.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Wednesday, 29 January 2014

Regret

Kamu tau, aku suka Naruto? Iya, aku suka Gaara, Sakura, Naruto, Neji sama Sasuke. Tapi dari keseluruhan aku paling suka sama Sakura...dia mampu nunggu Sasuke sampai bertahun-tahun dan perasaannya gapernah berubah sekalipun Sasuke udah berubah jadi monster pembunuh. Bahkan Sasuke pernah hampir ngebunuh Sakura, tapi Sakura tetep ngeliat Sasuke dengan cara yang sama waktu mereka masih kecil dulu.
Suasana menuju tengah malam mulai terasa menusuk raga. Dingin.
Aku menarik selimut sampai ke bagian bawah telinga. Sudah hampir dua jam aku bergerak-gerak di atas ranjang mencari posisi yang nyaman, namun sayang sekali...sampai sekarang aku masih belum bisa melancong ke pulau impian dimana aku bisa bertemu pangeranku, Taylor Lautner dan seorang wolverine yang belum kutahu namanya.
Nasib menjadi manusia setengah vampire dan werewolf. Kau bisa mengantuk atau merasa lelah, namun sukar tidur. Vampir tidak pernah tidur, dan werewolf—serigala—seperti famili mereka, mereka suka tidur.
Jika kalian penasaran mengapa aku bisa menjadi makhluk yang memiliki darah panas dan dingin...mudah saja, tidak...orangtuaku manusia dan aku pun manusia. Seharusnya.
Waktu itu sekitar beberapa tahun yang lalu di musim panas, seorang vampir mengubahku menjadi manusia penghisap darah—tapi aku masih manusia. Selanjutnya saat terjadi serangan, seekor werewolf berhasil menggigit tangan kananku dan alhasil membuatku harus menjalankan sekian banyak rasa sakit di dalam tubuh yang luar biasa. Sebelum akhirnya aku menemukan bukti bahwa kini aku seorang manusia setengah vampir dan manusia serigala.
Kesal, akhirnya aku menendang selimut lalu segera bangkit dari kasur dan berjalan keluar menuju halaman. Tempat dimana para vampir dan manusia serigala dalam sekutu kami berkumpul.
Aku menghela napas panjang dan asap putih muncul sekilas. Sudah kuduga mereka sedang bercerita ditemani api unggun. Seulas senyum terbentuk ketika aku melihat para vampir dan werewolf yang duduk berdampingan dengan partnernya masing-masing. Baiklah, disini setiap makhluk yang terbilang ‘muda’ pada awalnya harus memilih satu orang untuk menjadi seorang protector. Dan tentu saja aku punya. Setidaknya sampai beberapa waktu lalu.
Tak sadar, sebuah dengusan sudah keluar dari mulutku. Yah, mungkin mengingatnya masih membuatku sedikit sesak. Bagaimana tidak...
“Kanon? Tumben sekali kau keluar di jam seperti ini.”
Aku menoleh dan mendapati Nathan tengah menatapku setelah ia muncul dari balik pepohonan. “Tidak bisa tidur.”
Nathan mengangguk-angguk lalu menunjuk ke arah kerumunan dengan ujung dagunya. “Mereka berisik sekali.”
Sebelah sudut bibirku terangkat. Yah, sebenarnya...Nathan itu sama sekali bukan berasal dari klan vampire ataupun werewolf. Ia hanya manusia—yang dianggap monster. Wolverine. Sejenis mutan. Ia bergabung dengan sekutu kami sejak ia berumur sembilan tahun. Tentu saja saat itu aku masih seorang manusia setengah vampir berumur delapan tahun. Belum ada darah werewolf yang mengalir di tubuhku. “Kau mau temani aku ke sana, Nate? Rasanya aneh jika aku duduk sendiri sedangkan yang lain...yah, kau tahu maksudku.”
