.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Monday, 19 May 2014

Kabut Bulan


Alhamdulillah. Aku bangun.

Kali ini, entah apa yang kupikirkan. Sibuk dengan urusan dunia sekolah, sampai lupa bahwa aku memiliki kewajiban menulis, di keadaan sesempit apapun.

Mataku terpejam, lalu tarikan napas mulai terjadi seiring dengan kilas balik yang terputar di otakku. Ya…sudah lama aku tidak mengingatnya.

Sudah lama.


Semua orang tidak pernah tahu siapa yang akan mengkhianati, atau dikhianati. Bahkan sebagian orang merasa bahwa pengkhianatan yang dilakukan sama sekali bukan berkhianat. Karena masalah waktu, waktu yang panjang membuat orang-orang berpikir bahwa pengkhianatan akan terhapus…seiring dengan nadi yang terus berdenyut, menghapus kenistaan.

Tapi…sebagian yang lain tidak.

Mereka butuh lebih dari waktu yang ditentukan untuk merelakan semua pengkhianatan dan kekecewaan. 
Mereka butuh ketenangan untuk menerima semua hal yang berjalan salah. Mereka butuh kehampaan untuk menghapus apa-apa yang menyakiti. Itu sebagian orang.

Lalu sebagian orang yang mengisi jarak diantara dua macam golongan ini, yang tidak tahu apa-apa. Yang hanya bisa menganggap ‘ya sudahlah’ lalu beropini seenaknya padahal mereka tidak tahu apa yang dirasakan salah satu pihak. Bukan mendamaikan. Malah memperburuk.

Jadi…kemana arah tulisanku sekarang? Entah. Aku pun bingung.

Untuk seseorang dengan tatapan gelap dan dingin yang dibawanya.

Untuk diriku di masa lalu.

Hai.

Aku adalah seseorang yang mungkin telah melalui banyak fase lebih banyak di dalam hidup ini. Dibanding dirimu, pasti.

Kuberi saran sedikit. Kini, aku menulis ditemani dengan lagu dari seorang tukang susu keliling yang sedang bersusah payah menawari dagangannya dari rumah ke rumah. Ditemani oleh cahaya terang dibalik tirai. 
Ditemani dengan rasa kecewa teramat besar karena seseorang yang akan kau temui nanti.

Aku tidak tahu apa yang kau lakukan sekarang, namun aku yakin kau belum bertemu dengannya.

Sesosok manusia bermata dalam dan tawa yang akan mempesonamu. Dengan tarikan tangan dan hentakkan kaki yang akan membuatmu berkunang selama beberapa saat. Dan yang jelas, ia akan menghentikan waktumu.

Jangan berharap pada manusia jika kau tidak ingin kecewa.

Aku tahu, kau pasti bingung. Namun izinkan aku bercerita sedikit.

Untuk diriku di masa lalu. Kini aku sedang menengadahkan kepala untuk bisa melihat langit senja hari ini. Ya, kau akan menyukai senja ketika kau mulai beranjak dewasa.

Udara segar kuhirup dengan bebas seiring dengan mesin berjalan yang masih terus maju mengantarku pulang. 

Seulas senyum terbentuk di wajahku, tipis. Dan kemudian aku melihat bulan yang berbentuk separuh mulai menerangi bumi menggantikan sang matahari.

Indah. Segumpal awan sedikit menutupi wajahnya namun tetap…inilah salah satu senja yang paling kusukai.

Kau tahu, kurasa kau harus lebih sering memandang wajah langit yang selama ini telah menjadi saksi kehidupanmu. Ketika kau bosan, jenuh, atau sedang menunggu…lihatlah ke langit. Bersama dengan orang-orang yang penuh misteri. Di belahan dunia…mereka memandang langit yang sama, kau tahu.

Aku melihat hal-hal yang biasanya tidak kulihat. Seperti misalnya…aku baru tahu bahwa ada tower sinyal di dekat komplek rumah yang akan menjadi tempat tinggalmu nanti.Ya, kau harus menghilangkan sifat ‘mencari aman’mu itu untuk melihat dunia yang lebih luas.

Melompatlah. Melompatlah dari sangkar amanmu. Tersenyum. Tertawa sebebas yang kau mau. Dunia butuh senyuman darimu. Satu senyuman, dan dunia akan mendukung apapun yang kau inginkan berjalan lancar pada hari itu.

Jadilah manusia yang mudah bersyukur. Setiap hari, sempatkan sedikit waktu untuk memejamkan mata. Lalu hirup sebanyak mungkin udara yang mengisi paru-parumu. Rasakan betapa nikmatnya kau mendapatkan udara segar sebebas dan sebersih itu. Bersyukurlah, dan kau akan bahagia.

Dan lalu…jika kau bertemu dengannya. Si manusia dengan tatapan dalam, yang bergerak dengan lincah membawa harapannya. Pejamkan matamu. Sebisa mungin berpaling.

Kenapa? Karena ialah yang akan menjadi sumber kekeceaanmu di masa depan. Ialah  yang akan mengisi kehampaan hatimu yang masih labil bergerak, terombang-ambing di atas ombak asa…Ialah…manusia yang akan mengingatkanmu pada banyak hal yang kau sukai.

Karena itu…berhati-hatilah.

Jika seandainya suatu saat kau bicara padanya. Lalu akhirnya tanpa sadar kau masuk ke lubang kelinci yang diciptakan olehnya…maka cepatlah berlari. Cari celah untuk keluar. Bagaimana pun caranya kau harus keluar dari sana.

Aku sedang berusaha untuk mengurangi rasa sakit dan kecewamu. Jadilah manusia yang sabar. 

Dan….berlapang dada lah. Ikhlas jika suatu hal yang tidak kau sukai terjadi.

Suatu kondisi dimana kau tidak bisa marah. Kau tidak bisa menyuarakan isi hatimu yang gersang dan penuh dengan kabut asa nan kekecewaan yang begitu mendalam. Dan lagi, kau tidak bisa marah.

Biarkan…biarkan saja. Semua akan indah pada waktunya.

Bertahanlah. Aku disini akan menolongmu jika kau benar-benar sudah kehilangan cahayamu.

Ingatlah siapa yang menciptakanmu, dan kau akan tenang. Ingat, jangan pernah lupakan Dia.

Berlapang dada. Sabar. Aku tahu, kau akan melewati semua pagar yang menghalangimu mencapai tujuan 
hidupmu. Mencapai kebahagiaanmu.

Begitu pula dengan aku disini.

Aku akan bertahan. Aku akan berjuang untuk tetap menjadi manusia yang mengikuti ‘cahaya’.

Hati-hati.

Salam dariku untuk si manusia bertatapan dalam jika suatu hari kau menemuinya.

Katakan padanya,

“Berbahagialah. Kejar apa yang kau mau. Namun…jangan pernah dating ke mimpiku lagi. Aku…lelah.”

Tertanda,

Dirimu di masa depan.

No comments:

Post a Comment