.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Sunday, 29 June 2014

Langit adalah Keindahanku yang Baru


Aku tidak tahu, sejak kapan…aku tidak bisa mengekspresikan perasaanku ke dalam tulisan sebaik dulu lagi.
Setiap hari, setiap pulang rasanya ramai. Aku bisa melihat keindahan tepat di atasku. Dan aku…bahagia.
Terkadang mendung, terkadang cerah,terkadang biasa saja. Kurasa langit memang mengerti diriku. Setiap kali aku mendongak ke langit, wajah sang nebula elang selalu sama dengan apa yang kurasakan saat itu.
Langit adalah keindahanku yang baru.
Hari ini, langitnya cerah. Sama seperti saat aku baru pulang dari kegiatan di masid tercinta. Rumah keduaku. 
Tempat dimana belahan-belahan jiwaku berada. Pusat ketenangan…juga kebahagiaan.
Juga tempat…untuk menghapus kenangan yang menyiksa. Kenangan yang membunuh.
Tapi kali ini, izinkan aku untuk mengingatnya sedikit.
Angin dingin menerpa wajahku. Cahaya lampu yang agak redup menemani kesendirianku di tengah ruangan ini. Duduk di atas sofa berwarna coklat dan dengan laptop yang terduduk manis di depanku.
Pada hakikatnya,eksistensi kenyamanan yang kuarasakan berasal dari diriku sendiri. Sejak dulu, aku selalu suka menyendiri. Bukan. Aku bukan orang yang individualis, maksudku aku hanya suka sendiri. Untuk berpikir, Untuk merenung. Untuk menulis.
Dan dirimu menghiasi setiap ketikan keyboardku. Wajah…bukan. Hanya kenangan. Ya, kenangan.
Kau mungin bukan pembawa pesan, bukan seorang yang kucintai juga, bahkan wajahmu, suaramu, kebiasaanmu…seakan pudar seiring dengan waktu yang menghapus semua kenistaan dan kekecewaan yang ikut serta dikala sesuatu tentangmu tiba-tiba terputar di kepalaku.
Jika kau pikir kekecewaanku sudah berakhir…ya, sudah berakhir.
Aku hanya perlu waktu banyak agar bisa bersikap layaknya Azzam yang menerima kenyataan bahwa wanita yang dicintainya telah dipinang sahabatnya sendiri (baca: Ketika Cinta Bertasbih). Aku tegar, aku tidak apa-apa. Tidak masalah.
Namun bayang-bayangmu masih saja mengikutiku. Aku hanya…tidak tahan lagi. Kapan kau benar-benar pergi dari hidupku?
Sekali saja, aku ingin kau bertanya… bagaimana perasaanku. Apa aku baik-baik saja. Apa aku bisa bersikap layaknya teman biasa padamu. Apa aku bisa menghapus segala yang kurasakan ketika mengingatmu. Apa aku…bahagia.
Begitulah. Bukan hanya menutupi kenyataan bahwa aku juga merasakan sakit yang terasa amat sangat. 
Bukan hanya menutupi bakal kekecewaanku padamu dengan kepura-puraan. Bukan hanya menutupi rasa bersalahmu dengan hanya berucap bahwa ini semua tidak apa-apa.
Aku diam. Aku tidak berkomentar. Aku tersenyum.
Cukupkah semua itu…untukmu?
Ya,cukup. Semuanya baik-baik saja. 
Kau pikir begitu, namun kenyataan tidak semudah yang kau pikirkan.
Semua hal memiliki dua sisi. Bagianmu, bahagia. Namun ketahuilah, sisi yang lain tidak bisa tersenyum selebar dirimu.
Bagaimana keadaanku? Aku baik, semakin mudah bersyukur.  Namun lain bila aku harus melihat wajahmu lagi. Semua benteng dan kebahagiaan yang kubuat rasanya runtuh seketika ketika melihatmu.
Kenapa? Entah. Mungkin kini semua kenangan itu bertransformasi menjadi mimpi buruk. Bagimu juga, bukan?
Apa aku bahagia? Sangat. Aku sangat bahagia sehingga sedang berusaha untuk menghapus rasa kecewa yang tersimpan jauh di dalam lubuk hatiku. Yang menjadi kebohongan untuk diriku sendiri. Yang menjadi topeng wajah untuk bertemu denganmu.
Kau sadar kan? Kau sadar aku kecewa…lalu apa? Aku juga tidak tahu. Sungguh, aku tidak akan meminta  apa-apa padamu. Sungguh.
Sejak dulu, aku selalu ingin bicara padamu. Kejarlah…kejarlah apa yang kau mau. Sekarang, dia yang kau mau…maka kejar. Aku tidak apa-apa. Aku akan selalu menjadi rumah untukmu. Jika kau lelah, kau bisa pulang.
Tapi entah apa sekarang aku bisa bicara begitu lagi padamu.
Setelah semua ketidak pedulian dan wajah aroganmu itu. Seperti senang melihat awan mendung yang terbentuk ketika bertemu denganmu. Setelah semua tindakan tidak ada apa-apa darimu yang kau usahakan padaku. Tidak, aku tidak bisa berkata bahwa aku rumahmu. Bukan, aku bukan rumahmu lagi.
Jadi, jangan pulang. Kau bebas berkelana sekarang. Kau bebas membangun rumah dimanapun kau mau.
Aku hanya…perlu dihargai.
Kau sadar kau tersenyum di atas kesedihkanku? Kau sadar kau tertawa di atas air mataku?
Aku kecewa padamu, kecewa. Apa yang harus kulakukan untuk menghapus rasa itu?
Aku tidak ingin mengganggumu lagi. Cukup. Aku harus keluar dari kehidupanmu. Aku lelah, kau tidak memberikan keinginan untuk tinggal. Bahkan sebagai seorang yang pernah menyayangimu. Tidak.
Kau…pergilah. Bahagialah untuk dirimu sendiri. Kau bukan urusanku lagi. Pergilah.
Biarkan aku menghapus rasa kecewaku ini. Kumohon…pergi.