Raut wajah Nathan langsung berubah. Bagaimana pun, sejak dulu aku, Nathan dan dia itu dekat. Nathan juga selalu mengikutiku sejak kami kecil. Dulu ia selalu berkata bahwa ialah penjagaku. Dan dia akan membantah ucapan Nathan lalu mereka akan berkelahi sebelum dipisahkan oleh Bill—ketua sekutu dari pihak werewolf. Aku hanya bisa tertawa, dia—entahlah, sejak awal aku memang memilih laki-laki itu sebagai protector.
Kami bertiga seperti Naruto, Sakura, dan Sasuke—sebelum akhirnya kenyataan pahit menghampiriku dan sempat membuat Nathan kalap luar biasa. Karena itulah, sampai sekarang Nathan pasti akan menjagaku berlebihan dan memintaku untuk menjadikannya protector untuk menggantikan dia. Aku ingin, namun tidak bisa. Tidak. Aku berbeda dengan vampir lainnya.
“Apa boleh buat.” kata Nathan setelah mengerang berlebihan. Ia mulai berjalan di sampingku menuju kawanan bahagia yang duduk mengelilingi api unggun. Setidaknya, aku tidak sendiri dan membiarkan hatiku teriris begitu melihat seseorang disana yang memiliki mata sedalam dan segelap galaksi. Yang kini tertawa dan duduk disamping seorang vampir baru.
Bill sudah menyapa kami dan membuat kami duduk di dekatnya. Aku sempat menangkap tatapan nanar dari si dia yang kubalas dengan satu senyuman singkat. Begitulah. Sejak hari terakhir kami bertemu, dimana dia memutuskan untuk...yah intinya hal tidak menyenangkan.
Saat itu, di sudut hutan tempat aku mencari ketenangan jika sedang berantakan.
“Aku ingin bicara.”
“Aku tahu.” kataku memandangnya lekat-lekat. Berusaha mencari sinar kasih sayang yang dulu ia pancarkan setiap melihatku. “Kau yang memutuskan, Zane. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kau menemukannya, ya sudah.”
Zane sempat terdiam. Ia hanya menunduk atau memandang ke arah lain. Tidak berani menatapku yang sedang berusaha untuk tidak membiarkan titik kerapuhanku muncul.
Tapi kemudian mulutnya bicara, “Kau sungguh tidak apa-apa?”
Aku menggeleng, “Aku takut. Entahlah, aku tidak habis pikir kau tega membiarkanku berjalan sendirian di dunia kejam ini. Jika aku memutuskan untuk memutus tali ikatan kita—aku tidak memiliki pelindung. Tapi, apa yang bisa kulakukan? Bahkan jika kau tetap menjadi pelindungku, sedangkan hatimu terpanggil oleh ikatan lain...sudah pasti aku tidak akan tenang.”
Zane terlihat frustasi—tapi tetap saja, yang merasa sakit disini adalah aku. Yang menjadi korban paling rusak adalah aku. Bukan Zane. Bukan Katrina—si vampir baru yang berhasil membuat Zane ingin memutuskan tali ikatannya denganku.
“Maafkan aku. Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang, Kanon. Aku tahu kita sudah berteman sejak kecil dan aku sudah menjadi protector mu selama 9 tahun, tapi...kali ini aku benar-benar tidak bisa lagi.” katanya dengan suara parau dan berat.
Aku juga sama denganmu, Zane. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Mengapa kau tega mengganti tempatku dengan vampir baru itu?
Rasanya aku ingin berteriak seperti itu, namun pada akhirnya aku hanya mengangguk seolah-olah mengerti. Tidak. Aku tidak mengerti dan tidak ingin mengerti. Rasanya sakit, Zane. Bagaimana caranya agar aku bisa sepertimu?
Bagaimana caranya agar aku bisa dengan mudahnya melepaskan kemudian melupakanmu seperti caramu sekarang?
“Baikah.” kataku menarik tangan kanan ke depan dada. Aku memandangi punggung tanganku itu dengan perasaan berkecamuk. Tanda berbentuk serigala. Tanda bahwa aku memiliki seorang protector. “Kuputuskan ikatan kita...terputus.”
