.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Wednesday, 12 March 2014

Cinta dan Pengemban Dakwah

Assalamu'alaikum wr. wb

Dunia dakwah itu berat. Menjadi seorang aktivis, pengemban dakwah pun tidak semudah yang dilihat. Bahkan sesuatu yang dipuja oleh kalangan remaja di dunia, bisa menjadi ujian terberat bagi para aktivis.
Allah SWT hampir selalu menguji hambaNya dengan kelemahan hamba itu sendiri. Misalnya, untuk diriku sendiri. Aku merasakan kasih sayang Allah melalui rasa gelisah, tidak tenang, khawatir, dan sebagainya. Mungkin kali ini ujian yang cukup berat sedang menerpa diriku.

Aku, seorang hamba Allah. Seorang wanita yang sedang berikhtiar menjadi seoang akhwat sejati. Seorang yang bila dibandingan dengan para aktivis di sekitarku, masih jauh berada di bawah. Kelemahan untuk diriku sendiri, biasanya dikaitkan dengan persahabatan, pertemanan, semua yang dilibatkan dengan cinta.

Cinta yang kurasakan setelah bertransformasi menjadi pengemban dakwah, tidak sama dengan cinta yang kurasakan saat masih berada di zaman jahiliah dulu. Mungkin sifatku yang memang bisa dibilang ‘cair’ pada siapa saja membuatku bisa berkomunikasi dengan siapapun. Aku bisa berteman dengan siapa saja dengan mudah. Terlebih dalam suatu organisasi berbasis Al Qur’an dan Hadits seperti yang sedang kugeluti sekarang, hal yang menjadi hambatan bagi ikhwan dan akhwat adalah komunikasi. Bagiku, komunikasi bukan masalah. Karena, yang terpenting aku bisa menjaga hatiku sendiri.

Tapi, terkadang sesuatu yang menjadi kekuatanku tersebut...menjadi kelemahan terbesarku. Seperti yang kubilang tadi, yang penting hijab hati, jaga hati. Aku memang menerapkan hal itu setiap kali aku bicara pada hamba Allah yang bukan akhwat, mungkin masih proses untuk diriku sendiri dalam hijab pandangan, karena aku masih belum bisa menundukkan pandanganku secara sempurna. Dan, setan menyusup lewat proses belajarku ini. Sering kuingat bahwa, “Setan menjadikan indah hal-hal yang terlarang.” Aku paling tidak suka jika sesuatu yang aneh mulai menggangguku setelah aku bicara dengan seorang yang bukan akhwat.

Maksudnya, dalam arti...hati. Perasaan aneh, yang dapat mengganggu proses hijab pandanganku sendiri. Perasaan itu, tidak lain...cinta.

Bukan berarti para pengemban dakwah tidak bisa jatuh cinta. Bahkan cinta yag dirasakan oleh para pengemban dakwah itu rasanya lebih...sulit. Bukan menyenangkan, tapi kami mengartikan hal itu semua dengan ujian.

Misalnya, kasus yang sedang kuhadapi sekarang. Akhir-akhir ini, aku sedang giat-giatnya mencari semua hal tentang Allah dan Rasulullah. Aku sedang belajar untuk mencintai Allah lebih dalam. Meluruskan prioritas agar bisa seperti seharusnya. Ya, saat aku berdoa, “Ya Allah, hamba ingin mencintaiMu dan RasulMu.” Allah menjawab doaku dengan masalah yang harus kuhadapi sendiri.

Ujian untuk membuktikan seberapa besar keinginanku untuk mencintaiNya.

Lalu Allah menumbuhkan perasaan cinta kepada manusia di dalam diriku. Rasa cinta yang menjadi ‘saingan’ di dalam misi cinta pada Allah. Perasaan aneh itu muncul tepat ketika aku mulai ingin mendalami rasa cintaku padaNya dan RasulNya.

Jika aku ingat, dan beruntunglah bahwa aku ingat...Allah mencintaiku lebih dari siapapun yang mencintaiku. Karena itu, ia mengujiku.

Pertanyaan-pertanyaan langsung menerpa diriku, apa aku tega membuat Allah cemburu pada manusia karena aku menduakan Allah dengan hal yang bukan tandinganNya? Apa aku tega membuat dia tidak suci karena aku lebih sering memikirkannya dibanding Allah? Apa aku tega membiarkan diriku sendiri menjadi ujian yang akan menggagalkan dia?

Sungguh, jika dulu... jatuh cinta membuatku tersenyum gembira, kali ini yang kurasakan hanya rasa gelisah dan tidak tenang. Aku takut...lalai dan yah, terkadang cinta kepada manusia jika tidak diluruskan kembali pada Allah, hanya akan melunturkan apa yang sudah ada, apa yang sudah kukumpulkan untuk mencintaiNya.

