia setengah vampir dan manusia serigala.
Kesal, akhirnya aku menendang selimut lalu segera bangkit dari kasur dan berjalan keluar menuju halaman. Tempat dimana para vampir dan manusia serigala dalam sekutu kami berkumpul.
Aku menghela napas panjang dan asap putih muncul sekilas. Sudah kuduga mereka sedang bercerita ditemani api unggun. Seulas senyum terbentuk ketika aku melihat para vampir dan werewolf yang duduk berdampingan dengan partnernya masing-masing. Baiklah, disini setiap makhluk yang terbilang ‘muda’ pada awalnya harus memilih satu orang untuk menjadi seorang protector. Dan tentu saja aku punya. Setidaknya sampai beberapa waktu lalu.
Tak sadar, sebuah dengusan sudah keluar dari mulutku. Yah, mungkin mengingatnya masih membuatku sedikit sesak. Bagaimana tidak...
“Kanon? Tumben sekali kau keluar di jam seperti ini.”
Aku menoleh dan mendapati Nathan tengah menatapku setelah ia muncul dari balik pepohonan. “Tidak bisa tidur.”
Nathan mengangguk-angguk lalu menunjuk ke arah kerumunan dengan ujung dagunya. “Mereka berisik sekali.”
Sebelah sudut bibirku terangkat. Yah, sebenarnya...Nathan itu sama sekali bukan berasal dari klan vampire ataupun werewolf. Ia hanya manusia—yang dianggap monster. Wolverine. Sejenis mutan. Ia bergabung dengan sekutu kami sejak ia berumur sembilan tahun. Tentu saja saat itu aku masih seorang manusia setengah vampir berumur delapan tahun. Belum ada darah werewolf yang mengalir di tubuhku. “Kau mau temani aku ke sana, Nate? Rasanya aneh jika aku duduk sendiri sedangkan yang lain...yah, kau tahu maksudku.”
Raut wajah Nathan langsung berubah. Bagaimana pun, sejak dulu aku, Nathan dan dia itu dekat. Nathan juga selalu mengikutiku sejak kami kecil. Dulu ia selalu berkata bahwa ialah penjagaku. Dan dia akan membantah ucapan Nathan lalu mereka akan berkelahi sebelum dipisahkan oleh Bill—ketua sekutu dari pihak werewolf. Aku hanya bisa tertawa, dia—entahlah, sejak awal aku memang memilih laki-laki itu sebagai protector.
Kami bertiga seperti Naruto, Sakura, dan Sasuke—sebelum akhirnya kenyataan pahit menghampiriku dan sempat membuat Nathan kalap luar biasa. Karena itulah, sampai sekarang Nathan pasti akan menjagaku berlebihan dan memintaku untuk menjadikannya protector untuk menggantikan dia. Aku ingin, namun tidak bisa. Tidak. Aku berbeda dengan vampir lainnya.
“Apa boleh buat.” kata Nathan setelah mengerang berlebihan. Ia mulai berjalan di sampingku menuju kawanan bahagia yang duduk mengelilingi api unggun. Setidaknya, aku tidak sendiri dan membiarkan hatiku teriris begitu melihat seseorang disana yang memiliki mata sedalam dan segelap galaksi. Yang kini tertawa dan duduk disamping seorang vampir baru.
Bill sudah menyapa kami dan membuat kami duduk di dekatnya. Aku sempat menangkap tatapan nanar dari si dia yang kubalas dengan satu senyuman singkat. Begitulah. Sejak hari terakhir kami bertemu, dimana dia memutuskan untuk...yah intinya hal tidak menyenangkan.
Saat itu, di sudut hutan tempat aku mencari ketenangan jika sedang berantakan.
“Aku ingin bicara.”
“Aku tahu.” kataku memandangnya lekat-lekat. Berusaha mencari sinar kasih sayang yang dulu ia pancarkan setiap melihatku. “Kau yang memutuskan, Zane. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kau menemukannya, ya sudah.”
Zane sempat terdiam. Ia hanya menunduk atau memandang ke arah lain. Tidak berani menatapku yang sedang berusaha untuk tidak membiarkan titik kerapuhanku muncul.
Tapi kemudian mulutnya bicara, “Kau sungguh tidak apa-apa?”
Aku menggeleng, “Aku takut. Entahlah, aku tidak habis pikir kau tega membiarkanku berjalan sendirian di dunia kejam ini. Jika aku memutuskan untuk memutus tali ikatan kita—aku tidak memiliki pelindung. Tapi, apa yang bisa kulakukan? Bahkan jika kau tetap menjadi pelindungku, sedangkan hatimu terpanggil oleh ikatan lain...sudah pasti aku tidak akan tenang.”