Zane menahan napas. Menatap nanar tanda yang berada di punggung tanganku yang sudah mulai menghilang—sampai akhirnya benar-benar menghilang.
Aku mengangkat wajah lalu memandang Zane tegar. Sambil tersenyum seperti ikut senang. “Aku tidak akan bisa mencarimu lagi .Begitu pula sebaliknya Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Semoga kau bisa menjaga Katrina dengan baik.”
Zane terkesiap.Tidak bisa bicara apapun lagi. Sudah cukup. Kemudian ia menoleh ke arah lengan atas kokoh miliknya. Dimana disana tertera sebuah lambang berwarna hitam—berbentuk pohon. Tanda itu tidak hilang.
“Itu...pertanda jika aku masih hidup. Jika tandanya hilang, berarti aku mati.” kataku tanpa menyiratkan ekspresi kecewa. “Kau yang memintanya dulu, tidak bisa dihilangkan.”
“Tidak apa-apa, aku juga tidak ingin menghilangkannya.”kata Zane pelan—seperti bicara pada dirinya sendiri. Ia menatapuu dalam-dalam, seperti pertanda bahwa ini memang akhirnya. Ia tidak bisa menjagaku lagi. “Sebaiknya kau mencari penggantiku, Kanon. Aku tidak bisa melihatmu disini tanpa siapapun yang bisa menjagamu.”
Aku tertawa hambar. Apa-apaan. Ia bisa bicara seperti itu namun ia tetap meninggalkanku. Dasar. Seenaknya saja. Memangnya ia tidak merasa sakit sama sekali?
“Berhenti mengkhawatirkan aku. Aku bukan tanggung jawabmu lagi. Lagipula...yah, aku pasti akan mencari penggantimu secepat mungkin, Zane.” Tidak. Aku bohong. Kau tidak sadar aku berbohong?
Zane mengangguk sekali. Ia mengulaskan seulas senyum, “Terima kasih. Kuharap siapapun yang menjadi pelindungmu nanti, ia dapat menjagamu dengan baik.”
Ia tidak sadar. Aku memejamkan mata lalu menghembuskan napas panjang. “Pergilah. Aku tahu Katrina sudah memanggilmu sejak tadi.”
Dan akhirnya aku bisa mengendalikan perasaanku. Mataku beralih ke arah Nathan yang berada di sebelahku. Laki-laki itu sedang tertawa menanggapi cerita Bill tentang masa mudanya. Rasanya...yah, setiap bersama Nathan setidaknya aku tidak merasa sendirian—atau sedih.
Tak sadar...ternyata aku sudah memandangnya cukup lama. Tanpa berkedip, dan ketika Nathan menoleh ke arahku, aku langsung mengalihkan pandangan ke bawah.
Suara tawa Nathan terdengar. Kemudian laki-laki itu sudah menyelimuti punggungku dengan jaketnya. Aku melihat ke arahnya lagi, ia sudah kembali fokus dengan cerita yang kini dibicarakan oleh Doc.
Nathan memang baik. Aku jadi ingat ketika ia mengetahui bahwa Zane memutuskan untuk berhenti menjadi pelindungku lagi. Aku ingat...tatapannya. Dan pada akhirnya, aku melupakan sejenak rasa sakit yang menggerogotiku.
“Perlihatkan tanganmu padaku.”
Aku menggeleng lalu segera menyembunyikan kedua tanganku di belakang.
“Kubilang, perlihatkan!” Nathan langsung membentak—membuatku tidak dapat berkutik lagi dan akhirnya menyerahkan kedua tanganku ke arahnya.
Laki-laki bertubuh kekar itu langsung menyambar tangan kananku dan membaliknya—melihat keadaan punggung tanganku yang sudah kosong. Ia langsung menatapku. Kedua matanya membulat meminta penjelasan. “Apa yang dilakukan Zane padamu?”
Aku menggeleng lagi, lalu segera menarik tanganku kembali. “Tidak masalah.”
“Tidak masalah?” ulang Zane seperti ingin meledak. Tatapannya marah—seperti kerasukan. Tapi aku tahu itu masih dia. “Tidak masalah katamu?! Jika begini berarti kau dalam bahaya! Kau gila? Kau ingin terbunuh?!”
