.

.

Clue

Read, and recognize me. Because, I'm not that easy to be known.

Monday, 3 July 2017

00.35

Senin, 3 Juli 2017
00.35

Aku menghela napas panjang. Entah mengapa, rasanya aku bingung harus meluapkan emosiku kemana. Karena kini aku tidak bisa langsung megutarakan aa yang aku rasakan seperti biasanya padamu.
Kenapa?
Karena aku takut.
Aku takut kamu akan marah. Aku takut kamu akan bicara seolah-olah aku sebersalah itu. Aku tidak suka merasa aku bodoh. Aku tidak suka dibilang berlebihan.
Padahal, yang merasakan perasaanku sekarang kan aku. Jadi, bagaimana bisa aku disalahkan karena apa yang aku rasakan?
Sejak awla aku sudah mencoba mengerti. Bayangkan. Seorang diriku yang penuh keegoisan, berusaha menghibur diri sendiri supaya aku tidak marah. Supaya aku tidak kecewa berlebihan Supaya aku tidak merasa sedih.
Karena aku dilarang untuk kecewa. Setiap aku mengucapkan bahwa aku sedih, aku kecewa pasti pada akhirnya...aku yang akan merasa bersalah lagi :)

Kamu tahu. Terkadang, disaat seperti ini, otakku sibuk. Sangat sibuk bergumul, berpikir,apakah semua yang kujalani sekarang sepadan dengan apa yang kuterima?
Entahlah, aku yang egois. Memang.

Tapi, seandainya aku bisa jujur meluapkan seluruh perasaanku, apa yang aku rasakan, rasa sedihku, rasa kecewaku, seperti dulu...aku rasa pada akhirnya aku lagi yang akan merasa bersalah.

Kemudian aku akan mengejar-ngejar dirimu seperti tidak tahu malu.

Menyedihkan, ya?

Padahal aku sangat menjunjung harga diriku. Tapi, di depanmu...aku bisa mempermalukan diriku sendiri.

Sebenarnya, yangmembuat aku kesal adalah karena secara tidak langsung aku dilarang untuk merasa sedih, merasa kecewa, merasa marah, atas dasar bahwa kau tidak mengerti.

Ya, di matamu, apapun yang kulakukan pasti saja salah. Kamu benar, aku salah.

Dan aku masih menerima doktrin itu hingga saat ini. Kamu tahu kenapa? Karena aku terlalu takut...untuk mengambil risiko, aku takut kamu akna meninggalkanku seperti yang dilakukan semua orang padaku.

Kalau kamu berpikir kenapa aku selalu berlebihan seperti ini, ya sudah. Apa boleh buat.

Bahkan sekaramg aku kembali seperti diriku beberapa tahun lalu yang tidak punya tempat untuk meluapkan ap ayang aku rasakan. Aku tidak butuh pembenaran, sungguh. Tapi aku juga tidak mau mendapatkan kalimat sarkasme yang menyakitkan, yang membuatku merasa bodoh, yang membuatku...merasa bersalah lagi.

Aku heran, mengapa dalam setiappertengkaran kita, selalu aku yang pada akhirnya merasa sangat bersalah sehingga aku merasa 100 persen penyebab pertengkaran antara kamu dan aku, adalah aku seorang.

Aku heran, apakah hanya aku disini yang egois? Apakah semua pasangan di dunia ini juga seperti kita? Apakah kita benar-benar baik-baik saja?

Apakah...kita benar-benar baik-baik saja?

Kenapa aku selalu merasa...bahwa yang berjuang di dalam hubungan ini cuma aku? Aku yang berusaha berubah, aku yang berusaha memperbaiki semuanya, aku yang...selalu didikte harus melakukan apa.

Hehe.

Setelah dipikir, memang aku yang salah sih.
Aku salah, karena terus berandai-andai kamu memang memiliki perasaan sebesar yang kumiliki padamu.
Aku salah, karena masih menaruh harap bahwa aku akan diperlakukan seperti layaknya wanita lain diperlakukan oleh pasangannya.
Aku yang salah, karena masih berkhayal kamu akan memberiku lebih waktumu yang sibuk itu.
Aku yang salah, karena masih berharap suatu saat kamu akan lebih memperhatikan apa yang aku rasakan jika kamu bertindak begini, begitu.
Aku yang salah karena sering berandai-andai kamu akan semanis dulu.
Aku yang salah, karena aku terus berpikir kamu bisa mengerti apa yang aku mau.
Aku juga salah, karena aku bukan kekasih yang baik untukmu
Dan aku juga salah, karena aku tidak akan pernah berani mengambil langkah gila untuk melepaskanmu agar kamu mengerti apa rasanya kalau aku tidak lagi di sisimu.

 Karena aku tahu, seandainya aku pergi pun kamu tidak akan merasa apa-apa. Masih banyak wanita lain yang lebih baik yang bisa memenuhi semua standar yang kamu inginkan, tanpa harus diberi tahu terlebih dahulu.

Yah. Aku yang salah, karena terlalu...berharap banyak.

Jadi...apakah kita baik-baik saja?

Karena kini aku mulai kembali ke kebiasaan lamaku.

Aku tidak berani mengungkapkan apa yang aku rasakan, tidak tahu harus bicara kemana, sehingga aku kembali menulis disini.

Seperti beberapa tahun yang lalu dimana aku tidak bisa mengungkapkan rasa sesak di dadaku,kepada seseorang.