Zane terlihat frustasi—tapi tetap saja, yang merasa sakit disini adalah aku. Yang menjadi korban paling rusak adalah aku. Bukan Zane. Bukan Katrina—si vampir baru yang berhasil membuat Zane ingin memutuskan tali ikatannya denganku.
“Maafkan aku. Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang, Kanon. Aku tahu kita sudah berteman sejak kecil dan aku sudah menjadi protector mu selama 9 tahun, tapi...kali ini aku benar-benar tidak bisa lagi.” katanya dengan suara parau dan berat.
Aku juga sama denganmu, Zane. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Mengapa kau tega mengganti tempatku dengan vampir baru itu?
Rasanya aku ingin berteriak seperti itu, namun pada akhirnya aku hanya mengangguk seolah-olah mengerti. Tidak. Aku tidak mengerti dan tidak ingin mengerti. Rasanya sakit, Zane. Bagaimana caranya agar aku bisa sepertimu?
Bagaimana caranya agar aku bisa dengan mudahnya melepaskan kemudian melupakanmu seperti caramu sekarang?
“Baikah.” kataku menarik tangan kanan ke depan dada. Aku memandangi punggung tanganku itu dengan perasaan berkecamuk. Tanda berbentuk serigala. Tanda bahwa aku memiliki seorang protector. “Kuputuskan ikatan kita...terputus.”
Zane menahan napas. Menatap nanar tanda yang berada di punggung tanganku yang sudah mulai menghilang—sampai akhirnya benar-benar menghilang.
Aku mengangkat wajah lalu memandang Zane tegar. Sambil tersenyum seperti ikut senang. “Aku tidak akan bisa mencarimu lagi .Begitu pula sebaliknya Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Semoga kau bisa menjaga Katrina dengan baik.”
Zane terkesiap.Tidak bisa bicara apapun lagi. Sudah cukup. Kemudian ia menoleh ke arah lengan atas kokoh miliknya. Dimana disana tertera sebuah lambang berwarna hitam—berbentuk pohon. Tanda itu tidak hilang.
“Itu...pertanda jika aku masih hidup. Jika tandanya hilang, berarti aku mati.” kataku tanpa menyiratkan ekspresi kecewa. “Kau yang memintanya dulu, tidak bisa dihilangkan.”
“Tidak apa-apa, aku juga tidak ingin menghilangkannya.”kata Zane pelan—seperti bicara pada dirinya sendiri. Ia menatapuu dalam-dalam, seperti pertanda bahwa ini memang akhirnya. Ia tidak bisa menjagaku lagi. “Sebaiknya kau mencari penggantiku, Kanon. Aku tidak bisa melihatmu disini tanpa siapapun yang bisa menjagamu.”
Aku tertawa hambar. Apa-apaan. Ia bisa bicara seperti itu namun ia tetap meninggalkanku. Dasar. Seenaknya saja. Memangnya ia tidak merasa sakit sama sekali?
“Berhenti mengkhawatirkan aku. Aku bukan tanggung jawabmu lagi. Lagipula...yah, aku pasti akan mencari penggantimu secepat mungkin, Zane.” Tidak. Aku bohong. Kau tidak sadar aku berbohong?
Zane mengangguk sekali. Ia mengulaskan seulas senyum, “Terima kasih. Kuharap siapapun yang menjadi pelindungmu nanti, ia dapat menjagamu dengan baik.”
Ia tidak sadar. Aku memejamkan mata lalu menghembuskan napas panjang. “Pergilah. Aku tahu Katrina sudah memanggilmu sejak tadi.”
Dan akhirnya aku bisa mengendalikan perasaanku. Mataku beralih ke arah Nathan yang berada di sebelahku. Laki-laki itu sedang tertawa menanggapi cerita Bill tentang masa mudanya. Rasanya...yah, setiap bersama Nathan setidaknya aku tidak merasa sendirian—atau sedih.
Tak sadar...ternyata aku sudah memandangnya cukup lama. Tanpa berkedip, dan ketika Nathan menoleh ke arahku, aku langsung mengalihkan pandangan ke bawah.
Suara tawa Nathan terdengar. Kemudian laki-laki itu sudah menyelimuti punggungku dengan jaketnya. Aku melihat ke arahnya lagi, ia sudah kembali fokus dengan cerita yang kini dibicarakan oleh Doc.