“Nate, sungguh aku tidak apa-apa. Aku tidak akan ter—”
“Mengapa kau memutuskan ikatanmu dengan Zane? Kau sadar dengan apa yang kau lakukan?”
Aku mengerang frustasi, “Bukan aku yang menginginkannya.” kataku sedikit meninggikan suara. Namun suaraku kembali lirih saat aku melanjutkan ucapanku, “Zane...dia...ingin menjadi protector Katr—astaga, apa yang kau lakukan? Kau mau kemana?”
Mengerikan. Cakar besi yang tersembunyi di tangannya keluar dan Nathan sudah hampir akan berlari menuju perkemahan jika aku tidak menenangkannya. “Memberi pelajaran pada si serigala bau itu! Apa kau tidak sadar bahwa secara tidak langsung si brengsek Zane itu menukar nyawamu demi nyawa orang lain?!”
Ya. Aku tahu, Nathan. Sangat mengerti.
Helaan napas keluar dari mulutku untuk yang kesekian kalinya. “Sudahlah. Biarkan saja. Yang diakukan Zane itu wajar, Nate. Dia menyukai Katrina dan tentu saja ada perasaan melindungi yang timbul untuk gadis itu kan? Kau juga akan melakukan hal yang sama jika kau jatuh cinta dengan seseorang.”
Nathan  terdiam sejenak. Cakar-cakarnya sudah kembali masuk. Ia menatapku lekat-lekat—seperti ingin menangis. “Kau...yang diincar oleh makhluk berdarah dingin kejam di luar sana, Kanon. Jika mereka tahu—”
“Maka jangan sampai mereka tahu.” kataku tersenyum menenangkan. Tidak. Aku sendiri takut. Sungguh.
“Kumohon...biarkan aku menjadi pelindungmu. Menggantikan Zane.” kata Nathan lirih. Pandangannya masih belum lepas dari kedua mataku. “Kumohon, Kanon.”
Sesak. Sungguh, seandainya aku bisa... “Aku tidak bisa, bahkan jika aku mau sekalipun.” kataku menggigit bibir. “Aku berbeda...tidak seperti yang lain. Aku hanya bisa memiliki satu protector seumur hidup. Sungguh, aku ingin kau menjagaku...tapi, sayangnya takdirku—yah kau pasti mengerti.”
Nathan masih menatapku nanar. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya diatas tanah—sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. “Kalau begitu mengapa kau malah melepaskan Zane?”
“Apa yang bisa kulakukan? Nathan, selama ini ia sudah  berada di dalam bahaya karena menjadi pelindungku...kukira ini jalan terbaik untuk melindunginya juga.” kataku berlutut di depan Zane yang terlihat frustasi.
“Pasti ia tidak tahu tentang ini kan?”
“Biarkan saja.”
Nathan menarik napas berat lalu menghembuskannya. Ia meletakkan tangannya di atas kepalaku dan mengusapnya pelan. “Kita pastikan makhluk jahat diluar sana tidak akan tahu keadaanmu. Aku akan selalu berada di sampingmu. Aku janji.”
Dan di titik itu pun aku sadar...seandainya dulu Nathan datang lebih awal. Mungkin aku akan memilihnya menjadi pelindung. Aku tahu, Nathan tidak akan pernah bisa meninggalkanku sendirian.
“...kanon hei, kau melamun lagi.”
Aku mengerjap-ngerjapkan mata lalu menoleh ke arah Nathan yang ternyata sudah memanggilku sejak tadi. “Eh? Maaf.”
“Pasti kau sedang memikirkan si serigala bau.” ucap Nathan dengan nada tidak suka. Nmaun wajahnya tidak menyeramkan. Bahkan terkesan bercanda.
Aku tersenyum lalu menggeleng. “Bukan. Percaya atau tidak aku sedang memikirkan seorang mutan.”