Tidak, jangan sampai. Mencintai seseorang tanpa diiringi karena cinta dariNya hanya akan membawa mudarat.

Cinta yang paling baik adalah yang diam. Kali ini, bukan seorang gadis yang baru saja mengenal cerita cinta Ali dan Fatimah yang bicara. Bukan seorang gadis yang masih dengan pengetahuan mentah perihal cinta dalam diam. Bukan seorang gadis yang hanya memikirkan dirinya sendiri.

Cinta dalam diam itu, mungkin tidak akan menjadi indah bila tidak diiringi alasan yang benar melakukan itu. Cinta karena Allah SWT itu tidak hanya sebatas kalimat ‘mencintai karena Allah’. Semua hal dibalik cinta dalam diam ini...memiliki makna yang lebih dalam. Mencintai seseorang karena Allah itu, cinta yang tumbuh karena para manusia tersebut mencintaiNya.

Bagaimana kita dapat mencintai seseorang dengan sempurna apabila kita sendiri tidak terlebih dahulu mencintai sang Khalik? Padahal, yang menggerakkan semua hal di dunia ini Allah.

Allah yang menggerakkan hati siapa tergerak untuk siapa. Allah yang merencanakan semuanya sedemikian rupa, bahkan orang yang terlihat seperti tidak mungkin dipuja oleh seorang manusia yang luar biasa pun, ternyata dipuja oleh manusia tersebut.

Cinta yang didasari iman, akan tumbuh...seiring dengan iman yang semakin meningkat. Kini, di dalam konsep cinta bagi para pengemban dakwah adalah, berusaha untuk melindungi manusia yang dicinta dari ketidaksucian, dari kecemburuan Allah swt, dari segala hal yang dilarang dan terlarang. Terutama, dari indahnya penglihatan melalui nafsu dan setan.

Karena itu, jika seorang aktivis dakwah jatuh cinta, mereka cenderung menjauhi objek yang dicinta. Untuk melindungi dirinya, dan juga si dia.

Mungkin, aku memang belum mengalami sendiri indahnya mencintai seseorang dengan cara yang terbaik. Dengan cara memendam, dengan cara diam, dengan cara...mengubur sendiri perasaan sesak, cemburu, sakit dan perasaan lainnya ketika jatuh cinta.

Namun, Allah menyadarkanku dengan menghadirkan seseorang yang luar biasa di dalam hidupku. Mungkin tidak, ia hanya salah satu manusia luar biasa yang dikirimkan Allah untuk membantuku memperoleh 
petunjukNya. Namun, cerita cinta seorang ikhwan dan akhwat yang sudah terjaga...memang lebih hebat dibanding cerita cinta biasa. Allah memang sudah menggerakan, menautkan, hati-hati siapa saja yang memadu cinta karenaNya. Tangan Allah bergerak, mengatur semua hal sesuai dengan apa yang pantas kita dapatkan.

Karena itu, aku memperoleh hikmah dari petunjuk Allah hari ini. Mungkin, aku memang seorang gadis yang angin-anginan. Bagaimana pun, pada hakikatnya seorang akhwat ingin memiliki pasangan yang hebat. Aku sendiri pun...yah, terpesona pada suatu keistiqamahan dalam beragama seorang manusia yang akhirnya sukses membuatku cemburu. Pada akhirnya, seua yang kurasakan dikembalikan lagi padaNya. Allah sedang membuatku termotivasi untuk menjadi akhwat luar biasa yang totalitas. Saat ini, aku masih harus menambah keistiqamahan dalam banyak aspek. Termasuk menguatkan diri untuk tetap berhijab dengan baik, menambah ilmu dan amal, hafalan Al Qur’an daaaaan yang lainnya.


Nikmat Allah itu tidak terhitung. Cinta juga salah satu anugerah dariNya. Jangan sampai menodai yang suci. Sesungguhnya cinta sejati hanya milik Allah.

Ingatlah, para pengemban dakwah. Jangan sampai cinta yang telah dimanipulasi sedemikian rupa oleh setan, membelokkanmu dari niat lurus membawa amanah dariNya. Jangan menyiksa dirimu sendiri karena melakukan hal yang seharusnya tidak kau lakukan (baca : membebaskan nafsu). Pegang dadamu lalu ucapkanlah, "Inni akhafullah." Sesungguhnya aku takut pada Allah. Bismillah, ikhwatifillah...semoga kita selalu berpegang teguh pada keistiqamahan kita dalam jihad untuk agama ini. Semoga Allah meridhai kita, aamiin.

No comments:

Post a Comment