Nathan memang baik. Aku jadi ingat ketika ia mengetahui bahwa Zane memutuskan untuk berhenti menjadi pelindungku lagi. Aku ingat...tatapannya. Dan pada akhirnya, aku melupakan sejenak rasa sakit yang menggerogotiku.
“Perlihatkan tanganmu padaku.”
Aku menggeleng lalu segera menyembunyikan kedua tanganku di belakang.
“Kubilang, perlihatkan!” Nathan langsung membentak—membuatku tidak dapat berkutik lagi dan akhirnya menyerahkan kedua tanganku ke arahnya.
Laki-laki bertubuh kekar itu langsung menyambar tangan kananku dan membaliknya—melihat keadaan punggung tanganku yang sudah kosong. Ia langsung menatapku. Kedua matanya membulat meminta penjelasan. “Apa yang dilakukan Zane padamu?”
Aku menggeleng lagi, lalu segera menarik tanganku kembali. “Tidak masalah.”
“Tidak masalah?” ulang Zane seperti ingin meledak. Tatapannya marah—seperti kerasukan. Tapi aku tahu itu masih dia. “Tidak masalah katamu?! Jika begini berarti kau dalam bahaya! Kau gila? Kau ingin terbunuh?!”
“Nate, sungguh aku tidak apa-apa. Aku tidak akan ter—”
“Mengapa kau memutuskan ikatanmu dengan Zane? Kau sadar dengan apa yang kau lakukan?”
Aku mengerang frustasi, “Bukan aku yang menginginkannya.” kataku sedikit meninggikan suara. Namun suaraku kembali lirih saat aku melanjutkan ucapanku, “Zane...dia...ingin menjadi protector Katr—astaga, apa yang kau lakukan? Kau mau kemana?”
Mengerikan. Cakar besi yang tersembunyi di tangannya keluar dan Nathan sudah hampir akan berlari menuju perkemahan jika aku tidak menenangkannya. “Memberi pelajaran pada si serigala bau itu! Apa kau tidak sadar bahwa secara tidak langsung si brengsek Zane itu menukar nyawamu demi nyawa orang lain?!”
Ya. Aku tahu, Nathan. Sangat mengerti.
Helaan napas keluar dari mulutku untuk yang kesekian kalinya. “Sudahlah. Biarkan saja. Yang diakukan Zane itu wajar, Nate. Dia menyukai Katrina dan tentu saja ada perasaan melindungi yang timbul untuk gadis itu kan? Kau juga akan melakukan hal yang sama jika kau jatuh cinta dengan seseorang.”
Nathan  terdiam sejenak. Cakar-cakarnya sudah kembali masuk. Ia menatapku lekat-lekat—seperti ingin menangis. “Kau...yang diincar oleh makhluk berdarah dingin kejam di luar sana, Kanon. Jika mereka tahu—”
“Maka jangan sampai mereka tahu.” kataku tersenyum menenangkan. Tidak. Aku sendiri takut. Sungguh.
“Kumohon...biarkan aku menjadi pelindungmu. Menggantikan Zane.” kata Nathan lirih. Pandangannya masih belum lepas dari kedua mataku. “Kumohon, Kanon.”
Sesak. Sungguh, seandainya aku bisa... “Aku tidak bisa, bahkan jika aku mau sekalipun.” kataku menggigit bibir. “Aku berbeda...tidak seperti yang lain. Aku hanya bisa memiliki satu protector seumur hidup. Sungguh, aku ingin kau menjagaku...tapi, sayangnya takdirku—yah kau pasti mengerti.”
Nathan masih menatapku nanar. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya diatas tanah—sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. “Kalau begitu mengapa kau malah melepaskan Zane?”
“Apa yang bisa kulakukan? Nathan, selama ini ia sudah  berada di dalam bahaya karena menjadi pelindungku...kukira ini jalan terbaik untuk melindunginya juga.” kataku berlutut di depan Zane yang terlihat frustasi.
“Pasti ia tidak tahu tentang ini kan?”
“Biarkan saja.”
Nathan menarik napas berat lalu menghembuskannya. Ia meletakkan tangannya di atas kepalaku dan mengusapnya pelan. “Kita pastikan makhluk jahat diluar sana tidak akan tahu keadaanmu. Aku akan selalu berada di sampingmu. Aku janji.”
Dan di titik itu pun aku sadar...seandainya dulu Nathan datang lebih awal. Mungkin aku akan memilihnya menjadi pelindung. Aku tahu, Nathan tidak akan pernah bisa meninggalkanku sendirian.
“...kanon hei, kau melamun lagi.”