Sebelah alis Nathan terangkat lalu akhirnya ia menyeringai geli. Mungkin senang dengan ucapanku tadi. “Akhirnya.”
“Kau tahu, Nate. Seandainya saja kau muncul lebih awal, mungkin aku bisa bersamamu.” kataku tanpa sadar. Ah, pasti efek lamunan tadi.
Karena ucapan yang baru saja kulontarkan, kini aku tidak berani menoleh ke arah Nathan sama sekali. Memalukan.
Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh laki-laki itu sekarang, namun sepertinya Nathan cukup shock dengan kalimat yang kuucapkan. Sudah pasti.
“Kau mengigau?” Bingo. Nathan pasti tidak percaya. Aku hanya tertawa menanggapi ucapan Nathan tadi. Mencairkan suasana yang kini sudah mulai canggung hanya diantara aku dan Nathan.
Tapi syukurlah, akhirnya Nathan yang memecah kesunyian diantara kami berdua.
“Hm, mungkin di kehidupan lain...aku akan lebih dulu muncul dibanding si bau itu. Kau juga, semoga saja kau tidak terlanjur jatuh cinta padanya sebelum aku datang.” kata Nathan tanpa memandang ke arahku. Dari nada bicaranya, laki-laki itu terlihat cuek. Namun, aku tahu ia serius.
Aku tertawa lalu memandang Nathan sambil tersenyum manis, “Kuharap begitu.” kataku sedikit merona. Kemudian aku meregangkan badan, “Kurasa aku bisa tidur sekarang. Perasaanku sudah tenang.”
“Baguslah.” kata laki-laki di sebelahku itu singkat. “Aku juga ingin tidur. Seorang wolverine harus cepat tidur untuk menjaga ketampanan. Kau tahu.”
“Kau bercanda.” kataku lalu terbahak. “Kau bisa tidur tanpa memakai jaketmu? Kurasa tidak. Di luar dingin sekali.”
Nathan mendengus, “Sudahlah, pakai saja. Kau lebih membutuhkannya untuk dibawa tidur. Kau kan selalu mengantuk setiap bersamaku. Kurasa aromalah penyebabnya.”
Ah, aku baru menyadarinya. Benar juga. Mungkin terbiasa dengan sosok Nathan yang selama ini tidak pernah mengalihkan pandangannya dariku. Aneh sekali.

Yang jelas sekarang, Kanon...setidaknya masih ada Nathan yang masih mau menjagamu bahkan walaupun ia tidak bisa menjadi pelindung sejatimu. Setidaknya.

Way gilaaa aku baru muncul seelah beberapa bulan menghilang._. *sujud minta maaf* Maafin aku readers, aku lagi diterpa tugas dan bla bla tapi aku sebenernya tetep nulis. Ituuu loh novel terbaru aku huahahaha udah setengah jalan cerita dan itu kualitasnya mungkin agak lebih baik dibanding novel yang pertama banget . Yaa doain aja aku kuat ngerjainnya sementara aku diterpa oleh tugas yang terlalu banyak. Hem aku gatau, jadi intinya saking cintanya sama serigala...jadinya aku nambahin tokoh yang disebut wolverine (kalian tau kan) terus akhir-akhir ini aku lagi suka Naruto (on lagi) jadinya karakternya kebawa-bawa deh :D Yah ohiya ceritanya ini aku mau bikin terusannya (gatau kapan) ini kan baru pembukaan, setidaknya aku bisa nulis cerita pendek._. Ini ide muncul waktu kebetulan aku lagi masa dramatis. Kan aku suka banget sama yang namanya Taylor Lautner dan serigala, jadi harap maklum :D Hemhem ya sudah deh segini dulu, maaf aku ngeselin dan ga konsisten nulisnya-_- inituh disebabkan oleh faktor aku baru dikasih pulsa modem juga :)) Yaaap terimakasih banyak yang sudah bela-belain nunggu tulisan aku dan baca juga visit lalu mengcomment. Terima kasih banyak! Kehadiran kalian bikin aku semangat! Hehe aku sayang kalian!! <3333

No comments:

Post a Comment