Aku mengerjap-ngerjapkan mata lalu menoleh ke arah Nathan yang ternyata sudah memanggilku sejak tadi. “Eh? Maaf.”
“Pasti kau sedang memikirkan si serigala bau.” ucap Nathan dengan nada tidak suka. Nmaun wajahnya tidak menyeramkan. Bahkan terkesan bercanda.
Aku tersenyum lalu menggeleng. “Bukan. Percaya atau tidak aku sedang memikirkan seorang mutan.”
Sebelah alis Nathan terangkat lalu akhirnya ia menyeringai geli. Mungkin senang dengan ucapanku tadi. “Akhirnya.”
“Kau tahu, Nate. Seandainya saja kau muncul lebih awal, mungkin aku bisa bersamamu.” kataku tanpa sadar. Ah, pasti efek lamunan tadi.
Karena ucapan yang baru saja kulontarkan, kini aku tidak berani menoleh ke arah Nathan sama sekali. Memalukan.
Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh laki-laki itu sekarang, namun sepertinya Nathan cukup shock dengan kalimat yang kuucapkan. Sudah pasti.
“Kau mengigau?” Bingo. Nathan pasti tidak percaya. Aku hanya tertawa menanggapi ucapan Nathan tadi. Mencairkan suasana yang kini sudah mulai canggung hanya diantara aku dan Nathan.
Tapi syukurlah, akhirnya Nathan yang memecah kesunyian diantara kami berdua.
“Hm, mungkin di kehidupan lain...aku akan lebih dulu muncul dibanding si bau itu. Kau juga, semoga saja kau tidak terlanjur jatuh cinta padanya sebelum aku datang.” kata Nathan tanpa memandang ke arahku. Dari nada bicaranya, laki-laki itu terlihat cuek. Namun, aku tahu ia serius.
Aku tertawa lalu memandang Nathan sambil tersenyum manis, “Kuharap begitu.” kataku sedikit merona. Kemudian aku meregangkan badan, “Kurasa aku bisa tidur sekarang. Perasaanku sudah tenang.”
“Baguslah.” kata laki-laki di sebelahku itu singkat. “Aku juga ingin tidur. Seorang wolverine harus cepat tidur untuk menjaga ketampanan. Kau tahu.”
“Kau bercanda.” kataku lalu terbahak. “Kau bisa tidur tanpa memakai jaketmu? Kurasa tidak. Di luar dingin sekali.”
Nathan mendengus, “Sudahlah, pakai saja. Kau lebih membutuhkannya untuk dibawa tidur. Kau kan selalu mengantuk setiap bersamaku. Kurasa aromalah penyebabnya.”
Ah, aku baru menyadarinya. Benar juga. Mungkin terbiasa dengan sosok Nathan yang selama ini tidak pernah mengalihkan pandangannya dariku. Aneh sekali.

Yang jelas sekarang, Kanon...setidaknya masih ada Nathan yang masih mau menjagamu bahkan walaupun ia tidak bisa menjadi pelindung sejatimu. Setidaknya.

Way gilaaa aku baru muncul seelah beberapa bulan menghilang._. *sujud minta maaf* Maafin aku readers, aku lagi diterpa tugas dan bla bla tapi aku sebenernya tetep nulis. Ituuu loh novel terbaru aku huahahaha udah setengah jalan cerita dan itu kualitasnya mungkin agak lebih baik dibanding novel yang pertama banget . Yaa doain aja aku kuat ngerjainnya sementara aku diterpa oleh tugas yang terlalu banyak. Hem aku gatau, jadi intinya saking cintanya sama serigala...jadinya aku nambahin tokoh yang disebut wolverine (kalian tau kan) terus akhir-akhir ini aku lagi suka Naruto (on lagi) jadinya karakternya kebawa-bawa deh :D Yah ohiya ceritanya ini aku mau bikin terusannya (gatau kapan) ini kan baru pembukaan, setidaknya aku bisa nulis cerita pendek._. Ini ide muncul waktu kebetulan aku lagi masa dramatis. Kan aku suka banget sama yang namanya Taylor Lautner dan serigala, jadi harap maklum :D Hemhem ya sudah deh segini dulu, maaf aku ngeselin dan ga konsisten nulisnya-_- inituh disebabkan oleh faktor aku baru dikasih pulsa modem juga :)) Yaaap terimakasih banyak yang sudah bela-belain nunggu tulisan aku dan baca juga visit lalu mengcomment. Terima kasih banyak! Kehadiran kalian bikin aku semangat! Hehe aku sayang kalian!! <3333